Flange flat face (FF) biasanya materialnya cast iron. Ini karena cast iron lebih brittle dan tidak bisa melentur (ada momen bending seperti cantilever) ketika baut dikencangkan dengan torsi tertentu. Pada flange RF dengan material CS atau alloy steel (yang lebih liat dari cast iron), sifat cantilever ini yang membantu mengencangkan sambungan. Apabila flange FF nya cast iron, sebaiknya flange RF nya dibubut dulu sebelum disambung untuk menghindari flange cast iron crack ketika dikencangkan. Kalau material sama2 CS mungkin tidak berpengaruh banyak.

Tanya – yuda ari

Mohon sharing dari rekan-rekan…

Apa diperbolehkan untuk koneksi flange yang berbeda face (misal RF ketemu FF type)?
Kalo memang tidak boleh, apa ada rule atau code yang secara jelas men-state hal tersebut…
sebelumnya, trima kasih buat sharing nya.

Tanggapan 1 – moh.kadafi

Pak Yuda,

case ini terjadi pada joint class break ya ? kalo iya, maka sebaiknya ratingnya flange-nya mengikuti class yg lebih tinggi, yaitu RF, jadi minta ganti flangenya dg tipe RF, cara kedua adalah ada gasket adaptor utk RF-FF produk pikotek, silahkan googling (saya pernah utk case ini pake gasket ini).

namun kalo ini bukan case class break, dan semata2 karena memanfaatkan spare material yg ada (saya jg pernah utk case spt ini), RF-nya di bubut, shg bisa ketemu dg FF

Tanggapan 2 – yunianto

Menambahkan

Klo memang line-nya ada spec break, maka Sch pd flange sama dgn sch Pipe dan rating/class pd flange tersebut ikut ke Valvenya.
Maka flange tersebut adalah out off spec.

Tanggapan 3 – Putu Armindo

Memang ada gasket adaptor yang bisa mengkoneksikan flange RF dengan FF..???
Saya baru dengar tentang hal ini.

Tanggapan 4 – Wiryadinata W

Ada Mas Putu.

Coba di liat barang / Catalognya Pikotek. 🙂

Tanggapan 5 – moh.kadafi

dear Pak Putu,

kalo blm ditarik dari produsesnnya atau obsolete, produk Flange adaptor ini ada pak, menjadi salah satu line produk pikotek (silahkan di googling saja), utk adaptor RTJ ke RF pun jg ada, biasanya utk menghadapi joint spec break, dan saya pernah gunakan di salah satu project yg saya terlibat di dalamnya.

Tanggapan 6 – Rusmanto

Sepertinya kami juga pernah menggunakan produk pikotek untuk kasus RTJÂ Flange ketemu dengan RF Flange. Ada yang perlu diperhatikan bahwa saat bolt tightening untuk produk pikotek ini nilai torsinya sedikit berbeda dengan gasket umumnya.
Nilai torsi biasanya disertakan di setiap kemasan gasket pikotek.

Tanggapan 7 – M. Teguh

Sependek pengetahuan saya, flange flat face (FF) biasanya materialnya cast iron. Ini karena cast iron lebih brittle dan tidak bisa melentur (ada momen bending seperti cantilever) ketika baut dikencangkan dengan torsi tertentu. Pada flange RF dengan material CS atau alloy steel (yang lebih liat dari cast iron), sifat cantilever ini yang membantu mengencangkan sambungan.
Apabila flange FF nya cast iron, sebaiknya flange RF nya dibubut dulu sebelum disambung untuk menghindari flange cast iron crack ketika dikencangkan. Kalau material sama2 CS mungkin tidak berpengaruh banyak.

Tanggapan 8 – aatkho

1. Kenapa bisa berbeda, bukankah itu berarti masing2 flange connection diawal disainnya memang berbeda.

2. Pada dasarnya pemakaian flat face flange digunakan bersama dgn full face gasket.

3. Jika flange yg dimaksud adalah ASME B16.5, maka joint connection tsb bias dipakai karena raised face tdk diperhitungkan dlm strength calc. Dlm arti penghilangan raised face tdk mengurangi rating dari flange tsb.

4. Pada spec client tertentu, diperlukan perhitungan kekuatan pada saat penggunaan jenis gasket spiral wound atau metal gasket. Coba saja periksa kekuatan masing flange tsb.

5. Penghilangan raised faced di ASME B16.5 bisa di cari di ‘interpretation’.

Tanggapan 9 – Faisal Reza

yup saya setuju dgn pak Teguh…remove off ‘kelebihan’ RF nya kalau FF nya CI (betul kebanyakan karena seperti pada valve yg CI, casingnya jadi crack waktu applying the torque), saya juga pernah mengalami jaman dulu, saya anjurkan utk remove juga meskipun materials nya sama lalu dipakai FF gasket.

tapi ma’af standar2 nya lupa semua, sudah lama nggak di fabrication.

Tanggapan 10 – Faisal Reza

sori itu kalau dalam sikon yg terburu2, kalau memungkinkan diganti aja yg match utk face nya atau minta ganti.

———————————

elec

Tanggal Posting : 28 April 2011
Upload : Juli 2011

Rangkuman Diskusi
Starting Motor

Dengan perkembangan teknologi MV inverter/MV VSD saat ini, metode terbaik untuk starting motor 6 kV – 1600 kW adalah menggunakan inverter tersebut meskipun tentu saja membutuhkan investment cost tambahan, akan tetapi akan memberikan benefit diantaranya smooth starting torque, termasuk dalam hal ini keleluasaan pengaturan akselerasi dan deselerasinya, sehingga tidak akan menggangu supply powernya sama sekali, terutama bila terdapat keterbatasan kapasitas pembangkit atau bus/trafo jala2nya. Bila digunakan di blower atau compressor, dengan MV inverter akan memberikan keleluasan pengaturan volume/presure dengan energy saving lebih besar dibanding bila menggunakan bukaan valve/damper. Untuk produk MV inverter, saat ini sangat banyak sekali diantaranya produk ABB type ACS2000 atau ACS5000; Siemens type Sinamic MV atau tipe Robicon, dll. Option lainnya adalah menggunakan MV sofstarter, akan tetapi pengaturan starting tetap kalah smooth dibanding menggunakan MV inverter dan kalau dari investasinya tidak terlalu jauh dibanding inverter.

————————–

Tanya – Didik Aprianto

Kepada Rekan-Rekan Mohon bantuannya.

Mohon masukan starting motor methode yang tepat untuk motor dengan spesifikasi sebagai berikut:

daya motor 1600 KW akan di pasang pada jala-jala 6 KV.
apa metode starting motor yang tepat agar motor padaa saat start tidak mengganggu sistem.
mohon bantuannya, terima kasih..

Tanggapan 1 – andi wahyudi

Pak Didik,

Untuk analisis bapak bisa menggunakan ETAP

Untuk mengetahui macam motor starting bapak bisa download dari link berikut :

http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=249&Itemid=42

Untuk motor starting menggunakan drive bapak bisa memilih dari flyer produk berikut :

http://www.automation.siemens.co.uk/main/extra/literature/files/Drives%20&%20Motors/AC%20Drives%20-%20Low%20Voltage/SINAMICS%20Overview/E20001-A120-M112-V5-7600_SINAMICS%20-%20The%20complete%20family.pdf

Tanggapan 2 – Oma Budi Herawan

Mungkin sebagai tambahan,

selain cek motor starting dengan ETAP, cek pula setting relay di upstream nya untuk mendapatkan relay coordination yang lebih sempurna.

Tanggapan 3 – Triez

Dear Mas/ Pak Didik,

Sebelum di jawab boleh tahu motor sebesar itu buat apa? apa buat transfer atau booster pump?

Sebenernya untuk menetukan sebuah starter sangat complicated. Yang pertama, coba lihat dulu Client spec, biasanya klo bapak di EPC, client spec sudah menetukan batasan range tegangan untuk penggunaan medium maupun low voltage termasuk philosphy design untuk starternya. Biasanya requirement dari proses yang kita minta lebih dahulu, seperti cooler dan lain2 bisa jadi menggunakan VFD/VSD walapun klo louver sistemnya harus menyesuaikan temperature karena proses menghendaki kesetabilan proses dari cooling system semisal. Begitu juga dengan transfer pump maupun truckloading yg menghendaki pengaturan flowrate dari sistem batchcontroller.

Yang kedua, tentunya hitung FLA dan arus startingnya untuk melihat dan menetukan availability starter yang akan digunakan di pasaran. Ini bisa di lakukan dengan menggunakan ETAP ataupun perhitungan manual tentunya. Belum tentu hasil kalkulasi available dengan market walaupun sacara analisa bisa, jadi bapak harus melaakukan seleksi ulang dengan jenis starter yang lain, seperti DOL , auto trafo, start delta maupun sofstart. Hal ini bisa di kondisikan dengan cost atau budgeting, yang pada intinya hasilnya adalah design yang safe, efective dan effesien. Saat analisa ETAP, silahkan libatkan comissioning engineer untuk analisa sequence starting motor. Buat saja klo mau cepat gunakan Lump Load untuk motor2 berating kecil, dengan asumsi DOL dan locked rotor starting aman ( 600%-700%). Untuk motor2 berdaya besar biasanya memerlukan perlakuan khusus karena analisa Load Flow untuk sequence bersamaan akan mengabsorbed daya yang sangat besar sehingga mengakibatkan Drop pada Bus system di Switchgear. Sequence ini juga harus merujuk Sub system list tentunya dan pertimbangan dari process disciplines.

