Shackle ada dua jenis : safety pin dan screw pin. Dua-duanya tentu saja boleh dipake buat rigging. Cuma untuk kerjaan bawah air (diving), dengan alasan kepraktisan, screw pin lebih sering dipakai. Recondition boleh boleh saja asal, prosedure sesuai dengan standard yang berlaku, kita sering melakukan recondition/repair pressure vessel misalnya. Ada prosedure yang baku, begitu juga valves, ada procedure yang dikerjakan sesuai dengan manufacture. Kalau prosedure nya diluar itu,/kita bikin repair procedure tersendiri, yah harus dipertahankan didepan mgmt/MOC kalau di aksep yah jalan. Issue yang lain kalau terjadi kecelakaan, kebetulan benang merahnya datang dari barang yang direpair tersebut ini nantinya jadi panjang, atau kebetulan yang menemukan benang merah adalah auditor on behalf insurance company ini lebih panjang lagi. Ujung ujungnya premium dari company jump to the roof, insident di local sini, membuat premi di tempat lain ikut ikutan naik. Jadi becarefull murah belum tentu murah.

Tanya – johny@wal

Baru-baru ini saya mendapatkan informasi dari Customer saya bahwa mereka membeli Shackle Crosby Bolt Type, Crosby dengan harga yang sangat murah, dari segi harga hal itu tidak memungkinkan karena kami yang bergerak dibidang rigging shop ini melihat sangat tidak mungkin harga yang didapat tersebut sangat murah.
Untuk itu pada saat shackle tersebut dikirimkan kepada customer, saya mencoba melihat fisik dari shackle tersebut ternyata kelihatannya itu merrupakan barang rekondisi, dimana secara fisik sangat mengkilap, seperti baru di cat dan keadaanya sangat bersih, sedangkan untuk shackle original adalah shackle casting yang fisik permukaanya kasar.
Bersama ini saya lampirkan foto dari Shackle rekondisi tersebut, Hal ini juga kadang terjadi untuk Sling Wire Rope.
Sekedar informasi untuk shackle rekondisi ini juga dapat dilampirkan sertifikat juga. (Hebat euy).

Jika ada masukan dari teman-teman yang lain yang bisa memberitahukan bagaimana membedakan antara material rekondisi dan original, atau punya pengalaman mengenai hali ini, tolong mungkin bisa memberitahukan kesaya.

Tanggapan 1 – Hadi subiantoro

dear pak jhony:

melihat dari geometrinya , benda ini proses pembentukanya ada 2 cara forging dan casting. tapi untuk yg foto shackel ini proses pembuatanya mengunakan metoda casting. saya tidak tau materialnya apa ?sepintas terlihat seperti steel casting.. untuk proses steel casting lazimnya metodanya megunakan cetakan pasir oleh karena itu permukaan nya relatif kasar sesuai dengan ukuran butir pasir yg digunakan.

Untuk membedakan base metal dengan hasil rekondisi secara visual bapak bisa coba coba dengan cara gerinda halus sedikit kira kira bagian yg direkondisi biasanya akan terlihat perbendaan warna kilapnya pak.

Untuk lebih yakin dan pasti , dan kalo di perbolehkan oleh yg punya bapak minta satu untuk di metalografi pasti foto tidak akan berbohong pak, pasti akan terlihat perbedaanya kalo itu mengalami rekondisi.

semoga membantu.

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

(Pak Jhony,)

dear millis,

kelihatanya shackle yang di photograph, bukan buat rigging ???. ingat saya stud nya harus di threaded ke shackle nya langsung, bukan dikasih bolt tersendiri dan ada pin nya pula. kalau mau melepas buat next riging kan kesusahan lepas pin dulu, mana bengkok lagi kalau mau masang lagi, kapal goyang hilang lah pin dan bolt nya sekalian. mungkin ini buat permanent application ?????.

dari visual sepertinya mateial stud&bolt berbeda dengan shacklenya, kenapa mesti di primer kalau sama. tapi kalau mau yakin bawa saja ke lipi dulu di jalan sangkuriang bandung buat non destructive dan destructive test. mungkin di bppt juga bisa.

Tanggapan 3 – asuyant

Shackle memang ada dua jenis : safety pin dan screw pin. Dua-duanya tentu saja boleh dipake buat rigging. Cuma untuk kerjaan bawah air (diving), dengan alasan kepraktisan, yang screw pin yang lebih sering dipake.

Pada tahun 2004 ada safety alert untuk crosby palsu, karena saya engga bisa lampirkan di sini, saya kirim lewat moderator buat referensi.

