”Ada satu lagi di hysys dynamic, sering kali material ballance ngelantur, say kalau di separator, seringkali kalu tidak dijaga dengan benar liquid nya bisa ke vapor dan vapor nya bisa ke liquid. jadi mesti teliti, sering sering sampling dan bikin hitungan sendiri untuk validate hasilnya.”

(was : test separator)

Pembahasan – roeddy setiawan

Ada satu lagi di hysys dynamic, sering kali material ballance ngelantur, say kalau di separator, seringkali kalu tidak dijaga dengan benar liquid nya bisa ke vapor dan vapor nya bisa ke liquid. jadi mesti teliti, sering sering sampling dan bikin hitungan sendiri untuk validate hasilnya. kalau pak Tri punya resep please share.

Tanggapan 1 – Tri P. Adhi

dear Pak Roeddy,

Berikut saya sampaikan tanggapan awal saya mengenai pernyataan anda dalam komunikasi yang lalu:

‘Ada satu lagi di hysys dynamic, sering kali material ballance ngelantur, say kalau di separator, seringkali kalu tidak dijaga dengan benar liquid nya bisa ke vapor dan vapor nya bisa ke liquid. jadi mesti teliti, sering sering sampling dan bikin hitungan sendiri untuk validate hasilnya. kalau pak Tri punya resep please share.’

Secara keilmuan, topiknya menarik dan bisa luas sekali. Untuk itu, kali ini judulnya saya ganti dengan Separator dynamic supaya bahasannya lebih terbatasi dulu dan ijinkan pula komunikasi ini untuk diforward juga ke milis tetangga (Migas Indonesia).

Terus terang, saya tidak paham betul pada kasus seperti apa yang dimaksud mass balance Hysys dynamic bisa jadi ngelantur (dengan konotasi negatif alias invalid mass balance) seperti yang disampaikan Pak Roeddy. Saya bisa saja berandai ttg apa yang dimaksudkan (bisa banyak kemungkinannya), tetapi mohon pada komunikasi berikutnya Pak Roeddy bisa perjelas dengan contoh kasus yang lebih spesifik.

Kali ini saya ingin sampaikan bahasan mengenai kondisi terjadinya sebagian liquid bisa terbawa ke vapor atau sebaliknya sebagian gas bisa terbawa ke liquid ketika kita lakukan simulasi dinamik peristiwa pemisahan uap-cair menggunakan separator dua fasa. Agar bisa dicoba oleh peminat lainnya, saya akan deskripsikan kasusnya agak lebih rinci dalam butir-butir berikut:

a). Sistem hipotetik campuran biner C3-nC10 dengan pp Peng Robinson.

b). Aliran umpan FEED memiliki spesifikasi fraksi mol C3 50%, tekanan 5 bar dan temp = 141.5 C shg memiliki vapor fraction VF = 0.5. Anggap laju alir molar total = 10 kmol/hr sehingga umpan ini mengandung separuhnya fasa cair (5.0 kmol/hr) dan sisanya berupa fasa uap (5.0 kmol/hr).

c). Aliran FEED tersebut kita umpankan ke separator dua fasa, menghasilkan aliran atas (aliran VAPOR) dan aliran bawah (aliran LIQUID). Separator kita anggap beroperasi adiabatik dan tanpa memberikan pressure drop. Dengan spesifikasi ini, simulasi steady-state sudah terselesaikan.

d) Sebelum menuju ke simulasi dinamik, kita lakukan persiapan-persiapan berikut:

d.1). Lakukan Quick Sizing terhadap separator vertikal tersebut (diperoleh D = 0.4572 m dan H = 2.515 m).

d.2). Anggap simulasi dimulai dengan kondisi separator yang sudah terisi separuh level (Initialize from Products).

d.3). Spesikasi dinamik untuk aliran FEED adalah laju alir molar (10 kmol/hr).

d.4). Spesikasi dinamik untuk aliran LIQUID adalah laju alir molar (5 kmol/hr).

d.5). Spesikasi dinamik untuk aliran VAPOR adalah tekanan (5 bar).

