Untuk Contract Turn key EPC biasanya ada lampiran bill of quantity (B/Q) yang menjadi referenasi harga contract oleh Contractor , pertanyaan saya adalah apakah B/Q ini bersifat binding dan mengikat , dimana apabila pada execution nantinya volume terpasang ternyata lebih rendah dari volume yang ada di B/Q maka Client bisa meminta sisa volume tersebut , dan mungkin mengakibatkan negative Change Order, karena apabila volume terpasang lebih besar dari volume di B/Q , maka hal ini akan menjadi resiko Contraktor.

Pembahasan – TR. TR@telkom.net

Rekan-rekan milis,

Di akhir emailnya, pak Kris memberi contoh pemecahan lingkup kerja menjadi paling tidak 3 bagian: engineering dikerjakan oleh 1 kontraktor, procurement oleh owner dan fabrikasi & instalasi oleh 1 kontraktor lain.

Procurement oleh owner biasanya memang menjadi pilihan yang cukup sering dipilih dengan pertimbangan harga dan delivery dapat ‘di kunci’ terlebih dahulu. Tender untuk fabrikasi & instalasi dapat dilaksanakan secara paralel dengan proses procurement – yang sudah tentu akan menghemat waktu. Hasil tender fabrikasi & instalasi juga bisa lebih murah karena bidders tidak perlu memperhitungkan resiko dalam procurement. Sedangkan kontrak engineering sudah tentu dilakukan paling dahulu dengan status deliverables ‘issued for construction’ (atau paling tidak, siap untuk procurement).

Hal yang mirip dengan diatas pernah dilakukan di KPS PONSBV dimana pembelian structural steel material (yang pada waktu itu harganya sangat berfluktuasi dan delivery time sangat tergantung dari cepat-tidaknya calon pembeli mengambil keputusan untuk melakukan pembelian) dilakukan oleh owner. Setelah kontrak EPCI di award ke pemenang tender, maka kontrak pembelian structural steel material di ‘novate’ ke pemenang EPCI tender. Strategy ini dilakukan untuk mengurangi (baca: memindahkan) resiko dari pihak owner ke kontraktor EPCI.
Ada lagi strategy yang dilakukan dengan memecah lingkup kerja menjadi Enginering dan Procurement oleh satu kontraktor dan sisanya diserahkan ke kontraktor lain (bisa satu atau lebih, tergantung dari strategy yang diambil). Dalam hal E&P dilakukan oleh satu kontraktor, supaya harga Procurement bisa lebih transparan maka porsi Procurement diperlakukan sebagai Provisional Sum. Biaya Procurement Services dapat di buat lump-sum atau sebagai mark-up dari nilai material yang dibeli.

Banyak sekali cara untuk memecah lingkup kerja. Hal ini berdasarkan pengalaman owner, kesiapan organisasi PMT si owner, pengetahuan akan peta kekuatan pasar service providers (baik engineering, procurement, fabrication maupun instalasi). Setiap strategy yang diambil akan mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
Bagaimana dengan rekan-rekan dari KPS lain? Caltex, COPI atau pihak BPMIGAS …. Silakan sharing untuk memperkaya wawasan kita.

Tanggapan 1 – Eki_Primudi@kodeco

ikut nambahin pak TR.

Yang saya tahu kalau diTotal E&P Indonesia dari vessel, structure sampai ke valves/instrument dimanaged and order langsung by company. sehingga jarang ada full EPCI contract. hal tsb dilakukan karena mereka punya team project/engineers yang besar secara worldwide sehingga bisa mengontrol project delivery in detail. sebaliknya seperti COPI North belut. konon kabarnya khusus critical ( paling mahal dan lama..? ) equipment seperti Turbin compressor yang nota bone mungkin bisa 25 % ot total AFE. mereka direct tender sedangkan khusus material yang sedang2 harganya tapi banyak quantitynya di tunjuk Engineering Procurement services company dan platform F.C,I nya ditender terpisah lagi….please make correction jika salah.

di Kodeco sendiri sekarang sedang buat beberapa WHP and satu CPP. setiap WHP/CPP kita tender secara EPCI jadi tidak seluruh platform di satukan EPCnya yang alhasil kontraktor setiap WHP/CPP berbeda dan kelemahannya antara satu WHP dan WHP lain vendornya bervariatif tergantung kontraktor seleksi..

