Saya akan meng-NUI-kan sebuah manned platform menjadi unmanned untuk menurunkan FN Curve menjadi jauh dibawah Group Reporting Line berkaitan dengan MAR issue. Selanjutnya platform ini akan dikontrol dari platform yang lainnya. Ada dua utama hal yang ingin diskusikan di milis ini yaitu sumber daya listrik dan perlindungan terhadap peralatan elektronik yang bekerja di area berbahaya.

Tanya – Budhi S.

Saya akan meng-NUI-kan sebuah manned platform menjadi unmanned untuk menurunkan FN Curve menjadi jauh dibawah Group Reporting Line berkaitan dengan MAR issue. Selanjutnya platform ini akan dikontrol dari platform yang lainnya. Ada dua utama hal yang ingin diskusikan di milis ini yaitu sumber daya listrik dan perlindungan terhadap peralatan elektronik yang bekerja di area berbahaya.

Pengalaman terakhir saya sewaktu membangun sebuah platform di laut Natuna (loadout April 2006) adalah menggunakan 2 x 2000 Watt CCVT (merk Ormat) sebagai sumber 24 VDC untuk SCADA, Flow Metering, Telecommunication, CCTV, Intruder Detection, dsb. Kemudian semua peralatan elektronik (termasuk I/O, Controller, Communication, dll) kita letakkan di dalam explosion proof box dengan sertifikasi penggunaan di hazardous area. HVAC tidak digunakan di equipment room, jadi kebayang kan bagaimana panasnya ruangan tersebut.

Nah karena platform tersebut belum beroperasi secara penuh, saya masih belum mendapatkan umpan balik dari operator mengenai operasional dan reliability dari rancangan diatas. Sewaktu commissioning sih it’s OK, semua berfungsi dengan baik, termasuk control dan shutdown dari platform induk. Untuk itu bila ada anggota milis yang dapat memberikan masukan mengenai alternatif-alternatif yang baik untuk digunakan pada perancangan remote platform, mari kita diskusikan bersama. Mudah-mudahan diskusi yang terjadi dapat mengarah ke konsep FoTF (Field of The Future), sebuah konsep yang akan kami terapkan di offshore bagi remote platform.

Tanggapan 1 – Djohan

Mas Budi,

Kenapa musti pakai Ex-proof box? bukankah sekarang banyak peralatan elektronik (termasuk I/O, Controller, Communication, dll) yang suitable untuk Zone-2 Hazardous Area? sehingga cukup dengan weather-proof box?

Kebutuhan business memang cenderung meng-un-manned-kan wellhead platform, pencurian menjadi salah satu challenge yang harus diatasi.

Tanggapan 2 – waskita@wifgas

Pak Budhi,

Bisakah HVAC yang tidak ada digantikan dengan Blower saja untuk di Equipment Room? Selain untuk cooling, Equipment Room dibuat pressurized (air intake Blower diambil dari combustible gas free air), sehingga Equipment Room menjadi unclassified area. Agar Equipment Room bisa pressurized sealing harus cukup baik dan air vent haus dilengkapi Flame Arrester.

Tanggapan 3 – Yuliwanto

Selamat pagi,

Pak Waskita idenya cemerlang, dengan blower maka Equipment Room (control room) akan ter-pressurize, dan akan menjadi lebih komplit kalau dipasang gas detektor di incomming duct yang jaraknya mungkin 100 meteran.

Akan tetapi ide diatas akan susah diterapkan kalau offshore platform, bisa corroded semua equipment didalamnya. Apakah yang akan di unmanned oleh mas Budi ini offshore-nya BP ?

Equipment di dalam Equipment Room sepertinya cukup menggunakan SS-cabinets untuk mengemas PCS, SSS-ESD/FGS,marshalling cabinet, CCTV, Telecom,Sand Monitoring, PDB, dan lain-lain.

