Pembelian bisa dinamakan Repeat Order jika harga dan terms/condition sama atau tidak berubah dari pembelian sebelumnya, tetapi jika pemasoknya berbeda maka tentu saja tidak bisa dikatakan repeat order karena pihak yang bertransaksi berbeda.

Tanya – dammen joe

Contoh kasus :

Sebut saja Paket pekerjaan A (Pembelian barang) dengan budget 1 Miliar misalnya ya, di kerjakan atau disupply oleh perusahan B dgn budget 900 juta. Setelah disupply sesuai dengan permintaan User, pihak user akan membeli barang yang sama kembali ke perusahan B namun perusahan B menolak karena pihak user meminta harga yang sama dengan pembelian sebelumnya, yang biasanya di sebut Repeat Order.
Karena tidak ada kesepakatan, akhirnya pihak user membeli barang ke perusahan C.

Pertanyaannya :

1. Apakah pembelian ke perusahan C masih di sebut Repeat Order???.

2. Apakah pembelian ke perusahan C akan di kategorikan requisition yang baru?

3. Repeat Order & Addendum adalah penambahan Cost Project, ke kategori mana pembelian ke perusahan C dikategorikan sebagai penambahan Cost? (Tidak ada budget di budget plan)

Terima kasih atas pencerahannya.

Tanggapan – firman adam

Pak JD,

Ijinkan saya menjawab pertanyaan bapak.

1. Setahu saya, pembelian bisa dinamakan Repeat Order jika harga dan terms/condition sama atau tidak berubah dari pembelian sebelumnya, tetapi jika pemasoknya berbeda maka tentu saja tidak bisa dikatakan repeat order karena pihak yang bertransaksi berbeda.

2. lebih tepatnya disebut ‘Order Pembelian’ yang baru, bukan Requisition karena terms ini umumnya dipakai untuk permintaan barang/jasa secara internal.

3. Adendum jika tidak ada dalam budget proyek / price schedule dalam kontrak. atau bisa juga dibuatkan kontrak / order pembelian tersendiri tergantung dari kebijakan perusahaan.