Biasanya electric motor yang disupply oleh vendor pump ataupun main unit yang lain, ada beberapa features khusus didalamnya. Biasanya features ini tidak dimunculkan dalam datasheet yang menyertai motor.

Tanya – Riki Sapari

Dear Milister,

Mohon advisenya mengenai kasus motor kami saat ini, berdasarkan hasil lapangan vibrasi motor sbb :

DE side :

1. X axis : 0.113 In/s

2. Y axis : 0.145 In/s

3. Axial : 0.082 In/s

NDE side :

1. X axis : 0.135 In/s

2. Y axis : 0.240 In/s

Apakah dengan besaran vibrasi tersebut bisa dikatakan normal atau sebaliknya….?

Temperature body motor saat operasi 93 deg C (after warm up period ans stabil pada kisaran angka tersebut), saya coba cek dengan data motor untuk temperature tersebut hanya menyebutkan temperature Code : T2A, ada rekan2 yang mengetahui maksud code tersebut karna kebetulan sy sudah coba buka standard NEMA MG2 dan belum menemukan titik terang mengenai hal, mohon kiranya pada rekan2 yang pernah mengalami hal ini bisa sharing mengenai hal ini.

Tanggapan 1 – JONO pharjono

Oh iya…pak Riki satu lagi , T2A adalah klasifikasi temperatur (surface) yang mengacu ke North American degan nilai 280 Deg. C

Tanggapan 2 – JONO pharjono

Dear Pak Riki,

Kalau Bapak mengacu ke ISO-10816-3, bisa dikatakan untuk:

DE Side : X dan Y axis kondisi alarm/alert

NDE Side : X dan Y axis juga kondisi alert, hanya yang Y memang sudah mendekati Danger.

Secara overall, nilai getaran yang ada di motor tersebut adalah kurang baik. Pertanyaan saya yaa..pak:

1. Detail motornya bisa sebutkan pak, misal speed, bearing, tipe motornya (asinkron/sinkron/DC)

2. Motor digunakan untuk memutar apa pak? konfigurasinya bagaimana? vertikal/horizontal? koplingnya apakah belt, rubber, rigid ?

2. Kondisi yang di ukur apakah kondisi berbeban ? atau solo?

3. Kenapa bapak tidak sekalian diukur bebannya, apabila dikopel dengan beban?

4. Bisa tidak pak di kirimkan data spectrumnya..?

5. Trend data nya bagaimana pak/ apakah tiba-tiba naik atau ada kenaikan secara berkala, bisa dikiririmkan pak?

Kalau saya perhatikan , data di sisi Y axis cukup lumayan nialinya….cuma saya tidak bisa berandai-andai apa yang terjadi di motor Bapak dengan data yang diberikan masih minim dari bapak.

Tanggapan 3 – fahrul hamzah

Dear Mas Riki

Kalau melihat dari data hasil vibrasi yang mas share kondisi motor mas dalam keadaan abnormal mas (hal ini terlihat dari hasil vibrasi pada arah radial yang cukup besar terutama arah vertikal/y axis jika dibandingkan dengan ISO 10186-3, selain itu juga dari temperature body motor yang mencapai 93 degC), bisa diketahui mas penyebabnya dengan melihat hasil spectrum atau pola waveformnya.

Tanggapan 4 – hutannya_uthan

Mungkin bisa ditambahkan informasi mengenai horse power dan rpm nya mas..

Untuk lebih melengkapi data utk analisanya.

Tanggapan 5 – Riki Sapari

Dear rekan2 Migas,

Terima kasih kepada rekan2 yang telah memberikan advise mengenai hal ini,tambahan informasi motor ini memiliki daya 250 HP dgn Rpm 1800 dan digunakan untuk driver dari pompa. Untuk spectrum dan data vibrasi lainnya saat ini saya tengah menunggu team kami dari lapangan.

Tanggapan 6 – Sigit kumoro bekti

Dear Mas Riki,

urun rembuk, saya setuju dengan komen dibawah, yang saya pertanyakan adalah temp body bisa mencapai 93 degC. saya ga tahu persis beban motor, dan fungsi motor untuk apa, kalu mengikuti kaidah keumumam temp body mencapai 93 deg C, memang tinggi biasanya ada beberapa masalah yang terjadi diantaranya masalah mekanik yaitu soft foot or mis alignment kalau elektrik bisa saja unbalance voltage jika 3 phase. mungkin untuk menyelesaikan masalah ini bisa dicek soft foot and alignment motor tersebut. saya pernah punya masalah dengan temp body yang tinggi dimana problemnya ada pada masalah soft foot yang terlalu besar pada motor. sehingga memberikan dampak temp body yang tinggi and vibrasi juga.

semoga membantu.

Tanggapan 7 – Riki Sapari

Dear Mas Sigit,

Terima kasih atas masukannya, kebetulan saya belum cek dan ricek kembali hasil soft foot dan alignmentnya dari motor dengan pompa ini, anyway masukannya sangat berharga.

Tanggapan 8 – JONO pharjono

Pak Riki,

Softfoot banyak ditemukan di motor dengan konfigurasi horizontal, dengan pole 2, (motor bapak 4 pole, karena speed 1800). sangat jarang terjadi dengan motor konfigurasi vertical.

