Ada prinsip yang mengatakan test separator berfungsi juga sebagai well tester dan well checkers maka setting efisiensinya harus as the maximum achievable flowrate through the well tubing string. Walau memang pada akhirnya sering ada collector manifold, metering station and multiphase meter tapi seringkali test separator keakuratannya dijadikan acuan oleh operator dan field engineer.

Tanya – Muchlis Nugroho

Mohon tanya nih…

Apa perbedaan antara test separator dengan production separator?

Bagaimana/bilakah cara penggunakan test separator?

Aturan sizingnya apakah berbeda dengan production separator? Krn sepertinya test separator bentuknya selalu lebih kecil.

Acessories (P&ID) nya apakah juga berbeda?

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Dear pak Muchlis,

Sebetulnya in prinsip sama saja tugas nya memisahkan gas, crude dan air.
tetapi test separator itu diperlukan untuk mengetahui snap shot individual well pada saat di test. jadi Test separator itu sizing nya dari estimate maximum forseable thruput individual well,

Say misalnya maximum yang mungkin dari well yang akan di produksi adalah 5000 bbl oil, 5 mmscfd gas, 2000 bbl water, nah sizing dr dimensi separator, control valve, metering station, relief system dll ikut ke angka angka tersebut diatas.

Production separator atau kadang kadang disebut gross. sizing nya berdasarkan maximum forseable thruput dari fasilitas tersebut.

Say di situ akan di drill 20 well dengan average thruput 3000 bopd, 50 % BS&W, 5 mmscf gas. maka separator dan other ancillary item di size berdasarkan 60,000 crude capacity, 30,000 water dan 100 mmscf gas, tentu saja seringkali designer sering memberikan allowance, siapa tahu ada field lain yang akan di tie in ke facility ini. umumnya allowance ini subjective sekali, tiap lapangan berbeda, tiap company juga lain2, disini jam terbang jadi penting. say tiba tiba ada agressive development, ada tambahan produksi tapi tidak bisa diproduksikan karena facilities restriction, kalau tiap hari di restrict 5000 bbl saja banyak sekali revenue yang hilang. kareana umumnya buat facilities itu paling tidak 2 tahunan lah kalau di Indonesia, so 5000 x 365 x 2 x 60 dollars = $ 219 million gross revenue yang tidak terproduksikan.

Tanggapan 2 – Alvin Alfiyansyah

Dear Mas Muchlis,

Wah, pura-pura aja ndak tahu nich… J

Yang jelas test separator kan dipasang dan digunakan utk mengukur flow dari individual wells. Ukuran lebih kecil karena test separator mengakomodasi sebagian fraksi dari total flowrate, flow maximumnya adalah expected max flow from one well dengan efisiensi yang tinggi untuk mengukur flow dari individual phase yang ada. Asesorisnya relative sama saja.

Sekian dulu yach, mau maghrib. CMIIW.

Tanggapan 3 – Muchlis Nugroho

Pak Alvin ini bisa aja,

Ooo…jadi effisiensinya harus tinggi…pantes test separator yang saya temui biasanya kurus dan panjang (L/D = 4 horizontal).

Tanggapan 4 – Bondan Caroko

Pak Alvin,

Kok saya malah agak bingung ya dgn syarat ‘efisiensi tinggi’. Apa maksud Pak Alvin kriteria sizing-nya (Vg, residence time, dll) justru harus lebih stringent dari prod separator? Selama ini saya kebolak dong, saya pikir justru test separator nggak perlu bagus2 amat pemisahannya (skdr tahu gambaran well aja), toh nanti keluarannya juga bakal dikumpin lagi masuk ke prod header?

Buat Pak Muchlis, menurut saya nggal mesti juga test separator itu panjang & langsing. Itu sgt relatif bergantung komposisi gas-condensate-water dari well-nya, dlm hal ini well yg digunakan sbg basis of design test separator.

Tanggapan 5 – Alvin Alfiyansyah

Dear Cak Bondan & friends,

Di tempat sampeyan kan lebih banyak yg bisa menerangkan dan jago. : )

Karena ada prinsip yg mengatakan test separator yg berfungsi juga sebagai well tester dan well checkers maka setting efisiensinya harus as the maximum achievable flowrate through the well tubing string. Walau memang pada akhirnya sering ada collector manifold, metering station and multiphase meter tapi seringkali test separator keakuratannya dijadikan acuan oleh operator dan field engineer.

