Bisa tidaknya suatu alat ditempatkan pada zone 1 hazardous area tergantung dari kapabilitas dari alat tersebut untuk tidak menyebabkan hal yang bisa menimbulkan inisiasi dari burning acitivity, kaya percikan (Explosion Proof), dll semakin bagus kapabilitas alat tersebut, bisa dibilang semakin mahal harganya, sehingga untuk mencegah naiknya biaya project, maka ditetapkanlah jarak aman peletakan alat tersebut dari lokasi kemungkinan flammable fluid bocor(Hazardous Area). Aturan mengenai hazardous area classification bisa diliat di API 505 ataupun di IP 15.

Tanya – Ferry Triyana Anirun

Rekan-rekan,

Apakah diijinkan untuk meletakkan sebuah diesel engine pada hazardous area zone 1?
Standard apa yang mengaturnya?

Mohon penjelasannya.

Tanggapan 1 – Adhi, Septiyanto (CLI)

Dear Pak Ferry,

Setahu saya, bisa tidaknya suatu alat ditempatkan pada zone 1 hazardous area tergantung dari kapabilitas dari alat tersebut untuk tidak menyebabkan hal yg bisa menimbulkan inisiasi dari burning acitivity, kaya percikan (Explosion Proof), dll..semakin bagus kapabilitas alat tersebut, bisa dibilang semakin mahal harganya, sehingga untuk mencegah naiknya biaya project, maka ditetapkanlah jarak aman peletakan alat tersebut dari lokasi kemungkinan flammable fluid bocor(Hazardous Area). Aturan mengenai hazardous area classification bisa diliat di API 505 ataupun di IP 15.
Mohon maaf kalau malah membingungkan…(=*_*=)..

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

dear pak Ferry,

pak Adhi betul, jadi harus lihat area clasification nya. kalau memang tepaksa area tersebut di bagi bagi dengan partisi, dengan fire wall, air circulation dll. kalau pak fery sering jalan jalan ke ‘drilling-production’ platform. kita sering lihat diesel fire water pump, diesel stanby genset, atau malah turbine kompressor. tapi kalau anda jeli masing masing di Partisi oleh fire wall. detail keterangan bisa dilihat seperti yang disarankan pak Adhi

Tanggapan 3 -Sadikin, Indera

numpang nanya juga,

kalau udah ada partisi firewall, air circulation, dll seperti kata pak roeddy, apakah enginenya tetap harus ex-proof? Untuk diesel engine setahu saya ditambahin spark arrester di muffler. Apakah boleh kita beli engine biasa terus dibikin ex-proof dengan nambahin accessories ex-proof sendiri?

Soalnya harga equipment ex-proof mahal sekali ya Pak. Thanks.

Tanggapan 4 -roeddy setiawan

pak Indra,

saya ngak begitu faham pertanyaan nya, karena diesel tersebut sudah di assign didaerah yang bukan zone 1 ?????( ini juga agak rancu) dengan firewall atau blastwall, yang diperlukan untuk extra protection adalah isolation dari exhaust pipe (ada muffler yang dikasih insulation material, jadi ngak pernah panas), kalau di Rig biasanya ‘power pack’ exhaust pipe nya di isolate dengan insulation material dengan rapih. maksud nya karena exhaust pipe itu bisa di atas temp autoiginition dari HC cloud, resiko dr bahaya autoignition bisa di perkecil ( mungkin dianggap acceptable oleh designer nya) disamping itu operasi alat alat ini kan selalau dibawah pengawasan operator nya, yang bisa menganalisa banyak hal (kereka certified buat task ini)

di Intake air di kasih Hc detector, yang di connect dengan shutdown system, jadi kalau engine mulai runaway karena intake air ber campur HC (seperti nge gas sendiri) device ini mematikan engine .

terus terang saya belum pernah ikutan hazop & hazan untuk simultanous operation, antara workover production misal nya. sering sekali saya lihat power pack biasanya 2 diesel ukuran 450 hp ada di top deck. padahal facilities itu sedang produksi sekaligus ada open hole karena work over. jadi saya ngak tahu Rational nya bagai mana. rekan Millis yang sering terlibat di work over saya kira mohon share, proses hazop and hazan nya.