Tanggapan 4 – hasan uddin hasanuddin_inspector

(Pak Jhony),

Melihat dari sudut pandang lain…

1. Harga murah –> seberapakah murahnya?? Apakah 2/3 atau 1/2 atau 1/3 harga normal shackle tersebut??

Trus apakah vendornya bilang ke buyer/user-nya bahwa barang yang disupply adalah shackle recondition ataukah meng-claim barang tsb brand new???

2. Siapa yang mengeluarkan sertifikat?? Lab uji, inspection company atau bawaan dari mill maker-nya?? Pengalaman saya dilapangan selama ini, untuk barang yang non customized product, 75% saya ragukan keabsahan sertifikatnya….Rigging equipment, valves, fittings, dsb termasuk kategori yang sering saya ragukan.

Jangan salah pak…barang rekondisipun bisa di-recertify menjadi certified lho… he he he

Tanggapan 5 – Dirman Artib

Pak Johny,

Sertifikat tidak lah hanya sekedar sertifikat, tetapi juga harus mampu telusur. Semua shackle di U.K harus punya no. identifikasi yang unik. Jika kita verifikasi, maka customer services Crosby bisa menelusuri no. serie produk vs. nomor sertifikat.

Dalam kontrak degan salah satu KPS, kita meminimalkan resiko mulai dari fase menseleksi supplier sampai dengan verifikasi produk yang di supplied. Kemudian monitoring material selama dipakai juga perlu, apakah ada masalah atau tidak. Kemudian garis relationship dengan crosby sendiri harus
di’establish’ agar kita bisa langsung berkomunikasi/komplain terhadap produk nya jika ada masalah.

Lakukan lah Risk Management yang baik, building relationship adalah salah satu mitigasi resiko yang efektif.

Tanggapan 6 – Anshori Budiono

Mas Dirman,

Pertanyaannya … apakah secara hukum dan Code dari sisi Safety and Rigging, shackle rekondisi ini boleh digunakan atau tidak….?

Bayangan saya…. shackle yang direkondisi adalah shackle yang contact area nya telah aus kemudian di re-fill dan machining kembali. Dari sisi keilmuan (mechanical engineering dan ilmu logam), kalau rekondisi dilakukan dengan benar tidaklah merupakan masalah dan bisa dijamin kekuatan dan keamanannya.

Bahkan… valve yang membutuhkan tingkat presisi cukup tinggi juga sudah proven dilakukan rekondisi.

Tanggapan 7 – roeddy setiawan

dear millis,

recondition boleh boleh saja asal, prosedure sesuai dengan standard yang berlaku, kita sering melakukan recondition/repair pressure vessel misalnya. ada prosedure yang baku, begitu juga valves, ada procedure yang dikerjakan sesuai dengan manufacture. kalau prosedure nya diluar itu,/kita bikin repair procedure tersendiri. yah harus dipertahankan didepan mgmt/MOC kalau di aksep yah jalan.
issue yang lain kalau terjadi kecelakaan, kebetulan benang merahnya datang dari barang yang direpair tersebut ini nantinya jadi panjang, atau kebetulan yang menemukan benang merah adalah auditor on behalf insurance company ini lebih panjang lagi.
ujung ujung nya premium dr company jump to the roof, insident di local sini, membuat premi di tempat lain ikut ikutan naik. jadi becarefull murah belum tentu murah

Tanggapan 8 – Aang Jaelani

(Pak Jhony),

Betul2 rapi yah Pak Shackle-nya, mudah-mudahan banyak perusahaan2 yg membutuhkan standard2 khusus seperti customer Bapak atau O/G companies yg biasanya ketat utk standardnya bisa concern akan hal-hal tersebut. Saya punya pengalaman juga utk hal yg mirip, waktu itu saya bekerja di perusahaan lokal dimana menjadi salah satu supllier main contractor Total E&P (dulu masih pakai E&P) dimana saya di rekrut lewat teman utk membantu proyek ini sebagai M/E Leader dan kebetulan perusahaan kami diminta mensuplai barang seperti valve, pipe, reducer, Gland, etc karena sebelumnya saya jg pernah bekerja di site Tunu 8 Total E&P jadi sedikitnya saya tahu kualifikasi atau standard2 M/E Total, nah barang2 tersebut dibeli oleh atasan saya dari daerah P. Jayakarta dan saya diminta utk menginspeksi dengan main kontraktornya Total waktu itu, pas saya inspeksi ke workshopnya supplier barang2 tsb ternyata di sana sedang melakukan modifikasi barang2 bekas (gurinda, cat dll) supaya terlihat baru, langsung saat itu saya reject akan tetapi atasan serta purchasing Main Contractor localnya tetap supply barang2 tsb, karena menyangkut tanggung jawab serta profesionalisme saya akhirnya mengundurkan diri karena hal tersebut karena dengan argument bahwa hal ini akan merugikan perusahaan pada akhirnya tetap tidak digubris.
Dan ternyata sesampainya di site Total oleh engineering total barang2 tsb di reject semua.
So hati-hati dengan suplier2 apa saja yg dapat merugikan perusahaan dimana tempat kita bekerja.