Bila memang Prod. Separator sudah anda design dengan stringent approach, tetap saja pasti nanti diperlukan process guarantee yg baik dimana pada Prod. Separator biasanya akan di-set hidden margin oleh Process licensor/vendor untuk mengakumulasikan guarantee tsb. termasuk ketika ada prediksi well/field tie-ins baru (sebenarnya hal ini sudah dihighlight diemail sebelumnya oleh Pak Roeddy, bukan begitu ?).

Jika Cak Bondan aware thd fasilitas existing maka ketika well/field tie-ins baru terpasang ke dalam sistem maka problem liquid carry over, well stream flow exceed capacity of Test separator, waxing, sand, dll. harus dapat dicegah dan diprediksi; untuk itu efisiensi design test separator ini mesti dihitung cukup baik pula demi menghemat well testing operation nantinya. Kalo sudah terlanjur nanti harus dioptimasi ulang dech.
So the judge is up to you my friend ….

Demikian dulu sharingnya. Please CMIIW.
Thanks for looking my 2 cents.

Tanggapan 6 – Dirman Artib

Yang namanya test pada dasarnya adalah aktivitas mengukur. Process dan aktivitas mengukur outputnya adalah informasi, data hasil ukur, maka jelas level dari kriteria keberterimaan nya harus stringent. Begitulah kata teori ilmu dasar Quality Assurance/Control.

Yang lebih dahsyat lagi tentu level keberterimaan dari alat ukur untuk alat ukur (kalibrator), mungkin diberi istilah ‘stringent of the stringent ?’ stringent kuadrat gitu 🙂

Tanggapan 7 – Agnes Zulaika

Pak Alvin,

Sebelumnya maaf saya bukan expert dibidang ini, tapi coba ikut berpartisipasi dari hasil baca sana sini. Test separator biasanya adalah 3 phase (gas, oil, water) horizontal (sangat jarang yang vertical, biasanya yang vertical digunakan untuk Underbalance) yang di design untuk memisahkan dan untuk mendapatkan data data gas, oil, water dari well.

Dan karena biasanya test separator ini adalah mobile unit, maka basis design nya bukan well saja karena kontraktor akan rugi yakni hanya bisa digunakan untuk 1 well yang bersangkutan. Biasanya basic design nya adalah seberapa besar kapasitas separator yang diinginkan yang meliputi Gas Capacity, Oil Capasity, water capacity, dan MAWP. MAWP untuk test separator biasanya 1440psi dan MAWP yang lebih kecil untuk helilift. kriteria yang laen seperti retention time dan sebagainya digunakan untuk memperoleh design yang optimal. test separator ini biasanya mempunyai 2ea water line (2′ & 3′) dan 2ea oil line (2′ & 3′) atau kombinasi size laennya yang diinginkan dan 1ea gas line. penggunaan 2′ line atau 3′ line (atau kombinasi laennya) untuk water & oil tergantung dari aliran sumur karena akan berpengaruh terhadap akurasi pengukuran di turbine meter.

Bagian dalam dari test separator ini sangat sederhana, yang pernah saya lihat hanya wear plate, vortex breaker, mist extractor dsb seperti foto terlampir. sedangkan dibagian luar yakni safety devices (relief valve, rupture disc); di gas line ada straigthening vane, daniel box; di oil line dan water line ada turbine meter, dumb valve; dan juga ada beberapa valve laen untuk bypass & close line; sight glass; pressure gauge; shrinkage tester; level control;

keluarannya nanti biasanya: gas di flared, minyak di burned atau di transfer ke tank/production.

Tanggapan 8 – Alvin Alfiyansyah

Dear Pak/Ibu Agnes,

Benar jika asumsinya Test separatornya adalah mobile unit, makanya saya ulas ‘the judge is the up to you’.

Tapi bagaimana jika Test Separator itu permanent terpasang, maka biasanya size line yg anda maksud dapat 2-3 kali lebih besar dan dikembalikan ke production. Saya juga pernah lihat test separator yg sebenarnya berfungsi utk 2 phase saja, kalo soal “jeroannya” memang saya sependapat bahwa biasanya sangat sederhana yg dipasang.
Soal phase yg mau dipisahkan & MAWP dapat dimintakan reservoir data, sehingga dapat diperkirakan design yg hendak dibuat termasuk individual atau collective testing yg sebaiknya dilakukan. Brainstorming dengan pihak selain process diperlukan sehingga asesoris yg tepat dapat dipasang juga.

Demikian dulu yach, mau nyelesaikan PR sebelum Jumatan.

Tanggapan 9 – Yuliwanto

Mohon info juga;

Apakah bisa sebagai pengganti test separator digunakan multiphase-flow-metering ???
Apakah ada yang memiliki pengalaman dari segi operation & cost – untuk kedua equipment diatas ?

Terimakasih,

Tanggapan 10 – Sukowati Wellpad

Bisa aja pake muli phase tapi untuk keakuratan lebih akurat pake separator malah kadang untuk komper data multiphase nyontek separator. tuk operation emang lebih mudah pake multi phase meter ketimbang separator. tuk cost lebih mahal multi phase dari pada separator padahal mending pake separator.

Tempat aku pake ESMER multi pahase meter tapi kompernya pake test separator juga.

semoga membantu.
Aku kasih gambar multi phase tempatku nih. produck petroleum software limited inggris.

Tanggapan 11 – roeddy setiawan

Dear Pak Yulianto,

Memang bisa sekali dan pada umumnya operator memilih menggunakan multiphase meter untuk menyederhanakan facilities nya.
say kita inginkan multiphase transport dari remote ke prod platform, dari sini operator hanya perlu pasang satu pipa instead 2 p/l oil and gas dari sini kalau panjang pipa 5 km sudah dapat $2 juta an.

Facilitiesnya juga sederhana, tidak usah ada prod separator, shipping pump, genset, deluge system dan lain2 ancillary pendukung.

Penggantian multipahase meter dollar nya ngak bisa system tukar guling karena ngak aple to apple, harus dilihat benefit secara keseluruhan dari penghilangan unit2 operasi.

Pengalaman saya, multiphase meter mungkin $ 750K – 1000K, ada yang lebih mahal lagi. tergantung jenisnya. test separator complete 5000 bbl cap mungkin hanya 100K an, ini dollar 1998. accuracy okay untuk reservoir mgmt, tidak buat fiskal.

Tanggapan 12 – Heru Danardatu

Temans,

Multiphase flow metering selain bisa menggantikan test separator juga punya beberapa kelebihan lain.

Biasanya lebih compact (foot print-nya lebih kecil) jadi bisa dijadikan mobile testing device.
Yang punya Schlumberger (bukan promosi) karena kecilnya bisa juga dijadikan permanent testing device di aplikasi offshore misalnya.
Kalau ini dikombinasikan dengan permanent downhole gauge, bisa jadi well monitoring device yang sempurna.

Selain itu, hasil snapshot dari test separator bisa dijadikan input data untuk membuat well performance model atau ‘nodal analysis’ untuk mengetahui kinerja dari sumur yang bersangkutan.

Tanggapan 13 – Muchlis Nugroho

Dear All,

Nah tuh kan… sentilan gua jadi rame….:-).

Emang yang kayak beginian ini terkadang masih simpang siur diantara kita. Karena memang bentuknya macem-macem.

Yang pernah aku liat sih cuma separator vapor liquid (2 fasa) yang dilengkapi flowmeter (barton). Terus liquidnya masuk ke tanki ukur kecil (test tank) untuk ngukur flow liquidnya. Dan kalau gak salah fraksi water (BS&W) dan oil diketahui secara visual pakai sampel botol.

Gak tau deh yang gua liat ini acceptable gak…? Kayaknya secara logika cukup akurat …

Ntar ku sentil topik yang lain lagi ya…

Tanggapan 14 – Ery Yuhalis

Dear Bapak2,

Saya mohon pencerahan mengenai N2 process. kebetulan ditempat saya product N2 dengan membrane bagai mana dampak nya apabila kita jalankan dengan manual, sedangkan kita punya set point O2 3.00 dengan automatic diatas 3.00akan venting.dan dengan manual content O2 diatas 3.00 tetap product. yang saya inigin tanyakan bagai mana dengan membranenya, munkin ada teman2 yang bisa membantu.

Tanggapan 15 – roeddy setiawan

Dear Ery,

Saya kira anda lebih baik lihat manual dari membran tersebut, say kalau membran itu di feed dg air compressor sekitar 200 psig, pengoperasian secara manual apakah menyebabkan tekanan nya naik melebihi kekuatan membran tentunya akan rupture.
tetapi kalau feed nya ada pressure regulator nya yang maintaint tekanan feed constant dan di holding tank compressor ada pressure relief valve, assuming dua dua nya okay. tentunya membrannya okay okay saja. akibatnya mungkin jas jis jus saja suara dari pressure relief valve.