Tanggapan 5 – Sadikin, Indera

Pak Roeddy,

Maksud pertanyaan saya buntut2nya adalah gimana caranya bikin suatu equipment ex-proof. Misalnya diesel engine. Saya kira (maaf kalau salah) itu adalah engine biasa yang ditambahin accessories ex-proof atau lebih tepatnya diinsulasi dari panas yang tinggi atau percikan api. Kenapa saya tertarik?

Karena semua yang ada label ex-proof harganya jadi gila2an. Lampu ex-proof aja harganya bisa melonjak sampe 10 kali lipat (mohon dikoreksi kalau salah, agak2 lupa :)). Dan disinilah kita selalu ngimpor komponen atau equipment. Saya mendesign dan fabrikasi sendiri equipment yang saya supply. Dulu pernah coba ikut tender pengadaan pedestal crane buat platform. Kebetulan saat itu speknya ex-proof. Jadi harganya lumayan bagus. Kami berusaha meyakinkan owner dan konsultan untuk jangan silau dengan kata2 ex-proof. Kalau diperhatikan kan steel structure crane itu standar. Paling pake high strength steel biar ringan dan ramping. Kalau hitungan2 di design masih safe ya saya pake aja steel grade biasa tapi jadinya crane lebih berat sedikit. Toh pedestal crane tidak kerja 24 jam non-stop dan kalau lebih berat paling2 jadi agak boros dikit gensetnya. Kan kapasitas angkat kami jamin. Jadi kalau mau objective itu adalah sebuah crane biasa yang ditambahin equipment ex-proof. Kalau mau lebih ekstrem lagi, itu adalah sebuah crane biasa dengan equipment biasa yang ditambahin beberapa insulasi yang bikin harganya melonjak jadi ga biasa. Misalnya genset ditambahin insulasi, interface2 seperti pada shaft dan slewing bearing ditambahin bronze (bener ga nih? mohon dikoreksi) biar ga ada local heat generation dan spark waktu bergesekan. Akhirnya sih kami tetap ditolak untuk masuk daftar keramat yang namanya vendor list dan isinya nama2 asing semua 🙂 Waktu bikin moving equipment buat barge saya janjiin ke owner kalau equipment saya udah didesign buat marine environment. Tapi sebenarnya Cuma disumbat aja bagian2 terbuka pake rubber yang dipesan dari Glodok dan asli bikinan Jakarta, biar ga karatan. Sisanya terproteksi dari grease dan coating spek marine. Sampe sekarang masih beroperasi dan ga masalah. Tapi label: ‘marine environment compatible’ kan udah cukup bikin owner senang 🙂

Di milis inilah saya berharap bertemu bapak2 sekalian yang punya jam terbang tinggi di field, menguasai teori, praktek dan regulasi, untuk belajar esensi2 spek di migas. Biar duit kita ga habis buat bayarin man-hour bule2 terus kalo ketemu kata ex-proof, misalnya. Sekedar ilustrasi aja. Kalau kita pesan genset komplit buatan Eropa atau Amerika, harganya bisa 50% lebih mahal dari genset rakitan lokal. Kalau ditelusurin sih speknya sama. Enginenya sama, generatornya sama. Yang beda casing sama framenya asli buatan Tangerang dan dirangkai ama teknisi lokal. Toh sama2 digaransi. Yang bikin mahal kan karena kita bayar lebih buat nyuruh bule2 di seberang lautan sana motong pelat, ngelas frame dan merangkai engine ke generator dan panel. Jadi kembali ke pertanyaan awal, mungkin ga kita bikin engine biasa, misalnya yanmar, ditambahin aksesoris macam2, seperti spark arrester, insulator muffler, auto shut down, dll jadi ex-proof dan disuplai ke platform misalnya? Mohon maaf kalau ternyata tidak sesederhana yang saya kira.

