Curing time untuk normal concrete kurang lebih 7 hari, pada masa ini biasanya kekuatan concrete sudah mencapai 65 – 76% fc’ (formwork sudah bias kita lepas). Umumnya untuk mencapai fc’ dibutuhkan waktu kurang lebih 28 hari.

Tanya – Sadikin, Indera

Rekan2,

Mau tanya lagi soal concrete:

1. Berapa lama curing time untuk concrete mulai dari pouring sampai formwork boleh dilepas?

2. Berapa lama waktu dari pouring sampai concrete sudah boleh dibebani full capacity tanpa merusak atau retak?

3. Apakah concrete itu menyusut atau mengembang setelah beku?

Maaf kalau pertanyaannya yang dasar sekali karena tidak punya pengalaman soal concrete. Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Laban Muhammad Syadli

Saya juga kurang ahli dalam masalah concre tapi berdasarkan pengalaman yang pernah saya liat selama ini kurang lebih seperti ini:

Curing time untuk normal concrete kurang lebih 7 hari, pada masa ini biasanya kekuatan concrete sudah mencapai 65 ~ 75% fc’ (formwork sudah bisa kita lepas). Umumnya untuk mencapai fc’ dibutuhkan waktu kurang lebih 28 hari. Klo tidak salah ada juga teknologi steam curing atau curing dengan menggunakan uap. Dengan menggunakan system ini dalam waktu 1 hari kekuatan beton bisa mencapai fc’. Biasanya system steam curing di gunakan pada fabrikasi pre-cast concrete.

Concrete dapat mengalami kembang dan susut juga Pak. Tapi setauku lebih karena pengaruh suhu. Makanya dalam peraturan2 beton seperti ACI atau SNI dinyatakan adanya kebutuhan tulangan susut dan rangkak. Hal ini untuk mencegah keretakan pada beton akibat efek tersebut.

Untuk lebih jelasnya mungkin sebaiknya googling aja pak.

Tanggapan 2 – Chairil_Zakky@fmi

Sekedar tambahan informasi. Seandainya Bapak dikejar kebutuhan untuk mempersingkat curing time dan kebutuhan untuk segera dibebani secara full capacity, Bapak bisa menambahkan admixture dalam campuran concrete tersebut untuk mempersingkat masa curing time dan memaksimalkan kekuatan tekan dari concrete tersebut. Admixture dalam concrete tersebut dapat berupa water reducer/plasticizer dan hardener. Produk2 ini bisa Bapak peroleh melalui supplier khusus admixture concrete, seperti Sika atau Degussa.
Dengan adanya admixture tersebut, proses curing time dapat Bapak persingkat menjadi kurang dari 7 hari (dalam beberapa kasus 3 hari cukup untuk proses curing time dan formwork bisa dilepas), tergantung dari volume concrete, luas permukaan yang akan kita curing, & struktur yang Bapak kerjakan.

Sedangkan proses pembebanan itu sendiri, tergantung dari beban design dan compressive strength concrete design. Asumsinya dlm waktu 3 hari, concrete normal dapat mencapai 30%-40% kekuatan maksimumnya. Jika ditambahkan admixture bisa mencapai 60%-70% dari kekutan maksimum concrete normal pada 28 hari. Dalam beberapa kasus dimana concrete ditambahkan admixture, 3 hari waktu yang cukup untuk concrete tersebut kita bebani.
Untuk lebih amannya, Bapak dapat mengecek beban desain dan comp strength concrete tersebut dengan program2 structural analysis. Apakah dalam usia dimana formwork sudah dilepas dan fase curing sudah selesai, concrete dapat cukup dengan aman untuk kita bebani. Semoga informasi saya dapat membantu.

Tanggapan 3 – Karina sari

Setuju dengan pak chairil dibawah…

Umumnya concrete mencapai fc’ 100% dalam waktu 28hari….tapi ditambah dengan admixture proses curing ini dapat dipercepat (sekarang bisa dalam waktu 3 hari…shingga forwork bisa dilepas dan dapat dibebani)…..cuman tetep aja untuk mencapai fc’ 100% diperlukan minimal 20 hari.

selain itu beton umumnya mengalami susut (karena kadar airnya berkurang….) makanya pengecan lebih baik dilakukan pada malam hari supaya proses penguapan air lebih lambat….
salah satu akibat penguapan air yang cepat itu mengakibatkan beton mengalami crack….
supaya beton tidak menyusut dan merubah bentuk dan kekuatannya biasanya saat curing beton juga disemprot dengan semacam aditif (dilakukan kurang lebih 1-2 jam setelah pengecoran dan perataan…dengan vibrator)….aditif ini akan menahan penguapan kadar air dalam beton….

untuk detail admixture mungkin bisa diliat keterangan diwebite sika atau admixture lainnya…

semoga membantu….

Tanggapan 4 – badaruddin kendari

Sedikit tambahan dari saya, untuk pembongkaran formwork dari beton tergantung dari type elemen strukturnya, kalau untuk formwork kolom dari building atau kolom pedestal dari foundation atau dinding kanan kiri dari beam maka, cukup 18 jam maka formwork tersebut dapat dilepas, sedang form work dari dasar plat lantai dan beam maka butuh waktu 7 hari untuk didemolish akan tetapi bisa diperpendek dengan penambahan admixture untuk mempercepat pengerasan beton seperti yang dijelaskan Pak Chairil (refer pada pengalaman saat ngerjakan Kantor walikota jakarta selatan).