Power supply 2000 watts, CCVT-Ormat tentu saja tidak sendirian dan pasti dilengkapi dengan UPS. Sepengetahuan saya merek ini sangat-sangat-sangat mahal, kita bisa membandingkan dengan 2000 watts yag mengunakan gas engine generator atau menggunakan solar-cell mengingat negara kita tropis.

Tanggapan 4 – Ferdinal Rais

Kalau Room-nya dilengkapi dgn air-conditioner maka kelembaban bisa dikurangi shg tidak perlu stainless-steel atau corrosion-resistant cabinet lagi

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

dear millis,

Intereseting subject sebetulnya harus ditekuni dengan baik di Indonesia. tidak hanya dari design tapi dari sisi ekonomic evaluation. operatibility maintenace ability dll.

karena system ekonomi psc saya kira lambat laun harus berubah, terlalu banyak bolong bolong nya sehingga menimbulkan kerugian negara kalau auditor tidak melihat project ini secara jeli.

mengomentari dari sisi design.

power plant

excellence choice untuk small DC power plant menggunakan CCVT trouble free dan rugged. selain CCVT ada lagi yang direct conversion heat to electric, yaitu dengan peltier effect. global thermolectric dan teledyne misalnya salah dua dr reputable peltier power plant ini. pengalaman saya dengan peltier ini, ternyata masih ada isue reliability kalau gas nya high in heavy , dugaan saya jelaga yang timbul menyekat transfer panas.

option yang lain, solar panel dikombinasi dengan accu, pengalaman saya, untuk indonesia (1985) kurang cocok karena banyak awan, harus dioversize juga rawan pencurian. kalau issue pencurian bisa di atasi, space & structural posible, yang ini paling murah

Explosion Proof issue,

memang kehawatiran pak Budhi, benar sekali, sooner or later processor akan crashed. say processor draw 100 watt power, ruang yang kosong (air) di EP casing tidak bisa jadi heatsink yang baik. Pengalaman saya deleted EP diganti dengan presurized Nema 7 enclosure plus di bocorkan. seperti saran pak waskita, tentunya ini mungkin kalau kita ada air supply. tanpa air supply sepertinya dead end ???.

operatibility.

konsep minimum facilities ini umumnya disukai designer (tentu saja we got all credit, minimum expenditure he he he) tapi terus terang tidak di sukai operator dan maintenance grup, yang harus adu otot.dan kerja dengan lebih keras.

misal nya begini. di fullblown platform kalau maintenance, kan ada facilities control room, kalau kepanasan, kehujanan, cofea time, ngebul2 dan lain lain pokok nya mereka happy untuk melakukan maintenance. tapi untuk minimum facilities, pengalaman saya untuk maintenace, harus di standby kan crewboat untuk memfacilities work plan. kalau tidak banyak safet issue yang jadi bolong bolong (misalnya risk kalau kebakaran/kecelakaan kalau ditinggal kerja sendiri), nah issue crew boat ini bisa jadi hidden cost, say karena ada minimum facilities kita harus menambah additional crew boat, pd $ 3,000/day dua tahun saja seperti ini easily offseting saving dr facilities reduction.

issue lain, untuk un-man ini, sering kita ngak tanya structural engineer, atau structural engineer tidak melakukan dynamic study dr platform ( monopod/tripod ) behaviour. begitu jadi. frequency response nya sama dengan frequency response kita. alhasil meskipun kita ngakunya punya nenek moyang bangsa pelaut, pengamatan saya mabuk laut merupakan keluhan utama kalau struktur tidak di rancang dengan oke, ujung ujung nya risk factor yang dulu kita bikin sebelum facilities dibikin salah semua.

