Dalam perencanaan struktur gedung baik dalam UBC (American) maupun SNI (Indonesia) terdapat beberapa metode analisa struktur akibat beban gempa, yaitu Response Spectra, Time History dan Static Equivalent. Gaya gempa merupakan fungsi dari waktu dan dalam hal perilaku struktur akan sangat dipengaruhi oleh peride getar alami struktur (Natural Periode). Untuk struktur sederhana dengan criteria tertentu seperti tinggi max 40 meter, jumlah lantai dibawah 10 tingkat, tidak terjadi tonjolon terlalu besar pada geometri struktur baik horizontal maupun vertical maka analisa gaya gempa dapat disederhanakan dengan menggunakan metode Static Equivalent. Metode static equivalent memodelkan gaya gempa seperti gaya2 static horizontal yang bekerja pada pusat massa bangunan / struktur. Dan untuk kasus2 dimana vertical deflection sangat dominant maupun critical maka akan diberikan juga gaya gempa vertical pada bangunan.

Pembahasan – Kajuputra Elpianto

Rekan2 Yth,

Dalam perencanaan struktur gedung baik dalam UBC (American) maupun SNI (Indonesia) terdapat beberapa metode analisa struktur akibat beban gempa, yaitu Response Spectra, Time History dan Static Equivalent.

Gaya gempa merupakan fungsi dari waktu dan dalam hal perilaku struktur akan sangat dipengaruhi oleh peride getar alami struktur (Natural Periode).

Untuk struktur sederhana dengan criteria tertentu seperti tinggi max 40 meter, jumlah lantai dibawah 10 tingkat, tidak terjadi tonjolon terlalu besar pada geometri struktur baik horizontal maupun vertical maka analisa gaya gempa dapat disederhanakan dengan menggunakan metode Static Equivalent.

Metode static equivalent memodelkan gaya gempa seperti gaya2 static horizontal yang bekerja pada pusat massa bangunan / struktur. Dan untuk kasus2 dimana vertical deflection sangat dominant maupun critical maka akan diberikan juga gaya gempa vertical pada bangunan.

Dalam proses penentuan gaya gempa static tersebut dibutuhkan parameter natural periode struktur seperti yang sudah disebutkan di atas. Metode yang sering digunakan dalam menentukan peride getar alami struktur ini adalah sbb:

Tx = Ty = Ct (hn)3/4 ……………..(UBC 1997)

hn = tinggi total bangunan (m)

Tx = Ty = Periode getar alami fundamental (detik)

Ct = 0.0731 (Struktur Beton Bertulang)

Ct = 0.0853 (Struktur Baja)

Ct = 0.0488 (Struktur Lain)

Di mana dapat dilihat pada formula empiris di atas hanya merupakan fungsi dari tinggi bangunan.

Padahal tinggi bangunan saja tidak cukup untuk menentukan periode getar alami sebuah bangunan khususnya untuk bangunan yang berbentuk tidak bujur sangkar. Dimana pada satu sisi (sumbu kuat) kekakuan gedung akan lebih besar dibandingkan sisi yang lain (sumbu lemah). Persis seperti kita melihat penampang persegi panjang yang memiliki sumbu kuat dan sumbu lemah. Pada sisi kuat maka periode akan lebih kecil (gaya gempa lebih besar) dan sisi lemah maka periode akan lebih besar (gaya gempa lebih kecil).

Sering terjadi salah kaprah di antara para engineer yang hanya terbatas menggunakan formula di atas dalam menentukan periode getar alami struktur. Yang pada akhirnya menghasilkan design struktur yang tidak tepat. Hal ini sebenarnya sudah dimasukan dalam UBC dan SNI untuk mengkoreksi nilai periode tersebut, namun prosedur yang berbelit2 kadang membuat para engineer enggan melakukannya.

Mengingat negara kita merupakan daerah rawan gempa, maka akan sangat tepat bila kita koreksi lagi prosedur yang sudah sering digunakan dalam perencanaan struktur akibat gempa.

Tanggapan 1 – Ary ary@singgar-mulia

Sekedar tambahan….

Static Eqivalent method ini di modelkan (biasanya) untuk 2 dimensi Kemudian nilai natural period fundamental ini harus di analisa ulang (check convergency-nya) karena nilai ini sebagai nilai pendekatan (bukan actual).

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia atas pembahasan ini dapat dilihat dalam file berikut: