Dari pemahaman dan interpretasi terhadap dokumen bid dokumen yang akan menjadi kontrak, maka EPCC hanya sampai commssioning dan star-up, tetapi EPCM scope nya sampai fase Maintenance (post star-up). Jadi investasi besar, dan tentu resiko juga besar. Karena tidak banyak perusahaan yang memiliki keahlian dari tahap Detail Engineering sampai tahap Maintenance. Strategy yang dilakukan tentunya membangun coonsortium antara EPC dan Operation & Maintenance contractor.

Tanya – Endri Prasetyo

Rekan2 Milis,

Mohon sharingnya perbedaan EPCC dengan EPCM contract.

Pertanyaan singkatnya: jika dilihat keterlibatan klien/owner kepada kontraktor dalam mengeksekusi proyek, apa saja yang membedakan untuk kedua jenis kontrak tersebut? Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – hadi muttaqien

Sharing saya,

Kalau menurut saya sih EPCM nilai contract proyeknya lebih besar dari pada EPCC.

EPCM mewakili owner mengelola proyek ;sedangkan EPCC adalah sebagai kontraktor bisa saja di bawah pengawasan EPCM.

Tanggapan 2 – Dani Darwis

Saya kira perlu diklarifikasi dulu dgn Pak Endri, apa kepanjangan dari EPCM tersebut? bisa saja itu berarti Engineering, Procurement and Construction Management (EPCM), bukannya Maintenance. Bila betul yang dimaksud adalah EPCManagement, maka secara praktis memang lebih dekat dengan pekerjaan EPCC (Engineering, Procurement, Construction and Commissioning) . sebagai owner biasanya akan bingung dihadapkan dua pilihan keputusan mau masuk kontrak lewat model EPCM atau EPCC. masing2 memiliki kelebihan dan keuntungan, saya ambil contoh dua perbedaan yg umum terjadi dalam hubungan keterlibatan Owner sbb:

1. Pemilihan Supplier,

dalam kontrak EPCC, supplier bisa langsung ditentukan semata-mata oleh kontraktor tanpa perlu menunggu input dari Owner. sedangkan dalam EPCM, supplier dipilih dengan mutual agreement baik dgn Owner maupun dgn EPCM.

2. Scope of Supply

Dalam kontrak EPCC, tidak diharapkan terjadi perubahan setelah award contract dan harus mengacu kepada original project spec yg dipresentasikan selama proses bidding, karena perubahan berarti sangat mahal. sedangkan dalam EPCM, owner bisa melakukan modifikasi project spec sesuai dgn kebutuhannya. Owner dengan bantuan EPCM contractor bisa negotiate independent contract dgn supplier / vendors at any time dikarenakan memang projectnya dibawah multiple independent contract.

Jadi dgn kondisi diatas umumnya nilai kontract project EPCManagement lebih kecil dari pada EPCC.

Demikian sharing dari saya.

Tanggapan 3 – Endri Prasetyo

Pak Dani,

Yang saya maksud M adalah Management, bukan Maintenance. Btw, saya juga mendapatkan penjelasan Bapak seperti dibawah dari Mbah Google.

Cuma saya ingin kembangkan lagi pertanyaannya, sejauh mana kita mendefinisikan kalimat ‘tanpa menunggu input dari Owner’. Kalau tidak salah tentu sebelum kontrak ditandatangani tentunya si Owner (atau yang mewakili Owner, misal konsultan) sudah melakukan audit atau survey calon2 supplier/subkontraktor yang diajukan kontraktor dan setelah itu menyetujuinya jika memenuhi persyaratan.

Contoh kasusnya, misal sebagai orang QA/QC Owner ingin subkontraktor/supplier juga mengirimkan calibration record/report untuk alat2 ukur yang akan digunakan untuk mengerjakan project, melalui kontraktor. Nah apakah ini terlalu jauh sehingga ‘melanggar’ EPC contract khususnya point 1 yang Bapak tulis dibawah? Soalnya ada kawan yang bilang itu ‘melanggar’, alasannya supplier sudah diaudit dan sudah disetujui yang tentunya pada saat audit hal ini sudah diverifikasi.

Mohon tanggapan lebih lanjut.

Tanggapan 4 – Dani Darwis

Pak Endri,

Dalam prakteknya banyak strategy yang bisa dipakai untuk pemilihan supplier, tergantung kondisi si Owner dan si Contractor tersebut, misalnya dalam context kontraktornya telah memiliki system management yg sudah establish, tentu mereka sudah punya APPROVED SUPPLIER LIST dan bahkan sampai kepada PREFERRED MANUFACTURER LIST yang mana penilaian terhadap supplier termasuk pelaksanaan proses auditnya sudah dilakukan jauh sebelum kontrak ditanda tangani, sehingga tidak perlu lagi di audit oleh Owner, Contoh dalam wellhead platform project yang saya handle sekarang ini, cleint sudah punya Approved supplier list dan preferred manufacturer list, kita sebagai kontraktor tinggal pakai saja sesuai dgn kontrak (ingat hati2 baca kontrak, kalau confidence level kita rendah dgn approved supplier list dari client atau owner, maka strongly recommended to carry out second party audit).