Tanggapan 5 – Kajuputra Elpianto

Yth rekan2,

Kebetulan saya ada artikel tentang High Early Strength Concrete (HES Concrete) yang barangkali dapat memberikan sedikit info mengenai kebutuhan akan beton dengan kuat tekan awal yang tinggi.

HES Concrete menggunakan campuran beton yg mengandalkan penggunaan kadar semen yang tinggi dan akselerator untuk meningkatkan kecepatan perkembangan kekuatannya. Salah satu hipotesis yg dapat dibuktikan dengan baik adalah penelitian yg dilakukan oleh Parviz Soroushian dan Siavosh Ravanbakhsh (‘High Early Strengh Concrete : Mixture Proportioning with Processed Cellulose Fibres for Durability’, ACI Journal vol 96, no 5, Sept-Oct 1999, pp 593-599). Hasil research tersebut mengatakan: Metode konvensional untuk meningkatkan kekuatan awal beton dgn menggunakan kadar semen tinggi dan akselerator dapat meningkatkan susut suhu dan susut kering pada beton.

Penyusutan yg tertahan pada kondisi aktual di lapangan menimbulkan tegangan tarik sehingga terjadi retak mikro yang akan meningkatkan permeabilitas beton serta mempercepat berbagai proses deteriorasi (kerusakan). Karena itu disarankan untuk menggunakan serat untuk mengontrol retak mikro akibat susut pada beton tersebut. Hasil uji laboratorium dan uji lapangan menunjukkan ketahanan jangka pendek yang cukup tinggi pada beton HES yg menggunakan serat selulosa terhadap retak akibat susut beton.

Berikut kira2 perbandingan campuran beton normal (NS) dan HES

Campuran Air Semen Agregat Kasar Agregat Halus AEA Kalsium klorida

Kg/m3 Kg/m3 Kg/m3 Kg/m3 mL/m3 kg/m3

HES 190 500 1040 585 500 16

NS 164 290 1136 770 270 0

Pendekatan beton HES dengan campuran serat ini akan mereduksi pemakaian semen dan akselerator sehingga mengurangi susut suhu dan susut kering pada beton.
Contoh serat selulosa ini adalah sabut kelapa, ijuk, serat bambu atau kayu.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serat jenis selulosa dan serat baja lebih baik bila dibandingkan jenis polypropylene khususnya pada kadar yang cukup tinggi.

Karena itu perlu diperhatikan oleh para praktisi bahwa penggunaan additive pada campuran beton akan memberikan efek samping pada beton yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan sesuai dengan perencanaan.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 6 – Hermawan A Basuki

Mau sedikit berbagi saja

Sebenarnya untuk menentukan curing method dan curing time ini kita dapat simulasikan dengan menggunakan FEM program (ASTEA MACS), dengan menggunakan program FEM ini kita dapat mensimulasikan jenis curing apa dan berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk curing, untuk mencegah terjadinya crack. Output dari program ini adalah nilai crack index (tensile strength of concrete/tensile stress in concrete) yang nanti akan kita pergunakan untuk menentukan jumlah rebar yang dibutuhkan untuk mengontrol thermal cracking yang terjadi.

Code yang dipakai untuk menganalisa thermal cracking ini adalah JSCE (Japanese society of civil engineering) dan ACI 224 (control of cracking in concrete structure).

Ada beberapa parameter penting yang perlu di input untuk analisis ini, diantaranya adalah, material property dari concrete dan soil yang kontak langsung dengan struktur yang mana dapat mempengaruhi suhu dari struktur tersebut. Material property itu diantaranya adalah :

– young modulus E(t)=Φ(t)*4,700* f’c(t)^0.5 (N/mm2)

– Compressive strength f’c(t)=f’c(91)* t / (a + b*t) (N/mm2)

– Tensile strength : σ(t)=0.44√fc(t) (N/mm2)

– Poisson ratio

– Thermal expansion coefficient

– Specific heat capacity

– Thermal conductivity

– Density

Dan parameter yang terpenting adalah adibiatic temperature rise T= Q (1-e^ (-r (t-t0)^β ) ) 
Yang mana parameter ini sangat menentukan sekali dalam analisis ini Dan constanta2 (Q,r,to, β) dari formula ini harus kita dapatkan dan tentukan dari hasil trial block yang kita lakukan.

Selain untuk menentukan contanta2 tersebut trial block ini juga ditujukan untuk memperoleh coefficient of heat transfer dari beberapa metode curing yang akan kita aplikasikan, misalnya :

Water curing = 25 kcal/m2 hr deg c , Water ponding + Wet Hessian + Polyethylene sheet + Polystyrene 50mm + Tarpaulin = 4.0 kcal/m2 hr deg c Wet Hessian + Polyethylene Sheet + Tarpaulin = 6.5 kcal/m2 hr deg c, dsb.

Setelah kita peroleh semua parameter yang dibutuhkan, dan convection boundary telah kita tentukan, maka kita dapat memodelkan struktur yang akan kita analisa dengan mengaplikasikan jenis curing (menggunakan convection boundary atau nilai coefficient of heat transfer dari masing masing curing method) apa yang akan kita pergunakan dan juga curing time yang akan kita aplikasikan juga dapat kita design sesuai dengan kebutuhan dan rencana. Dan hasil akhir dari analisa ini adalah crack index, dari nilai index yang paling minimum maka kita akan dapat menentukan jumlah rebar ratio yang dibutuhkan dengan cara menggunakan grafik dari JSCE dengan crack width yang di izinkan (grafik allowable crack width vs crack index).

Semoga bermanfaat.