Tanggapan 6 – roeddy setiawan

Pak Indera,

kalau simple diesel engine( itu yang engkolan), cooling system nya model themosyphone dan pemakaian nya tidak continue selalu ada operator yang certified umumnya straight forward tinggal sumber panas yang dikeluarkan diesel tersebut anda insulate dengan baik, disini adalah manifold pipe, connector pipe ke muffler dan muffler nya sendiri.
saya bantu beberapa operator di Gulf untuk unman platform nya jalan sampai saat ini. tapi kasus nya spesifik, simple diesel itu dipakai buat hydraulic power untuk buka tutup down hole valve sumur yng reservoir pressure nya 25,000 psig. jadi untuk buka sumur harus dipresurize dulu sd 25,000 psi baru valve nya mau terbuka. jadi pemakaian nya relatif singkat dan tercontrol.

untuk kasus pak indra misalnya bisa jadi rumit, misal nya kalau cooling dari diesel itu pake force circulation jadi pakai fan, mulai ruwet sedikit karena anda harus meninjau statik eletricity yang digenerate oleh fan plastik, yang di generate fan belt. berapa besar charge yang timbul persatuan waktu, dimana anda grounding nya buat reduce static voltage ke level yang aman.

kalau pak indra mau pakai electric starter, starter nya harus expl proof, jadi contact armature dengan coal conductor terisolasi, ada sendiri starter seperti ini silahkan lihat di NEC, cabling ke battery, best practice untuk conduitnya kalau ada, diatur di NEC, begitu juga baterry nya sendiri ada persaratan nya dan macam macam persaratan seperti componennya harus UL listed dll.

In prinsip technically pak indra bisa sekali merakit berbagai component standard jadi say diesel power pack untuk offshore application . tapi anda harus membuat manufacturing report, kalau kawan di milis bilang nya ‘job book’ kalau sekarang barangkali ISO xxxx (saya kurang update sekarang ini dengan iso) setiap komponent nya traceable dan ada certificate nya. ada standard pembikinan ada componen manual nya sebagai contoh non spark switch , fan, cable, battery dan lain lain.

nah ini saya kira yang membuat harga nya jadi mahal, karena banyak tahapan yang harus dilakukan untuk membuat barang itu di aksep di industri perminyakan misalnya.

bagi industrinya sendiri, barang yang di beli mempunyai liability tersendiri, say misalnya kalau untracable material itu menyebabkan insiden, perusahaan report karena insurance nya ngak di bayar, lebih repot lagi karena next premi nya akan menjulang tinggi untuk seluruh daerah operasinya, jadi insident di Kaltim misalnya akan membuat semua premi di manapun entah di alaska, entah di gulf, entah di vietnam melonjak tajam. Belum lagi si designer nya, entah di garuk sama team fact finding, entah kehilangan jabatan dll.

menurut saya okay okay saja pak, its a matters of fact itu yang dikerjakan engineering company dimana mana, misalnya chioda, fluor daniel untuk skala yang sangat besar, memang mereka certified untuk itu mengikuti kaidah best parctise di industri yang dilayani nya. dan itu juga yang dikerjakan oleh packager say hercules crane. mudah mudahan menjawab dan selamat mencoba.

Tanggapan 7 – Sadikin, Indera

Thanks Pak Roeddy,

Informatif sekali Pak. Ternyata cukup rumit juga prosedur sertifikasi ex-proof. Yah kalau tidak sanggup insulasi ex-proof kita kan masih bisa insulasi sebatas menaikkan IP (Index Protection) aja ya Pak. Lumayan juga dari segi added valuenya. Saya pernah sendirian bongkar brake gearbox yang ngadat di field. Setelah bolak-balik baca manual dan pelajari barangnya ternyata buat naikin derajat enclosure-nya cukup nambahin seal2 dan penutup rubber dan ganti beberapa part dengan yang stainless steel. Kalau kita bisa bikin sendiri kan lebih bagus Pak. Biar added value ga diambil semua sama orang asing. Jadi di masa depan kita ga cuma senang kalo ketemu operator Indonesia di platform raksasa Sakhalin, tapi senang kalo ketemu produk made in Indonesia di sana walaupun bukan di Zone 1 🙂 Thanks Pak.