Tanggapan 2 – rudd haas

Untuk Contract Turn key EPC biasanya ada lampiran bill of quantity (B/Q) yang menjadi referenasi harga contract oleh Contractor , pertanyaan saya adalah apakah B/Q ini bersifat binding dan mengikat , dimana apabila pada execution nantinya volume terpasang ternyata lebih rendah dari volume yang ada di B/Q maka Client bisa meminta sisa volume tersebut , dan mungkin mengakibatkan negative Change Order, karena apabila volume terpasang lebih besar dari volume di B/Q , maka hal ini akan menjadi resiko Contraktor Mohon pencerahan dari para expert di bidang Project Contract Posted by:

Tanggapan 3 – TR. TR@telkom.net

Pak Rudd,

Kalau disepakati dalam kontrak bahwa B/Q tersebut bersifat mengikat, ya tentunya harus mengikat. Konsekwensinya, perubahan volume, selama itu bukan karena perubahan lingkup kerja, akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Dalam hal pembengkakan volume bukan karena perubahan lingkup kerja, Kontraktor sudah harus memperhitungkan resiko ini sebelum menandatangani kontrak.

Bila ternyata Kontraktor berhasil melakukan optimasi selama pengerjaan sehingga volume yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit, maka Owner tidak bisa meminta negative change order.

Kira2 begitulah sifat turn-key project (saya menginterpretasikan istilah turn-key sebagai lump-sum
kontrak), kecuali di perjanjikan lain oleh kedua belah pihak.

Tanggapan 4 – Anshori Budiono

Memang…. bentuk bentuk Kontrak apapun bisa dibuat.
Tetapi…. dalam lumpsum contract seperti untuk EPC Turn-Key Project, sepatutnyalah mempunyai spirit dari lumpsum contract itu sendiri.

Untuk lumsump Contract, BQ seharusnya hanya untuk proposal sebagai referensi membantu evaluasi teknis…. tetapi kemudian setelah contract di-award BQ tersebut tidak seharusnya merupakan bagian dari lumpsum contract tersebut untuk menghindari ‘grey area’ di dalam kontrak tersebut. Karna … meski di-state sebagai referensi ….. pada saat yang tidak ‘menguntungkan’ …. terkadang bisa diangkat menjadi isu dan praktek-praktek ‘panas’…….:-)

Tanggapan 5 – Jamrewav, Frank

Rekan rekin Milis,

Sekedar komentar tentang pertanyaan Mas Ruud.
Singkatnya secara contractual bill of quantity (B/Q)is not subject to remeasurement karena dibuat hanya sekali pada pre-construction phase dan konyolnya BQ ini muncul di dokumen kontrak itu sendiri, untuk itu patokannya adalah AFC drawing – pertanyaannya kenapa demikian ? Jawabannya adalah supaya ada ‘win win’, walaupun nature dari Turnkey adalah lumpsum, tetapi selalu patokannya adalah yang terpasang (as built)karena lumpsum sendiri ada unit pricenya sehingga selalu ada apa yang disebut:

Award contract value= ………….

Contractual changes=……………..

Current contract value=………

Seyogyanya lumpsum (fixed price)yang sebaiknya harus dibuat definisi tentang lumpsum itu sendiri di dalam isi kontrak tsb supaya para pihak terhindar dari ‘eyel-eyelan’.

Tanggapan 6 – Jamrewav, Frank

Pak Ruud,

mungkin sudah dapet jawaban dari teman yg lain namun mohon ulasan singkat saya ini belum terlambat.

Tanggapan 7 – rudd haas

Terima kasih atas tanggapan rekan rekan sekalian

Case yang pernah saya temui, pada satu proyek Enginerering, Procurement, Construction & Comissioning (EPCC) Turnkey Project, dimana pihak client berpegang pada B/Q yang ada di kontrak, sehingga selisih dari work volume yang tidak memenuhi BQ, akan berpotensi deduction atau di alihkan ke area lain yang sebenarnya di luar lingkup pekerjaan walau secara lingkup pekerjaan (scope of work) telah terpenuhi, tetapi jika Work Volume terpasang lebih besar dari B/Q , akan menjadi Contractor risk.

Secara type contract, menjadi agak rancu, antara Turn key Lump sump atau Unit Price Contract pada akhirnya…