Utilities.

sering kali setelah minimum facilities dibangun, dengan spesific purpose, ditengah jalan ada engineer yang ngaco, misalnya minta di buatkan chemical injection, chief engineer tutup mata saja, langsung authorized. nah ini bikin repot. misalnya harus gotong 2 , chemical drum , digeret2 dari boat landing ke top deck, jadi make sure specifik task dari platform di tulis di platform manual. karena seringkali peruntukannya berubah dari design awal.

man to unman conversion economic.

honestly kalau kita tidak nakal dan menyalahi janji kita sebagai warga negara yang harus melindungi asset negara project ini sulit jalan.

pengalaman saya project conversion ini sulit untuk dilaksanakan point saja begini. kalau facilities ini tidak di design dari sejak awal (pada waktu POD di submit) sebagai unman automated facilities. secara ekonomi kita sudah taruh investment di depan, facilities on oil and gas ngalir. ditengah tengah kita tambah lagi investment untuk conversion (misalnya scada, power plant, automated valves, automated wellcontrol panel etc plus engineering tentunya).

Bagaimana project ini economicaly sound, minyak yang keluar dr facilities ini sama (tidak akan ada tambahan produksi kan ????) tidak ada pengurangan dari expense kan operator nya ngak mungkin di pecat maaf di offer early retirement ha ha ha kidding.

ongkos operator say untuk tiga orang paling IDR 45,000,000. kira kira US $ 4500 (very cheap utuk shopisticated automation, multi tasking lagi, fueled by nasi pecel) untuk 5 tahun kan cuman $ 270,000. lagian uang ini muter2 di komunitas lokal, yah buat nasi pecel, beli bakiak dll, spin off nya banyak.

yang memungkin kan project ini ‘ever onward never retreat’ ada kenakalan dr project owner, yang seharusnya di taruh sebagai ‘capital project’ yang harus nya dicicil oleh emak pertiwi 1/30 nya tiap tahun dijadikan ‘expense project’, yang ditagihkan semuanya begitu project dinyatakan selesai.

Kalau audit nya okey, bisa menyeret keseluruhan staff ke gedung bundar, sayang nya auditnya sampai saat ini kok ngak pernah nangkep kasus seperti ini. jadi ber hati hati lah kalau anda di minta sign di AFE schedule 20 dst yang di submit ke bppka, siapa tahu 5 tahun dari sekarang tiba2 anda di tanya oleh distric attorney di gedung bundar. h h h kidding lagi.

mudah mudahan menstimulir aditional discussion

Tanggapan 6 – asuyant

Ikut nimbrung yah …

Sumber daya : opsi yang paling banyak dipakai memang cuma solar cells, CCVT atau subsea cable, tergantung seberapa daya yang kita butuhkan.

Perlindungan alat listrik, kalau cuma untuk equipment yang butuh daya kecil seperti di bawah memang sepertinya HVAC tidak diperlukan, cukup ex-proof casing aja.
Jika dayanya lebih besar, saya kira kita bisa meminjam teknologi ESP control panel-nya buat subsea wellhead.

FoF ? Jangan diterapkan deh di Indonesia sih, mengingat :

1. Resource kita banyak dan murah

2. Alat-alat yang dipasang di remote pasti dimaling orang.

Tanggapan 7 – Ferdinal Rais

Nambahin dikit …

Kalau memang perlu adanya Pressurized & Air-Conditioned Electrical/Control Room, maka CCVT, TEG apalagi Solar Panel tidak akan cukup daya outputnya.

Selain dgn subsea cable (butuh step-down transformer) dan diesel/gas engine generator, ada opsi lain yaitu Microturbine Generator yang certified for use in Zone 2 (Div 2) dgn electric output yg mencapai puluhan kW. Opsi ini menurut saya lebih baik daripada Zone 2 Diesel Generator seperti yg digunakan di platform di Natuna yg mas Budhi sebutkan.

Kalau tidak butuh daya listrik yg besar (e.g tidak ada Pressurized & Air-Conditioned Electrical/Control Room), maka CCVT atau Solar Panel adalah pilihan yg baik.

Pada platform di Natuna tsb sebenarnya tidak perlu adanya electrical room krn semua electrical equipment adalah EEx equipment dgn IP rating yg sesuai untuk outdoor installation.