Saat lowering, beberapa analysis yang dilakukan biasanya: stress analysis –> dengan memodelkan geometri saat lowering, run stress analysis, ketemu maks over-bend, sag-bend dan touch-down point, juga setting stinger dan ramp (jika offshore pipeline) sehingga dpt diketahui pada berapa joint pipa lowering bisa dilakukan yg masih masuk kriteria stress-nya.

Saat lowering, beberapa analysis yg dilakukan biasanya:

1. stress analysis –> dg memodelkan geometri saat lowering, run stress analysis, ketemu maks over-bend, sag-bend dan touch-down point, juga setting stinger dan ramp (jika offshore pipeline) sehingga dpt diketahui pada berapa joint pipa lowering bisa dilakukan yg masih masuk kriteria stress-nya

2. free-span analysis –> menganalisa pada berapa meter pipa boleh tergantung bebas tanpa support

3. buckling analysis –> selama lowering kekuatan pipa dlm kriteria bucklingnya, biasanyadg menganalisa setting sudut sag-bend & overbend maksimumnya

codes yg dipakai, mulai dari par 832-833 ANSI B31.8 (gas pipeline), 31.4 (HC liquids), DNV F101 (offshore pipeline), boleh jg dilengkapi DNV RPE305 (on-bottom stability, freespan). Cmiiw

Saat lowering, beberapa analysis yg dilakukan biasanya:

1. stress analysis –> dg memodelkan geometri saat lowering, run stress analysis, ketemu maks over-bend, sag-bend dan touch-down point, juga setting stinger dan ramp (jika offshore pipeline) sehingga dpt diketahui pada berapa joint pipa lowering bisa dilakukan yg masih masuk kriteria stress-nya

2. free-span analysis –> menganalisa pada berapa meter pipa boleh tergantung bebas tanpa support

3. buckling analysis –> selama lowering kekuatan pipa dlm kriteria bucklingnya, biasanyadg menganalisa setting sudut sag-bend & overbend maksimumnya

codes yg dipakai, mulai dari par 832-833 ANSI B31.8 (gas pipeline), 31.4 (HC liquids), DNV F101 (offshore pipeline), boleh jg dilengkapi DNV RPE305 (on-bottom stability, freespan). Cmiiw