Note: Kali ini simulasi dinamik kita lakukan tanpa melibatkan control-valve dahulu. Dinamika proses kita kaji dalam keadaan pengendalian secara manual saja.

e) Kita boleh juga lakukan kajian dengan melibatkan pengaruh tekanan statik karena adanya genangan cairan. Untuk itu perlu kita persiapkan hal-hal berikut:

e.1). Aktifkan opsi ‘Static head contribution’, ‘Enable implicit static head’, dan ‘Use Hysys Fidelity’ pada fasilitas Integrator.

e.2). Yakinkan bahwa posisi masing-masing nozzle sudah sesuai dan layak. Misal, nozzle FEED pada posisi 50% tinggi vessel, nozzle VAPOR pada posisi 100% dan nozzle LIQUID pada posisi 0%.

f) Persiapkan 3 stripchart untuk monitoring berikut:

f.1). Stripchart FLOWS –> memonitor molar flow FEED, VAPOR dan LIQUID.

f.2). Stripchart VF —> memonitor Vapor Fraction untuk VAPOR dan LIQUID.

f.3). Stripchart LEVEL —> memonitor Liquid Level (%) dalam separator.

g) Sebelum pindah ke mode Dynamic, pastikan semua spesifikasi dinamik telah terpenuhi, yaitu dengan tekan tombol ikon Dynamic Assistant. Bila semua OK, lalu pindah ke Dynamic Mode dan aktifkan Integrator. Semua stripchart akan menunjukkan monitoring dinamika kondisi yang mantab seperti berikut (grafik lurus horizontal):

g.1). Stripchart FLOWS –> FEED (10 kmol/hr), VAPOR (5 kmol/hr) dan LIQUID (5 kmol/hr).

g.2). Stripchart VF —>Vapor Fraction untuk VAPOR = 1 dan LIQUID = 0.

g.3). Stripchart LEVEL —> Liquid Level 50 %.

h) Selanjutnya kita lakukan gangguan dengan mengurangi laju alir LIQUID (mengubah spesifikasi dari 5 kmol/hr menjadi 1 kmol/hr). Setelah hal ini dilakukan, maka perubahan terjadi sbb:

h.1). Stripchart FLOWS –> FEED (tetap 10 kmol/hr), VAPOR (tetap 5 kmol/hr) dan LIQUID (menjadi 1 kmol/hr).

h.2). Stripchart VF —> Tidak terjadi perubahan Vapor Fraction.

h.3). Stripchart LEVEL —> Liquid Level (LL) meningkat secara linier dari 50 % menuju ke 100%.

Catatan:

1). Sebelum mencapai LL = 100%, maka dinamika proses (bila ditinjau dari laju alir inlet-outlet) seakan menunjukkan adanya ketidak-akuran neraca massa (imbalance), yaitu aliran inlet tetap 10 kmol/hr sedang aliran outlet hanya berjumlah 5 + 1 = 6 kmol/hr. Kemana perginya selisih aliran cairan yang 4 kmol/hr? Jelaslah jawabnya bahwa selisih laju alir cairan tersebut menjelma menjadi kenaikan LL menjadi > 50% tadi.

2). Secepat LL sudah mencapai 100%, maka laju alir LIQUID tetap 1 kmol/hr dan laju alir VAPOR segera berubah menuju harga 9 kmol/hr. Ini berarti bahwa aliran atas (VAPOR) tidak hanya mengalirkan fasa uap tetapi juga mengalirkan selisih aliran fasa cair 4 kmol/hr, sehingga aliran VAPOR memiliki laju alir total 5 + 4 = 9 kmol/hr dan vapor fraction = 5/9 = 0.5556. Tidak seperti pada simulasi steady-state yang selalu memberikan aliran atas separator dengan VF=1, maka dalam simulasi dinamik dapat dijumpai aliran atas yang mengandung fasa cair karena adanya luberan cairan dari separator.

3). Peristiwa pada butir (1) dan (2) adalah sesuatu yang logis untuk bisa dimengerti. Tetapi seandainya stripchart yang ditampilkan hanya stripchart FLOWS dan kita tidak begitu sadar dengan dinamika kenaikan level cairan, maka bisa saja diantara kita ada yang mengira bahwa perhitungan neraca massa Hysys lagi ‘ngelantur’. Saya yakin bukan hal seperti ini yang dimaksud oleh Pak Roeddy.

i). Kasus yang mirip pada bahasan butir (h) dapat dijumpai bila seandainya sekarang laju alir LIQUID dispesifikasi = 9 kmol/hr. Secepat ini dilakukan, LL menjadi berkurang dari 100% dan laju alir VAPOR kembali ke 5 kmol/hr dan begitupula vapor fraction aliran VAPOR kembali menjadi = 1. Ketika sudah tercapai LL = 0%, maka aliran bawah tidak lagi semuanya fasa cair dan laju alir VAPOR segera berubah menjadi 1 kmol/hr. Selisih laju alir fasa uap yang 4 kmol/hr akan ikut tersedot aliran bawah sehingga aliran bawah memiliki vapor fraction VF = 4/9 = 0.4448.

j). Bila kasus (i) diteruskan, apa yang terjadi bila laju alir LIQUID diperbesar lagi, misal menjadi 11 kmol/hr? Berdasarkan prinsip neraca massa dan mengingat aliran FEED tetap 10 kmol/hr, maka Hysys akan secara konsisten menghitung harga laju alir VAPOR = – 1 kmol/hr (negative flow!!!), yang berarti ada aliran balik gas dari luar melalui saluran atas dan kemudian ikut keluar lagi melalui saluran bawah.

Terlepas bahwa bisa saja dicarikan skenario yang menunjukkan bahwa kasus (i) dan (j) dapat dijumpai dalam praktek, namun katakanlah kali ini skenario tersebut kita lupakan dahulu. Maka apakah kasus (i) dan (j) ini selanjutnya bisa dianggap sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa perhitungan neraca massa Hysys dynamic menjadi ‘ngelantur’? Saya yakin bukan hal seperti ini yang dimaksud oleh Pak Roeddy. Dalam kasus ini, Hysys-nya tetap konsisten dalam perhitungan neraca massanya, tetapi kitanya yang ‘ngelantur’ dengan memberikan spesifikasi yang tidak masuk akal. Kalau memang ini yang dimaksud, maka resepnya adalah ‘selalu waspada dalam memberikan spesifikasi, jangan sampai tidak masuk akal’. Sepertinya naif, tetapi dalam melakukan simulasi kita bisa saja terjebak blunder tidak pernah mencapai perhitungan yang konvergen karena secara tidak sadar kita memberikan spesifikasi yang tidak dapat dipenuhi. Sebagai contoh adalah perhitungan kolom distilasi yang tidak akan pernah konvergen karena kita berikan spesifikasi laju alir distilat yang melebihi dari yang mungkin dapat dicapai.

Waduh Pak Roeddy, sepertinya saya jadi keasyikan menulisnya. Padahal sebetulnya saya masih maksudkan hal ini sebagai tanggapan awal. Saya yakin hal ini belum menjawab apa yang dimakdudkan oleh Pak Roeddy karena saya memang belum faham dengan maksud Pak Roeddy. Ha… ha… anggap saja sebagai intermezzo di akhir pekan. Have a nice week-end Pak.Masih di Houston kan!.

Tanggapan 2 – cahyo@migas-indonesia

Pak Roeddy,

Saya pernah juga mengalami hal yang sama dengan anda, hanya saja setelah balik lagi baca teori dasarnya plus teori pengendalian, plus trik & tip di hysys dynamic, akhirnya jadi juga. 3 kurva performance compressor bisa terlihat manis bergerak dengan adanya gangguan feed, termasuk efek discharge temperature aftercooler karena adanya perubahan beban. Waktu itu, kurva anti-surge yang disediakan hysys masih bersifat linear kalau tidak salah, sehingga saya harus melakukan modifikasi yang berefek ke pengurangan rentang jelajah operasi kompresor, apa daya …..

Pun termasuk melihat efek ada dan tidaknya station recycle karena suction pressure turun. Tanpa station recycle, maka dinamika proses jadi agak kacau dan gas ter-flare di separator. Bahkan tidak jarang dia shutdown karena surge.

Di simulasi tersebut, kita juga bisa belajar efek lag time pipa, yang waktu itu saya gunakan separator, untuk melihat efek “pressure capasitor” di perpipaan. Mungkin tidak valid ? Who knows.

Kita juga bisa belajar darinya, kalau tidak salah teori tuning controller tanpa menyebabkan plant shutdown (wong itu cuma simulasi khan). Dan kalau ada orang yang berani tuning controller langsung, apalagi fuel gas controller, biasanya orang itu nekat dan tahu persis caranya- Betul khan Pak Tahzudin?? Maaf ngelantur yach….he..he..

Balik bakul lagi, hanya saja ketika saya simulasikan shutdown, hysys keliatannya tidak mampu meresponse kelembaman kompresor yang pastinya berputar lebih pelan dahulu sebelum shutdown. Mungkin yang terbaru sudah dapat melakukannya(?) Saya tidak tahu karena dunia ini sudah lama tidak tersentuh oleh saya euy!

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

Dear Pak Adhy,

Wah terimakasih berat nih sudah ditanggapi dengan jelas sekali, persis seperti yang pak adhy duga, kondisi I & J itu yang sering terjadi, kadang kadang vapor stream nya jadi negatif kalau kita bikinkan gangguan say di feed nya, atau kadang2 liquid streamnya yang negative. memang mathematicaly correct tetapi di real plant rasanya kok ngak mungkin terjadi.

memang kalau tidak crash kadang2 bisa recover tapi for most case kalau proses nya sudah ruwet say ada three stage compression dengan 3 KOD dan resicle nya, PSV, control valve dan controler nya . umumnya kalau gangguan nya terlalu besar, tidak bisa kembali, kita harus mulai lagi dari scratch.

berikut saja lampirkan 3 phase separator transient, dengan controler di liquid line dan di water line nya. initial condition feed nya punya pressure 180 psig, proses running fine. misalnya skenarionya separtor ini kehilangan sebagian feed nya say 2 remote platform shutdown, harus nya flow nya mengecil dan pressurenya mengecil juga. say pressurenya tinggal 100 psig (feed), some how sekarang ballance transient nya feed nya negative.

padahal expectasi saya, feed nya berkurang, dan controler menginstruksikan control valve tertutup untuk maintain level dr liquid dan correcting material ballance nya.

dont get me wrong pak, this was a very fine product I like it, and I make a ton of money with this tools, last project di deepwater dengan bantuan tools ini kita berhemat lebih dari $30 million so i am happy with it.

tapi yah itu kadang kadang I lost my faith dalam kondisi seperti di atas tadi. barangkali kalau pak Adhy bisa melihat apa terjadi, .

Tanggapan 4 – roeddy setiawan

Dear Pak Tri,

Saya kira pak tri tidak menerima attachment yang saya lampirkan,
didalam skenario ini ada dynamic field separator operate pd 180 psia, 160 mmscfd . misalnya feed nya di supply dari beberapa remote, totalnya 160 mm dengan tekanan 180 psi, pada awal simulasi ini run fine.

lalu silahkan dicoba, skenario nya feed yang ke separator kehilangan say 2 remote platform yang shutdown, feed nya hilang pressure nya menurun jadi tinggal 100 psi.

ini kan real situation, separator kehilangan feed. ekpektasinya kan seharusnya, control valve akan menutup sesuai dengan set point nya.

coba ganti feed pressure jadi 100 psi, anda akan mendapatkan feed rate yang negative, which is in real situation tidak mungkin terjadi.