Tanggapan 9 – Johny

Dear all,

Terima kasih atas masukkanya, saya juga sudah mendiskusikan hal ini dengan Engineering customer saya dan dia memahami mengenai kualitas dari shackle rekondisi serta sudah membicarakan dengan bagian pembelian dan keuangan.
Karena sering kali dari pihak user bertentangan dengan bagian keuangan dan pembelian, pada pihak keuangan dan pembelian biasanya lebih memperhatikan masalah harga dibandingan dengan kualitas.

Tanggapan 10 – Dirman Artib

Masih dalam hal barang/produk palsu nih.

Seyogyanya sebelum kita menggantungkan diri kepada proses inspeksi dan kepakaran inspector-inspector kita, maka resiko di awal bisa ditekan saat anda menseleksi supplier.Makanya dalam ISO 9001 dikatakan bahwa antara organisasi dan supplier nya harus membangun hubungan yang strategies sehingga sama-sama saling ketergantungan dan membuat value bersama-sama.

Jangan main samber supplier dadakan dari pinggir jalan,akibatnya departemen inspection anda yang nanti kewalahan

Tanggapan 11 – Johny

Saya Setuju dengan Pak Dirman,

Ini juga terjadi dengan perusahaan kami dengan Salah satu customer dibidang service company, dimana kami telah menjalin kerja sama dengan kontrak kebutuhan lifting equipment mereka.
Dimana sebelum kontrak tersebut ditanda tangani dari pihak customer mengundang vendor yang untuk memberikan penawaran harga untuk kebutuhan 1 tahun serta isian mengenai HSE yang berlaku di vendor tersebut, lalu dari pihak customer melakukan inspeksi dengan melibatkan team mereka ke beberapa vendor yang competen untuk melihat fasilitas, workshop, warehouse serta HSE dari vendor.

Baru mereka memutuskan untuk memberikan kontrak kepada vendor.
Jadi memang seperti yang dikatakan oleh Pak Dirman, sebelum melakukan inspeksi pada saat barang datang, maka lebih baik memang dilakukan seleksi supplier untuk bidang yang bersangkutan dengan safety, sehingga jika ke depan terjadi sesuatu lebih mudah untuk pertanggung jawabannya.

Tanggapan 12 – Dirman Artib

Pak Johny,

Itu bukan pendapat saya, tapi merupakan persyaratan dari Mr. standard ISO 9001 dalam pasal 7.4.1 mempersyaratkan bahwa Organisasi harus melakukan evaluasi dan seleksi serta re-evaluasi terhadap supplier. Kriteria, cara, gaya, model, alat untuk melakukan diserahkan kepada organisasi tersebut. Yg diwajibkan pula adalah, bahwa catatan tentang seleksi, evaluasi dan re-evaluasi tersebut harus ada dan dijaga. Tujuan nya adalah agar bisa dintinjau suatu hari apakah cara, gaya,model, kriteria seleksi dan tetek bengek nya itu sudah efektif dan efisien. Jika belum efektif atau belum efisien, maka dipersilahkan ganti gaya dan cara, mana tahu cara berbaring atau jongkok lebih baik dari cara sambil berdiri…….gitu ha…ha…ha…Yang penting terus menerus dilakukan dan dicari upaya perbaikan.

Ingak…..ingak….ingak….. aktifitas inspeksi itu mahal, jadi kalau hanya menyandarkan kepada aktifitas inspeksi, maka selain akan membuat hepi para inspector karena semakin banyak ‘demand’ memicu ‘good market & prices’ (sori nih teman2 inspector ihik…ihik..ihik…di skak-bent) repair atau rework itu akan butuh waktu dan alat khusus.

Selain itu……itung-itung mengembangkan metode menseleksi supplier, abis kalau metode, code, standard inspeksi sudah seabrek-abrek coi, kalau nggak percaya…………coba aja buka tuh standard ASME, API apa aja dech……………….pasti ada bab ‘Inspection and Testing’. Nah……jadi ntar kita punya bidang profesi baru yaitu ‘Supplier Assessor’ (atau Supplier Selector….ya ?).

Lakukanlah asessment yang benar thd. supplier sebelum memutuskan mereka menjadi supplier kita. Setelah itu, lakukan re-evaluasi tahunan (6 bulanan juga boleh) agar kita tau apakah mereka bisa dijadikan partner strategies (sahabat setia, sehidup sebangkrut)

Dan….jangan hanya pilih Supplier yg ‘Uncle’s brother of wife’s friend company’…..nah bingun khan ?