Untuk confined space memang harus disiapkan manhole watcher yang dalam kondisi siap siaga dengan perlengkapan evakuasinya. Tidak benar bila evakuasi harus (menunggu) dilakukan oleh team emergency response dari luar team pekerja. Team emergency response paling awal adalah team evakuasi yang mana harus ada dalam suatu team yang melaksanakan pekerjaan pada confined space, yang di antaranya adalah manhole watcher, supervisor dan safety officer. Tentunya mereka ini pasti ada di dalam team, bila tidak ada – tidak mungkin working permit untuk confined space dikeluarkan. Baru setelah dilakukan evakuasi (keluar dari confined space) – korban akan ditangani oleh team medis yang juga termasuk di dalam team emergency response.

Pembahasan – ridwan.hamdani

Jatuh ke Bak, 4 Pekerja Pertamina Tewas

Rabu, 14 September 2011 | 02:38 AM

CILACAP, KOMPAS.com — Tujuh pekerja Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (13/9/2011) malam, mengalami kecelakaan kerja. Empat orang dikabarkan tewas.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.00 di bak penampungan lumpur minyak Pertamina Refinery Unit IV Cilacap (Pertamina RU IV Cilacap) Area 38 Lomanis. Ketujuh pekerja tersebut dikabarkan jatuh ke dalam bak sehingga mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan tiga orang lainnya dalam kondisi kritis.

Semua korban yang belum diketahui identitasnya tersebut segera dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina Cilacap. Public Relations Section Head Pertamina RU IV Cilacap, Ruseno, membenarkan adanya kecelakaan kerja tersebut. Akan tetapi, dia belum bersedia memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian yang menelan korban jiwa ini.

‘Kami belum bisa memberikan keterangan resmi karena masih menunggu arahan dari General Manager Pertamina RU IV Cilacap terkait peristiwa ini,’ kata dia melalui telepon selulernya.

Tanggapan 1 – iwan saputra

Innalillahi Wainna Lillahi Rojiun..

Turut Berduka Cita..

Apakah sebelum kejadian Hazard Identification tidak dilakukan?

Apakah saat kejadian safety officer ada di tempat kejadian?

Tanggapan 2 – syamsul arifin

CILACAP, (CIMED) – Tiga pekerja tewas dan lima lainnya dalam kondisi kritis dalam kecelakaan kerja di Kilang Pertamina Refinery (RU) IV Cilacap tepatnya di tangki P108 Area 38. Satu korban tewas diantaranya WNA. Selain karena jatuh ke dalam tangki, diduga korban tewas dan kritis akibat menghirup gas beracun di dalam tangki.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun CILACAPMEDIA.com, korban tewas adalah Chen Liang (28), WNA yang tinggal di KH Mas Mansyur No.121 Gedung City Lantai 27-18 Jakarta Pusat. Sedang dua korban tewas lainnya, Dony (25) asal Kampung Baru, RT 4 RW 5 Tanjung Bale, Karimun, dan Rafli Rio Basla (24) warga Sungai Cibudak Nagari Tapik Panjang, Payakumbuh, Sumatera Barat.

Sedang lima pekerja lainnya mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Pertamina Cilacap (RSPC). Mereka adalah Ary Dana Prabowo (28) Jalan Cermai 4 No.41 Kelurahan Karangtengah, Tangerang, Turyono (26), dusun Dukuh RT 36 RW 16 Panjalu, Ciamis, Fahmi Hindaryadi, Jalan Riau Gang Harapan 2 RT 4 RW 2 Air Hitam, Payung Sekali, Pekanbaru, Tri Wahyudi (27) dan Sastro (25), Jalan Sultan Syarif Kosim 27, Pekanbaru.

Seluruh korban yang tewas dan dirawat di RSPC adalah karyawan karyawan PT Pramudya Pamunah Limbah Industri (PPLI).

Menurut Sastro, salah satu korban yang selamat, peristiwa mengerikan tersebut terjadi Selasa (13/9/2011) saat sedang proses pembersihan tangki di tangki P108 Area 38. Sekitar pukul 19.15 WIB Chen Liang sedang mengecek kondisi tangki. Namun tiba-tiba dia terpeleset dan masuk ke d(alam tangki.

Korban kemudian berteriak minta tolong kepada rekan-rekannya. Melihat Chen Liang jatuh, rekan-rekannya berusaha memberikan pertolongan. Namun pekerja lain yang hendak memberikan pertolongan justru ikut jadi korban. Mereka ikut jatuh ke dalam tangki karena terpeleset.

Terpisah, Public Relation Section Head Pertamina RU IV Ruseno kepada wartawan membenarkan telah terjadi kecelakaan kerja saat sedang mengecek tangki oil Sludge Oil Recovery (SOR) 38 P103.

Dia belum memberikan secara rinci mengenai penyebab kejadian, karena masih dalam penyelidikan. Kendati demikian, peristiwa tersebut tidak mengganggu aktivitas produksi kilang.