kalau anda kembalikan ke 180 , kita expect rate nya kembali ke 160 mm tapi dia osilasi ke 260 mm which is di real situataion ngak mungkin orang tadinya kita punya feed 160 mm saja,

dalam contoh yng simple ini systemnya bisa recover, tapi kalau anda bikin real plant yang agak complicated, seperti kompressor , glicol, refrigreation system, demethanizer dll 9 of 10 run pasti langsung crash, kita musti bikin lagi dari scratch

kalau pak adhi bilang, ini spesifikasi/situasi diatas yang tidak masuk akal, barangkali mohon di ulas lebih jauh. what do and don’t. karena dilapangan kalau kondisinya seperti diatas kehilangan pressure pasti kehilangan feed tapi tidak pernah negatif.

contoh ini belum melibatkan system yang complicated , seperti real plant ada kompressor plus ancillary unit operation, glycol system

terlampir file dynamic simulation yang dibicarakan biar bisa di run di tempat pak adhy,

Tanggapan 5 – Tri P. Adhi

Dear Pak Roeddy,

Terimakasih atas kiriman deskripsi permasalahan beserta Hysys simulation filenya.
Di awal masuk kerja Senin pagi, wah senang juga dipapari dengan permasalahan riil dari lapangan.

Berikut tanggapan saya setelah sekilas mencoba memahami permasalahan ini.

a). Permasalahan utama dalam kasus ini adalah bagaimana dapat melakukan simulasi dinamika proses ketika terjadi perubahan tekanan umpan dari 180 psia –> 100 psia. Ketika saya coba dari file yang dikirim dan tanpa melakukan modifikasi apapun, saya bisa mengikuti dinamika yang diceritakan pak Roeddy, yaitu terjadinya negative flow untuk tiga aliran, yaitu aliran umpan, aliran produk gas dan aliran produk minyak. Setelah klik-klik untuk periksa sana sini dalam file simulasi tersebut, saya juga dapat memaklumi bahwa permasalahannya adalah berkaitan dengan ‘overlooked specification’ dan ‘improper specification’. Tapi sebelum langsung menyampaikan permasalahan tersebut, ijinkan saya agak berkelana dahulu.

b). Simulasi dinamik tersebut telah dilakukan dengan kondisi awal (operasi normal) pada tekanan umpan 180 psia dan tekanan Separator sekitar 178.3 psia. Aliran umpan (Stream 2) memiliki spesifikasi dinamik berupa tekanan. Dengan spesifikasi ini, kita memang bisa berharap bahwa tekanan bisa kita jadikan variabel yang dapat kita ubah-ubah sedangkan laju alir akan mengikuti harga perubahan tekanan tersebut. Dengan ukuran valve yang telah ditentukan, valve aliran umpan (VLV-100) dengan bukaan 50% dan beda tekanan yang tersedia (1.7 psia) dapat mengalirkan umpan total (3 fasa) sekitar 160.4 mmscfd. VLV-100 TIDAK dimodelkan dapat berkelakuan sebagai ‘check valve’.

c). Spesifikasi dinamik berupa tekanan juga diberlakukan untuk semua aliran outlet, yaitu mencakup 4 aliran berikut:

c.1. Aliran gas relief (Stream 19) ; spec tekanan discharge = 24.7 psia, tapi RV-nya memiliki set press = 190 psia, sehingga dalam kondisi normal, laju alir aliran ini = 0 mmscfd.

c.2. Aliran produk gas (Stream 14-1) dengan spec tekanan discharge = 172.5 psia sehingga pada kondisi normal (awal) memberikan pressure drop pada valve untuk aliran ini (VLV-14) sebesar 5.75 psi. Dengan bukaan sebesar 50% dan ketersediaan pressure drop tersebut, valve ini telah di-‘size’ mampu mengalirkan sekitar 69.5 mmscfd pada kondisi normal. VLV-14 dimodelkan dapat berkelakuan sebagai ‘check valve’.

c.3. Aliran fasa light-liquid (Stream 18) dengan spec tekanan discharge = 162.5 psia sehingga pada kondisi normal (awal) memberikan pressure drop pada control valve untuk aliran ini (VLV-104) sebesar 15.75 psi. Laju alir aliran ini ditentukan oleh pengendalian level light-liquid di dalam Separator (LIC-101) yang tampaknya memiliki setting point = 40%. LIC-101 memiliki konfigurasi algoritma PID, direct acting, dan pada kondisi AUTO. VLV-104 TIDAK dimodelkan dapat berkelakuan sebagai ‘check valve’.

c.4. Aliran fasa heavy-liquid (Stream 18) dengan spec tekanan = 50 psia , merupakan aliran discharge dari valve VLV-101 yang dimodelkan dapat berkelakuan sebagai ‘check valve’.

d). Berdasarkan review spesifikasi dinamik untuk aliran inlet-outlet dan pemeriksaan model kelakuan untuk setiap valve, maka ketidak-sempurnaan simulasi dinamika proses ketika terjadi perubahan tekanan dari 180 psia menjadi 100 psia adalah karena dua hal berikut:

d.1. ‘overlooked specification’:

Pak Roeddy lupa mengaktifkan opsi dapat berkelakuan sebagai ‘check valve (prevents backflow)’ untuk valve aliran umpan (VLV-100) dan valve aliran light-liquid (VLV-104). Bila opsi ini diaktifkan untuk kedua valve tersebut, maka tidak akan terjadi fenomena negative flow ketika terjadi perubahan tekanan umpan 180 –> 100 psia. Setelah terjadi perubahan tekanan tersebut, VLV-100 langsung tertutup sehingga tidak terjadi aliran inlet. Tekanan Separator secara dinamik akan mengalami pengurangan karena berkurangnya sisa tumpukan massa yang ada di dalamnya. Jalan keluar sisa massa dalam Separator bergantung pada harga tekanan separator, dengan sequence sebagai berikut:

d.1.1. Ketika tekanan berukurang pada rentang 178.3 psia –> 172.5 psia, pengeluaran massa separator berlangsung melalui aliran produk gas, aliran light-liquid dan aliran heavy liquid.

d.1.2. Ketika tekanan berkurang pada rentang 172.5 psia –> 162.5 psia, pengeluaran massa separator berlangsung melalui aliran light-liquid dan aliran heavy liquid. Aliran produk gas tidak ada lagi karena VLV-14 menjadi bertindak sbg check-valve.

d.1.3. Ketika tekanan berkurang pada rentang 162.5 psia –> 100 psia, pengeluaran massa separator berlangsung hanya melalui aliran heavy liquid. Aliran light-liquid tidak ada lagi karena VLV-104 menjadi bertindak sbg check-valve.

Penurunan tekanan Separator juga diikuti dengan penurunan level light-liquid maupun heavy-liquid sampai suatu ketika sisa massa gas yang ada di dalam Separator juga ikut keluar melalui nozzle aliran heavy-liquid. Ketika hal ini terjadi, warning akan muncul pada unit pompa aliran heavy-liquid bahwa pompa tersebut mendapatkan umpan yang mengandung fasa uap.

Setelah tekanan Separator menjadi 100 psia, maka aliran umpan muncul lagi (sekitar 2.2 mmscfd) dan simulasi akhirnya berlangsung dengan profil aliran yang mantap pada harga sekitar 2.2 mmscfd untuk aliran inlet maupun outlet.