Untuk motor dengan spek 1600 kw, 6 kV dengan kondisi secure system seperti permintaan bapak di bawah tentu harus disiapak dedicated lines keculai sequence yang saya sebutkan diatas disetujui dari process. Klo hanya ada 1 atau 2 motor tentunya tidak akan begitu susah melakukan Transient Analysis di ETAP. Jadi mungkin analisa hanya Load flow, Short circuit dan Motor Stating tentunya tidak akan begitu rumit karena tidak berkaitan dengan banyak motor.
Coba lakukan analisa dulu seperti diatas, mas / pak didik. Itu hanya saran saya saja. Silahkan juga baca design practice/handbook untuk mempermudah atau membantu analisa dari oil and gas standard.

Semoga membantu.

Tanggapan 4 – Bus Duct

Jawaban Pak Triez di bawah sudah cukup, sebaiknya di study dulu dengan ETAP utk startingnya.
kalau dari hasil ETAP voltage drop masih dalam toleransi dan duit tidak masalah, pakai Soft Starter lebih bagus.

Saya pernah ngerjakan beberapa motor 5.8MW hanya dengan sistem DOL dengan voltage 13.8kV..

Tanggapan 5 – Enjang Kusmana

Dear pak Didik,

Menurut saya, dengan perkembangan teknologi MV inverter/MV VSD saat ini, metode terbaik untuk starting motor 6 kV – 1600 kW adalah menggunakan inverter tersebut meskipun tentu saja membutuhkan investment cost tambahan, akan tetapi akan memberikan benefit diantaranya smooth starting torque, termasuk dalam hal ini keleluasaan pengaturan akselerasi dan deselerasinya, sehingga tidak akan menggangu supply powernya sama sekali, terutama bila terdapat keterbatasan kapasitas pembangkit atau bus/trafo jala2nya.
Bila digunakan di blower atau compressor, dengan MV inverter akan memberikan keleluasan pengaturan volume/presure dengan energy saving lebih besar dibanding bila menggunakan bukaan valve/damper.
Untuk produk MV inverter, saat ini sangat banyak sekali diantaranya produk ABB type ACS2000 atau ACS5000; Siemens type Sinamic MV atau tipe Robicon, dll.

Option lainnya adalah menggunakan MV sofstarter, akan tetapi pengaturan starting tetap kalah smooth dibanding menggunakan MV inverter dan kalau dari investasinya tidak terlalu jauh dibanding inverter.

Demikian semoga bisa membantu.

Tanggapan 6 – faried mustawan

Hi mas enjang dan yang lain,

Saya setuju dengan penggunakan Softstarter/ VSD untuk aplikasi starting motor 6kV-1600kW, terutama kalau ada keterbatasan disisi pembangkit atau upstream trafo, yang memungkinkan terjadinya severe drop voltage yang bisa berakibat pada sporious trip. Perlu dilihat apakah protection relay Control Supply dari UPS atau dari Internal PT dari busbar. Sekiranya dari UPS saya pikir cukup aman.

Tanggapan 7 – Hadi Surono

Att artrikel Metode starting atau download

http://library.abb.com/global/scot/scot209.nsf/veritydisplay/2985284834bcff7fc1256f3a00274038/$file/1sfc132002m0201.pdf

Tanggapan 8 – didik blora

Dear Pak Trisworo.

Terimakasih sekali pak atas tanggapannya. motor tersebut akan digunakan untuk ID Fan pada dust collector pak. dari client ada permintaan jika memungkinkan starting methode yang digunakan adalah DOL pak. namun karena saya masih sangat awam dengan perhitungan-perhitungan starting motor seperti itu, ada kekhawatiran dari saya jika memakai DOL akan menganggu sistem secara keseluruhan pada saat motor ini start. ada 2 buah motor 1600 KW, 6 KV yang akan dipakai dan kedua motor tersebut tidak harus start secara bersamaan.
Jika Pak Tris ada materi tentang starting methode, saya harap bisa di share ke saya.
Terima Kasih Pak Tris.

Tanggapan 9 –Triez

Oo..jadi client sudah merekomendasikan DOL. Coba lakukan analisa ETAP. Sebeanrnya bisa dilakukan secara manual hanya saja kekhawatiran saya pada absorbeb power disisi upstream. Generator , transformer maupun bus rating akan menjadi bertambah besar karena locked rotor starting DOL seperti yang saya sebutkan dibawah bisa mencapai 600%-700%. Klo mau pake manual kalikan saja asumsi Istarting = Inominal x 7. Akan lebih baik pake ETAP karena dari load flow dan MS akan terlihat semua berapa efective upstream source dari design kita termasuk drop di Bus saat starting dan steady state.

