Snubbing unit adalah suatu sistem peralatan bertenaga hidrolik yg umumnya digunakan utk pekerjaan ‘well-intervention’ & ‘workover’. Fungsinya sama dgn workover rig konvensional, yaitu sbg alat utk well-intervention (melakukan suatu pekerjaan ke dalam sumur yg sudah ada).
Berbeda dgn rig konvensional dimana pipa keluar-masuk diangkat oleh perangkat pulley & kabel baja dikombinasikan dgn berat pipa secara gravitasi, maka di snubbing unit, tubing atau pipa dimasukan & dikeluarkan ke & dari lubang sumur dgn cara didorong/ditekan atau ditarik dgn menggunakan tenaga hidrolik. Kelebihan utamanya, pipa kerja (work strings) tidak harus berat, bisa berukuran kecil & dapat menjangkau sumur miring (highly deviated well). Kelebihan lain, pekerjaan bisa dilakukan relatif lebih cepat & mob-demobnya pun lebih singkat. Kelemahan utamanya yg berhubungan dgn safety, posisi personel/operator berada tepat di atas well-head.

Tanya – Rovicky

Adakah yang tahu apa yg dimaksud Snubbing Unit ?

Apa sajakah kemampuannya ?

Apa bedanya dengan drilling Rig ?

Tanggapan 1 – Ridwan Hardiawan

Snubbing unit dikhususkan untuk operasi kerja ulang sumur/ workover. Sama dengan sebuah rig, snubbing unit juga memiliki kemampuan hoisting tubular untuk melakukan pekerjaan pulling dan running in hole.

Untuk rig hoisting system nya menggunakan derrick/mast dengan traveling block yang naik turun dan diatur oleh drawwork yang digerakkan oleh DC motor. Sedangkan pada snubbing unit yang dipakai adalah sebuah ‘hydraulic jack’ dengan stroke sekitar 10 ft. Jika dibayangkan, kira2 seperti rotary table yang bisa naik turun. Ada 2 slip yang dipakai, satu di area ‘rotary table’ tadi dan satu lagi dibawahnya untuk mensupport berat dari pipa/tubular selama operasi pulling dan running.

Snubbing unit ini dipasang langsung diatas BOP dan beratnya ditopang oleh BOP serta outrigger ke tanah/ platform. Atau bisa juga dipasangkan di rig yang sudah ada sebelumnya. Snubbing unit bisa melakukan operasi run in hole di sumur bertekanan tanpa di kill terlebih dahulu, karena mendorong pipa masuk sumur dengan sistem hydraulic (seperti menusuk), sedang rig biasa hanya mengandalkan gravitasi. Karena alasan ini snubbing unit adalah yang paling cocok untuk operasi mengatasi semburan lumpur di Lapindo.

Snubbing unit tidak memiliki kemampuan untuk drilling dan tidak bias menggantikan fungsi dari drilling rig, tetapi bisa menggantikan fungsi dari workover rig.

Semoga bisa membantu, atau yang lain ada yang bisa menyempurnakannya lagi.

Tanggapan 2 – Doddy Samperuru

Dear All,

Snubbing unit adalah suatu sistem peralatan bertenaga hidrolik yg umumnya digunakan utk pekerjaan ‘well-intervention’ & ‘workover’. Fungsinya sama dgn workover rig konvensional, yaitu sbg alat utk well-intervention (melakukan suatu pekerjaan ke dalam sumur yg sudah ada).
Berbeda dgn rig konvensional dimana pipa keluar-masuk diangkat oleh perangkat pulley & kabel baja dikombinasikan dgn berat pipa secara gravitasi, maka di snubbing unit, tubing atau pipa dimasukan & dikeluarkan ke & dari lubang sumur dgn cara didorong/ditekan atau ditarik dgn menggunakan tenaga hidrolik. Kelebihan utamanya, pipa kerja (work strings) tidak harus berat, bisa berukuran kecil & dapat menjangkau sumur miring (highly deviated well). Kelebihan lain, pekerjaan bisa dilakukan relatif lebih cepat & mob-demobnya pun lebih singkat. Kelemahan utamanya yg berhubungan dgn safety, posisi personel/operator berada tepat di atas well-head.