Bila kemudian tekanan umpan dikembalikan lagi menjadi 180 psia, maka laju alir umpan akan kembali ke harga sekitar 160 mmscfd tanpa mengalami overshoot ke 260 mmscfd seperti yang diceritakan pak Roeddy. Silakan dicoba pak.

d.2. ‘improper specification’ :

Meskipun tidak terjadi fenomena negative flow dan simulasi bisa berjalan mulus, tetapi dinamika proses seperti dijabarkan pada d.1 mungkin juga masih kurang menggambarkan kondisi riilnya. Dengan memberikan spesifikasi tekanan aliran produk gas dan aliran produk light-liquid pada harga yang tetap, yaitu 172.5 psia dan 162.5 psia, ini berarti bahwa seakan kedua aliran tersebut menuju ke unit operasi (di bagian hilir downstreamnya) yang memiliki mekanisme penjagaan tekanan yang konstan. Bila kasus ini memang demikian adanya, maka spesifikasi dinamik untuk kedua aliran tersebut sudah tepat. Tetapi bila kasusnya tidak demikian, maka spesifikasi dinamik untuk kedua aliran tersebut menjadi tidak tepat. Untuk melakukan koreksinya, perlu dilakukan pemodelan yang melibatkan unit operasi downstreamnya.

Demikian ringkasnya tanggapan yang bisa saya sampaikan.

Mengenai bagaimana melakukan simulasi dinamik untuk kasus yang lebih besar dan kompleks (misal dalam hal plant-wide control simulation), kita diskusikan di lain kesempatan bila memang diperlukan. Bahasan tentang hal ini akan makin menarik, tetapi perlu kita bahas tahap demi tahap di lain kesempatan (kalau tidak lupa dan punya kesempatan ya).

Tanggapan 6 – cahyo@migas-indonesia

Wah,

Tulisan Pak Tri ini mengingatkan kembali ketika run simulasi dynamic untuk 3 kompresor tandem. Awalnya, karena saya males untuk melihat spesifikasi maka hasilnya jadi kacau balau, terlebih kalau ada gangguan. He..he.. ini efek shortcut nih. Jadi peribahasa garbage in-garbage out itu memang benar adanya.

Tanggapan 7 – Tri P. Adhi

Deskripsi Masalah

Permasalahan ini berkenaan dengan dinamika proses suatu Separator Tiga Fasa. Unit tersebut sebetulnya merupakan bagian dari suatu sistem proses yang besar. Namun dalam komunikasi ini, fokus kajian diarahkan hanya pada unit tersebut sebagai unit tunggal yang terisolasi dari system induknya.

Penutup

Meskipun tidak terjadi fenomena negative flow dan simulasi bisa berjalan mulus, tetapi dinamika proses mungkin juga masih kurang menggambarkan kondisi riilnya. Dengan memberikan spesifikasi tekanan aliran produk gas dan aliran produk minyak pada harga yang tetap, yaitu 172.5 psia dan 162.5 psia, ini berarti bahwa seakan kedua aliran tersebut menuju ke unit operasi (di bagian hilirnya) yang memiliki mekanisme penjagaan tekanan yang konstan. Bila kasus ini memang demikian adanya, maka spesifikasi dinamik untuk kedua aliran tersebut sudah tepat. Tetapi bila kasusnya tidak demikian, maka spesifikasi dinamik untuk kedua aliran tersebut menjadi tidak tepat. Untuk melakukan koreksinya, perlu dilakukan pemodelan yang melibatkan unit-unit operasi di bagian hilirnya. Selain tidak tersedia informasinya, penjelasan bagaimana koreksi pemodelan tersebut dapat dilakukan akan terlalu besar untuk disampaikan dalam naskah singkat ini. Untuk tujuan semula sekedar menguak ketidak-sempurnaan model simulasi dan kemudian menyampaikan langkah penyempurnaannya, maka kiranya pembahasan dalam naskah ini sudah mencapai sasaran. Komentar, saran dan pertanyaan atas bahasan dalam naskah ini sangat diharapkan.

Pak Budhi,

Saya sampaikan terlampir naskah singkat hasil penulisan ulang posting tanggapan masalah simulasi dinamik.
Saya belum proof-read dengan seksama. Maklum lah, menulisnya saja juga sambil lalu.
Silakan disimak dulu kelayakannya sebelum ditayangkan ke milis.

Attachment : Contoh Kasus Dinamika Separator Tiga Fasa.pdf