Setelah dapat coba lakukan design ulang dengan berbagai alternatif, mana yang lebih efesien semacam option. klo semisal capacity generator atau transformer kita masih mencukupi kita mungkin bisa pake DOL, dengan asumsi DOL rating 6 kV ada di pasaran. semisal berimbas pada upstream, tentunya akan ada impact mengganti generator atau trafo. Bila ini terjadi tentunya akan jauh lebih efective mengganti DOL dengan starter jenis lain seperti Softstart atau VFD.

Kebetulan ada beberapa referensi starter philosphy dari vendor. Tar saya cari2 dulu klo masih ada akan saya kirimkan via Japri.

Semoga membantu.

Tanggapan 10 – roni sartika

Pak Didik

mengubah dari kondisi diam jadi kondisi berputar butuh energi yang besar, ditambah lagi kalau motornya sudah langsung terkopel atau ada bebannya, biasanya starting currentnya akan lebih besar lagi.
kalau beban nya bisa diatur, mungkin bisa di start pada kondisi mendekati tanpa beban.
kalau fan untuk dust collector, biasa kan ada damper di sisi inlet pipe/duct atau outlet pipe/duct dari fan nya.

maksud saya pada saat starting motor, mungkin inlet nya diatur/ tidak dibuka full agar arus starting nya bisa diredam, sehingga tidak menimbulkan shock di system pada saat starting, selanjutnya setelah motornya berputar baru dampernya dibuka sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

Tanggapan 11 – Thomas Ari Negara

Dear Bapak Roni,

Saya ada case yaitu control blower dengan menggunakan inverter. Untuk menaikkan speed maka inverter bekerja sangat baik dalam menaikkan frekuensi Hz ke motor induksi. Akan tetapi ketika diperintah untuk menurunkan speed maka penuruan frekuensi Hz ke motor induksi tidak turun tetapi malah naik, padahal sinyal yang sudah diberikan ke inverter adalah 4mA (4-20mA). Mungkiin ada masukan dari Bapak? Terima kasih.

Tanggapan 12 – roni sartika

Dear Pak Thomas

websitenya bagus juga tuh….salut.
wah, saya belum pernah ngalamin case seperti itu Pak,

mungkin ada Bapak2/Ibu2 /rekan2 yang pernah menghadapi persoalan yang sama
yang mungkin bisa membantu/ berbagi peangalaman, terutama mungkin yang sudah
pernah bergelut dengan closed loop control untuk motor induksi dengan
memakai adjustable speed drive/inverter + PLC.

Tanggapan 13 – Andi Priyono

Saya pernah melakukan desain untuk kondisi seperti ini. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan permissive start pada rotating equipment seperti yang dimaksudkan Pak Dikdik di bawah. Misal dengan memasang position switch di suction damper di sebuah fan/blower di mana switch tersebut akan mengaktifkan interlock yang menyebabkan fan/blower tersebut tidak bisa di-start jika damper tersebut dalam keadaan open.

Tanggapan 14 – Triez

Menurut saya 2 masukan di bawah bisa di jadikan bahan pertimbangan, pak didik, sedikit menghemat. Actualnya memang biasanya ada suction dumper di fan untuk bebapa equipment, tapi tidak semua lho ya. Bukan hanya di dust collector, di cooler juga seperti itu biasanya. Seperti yang pernah saya sebutkan pada email awal, sebenarnya yang perlu kita perhatikan juga sequence philosophy dari proses. Switch dumper juga terinterlock dengan UCP, dan UCP terintegrated dengan DCS system. Permissive dumper diatur dari DCS / PLC melalui UCP. Dumper fan akan berjalan mengkuti rule process ketika cooler berjalan dimana bukaannya automatci akan disesuaikan dengan kondisi process kecuali dumper fan dibuat manual atau static running mungkin bisa lakukan bergantian. Coba minta data ke vendor, berapa HP maksimum dan minimum dumper fan ketika membuka atau menutup.
vendor punya kok data itu. Cobalah minta ke mechanical team untuk request ke vendor.

Tanggapan 15 – didik blora

Maaf Bapak-Bapak sekalian saya malah baru tahu kalau opening value dari dumper mempengaruhi beban dari motor untuk driving fan. saya pernah melihat pada sequence starting fan, pada start permition fan terdapat pernyataan kalau dumper inlet harus close dulu baru motor bisa start, apakah tujuannya sama dengan yang Bapak maksud yaitu memperkecil load pada motornya??

Minta pendapatnya juga nih pak, bagaimana kalau saya mengikuti prinsip yang seperti itu Pak??