Flare yang menggunakan tekhnologi coanda kurang bagus apabila beroperasi pada low flowrate. Prinsip dari gas-adhesion atau dikenal dengan Coanda Effect adalah melewatkan gas yang dipancarkan melalui profil coanda (seperti tulip – sehingga sering disebut Tulip Flare Tip – permukaan yang dilengkungkan sedemikian rupa) sehingga menghasilkan zona yang mendekati vakuum yang akan menarik udara dalam jumlah yang banyak. Udara ini akan bercampur secara turbulen dengan gas sehingga menghasilkan pembakaran dengan efisiensi yang tinggi.

Tanya – ariek ar

Dear Rekan-rekan milis, selamat sore,

Saya minta sedikit ilmu dan pencerahan dari rekan-rekan sekalian mengenai Coanda Effect untuk Flare System. Apakah Coanda effect itu dan bagaimana mekanismenya.
Terima kasih atas attensi dan informasi dari rekan-rekan sekalian.

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Dear Ariek,

Flare yang terdiri dari 2 system pressure. Low pressure gas ada di tengah, sedangkan high pressure gas mengalir di bagian anullus di tabrakan ke penghalang (seperti gentong), sehingga Hp gas berkecepatan tinggi dan mengalir secara radial. Maksud nya supaya terjadi pencampuran yang baik dengan udara. sehingga diharapkan flare nya smokeless. Coanda Flare, mempunya ciri khas , ujung flare nya seperti bagian atas gelas wine.

Untuk facilities yang ngak punya utilities steam atau fresh water supaya flare nya smokeless. Coanda flare biasanya menjadi pilihan yang disenangi designer dari ofshore facilities. ke untungan lain noise level nya rendah di banding multi nozle sonic flare. disadvantage nya, flare type ini kita size at maximum possible event, jadi kalau flare atau Vent normal kita akan melihat adanya smoke.

Flare John Zink Kaldaire merupakan typical dari coanda flare.

Tanggapan 2 – Zaki Hatmanda

Terima kasih pak roeddy atas penjelasannya, kebetulan sekali saya juga punya pertanyaannya yg sama dengan pak Ariek.

Sejauh ini adalah drawback dari tipe flare tip yg menggunakan coanda effect. apa betul flamenya tidak stabil pada rate tertentu (rate rendah terutama)?

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

Pak Zaki,

Kalau dilihat secara teoritis memang betul pada saat low rate performance nya ngak sebagus pada design rate. maksud saya begini.

Pada saat low rate, mungkin yang ada bagian low pressure saja , jadi melalui pipa yang di tengah, tanpa komponent high rate. yang tengah tidak memperoleh mixing yang baik, jadi pak Zaki akan melihat nyala kuning gelap dengan sedikit jelaga.

Pada saat rate nya tanggung2, juga pengalaman saja selalau ada jelaga nya, soalnya slit opening anulus dengan gentong nya di hitung pada saat maximum rate.

Tapi kalau anda tanya si flare maker si pasti akan bilang bagus terus, tetapi umumnya untuk applikasi di INA belum ada (I am not sure) aturan tentang smokeless serta noise level, yang biasanya saya jadikan ukuran adalah Radiation level saja.

Tanggapan 4 – Simeon S. Ginting

Selamat siang Bapak2,

Saya ingin menambahkan informasi dari Pak Roeddy. Memang benar seperti yang dikatakan Pak Roeddy : flare yang menggunakan teknologi coanda kurang bagus apabila beroperasi pada low flowrate.’

Prinsip dari gas-adhesion atau dikenal dengan Coanda Effect adalah melewatkan gas yang dipancarkan melalui profil coanda (seperti tulip – sehingga sering disebut Tulip Flare Tip – permukaan yang dilengkungkan sedemikian rupa) sehingga menghasilkan zona yang mendekati vakuum yang akan menarik udara dalam jumlah yang banyak. Udara ini akan bercampur secara turbulen dengan gas sehingga menghasilkan pembakaran dengan efisiensi yang tinggi.

Pada saat low flowrate, zona vakuum tersebut tidak terbentuk sedemikian rupa untuk menarik udara yang cukup untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga menimbulkan asap -smoke.

Tetapi hal ini dapat diatasi dengan menggunakan variable slot design sehingga menghasilkan kemampuan turndown yang lebih tinggi.

Ada satu kelemahan lagi dari tulip flare tip (coanda design) pada saat low flowrate. Pada Tulip Flare Tip, posisi pilot berada dibawah bagian paling atas flare tip atau tepatnya berada di samping/sejajar body flare tip. Pada saat low flowrate, tekanan gas tidak begitu cukup untuk mendorong api ke atas flare tip sehingga sering terjadi hot spot di body flare tip dimana pilot berada. Hal ini mempengaruhi life time flare tip.

Hal diatas agak bertolak belakang dengan design / teknologi John Zink Multi Arm Sonic Flare Tip (maaf….. ini bukan iklan atau promosi, hanya sekedar berbagi informasi). JZ Sonic Flare Tip cukup bagus pada low flowrate karena walaupun terjadi low pressure pada saat low flowrate, gas di-distribusikan ke semua arm sehingga masih dapat dibakar di atas flare tip. Kelemahan design ini adalah pada saat high flowrate menghasilkan noise yg cukup tinggi sebagai akibat dari sonic velocity yang dihasilkan.

Itulah salah satu alasan mengapa JZ mengakuisisi Kaldair beberapa waktu lalu. Sekarang JZ sudah mengembangkan satu teknologi baru dengan menggabungkan desin multi arm sonic flare dengan design coanda flare sehingga menghasilkan flare tip dengan turndown tak terbatas, 100% smokeless operation tanpa menggunakan staging system dan tidak ada flame lick pada low flowrate.

Sekali lagi maaf, saya bukan bermaksud ber-iklan atau promosi. Just sharing knowledge.