Beranjak dari sinilah, saya pribadi sangat tidak setuju kalau snubbing unit digunakan utk mengatasi kasus ‘mud-volcano’ (meminjam istilah Encik RDP) di Porong. Walau nanti di atas perangkat BOP yg ada sekarang (peninggalan drilling rig terdahulu) akan dipasang perangkat BOP kedua dari snubbing unit tsb., tetaplah kurang bijaksana menempatkan manusia tepat di atas sebuah sumur bermasalah. Lagipula, deck kerja yg sempit tsb akan berada di ketinggian lebih dari 10 meter. Kalau ada apa2 di BOP, maka wasalam (utk orangnya & juga utk snubbing unitnya).

IMHO, salah cara yg sudah terbukti efektif adalah dgn membuat sebuah sumur baru, disebutnya relief-well, yg nanti ujungnya akan menembus sumur BP-1. Sebelumnya harus dipilih satu lokasi pemboran di permukaan (disebutnya drilling pad) yg aman di sekitar Porong. Saya mengusulkan digunakannya teknik CTD (Coiled Tubing Drilling), yaitu pemboran memakai CT. Kelebihannya: drilling secara berarah bisa lebih cepat dilakukan & lebih presisi. Targetnya mungkin adalah daerah sekitar casing-shoe yaitu daerah dimana lumpur formasi tsb diperkirakan mulai meninggalkan lubang sumur memasuki saluran alami ke permukaan. Setelah itu, pompakanlah semen sebanyak-banyaknya. Si semen harus didesain sehati-hati mungkin; agar tidak mengeras prematur di dalam CT tetapi harus cepat mengeras begitu keluar dari CT agar tidak hilang terbawa lumpur. Dgn demikian diharapkan semen ini akan mengisi gorong2 (caving) di sekitar casing-shoe lalu mengeras & akan memblok aliran lumpur formasi ke permukaan. Ini adalah teknik yg lazim digunakan utk mengatasi blow-out via relief-well.

Kalaupun mau re-entry lewat sumur BP-1, maka kembali saya mengusulkan digunakannya CT. Apa yg bisa dilakukan oleh snubbing unit dapat juga dikerjakan oleh CTU, kecuali gerakan rotasi (tapi tak relevan utk kasus ini). Kelebihan utama CTU dibanding snubbing unit: semua personel tidak harus bekerja di dekat well-head, shg jauh lebih aman. Kerja di well-head hanya dilakukan pada saat rig-up BOP & injector-head (yaitu bagian CTU yg bertugas mendorong/menekan atau menarik CT in & out). Selebihnya, semua dikerjakan secara remote (>20 meter). CT tidak memerlukan penyambungan tubing/pipa (dimana masa ini termasuk yg kritis & berbahaya) shg tripping-in & out bisa lebih cepat. Hal ini juga membuat CT bisa memompakan semen berdensitas tinggi di berbagai kedalam sumur secara kontinyu, tidak seperti snubbing yg hanya bisa menspot di kedalaman ttu saja secara statis. Kalau ada apa2 dgn BOP & blow out sampai ke permukaan, maka CTU dapat relatif lebih cepat di-undeploy meninggalkan lokasi.

Kita lihat nanti, apakah snubbing unit itu akan berhasil atau tidak.

Tanggapan 3 -indradjaja andy

Pak Doddy,

Mohon pencerahannya menindak lanjuti dari pencerahan sebelumnya.

Dari kasus yang ada , dari pihak LB memilih snubbing kemudian jika gagal lalu ganti memakai directional (dari keterangan pers yang pernah di utarakan)

Pertanyaannya:

1. Mengapa menggunakan snubbing dan tidak langsung menggunakan directional atau coiled tubing saja sedangkan dari data geologi maupun data reservoir seharusnya dapat diperkirakan kira – kira yang lebih efektif mana

2. Perbedaan mendasar dari Coiled Tubing dan Directional (atau mungkin sama) baik dari segi waktu , data data yang ada dll

