LNG terminal dirancang mempunyai multiple evaporator/vaporizer yang
bekerja secara paralel (plus spare tentunya). yang paling umum
digunakan adalah ‘
open rack vaporizer’ (ORV). jenis ini mengunakan air
laut sebagai media pemanas nya.

Pembahasan dari – roeddy setiawan

Mudah mudahan belum terlambat ini rangkuman writing dr mustang
engineer tentang LNG vaporizer yang disadur bebas.

Receiving Terminal.

Receiving terminal menerima LNG via LNG carrier, selanjutnya di
simpan di tanki2 yang husus di buat untuk LNG, selanjut nya diuapkan
kembali sebelum di kirim melalui distribution pipeline. Receiving
terminal dirancang untuk mengirim rate tertentu melalui distribution
pipeline sekaligus menjaga kapasitas cadangan lng nya. umumnya dalam
proses design resrve capacity ini tergantung dari, prediksi
keterlambatan pengiriman LNG, up and down nya demand misal nya winter
lebih tinggi dan summer lebih rendah dan kebutuhan cadangan strategis
( ini umum nya tergantung dr company inteligence dan behaviour
database, maksud nya prediksi kapan suatu sumber akan shortfall karena
mintenance, hurricane season dll) untuk keperluan memenuhi large
demmand on short notice.

Receiving terminal terdiri dari :

LNG unloading, jetty and berth

LNG storage tank

LNG vaporizer

inside tank dan external LNG pump

vapor handling system

support, utilities,piping,valve yards,control system,safety system.

infrastructure , building,inspection road, pagar pengaman dll

Receiving terminal di rancang untuk beroperasi 365 hari/tahun,
umumnya dilengkapi peralatan cadangan untuk mencapai jumlah hari
kerja. Kecuali pada saat statutory inspection pada critical items.
kadang2 kalau LNG terminal bisa berkolaborasi dengan pipeline owner,
spare tank bisa dieliminasi dengan melakukan linepacking, menyimpan
gas di pipa distribusi.

LNG Unloading

Sesudah LNG carrier merapat dan cooling, lng dipompa via loading
arm ke tangki LNG. unloading facility di design untuk mengakomodir
berbagai ukuran tanker dari 87,000 m3 – 145,000 m3. unloading rate
umumnya sekirat 10,000 m3 – 12,000 m3 dengan mengunakan 8 pompa ( 2
pump/lng cargo). umumnya unloading time antara 12 -14 jam.
selama unloading, uap yang timbul di tanki timbun dikembalikan ke
kapal melalui return line dengan mengunakan vapor recovery unit atau
blower. kadang kadang kalau tanki timbun model nya ‘full containment’
kuat sampai tekanan 250 mbarg, penggunaan blower tidak diperlukan.

Kadang kadang terjadi venting terjadi sebelum unloading venting
ini disalurkan ke terminal vapor recovery system. sehingga safety
issue bisa di eliminated.

LNG Storage (skipped)

vapor handling (skipped)

first stage lng sent uot pump (skipped)

recondenser (skipped)

second stage lng sent out pump (skipped)

LNG Vaporizer.

LNG terminal dirancang mempunyai multiple evaporator/vaporizer
yang bekerja secara paralel (plus spare tentunya). yang paling umum
digunakan adalah ‘open rack vaporizer’ (ORV). jenis ini mengunakan air
laut sebagai media pemanas nya.

Summerged combustion vaporizer (SCV), memakai gas yang dibakar
untuk menguapkan LNG. pemilihan ORV memberikan high initial
investment, sedangkan SCV low initial investement tapi high operating
cost. biasanya design startegy mengunakan ORV untuk normal loading and
SCV sebagai spare.

Temperatur air laut merupakan factor penting dalam pemilihan OCV
vs SCV. bila temperatur air laut kuarng dari 5C, ORV dianggap tidak
layak, karena ada kemungkinan air nya membeku atau perlu pompa yang
besar sekali.

Factor lokasi juga, perlu dilihat. kadang kadang tidak
memungkinkan melakukan pemisahan antara discharge dan Inlet, jadi
short circut, jumlah panas yang tersedia tidak constant, mengakibatkan
loading rate terganggu. untuk kasus seperti ini SCV merupakan pilihan
terbaik.

Pemakaian SCV juga menimbulkan issue lain, CO2 dan NOx product
dari submerged combustion, mencemari perairan , ballance dari polutant
load dan kemampuan self cleaning dari badan air di lokasi harus di
study dengan seksama.

Pada beberapa terminal dipakai juga waste heat, misalnya dari
power plant untuk sumber energy penguapan LNG. Waste heat dari power
plant di ambil via waste heat recovery system untuk memanaskan fluida
pemanas (glycol-water). lalu di alirkan ke vaporizer, shell & tube
type

ORV.

ORV sebetulnya merupakan falling film heat exchanger, LNG mengalir
di tubes. air lauit jatuh diatas aluminum panel , falling film water
nya di tapung sebelum dikembalikan ke laut.
design issue, air laut masuk lewat series screen bar (seperti screen
sungai dekat istiqlal), untuk membuang sampah dan kotoran sebelum
masuk ke kolam penampungan , ini dimaksudkan untuk melindungi sea
water pump atau firewater pump yang digunakan. electro chlorination
system terpasang di intake kolam penampung, tujuan nya mengontrol
pertumbuhan marine growth, chlorine tank di design untuk shock
treatment kalau perlu.

SCV.

Vaporizer jenis ini, membakar gas untuk energy vaporizer, hot gas
hasil pembakaran di belebek (bener ngak, maksud nya dikontakan di
water bath) di water bath. laju vaporizer type ini bisa sampai
120ton/jam LNG.

Shell & Tube

bila ada heating medium alternative sebagai sumber energy untuk
mengupakan LNG, S&T merupakan pilihan. type ini hampir serupa dengan
reboiler kettle dari kolom destilasi. heating medium umumnya glycol
-water yang dipanaskan dg waste heat recovery unit dari power
plant(kalau ada) atau dg memakai direct fired heater. berapa terminal
seperti cove point chicago, Kobe , menggunakan system ini.

Vent system (SKIPPED)

Utilities (skipped)