Tanggapan 8 – Ferry Triyana Anirun

Pak Roeddy / pak Adhi,

apakah maksud dari pemberian partisi dengan fire wall itu untuk membuat area sekitar equipment menjadi zone 2?

Kebetulan saya nggak punya API 505 atau IP 15 sebagai acuan.
Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 9 – Kunarta DjayaPutra

Pak Ferry,

Interpretasi saya bukan lagi Zone 2 tapi Non hazardous area. Tapi air circulation sebagai partisi atau pemisah belum pernah baca.

Tanggapan 10 – roeddy setiawan

pak Fery,

menambahkan apa yang dibilang pak Kunarta, maksud nya space yang disediakan harus punya air circulation yang baik, saya agak lupa panduan nya, mungkin angka nya min 25 space circulation /hr ??? (jadi bukan seperti ‘air wall’ yang ada di mall untuk menghalangi panas masuk ke ruangan ber ac), ini kalau diesel nya ditempatkan di ruangan. tapi kalau di open space seperti cellar deck sudah pasti sirkulatisi udara nya baik

Tanggapan 11 – Adhi, Septiyanto (CLI

Pak Ferry,

Saya sependapat dengan pak Kunarta..dengan pemberian firewall di sekitar equipment, maka area di sekitar equipment, asalkan masih berada di zona fire wall, bisa dibilang sebagai non hazardous area..setau saya, combustion engine (salah satunya diesel engine) tidak bisa diinstall di zone 0, sangat tidak disarankan di zone 1 maupun zone 2, jd sebaiknya di non hazardous area..jika ingin standard IP 15, bisa japri ke saya..;)..
Tolong dikoreksi kalau saya salah…(=^_^=)

Yg Masih belajar

Tanggapan 12 – Alvin Alfiyansyah

Dear Pak Roeddy and discussion ganks,

Maksudnya air circulation ini adalah Ventilation rate bukan (as per IP 15) ?

Kalo iya berarti minimumnya adalah 12 circulation (air changes)/hr – uniform ventilation rate, kalo tidak ya harus dipasang artificial ventilation dalam ruangan tersebut seperti yang Pak Roeddy maksud.

Kalo ada SIMOPS seperti Produksi dan Drilling activity (wireline+workover+drilling), pertama yang harus dipastikan kategori incidentnya :

1. Apakah berhubungan dengan drill rig (i.e. : fire, collision, damage to equipment, etc.)

2. Apakah dengan Interface activitynya ( i.e. : well control incident -> blowout, dropload from rig to platform, etc.)

3. Apakah berhubungan dengan Well Head Platformnya (WHP) (i.e : fire, HC release, etc.)

Nantinya yach yang jelas pertama command structure yang diputuskan harus jelas karena KPS dan Drill contractor biasanya punya struktur perintah yang berbeda, SMS (Safety Management System, i.e : PTW, ERP, etc) dan struktur perintah operasi saat incident terjadi harus disetujui oleh kedua belah pihak; kemudian review drill rig F&G system dengan WH Platform F&G juga ESD interface dari rig ke WHP juga harus direview, mungkin ada alternative pemasangan wellbay splashwall dapat diterima; lalu cek juga escape routesnya, apakah pemasangan temporary escape route diperlukan bila permanent escape route terpengaruh oleh aktifitas drilling ini, etc.

Dalam masalah power memang benar yang Pak Roeddy sudah bilang sebelumnya, protective device (firewall, etc.) dan pengukuran temporary power connection dari drilling rig dan WHP mutlak diperlukan (mungkin harus diterjemahkan detil oleh Single Line Diagram & Data Sheet Electricalnya; electrical engineers please share and welcome your experience…? ). Analisis yang lebih dalam tentang Marine Exclusion Zone, kebutuhan helicopter, dll. selain kompetensi personil yang terlibat tentunya harus dipastikan sesuai peraturan yang ada.
Jika WHP punya flare dan vent, maka exposure flare/vent saat rig operation dan ke personil juga harus dipastikan safeguardnya.

Semoga membantu memberikan wacana lain.