Tanggapan 4 – Harun Kurnianto

Sebagai penjelasan tambahan buat pak Rovicky,

Snubbing unit bisa digunakan untuk drilling dengan menggunakan mud motor, dengan bottom assy. yang kurang lebih sama dengan drilling string, cuma biasanya dalah hal ini tidak dipakai drill pipe, tetapi tubing (untuk ukuran besar) dan macaroni (untuk yang kecil). Walaupun stringnya bisa diputar dengan hydraulic driven rotary table (semacam top-drive lah…), tapi ini biasanya untuk kalau mau pasang/cabut packer dan fishing jobs. Alasannya rotary tablenya bukan yang heavy duty punya. Kelebihan lain dari snubbing unit, drill string nya bisa di cabut dengan under pressure condition (under balanced), tapi ini tentunya diterapkan kalau emergency saja. Kemampuan ini dimungkinkan dengan adanya fasilitas ‘stripper’ diatas BOP nya (semacam stuffing box di wire/electric line).
Soal keamanan pekerja (semacam derickman nya di rig) diatas snubbing basket, bisa dipasang escape line untuk meluncur dengan cepat ke tempat yang aman.
Kapasitan snubbing unit biasanya: 150 K dan 250 K, tetapi sekarang saya dengan ada yang lebih besar lagi dari yang 250 K. Tentunya makin besar kapasitannya, makin mendekati kemampuan drilling rig (150 K, maksudnya adalah pulling capacity nya 150,000 lb). Kemampuan snubbing unit untuk keperluan drilling kira-2 bisa diletakkan diantara drilling rig dan CTU(Coiled Tubing Unit).

Semoga berguna…dan salam,

Tanggapan 5 – Rovicky

trims infonya mas Harun dan Mas Ridwan.
Moga-moga saja dengan Snubbing Unit bisa mengatasi mudflow ini. Namun kalau ini yg terjadi saya malah berpikiran barangkali bukan openhole section yg ‘berdosa’.

menurut catatan yg saya kumpulkan ada beberapa indikasi :

– Ada indikasi ‘paleo collapse’ yg berhubungan dengan shallow section yg mengindikasi ‘very critical mechanical condition’ dibawah sana namun kemungkinan utk bagian atas bukan akibat Kujung Fm.

– Kodeco has lost their well and change the surface location. Padahal masih di kedalaman kurang dari 1500 ft.

– Santos pernah mengalami BlowOut ketika masih pada kedalaman 409 meter (<1500 ft )

– Lapindo juga pernah kick di sekitar 4000 ft (secara stratigrafis ekivalen diatas cased hole section BPJ-1), ini terjadi beberapa tahun lalu.

Opini yg sudah beredar saat ini sudah mengarah bahwa mud-flow ini karena kealpaan mengeset casing di kedalaman diatas 4240 – 9200 ft.
Bagaimana kalau BO itu terjadi justru pada bagian atas ? Yang terpikir dibenak saya saat ini adalah kekhawatiranku bahwa kita nantinya juga tidak mengerti dengan benar apa yg sebenar-benarnya terjadi.

Tanya – Rovicky

Adakah yang tahu apa yg dimaksud Snubbing Unit ?

Apa sajakah kemampuannya ?

Apa bedanya dengan drilling Rig ?

Tanggapan 1 – Ridwan Hardiawan

Snubbing unit dikhususkan untuk operasi kerja ulang sumur/ workover. Sama dengan sebuah rig, snubbing unit juga memiliki kemampuan hoisting tubular untuk melakukan pekerjaan pulling dan running in hole.

Untuk rig hoisting system nya menggunakan derrick/mast dengan traveling block yang naik turun dan diatur oleh drawwork yang digerakkan oleh DC motor. Sedangkan pada snubbing unit yang dipakai adalah sebuah ‘hydraulic jack’ dengan stroke sekitar 10 ft. Jika dibayangkan, kira2 seperti rotary table yang bisa naik turun. Ada 2 slip yang dipakai, satu di area ‘rotary table’ tadi dan satu lagi dibawahnya untuk mensupport berat dari pipa/tubular selama operasi pulling dan running.

Snubbing unit ini dipasang langsung diatas BOP dan beratnya ditopang oleh BOP serta outrigger ke tanah/ platform. Atau bisa juga dipasangkan di rig yang sudah ada sebelumnya. Snubbing unit bisa melakukan operasi run in hole di sumur bertekanan tanpa di kill terlebih dahulu, karena mendorong pipa masuk sumur dengan sistem hydraulic (seperti menusuk), sedang rig biasa hanya mengandalkan gravitasi. Karena alasan ini snubbing unit adalah yang paling cocok untuk operasi mengatasi semburan lumpur di Lapindo.

