ESD : Emergency Shut Down, FGS : Fire & Gas System. Secara singkat, tujuan dari adanya FGS ini untuk mendeteksi adanya potensi kebakaran (ingat : segitiga api terdiri dari udara, bahan bakar dan sumber panas/api) seperti keberadaan api itu sendiri dan keberadaan bahan bakar seperti gas.

Tanya – Muchlis Nugroho – Rekayasa Engineering

Kalau pekerjaan desain instrumen yang bernama ESD/FGS itu maksudnya apa ya ?

Tanggapan 1 – Andreas Solihin Halim – Wood Group

Setahu saya :

• ESD : Emergency Shut Down

• FGS : Fire & Gas System

Mungkin yang instrument engineer bisa menambahkan atau mengkoreksi, karena saya hanya planner.

Tanggapan 2 – Muchlis Nugroho – Rekayasa Engineering

Kalau begitu, perancangannya harus mengambil masukan dari process & safety requirement ya ?. Kalau FGS itu yang dimaksud adalah flare system ?.

Tanggapan 3 -Mukhamad Surya Hudha – Inti Karya Persada Tehnik

Mungkin saya bisa memberikan sedikit gambaran. Kalau desain sistem ESD biasanya berdasarkan Cause & Effect Chart, tabel dimana dijabarkan akibat yang ditimbulkan, misalkan dari api/kebakaran akan menyebabkan shutdown seluruh plant atau hanya satu sistem saja, dll. Karena di dalam ESD system, terdapat tingkatan-tingkatan ESD yang dapat menyebabkan efek mulai dari yang ringan sampai ke tingkat yang fatal. Dan kalau FGS adalah salah satu sistem untuk melindungi plant dari bahaya api/kebakaran maupun dari kebocoran gas yang berbahaya, yang bisa menyebabkan kebakaran atau yang lebih fatal lagi. Salah satu contoh FGS adalah untuk melindungi kompresor turbin gas, yaitu dengan memasang sensor (gas detector, fire detector, smoke detector, dsb). Kemudian dari sensor-sensor tersebut akan dihubungkan dengan FGS Control Panel dan dari control panel tersebut data yang diterima akan diolah dan diteruskan ke kompresor turbin gas itu sendiri maupun ke ESD sistem yang akan men-shutdown kompresor atau akan men-shutdown seluruh plant tergantung dari penempatan tingkatan di sistem ESD. Jadi, FGS adalah bagian dari ESD.
Demikian kalau ada yang salah mohon dikoreksi.

Tanggapan 4 – Nugroho Wibisono – ConocoPhillips Indonesia

Mas Muchlis, benar seperti yang disebut Pak Andreas bahwa FGS itu Fire & Gas System. Secara singkat, tujuan dari adanya FGS ini untuk mendeteksi adanya potensi kebakaran (ingat : segitiga api terdiri dari udara, bahan bakar dan sumber panas/api) seperti keberadaan api itu sendiri dan keberadaan bahan bakar seperti gas.
Penjelasan yang lebih bergambar dan sistematik ada di artikel IIPS (Indonesian Institute of Process Safety) yang berjudul ‘Fire Detection System: An Overview’.
Kalau di flare system berbeda mas. Memang ada sistem instrumentasinya untuk menyalakan api di ignitor-nya, mendeteksi hidup/matinya api pilot, dsb, tetapi biasanya nama FGS itu mengacu pada sistem pendeteksian api pada suatu area. Nama FGS dan ESD biasanya disangkut-pautkan karena umumnya FGS adalah (salah satu) penggerak untuk men-shutdown-kan suatu plant melalui ESD.

Tanggapan 5 – Djohan Arifin – Petronas Carigali Sdn. Bhd.

Mau menambahkan sedikit, untuk sistem ESD (Emergency Shut Down) biasanya didesain dengan fail safe, sedang FGS (Fire & Gas System) didesain dengan non-failsafe. Maksudnya, ESD pada kondisi normal energized, sedangkan pada kondisi abnormal de-energized (SDV akan Fail Close, BDV akan Fail Open). Tetapi untuk FGS pada kondisi normal de-energized, sedangkan pada kondisi abnormal energized (misalnya firewater pump start signal yang merupakan sinyal yang energized). SDV adalah Shut Down Valve sedangkan BDV adalah Blow Down Valve.

Tanggapan 6 – Darmawan Ahmad Mukharror – VICO Indonesia

Untuk saat ini yang menjadi pertanyaan terpenting adalah seberapa ‘safe’ fail safe itu sendiri ?.

Tanggapan 7 – Djohan Arifin – Petronas Carigali Sdn. Bhd.

Dalam hal ini seberapa safe ‘fail-safe’ designnya tidak penting benar, karena tujuannya untuk membuat kategori mana yang perlu fail safe mana yang tidak. Apakah ketika ada kegagalan air supply, spring pada SDV / BDV akan berhasil mendorong piston dari aktuatornya, itu lain cerita. Dengan konsep fail safe ini pula, SDV / BDV yang menggunakan dual acting actuator perlu dilengkapi dengan fasilitas untuk memastikan ada power untuk mengembalikannya ke posisi safe.

Lingkup kerja IPF classification assessment-lah yang menentukan seberapa safe desain yang dikehendaki. Dah mudah-mudahan menjawab pancingannya mas Darmawan.

Tanggapan 8 – Arief Rahman Thanura – VICO Indonesia

Sebenarnya nama ESD secara internasional sudah diganti dengan Safety Instrumented System (SIS). Salah satu alasan mengapa ESD namanya diganti adalah karena banyak sekali akronim ESD yang pengertiannya lain. Salah satunya adalah Electro Static Discharge (populer dikalangan orang electrical).
Untuk menghilangkan kebingungan semacam inilah maka aplikasi sistem instrumentasi yang berkaitan dengan safety disebut Safety Instrumented System (SIS). Semoga bisa menambah informasi.