Mengenai definisi yang anda tanyakan itu tergantung bunyi dalam kontrak, tapi dalam prakteknya owner biasanya senang ikut campur dalam pemilihan supplier baik secara langsung maupun tidak (proses lobby dan negosiasi adalah hal yg sangat menggoda dan menarik buat client atau owner), oleh karena itu harus sering2 baca kontrak supaya semua keputusan dan tindakan yg dipilih aman dalam koridor kontrak.

Mengenai kasus calibration record yang anda sebut, saya tidak melihat ada pelanggaran, permintaan QA/QC owner masih wajar, menunjukan bahwa dia paham tentang QA/QC dan tentunya itu adalah bagian dari kontrak, kecuali alat2 ukur itu memang tidak dipersyaratkan calibration record, lalu diminta supaya ada oleh QA/QC owner…relax saja (kuasai kontrak) ini adalah kesempatan kontraktor cari duit tambahan melalui media change of order atau variation order (analisa dulu is it worth? dan bagaimana dampaknya terhadap schedule dan lain-lain).

Sebagai tambahan bahwa Ya, setuju dalam konteks pemilihan supplier tapi dalam eksekusi pekerjaan tentu lain lagi harus mengacu kepada requirement yang diminta dalam kontrak……Mengenai alasan supplier sudah di audit…perlu hati2 disampaikan bahwa proses audit itu sifatnya adalah sampling, artinya tidak 100% alat2 ukur akan dilihat dan diperiksa oleh auditor selama audit, bisa saja ada yang lolos dan kebetulan yg lolos itu adalah critical measuring device, can you imagine what will be happening..dan kebetulan juga auditornya tidak paham proses bisnis ditempat anda bekerja sekarang, makin jadi dech problemnya…

Salam sukses buat anda.

Tanggapan 5 – Alex Iskandar

Kalau boleh sedikit komentar, dari diskusi ini belum jelas apa rupanya yang dimaksud dengan EPC dan EPCM dan EPCC itu sendiri dari standard referensi yang saya ketahui.

Bahkan dari diskusi awal EPCM bisa jadi dimaksudkan adalh EPC + Maintenance ? Dan EPCC adalah EPC+ Commissioning?

Dari beberapa referensi tentang kontrak Engineering (dan juga EPC) yang biasanya berpegangan terhadap FIDIC.

http://en.wikipedia.org/wiki/FIDIC

http://www.fidic.org/

Saya belum menemukan referensi yang tepat tentang definsi EPCC (kalau yang dimaksud adalah comissioning) mestinya setiap EPC contract didalamnya ada juga Comissioning support setelah hand over / Acceptance. Dimana (biasanya) Pre-Comissioning menjadi kewajiban dari EPC contractor dan untuk Comissioning yang bertanggung jawab adalah dari pihak Operation Owner.

Jadi mengapa harus EPCC ?

Yang sudah sedikit umum adalah EPC (biasanya untuk onshore) dan EPCI (dengan I:Installation untuk offshore project), dimana kesemuanya didalamnya ada selalu ada ‘Project Management’ dan aktifitas Pre-commissioning sebelum Acceptance.

Untuk EPCM, dan referensi yang disampaikan dalam suatu makalah tentang perbedaan EPC dan EPCM saya menemukan dalam artikel ini.

Yang pada intinya menerangkan tentang EPCM itu sendiri bukanlah EPC dengan M (Management) , karena EPC sendiri harus dimanage dengan Management,

Namun EPCM disini lebih merupakan CM : ‘Construction Management’. Dan kontraktor EPCM tidak melaksanakan Procurement dan Construction itu sendiri.

Yang merupakan pekerjaan Construction Management dan (biasanya) memberikan advise kepada owner, atau biasanya kita disini menyebutnya PM consultan.

http://www.1insaat.com/uploads/TrbBlogs/pdfs_4/45590_1244700913_402.pdf

Demikian komentar saya, CMIIW, mohon koreksi bila ada yang tidak tepat.

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Saya pernah ikut tender EPCM untuk ExxonMobil Malaysia, walaupun di akhir proses, kita mengundurkan diri.

Dari pemahaman dan interpretasi terhadap dokumen bid dokumen yg akan menjadi kontrak, maka EPCC hanya sampai commssioning dan star-up, tetapi EPCM scope nya sampai fase Maintenance (post star-up). Jadi investasi besar, dan tentu resiko juga besar. Karena tidak banyak perusahaan yg memiliki keahlian dari tahap Detail Engineering sampai tahap Maintenance. Strategy yg dilakukan tentunya membangun coonsortium antara EPC dan Operation & Maintenance contractor. Masalah paling klasik untuk hal ini adalah, bid bond dan performance bond nya guede banget, karena risk nya juga guede, jadi harus mikir panjaaaaaaaang, gitu lho. Kalau aspek teknis, semua project plan harus terintegrasi dgn low cost maintenance, jadi EPC harus berorientasi O&M. Paling tidak, draft maintenance startegy diminta saat tender untuk evaluasi teknis oleh tim tender.

Kalau EPCC, tentu Pak Endri sudah ngerti nggak perlu diulas lagi, di milis, kecuali ntar ulasan nya kalau ketemu di warung kopi, di Doha 🙂

Ditunggu….