Snubbing unit tidak memiliki kemampuan untuk drilling dan tidak bias menggantikan fungsi dari drilling rig, tetapi bisa menggantikan fungsi dari workover rig.

Semoga bisa membantu, atau yang lain ada yang bisa menyempurnakannya lagi.

Tanggapan 2 – Doddy Samperuru

Dear All,

Snubbing unit adalah suatu sistem peralatan bertenaga hidrolik yg umumnya digunakan utk pekerjaan ‘well-intervention’ & ‘workover’. Fungsinya sama dgn workover rig konvensional, yaitu sbg alat utk well-intervention (melakukan suatu pekerjaan ke dalam sumur yg sudah ada).
Berbeda dgn rig konvensional dimana pipa keluar-masuk diangkat oleh perangkat pulley & kabel baja dikombinasikan dgn berat pipa secara gravitasi, maka di snubbing unit, tubing atau pipa dimasukan & dikeluarkan ke & dari lubang sumur dgn cara didorong/ditekan atau ditarik dgn menggunakan tenaga hidrolik. Kelebihan utamanya, pipa kerja (work strings) tidak harus berat, bisa berukuran kecil & dapat menjangkau sumur miring (highly deviated well). Kelebihan lain, pekerjaan bisa dilakukan relatif lebih cepat & mob-demobnya pun lebih singkat. Kelemahan utamanya yg berhubungan dgn safety, posisi personel/operator berada tepat di atas well-head.

Beranjak dari sinilah, saya pribadi sangat tidak setuju kalau snubbing unit digunakan utk mengatasi kasus ‘mud-volcano’ (meminjam istilah Encik RDP) di Porong. Walau nanti di atas perangkat BOP yg ada sekarang (peninggalan drilling rig terdahulu) akan dipasang perangkat BOP kedua dari snubbing unit tsb., tetaplah kurang bijaksana menempatkan manusia tepat di atas sebuah sumur bermasalah. Lagipula, deck kerja yg sempit tsb akan berada di ketinggian lebih dari 10 meter. Kalau ada apa2 di BOP, maka wasalam (utk orangnya & juga utk snubbing unitnya).

IMHO, salah cara yg sudah terbukti efektif adalah dgn membuat sebuah sumur baru, disebutnya relief-well, yg nanti ujungnya akan menembus sumur BP-1. Sebelumnya harus dipilih satu lokasi pemboran di permukaan (disebutnya drilling pad) yg aman di sekitar Porong. Saya mengusulkan digunakannya teknik CTD (Coiled Tubing Drilling), yaitu pemboran memakai CT. Kelebihannya: drilling secara berarah bisa lebih cepat dilakukan & lebih presisi. Targetnya mungkin adalah daerah sekitar casing-shoe yaitu daerah dimana lumpur formasi tsb diperkirakan mulai meninggalkan lubang sumur memasuki saluran alami ke permukaan. Setelah itu, pompakanlah semen sebanyak-banyaknya. Si semen harus didesain sehati-hati mungkin; agar tidak mengeras prematur di dalam CT tetapi harus cepat mengeras begitu keluar dari CT agar tidak hilang terbawa lumpur. Dgn demikian diharapkan semen ini akan mengisi gorong2 (caving) di sekitar casing-shoe lalu mengeras & akan memblok aliran lumpur formasi ke permukaan. Ini adalah teknik yg lazim digunakan utk mengatasi blow-out via relief-well.

Kalaupun mau re-entry lewat sumur BP-1, maka kembali saya mengusulkan digunakannya CT. Apa yg bisa dilakukan oleh snubbing unit dapat juga dikerjakan oleh CTU, kecuali gerakan rotasi (tapi tak relevan utk kasus ini). Kelebihan utama CTU dibanding snubbing unit: semua personel tidak harus bekerja di dekat well-head, shg jauh lebih aman. Kerja di well-head hanya dilakukan pada saat rig-up BOP & injector-head (yaitu bagian CTU yg bertugas mendorong/menekan atau menarik CT in & out). Selebihnya, semua dikerjakan secara remote (>20 meter). CT tidak memerlukan penyambungan tubing/pipa (dimana masa ini termasuk yg kritis & berbahaya) shg tripping-in & out bisa lebih cepat. Hal ini juga membuat CT bisa memompakan semen berdensitas tinggi di berbagai kedalam sumur secara kontinyu, tidak seperti snubbing yg hanya bisa menspot di kedalaman ttu saja secara statis. Kalau ada apa2 dgn BOP & blow out sampai ke permukaan, maka CTU dapat relatif lebih cepat di-undeploy meninggalkan lokasi.