Meski belum ada hasil penyelidikan, dugaan sementara, selain karena jatuh ke dalam tangki, diduga seluruh korban mengalami keracunan setelah menghirup gas yang ada di dalam tangki.

Tanggapan 3 – banotic

Turut berbela sungkawa atas musibah fatalitas tsb

Sesuai info yg saya ketahui, korban meninggal merupakan sub-kontraktor (Lucky Horse) dari PPLI. Tiga orang meninggal dan lima sisanya dalam perawatan medis.
Salah satu korban meninggal adalah WNA (Cina).

Penyebab kejadian masih dalam investigasi. Kronologis singkatnya pada saat pengecekan/pembersihan container SOR, korban WNA terjatuh (mgk krn WNA shg smua crew panik dan tidak waspada) dan pekerja lainnya menolong. Kejadian serupa terkait confined space! Anw, Knp harus kerja malam hari ya?

Tanggapan 4 – fahrul hamzah

Turut berbela sungkawa atas musibah tsb

Membaca info tsb, saya jadi teringat ketika saya mengikuti pelatihan confined space beberapa waktu lalu, di mana dalam pelatihan tsb ada salah satu point yang menyebutkan kita (sebagai pekerja) dilarang keras menolong rekan kerja yang mendapat kecelakaan kerja (dalam hal ini terjatuh) dalam confined space, karena dalam aturannya pihak yang berhak menolong adalah team emergency respon (apakah pihak tersebut mendampingi kontraktor dalam melakukan pekerjaan tersebut), lalu apakah terdapat sentry (penjaga pintu yang selalu mengkomunikasikan kondisi didalam atau selalu berkomunikasi dengan pekerja didalam), lalu apakah pekerja2 tersebut sudah mendapatkan pelatihan log out and tag out serta confined space, lalu apakah gas tester selalu melakukan pengetesan gas secara berkala selama pekerjaan didalam confined space belum selesai, apakah pekerja2 tsb mengetahui resiko2 yang mungkin terjadi berdasarkan analisa resiko yang sudah dibuat (acuan dalam membuat ijin kerja), dll.

Jadi yang menjadi point penting buat saya pribadi disini adalah kita sebagai pekerja tidak berhak atau mempunyai kewenangan untuk menolong rekan kerja kita yang mendapat kecelakaan confined space (dalam hal ini bukan bermaksud bersikap tega terhadap rekan kerja yg mendapat kecelakaan kerja confined space), tetapi menghindari terjadinya korban yang lebih banyak akibat menolong rekan kerja tsb dan sudah seharusnya kita sebagai pekerja/kontraktor mempunyai hak meminta didampingi oleh pihak2 yang terkait dalam pekerjaan tsb.

Tanggapan 5 – banotic

Memang harus tega, Bung. Kita harus punya ego untuk keselamatan diri pribadi dulu, baru menolong orang lain. Persis dg himbauan pramugari pesawat: pakailah masker terlebih dahulu baru menolong anaknya. Anak lho yah, apalagi orang lain :).

Tanggapan 6 – Hari Subono

Dear All,

Sedikit saya ralat apa yang dituliskan oleh Pak Fahrul. Untuk confined space memang harus disiapkan manhole watcher yang dalam kondisi siap siaga dengan perlengkapan evakuasinya.
Tidak benar bila evakuasi harus (menunggu) dilakukan oleh team emergency response dari luar team pekerja. Team emergency response paling awal adalah team evakuasi yang mana harus ada dalam suatu team yang melaksanakan pekerjaan pada confined space, yang di antaranya adalah manhole watcher, supervisor dan safety officer. Tentunya mereka ini pasti ada di dalam team, bila tidak ada – tidak mungkin working permit untuk confined space dikeluarkan.

Baru setelah dilakukan evakuasi (keluar dari confined space) – korban akan ditangani oleh team medis yang juga termasuk di dalam team emergency response.

Memang banyak sekali pekerja yang terlibat dalam pekerjaan confined space tidak mendapatkan pelatihan confined space yang benar – sehingga melakukan kesalahan-kesalahan dasar seperti melakukan evakuasi terhadap korban tanpa peralatan semestinya. Hanya melakukan berdasarkan refleks yaitu bahwa korban harus segera ditolong padahal dirinya sendiri juga akan ikut menjadi korban dan butuh bantuan juga.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 7 – fahrul hamzah

Dear pak Hari

Terima kasih atas ralat serta masukkannya, betul team emergency harus dalam satu team dalam pekerjaan tersebut, karena mereka merupakan salah satu pihak yang ikut menandatangani/mengapprove ijin kerja pekerjaan tersebut, tetapi dari pengalaman saya (dalam rules suatu perusahaan yang pernah saya singgahi) terdapat suatu team tersendiri yang akan mengevakuasi korban (bahkan sentry/manhole watcher, supervisor kita pun tidak diperbolehkan mengevakuasi korban) artinya terdapat team tersendiri (yang terlatih) yang memang diperuntukkan untuk menanggulangi/mengevakuasi korban dalam hal ini (confined space), dan dalam melakukan pekerjaan tersebut memang harus terus didampingi oleh team tersebut.

