Untuk Risk Assessment Pipa Distrubusi bisa menggunakan Model Indexing yang ditulis oleh W Kent Muhlbauer (Pipeline Risk Management Manual). Atau bisa menggunakan Model Matrix atau Model Probabilistic.

Tanya – Dewi Lestari Setyawati

Dear all,

Saya butuh informasi mengenai metode atau tools risk assessment pada pipa distribusi gas.

terima kasih

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Mbak Dewi,

Pengalaman saya beberapa kali melakukan Risk Assessment untuk Pipeline (pipa penyalur) menunjukkan :

1. Tidak terdapat data valid tentang pipeline failure rate di Indonesia (kecuali mungkin untuk jaringan pipeline Kalimantan Timur (1100 km), yang more less mirip dengan data EGIG)

2. Jarang terdapat data valid tentang failure rate pipeline bermaterial FRP dan GRP bahkan untuk yang world wide sekalipun

3. Data kecelakaan berupa kebocoran dan kebakaran di pipelines yang sangat jarang sekali (kalau dibilang tidak terrecord dengan baik) di Indonesia.

4. Efek domino perlu dipertimbangkan, banyak literatur terbaru (dimotori oleh faisal Khan) yang menyitir masalah ini, dan jarang sekali laporan QRA pipelines mencantumkan ini.

5. Tidak mudahnya memahami konsep IRPA dan PLL bagi sebagian besar operator dan contractor EPC di Indonesia.

6. Lain-lain (nanti menyusul jika diskusi ini berkembang)

Berikut adalah langkah langkah dalam melakukan QRA pipelines:

1. Brief Discussion of Facility

2. Methodology: Probabilitic, Matrix, Model Indexing.. saya prefer Probabilistic karena lebih komprehensif

3. Evaluation of all hazards (berbasis laporan HAZID/HAZOP)

4. Frequency Analysis of credible hazards/causes

5. Consequence Analysis of all credible hazards/causes

6. Representating of Risks

7. Conclusion and recommendation

hasil dari beberapa QRA untuk pipeline yang telah saya lakukan, IRPA dari pemasangan pipeline masih berada dalam range yang acceptable ( < 10E-6 yrs), beberapa memang melampaui range ini dan masuk dalam wilayah tolerable ( 10E-4 < IRPA < 10E-6), terutama karena begitu banyak valves dan fittings yang digunakan.

Sangat banyak hal yang perlu diketahui sebelum yakin melakukan QRA sendiri. terutama validitas data/resources. Apakah data yang digunakan ter-update dengan baik? Apakah data/resources melibatkan begitu banyak sampel data (entry)? Kalaupun datanya valid apakah data tersebut bisa merepresentasikan keadaan sebenarnya di lapangan?

Mengenai software, saya pribadi sudah pernah melakukan analysis dengan menggunakan FRED, CIRRUS, SAFETI/PHAST, dan software saya pribadi. sepanjang pengalaman saya, software hanyalah tools yang ‘manut wae’ dan sangat mengandalkan si pemakai software. Kalau yang menggunakan software tidak pernah mengerti filosofi dasar pengoperasian pipeline dan kurang paham mengenai process safety tentu saja menggunakan software adalah hal yang sia-sia.

Sedikit komentar mengenai buku W Kent Muhlbauer, penggunaan Model Indexing oleh dia, saya pikir bisa dikategorikan sebagai semi kuantitatif, dan karena semikuantitatif, model indexing ini tidak digunakan di negara negara yang menganut sistem ‘Safety Management’ model ‘Safety Case di North Sea. Tap setidaknya Muhlbauer memperkenalkan suatu tools risk assessment yang ‘mudah digunakan’ dan ‘cepat/ringkas’ .

setuju dengan mas Hasannuddin, silahkan Pak Nagari menceritakan pengalaman trainingnya.

Semoga membantu.

Tanggapan selengkapnya :