Kita lihat nanti, apakah snubbing unit itu akan berhasil atau tidak.

Tanggapan 3 -indradjaja andy

Pak Doddy,

Mohon pencerahannya menindak lanjuti dari pencerahan sebelumnya.

Dari kasus yang ada , dari pihak LB memilih snubbing kemudian jika gagal lalu ganti memakai directional (dari keterangan pers yang pernah di utarakan)

Pertanyaannya:

1. Mengapa menggunakan snubbing dan tidak langsung menggunakan directional atau coiled tubing saja sedangkan dari data geologi maupun data reservoir seharusnya dapat diperkirakan kira – kira yang lebih efektif mana

2. Perbedaan mendasar dari Coiled Tubing dan Directional (atau mungkin sama) baik dari segi waktu , data data yang ada dll

Tanggapan 4 – Harun Kurnianto

Sebagai penjelasan tambahan buat pak Rovicky,

Snubbing unit bisa digunakan untuk drilling dengan menggunakan mud motor, dengan bottom assy. yang kurang lebih sama dengan drilling string, cuma biasanya dalah hal ini tidak dipakai drill pipe, tetapi tubing (untuk ukuran besar) dan macaroni (untuk yang kecil). Walaupun stringnya bisa diputar dengan hydraulic driven rotary table (semacam top-drive lah…), tapi ini biasanya untuk kalau mau pasang/cabut packer dan fishing jobs. Alasannya rotary tablenya bukan yang heavy duty punya. Kelebihan lain dari snubbing unit, drill string nya bisa di cabut dengan under pressure condition (under balanced), tapi ini tentunya diterapkan kalau emergency saja. Kemampuan ini dimungkinkan dengan adanya fasilitas ‘stripper’ diatas BOP nya (semacam stuffing box di wire/electric line).
Soal keamanan pekerja (semacam derickman nya di rig) diatas snubbing basket, bisa dipasang escape line untuk meluncur dengan cepat ke tempat yang aman.
Kapasitan snubbing unit biasanya: 150 K dan 250 K, tetapi sekarang saya dengan ada yang lebih besar lagi dari yang 250 K. Tentunya makin besar kapasitannya, makin mendekati kemampuan drilling rig (150 K, maksudnya adalah pulling capacity nya 150,000 lb). Kemampuan snubbing unit untuk keperluan drilling kira-2 bisa diletakkan diantara drilling rig dan CTU(Coiled Tubing Unit).

Semoga berguna…dan salam,

Tanggapan 5 – Rovicky

trims infonya mas Harun dan Mas Ridwan.
Moga-moga saja dengan Snubbing Unit bisa mengatasi mudflow ini. Namun kalau ini yg terjadi saya malah berpikiran barangkali bukan openhole section yg ‘berdosa’.

menurut catatan yg saya kumpulkan ada beberapa indikasi :

– Ada indikasi ‘paleo collapse’ yg berhubungan dengan shallow section yg mengindikasi ‘very critical mechanical condition’ dibawah sana namun kemungkinan utk bagian atas bukan akibat Kujung Fm.

– Kodeco has lost their well and change the surface location. Padahal masih di kedalaman kurang dari 1500 ft.

– Santos pernah mengalami BlowOut ketika masih pada kedalaman 409 meter (<1500 ft )

– Lapindo juga pernah kick di sekitar 4000 ft (secara stratigrafis ekivalen diatas cased hole section BPJ-1), ini terjadi beberapa tahun lalu.

Opini yg sudah beredar saat ini sudah mengarah bahwa mud-flow ini karena kealpaan mengeset casing di kedalaman diatas 4240 – 9200 ft.
Bagaimana kalau BO itu terjadi justru pada bagian atas ? Yang terpikir dibenak saya saat ini adalah kekhawatiranku bahwa kita nantinya juga tidak mengerti dengan benar apa yg sebenar-benarnya terjadi.