Tanggapan 8 – Dinno Fajaruddin

Sebenarnya Sentry/manhole watcher/ Stanby Man/ buddy system itu boleh menolong segera, asal sudah ada Standbyman/buddy sistem lagi bagi dia..

dengan peralatan evakuasi yang lengkap terutama life line dan EscapeBA/SCBA…

jadi jika ada kejadian maka watcher/Standby man harus menghubungi control room/radio room terlebih dahulu meberitahukan baru kemudian korban ditolong oleh rescue atau standby man/buddy system asal sudah ada standyby man lagi bagi yg menolong ditempat saya tank cleaning.. standby man/man hole watcher harus memegang sertifikat first aider dan BA wearer..

tapi dia baru bisa menolong kalo sudah ada standby man/buddy system bagi dia..

Tanggapan 9 – agustinus.sasmoyo@fajarmasmurni

Betul Mas , namun hal tersebut tidak mudah lo. Karena kalau itu menyangkut saudara, teman dekat ada reflek yang melekat dalam diri seseorang untuk menolongnya.

Maka menurut pengetahuan saya hal itu perlu dilakukan latihan.

Tanggapan 10 – Dominique M Bone Dominique Marcello Bone

Saya punya pendapat yang berbeda, karena saya melihat kejadian ini dari perspektif yang berbeda dari…

Menurut saya, seharusnya yang sangat sangat perlu dicermati adalah bagaimana kita memiliki sebuah sistem yang comprehensive, utamanya untuk ‘mencegah’ orang jatuh dan kalaupun terjadi ‘jatuh’, orang yang jatuh tadi tidak sampai masuk kedalam tangki tetapi tergantung pada ‘life line’ yang terikat pada sebuah ‘anchor’. Saya lebih setuju untuk memberikan perhatian lebih banyak kepada preventive action daripada curative action yang jauh lebih murah apalagi bila dibandingkan dengan ‘loss of life’. Kemudian, system ini di-‘re-inforced’ dengan regulasi (baik lokal maupun regional) dan kontrol dari pihak pemberi kerja yang ketat.

Bila kita melihat kejadian yang menimpa 4 pekerja kontraktor Pertamina ini, bisa didipahami mengapa mereka tidak tertolong pertama, prosedur bekerja pada confined space tidak dilakukan secara benar. kedua, untuk memobilisasi teampenolong butuh waktu yang mana hal tersebut tidak mereka miliki. Hal yang lain adalah bahwa mereka secara jelas sekali tidak memiliki skill & knowledge mengenai proses penyelamatan orang yang terjatuh ke dalam tangki dengan segala alat pendukungnya (SCBA dsb…), mengapa? Karena bisa dipastikan hal tersebut sangatlah ‘costly’. Coba bandingkan dengan establishing fall protection system oleh pemberi kerja, dalam hal ini Pertamina, yang menurut saya jauh lebih sangat sederhana. Perlu diingat, semakin ‘sophisticate’-nya sebuah system dengaberbagai alat pendukungnya, apalagi sebuah system penyelamatan (rescue), berbanding lurus dengan cost yang dikeluarkan. Apakah bisa diaplikasikan dalam confined space? Jawabannya, bisa! Mana yang lebih ekonomis? Silahkan teman2 sekalian menjawabnya…

Itulah, saya kira, mengapa kemudian muncul ungkapan ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’

Mudah mudahan, ketidak tersediaannya fall protection system di TKP (Tempat Kejadian Perkara) bukan karena…’ah, yang mengerjakan pekerjaan ini kan kontraktor, bukan pemberi kerja’. Jangan kita lupa bahwa setiap ‘loss’ berdampak pada keseluruhan proses di tempat kejadian. Mudah-mudahan hal ini murni karena ketidak tahuan yang bisa ‘diobati’ dengan cepat melalui kegiatan konsultasi,training, workshop atau semacamnya.

Terima kasih

Tanggapan 11 – yogamuhamadariotejo

Bukankan sebelum melakukan pekerjaan, diharusnya mengurus PTW oleh safety Officer di Cilacap… Dan persiapan2 apa saja yg digunakan sebelum melakukan pekerjaan, saat melakukan pekerjaan dan setelah melakukan pekerjaan harusnya sudah di diskusikan dan harus dilaksanakan…

Apa mungkin ada salam tempel dengan safety officer sehingga peralatan2 safety itu di abaikan…

Budaya di dalam perusahaan yg harus dirubah… Walaupun aturan sudah dibuat tapi budaya yg ga dirubah… Akan terjadi hal2 yg sama dikemudian hari… Sperti kebocoran pipa di sbm, kebakaran tanki, jatuh dari ketinggian dan sekarang meninggal 4 org krn jatuh ke bak…

Semoga budaya kita menjadi lebih baik… Amin

Mohon maaf jika ada kesalahan didalamnya…