Tanggapan 9 – JONO pharjono

Bagi saya, temperatur 93 deg. C tidak ada masalah bila mengacu kepada keterangan dari pak Riki yang meyebutkan klasifikasi dataplate di motor adalah T2A, yaitu 280 deg.C dan bila memang dari awal commissoning temperatur body si motor 93 deg.C artinya ..yaa normal-normal saja, hanya tidak ada keterangan/informasi dari pak Riki mengenai hal ini.

Tanggapan 10 – Sigit kumoro bekti

Mas Jono,

Salam kenal. menurut pendapat saya, yang harus dijadikan patokan utama adalah Insulation class (A,B,F or H). untuk A:105 deg C, B: 130 deg C,F: 155 deg C and H:180 deg C. yang merupakan temp maximum winding beroperasi yang menentukan life time dari winding.. kalau surface temperature diambil sebagai patokan untuk mengacu pada ignition point flamable/hazardous area dimana motor di install sehingga tidak terjadi explosion. CMIIW.

Pada umumnya motor juga masih bisa dipegang (touch test) pada operasi normal walaupun tergantung pada sistem pendinginnya juga. Jadi Mas riki juga perlu menambahkan insulation class motor yang di cek. normal atau tidak temp pada body motor.

Tanggapan 11 – JONO pharjono

Salam kenal juga mas Sigit,

Ya, mas Sigit betul, saya setuju. Juga yang harus diperhatikan SF motor tersebut.

Tanggapan 12 – Riki Sapari

Pak Jono dan Pak Sigit,

Jadi mana yang harus manjeadi 1st priority apakah melihat dari temperature codenya or dari insulation classnya…..? mohon advisenya, Jika menilik dari temperature codenya memang suhu yang diperbolehkan ada motor yaitu 280 Deg C akan tetapi jika melihat dari insulation classnya maksimum suhu adalah 155 Deg C….?

Tanggapan 13 – ‘Donny Gustian’

Pak Riki,

Salam kenal… sedikit menambahkan apa yang telah diutarakan oleh pak sigit, jika temperature permukaan pada body motor adalah 93 deg C maka temperature di dalamnya adalah + 20 deg dari yang di permukaan atau 113 deg C. Nah jika di lihat dengan menggunakan thermal imaging camera maka dapat dilihat posisi panas dengan jelas.

Tanggapan 14 – JONO pharjono

Dear pak Riki,

Saya lebih consider terhadap vibrasi yang terjadi, pak…

Di plant saya, ada 2 motor dengan Insulation Class B (130 deg.C) temperatur luarnya , saya ukur di sisi DE adalah 74 deg. C Kalau kita kompensasi seperti yang di jelaskan oleh pak Donny Gustian (saya pernah tau beliau , beliau expert di IR thermograph….mudah-mudahan ini pak Donny Gustian yang saya kenal…apa kabar pak?)

Artinya motor saya yang dua unit tersebut bertemperatur 94 deg.C , Motor sudah beroperasi sejak 1998 (13 tahunan), sampai sekarang Alhamdulillah…masih beroperasi normal.

Kalau pak Riki ada waktu dan data-data yang seperti saya pernah tuliskan di email terdahulu sudah ada di meja pak Riki, mohon di share pak…..

Tanggapan 15 – zaitbpau

Pak Jono dan Rekan2 Yth,

Apa kabar Pak Jono, masih di Banten?

Pak, sebenarnya konsep dasar dari conditioning monitoring adalah mendeteksi perubahan level getaran, temperatur, cairan pelumas, tekanan, flow, arus listrik dll. Jadi temperatur atau getaran yg tinggi yang steadi menurut saya tdk begitu membahayakan dibandingkan dng temperatur atau getaran yg rendah tetapi levelnya meningkat terus menerus.

Dalam standard iso 10816-3 1998(E) kt diperbolehkan u mengevaluasi getaran berdasarkan 5.1 Criteria 1 Vibration Level 5.2 Criteria 2 Change in Vibration Magnitude. Dalam praktek kan kadang kt jumpai mesin yg getaran atau temperaturnya tinggi tapi udah belasan tahun ya steady spt itu tdk meningkat. Jadi sebelum menjudge mungkin ada baiknya kt tanya sejarah motor tsb.

Ada komentar sy sehubungan dng getaran:

Pertama Pak Jono mengemukakan bahwa getaran (bearing) motor Pak Riki sisi NDE arah Y sebesar 0,24 IPS termasuk danger, darimana kesimpulan ini diambil? 0,24 IPS = 6,1 mm/s. Namun data Pak Riki tdk menyatakan nilai tsb nilai Peak atau RMS. Melihat satuan yang dipakai yaitu IPS, besar kemungkinan nilai tsb adalah nilai peak karena IPS umum digunakan di usa dan mrk memakai nilai peak. Bila dugaan ini benar maka 0,24 IPS peak = 6,1 mm/s peak = 4,3 mm/s RMS!

Selanjutnya kita lihat standard ISO 10816-3. Berbeda dng mesin umum, iso tsb tdk mengklasifikasi motor listrik berdasar dayanya tapi berdasar tinggi sumbu poros dari dasar. Untuk motor listrik yg tinggi sumbu > 315 mm maka batas getaran danger 7,1 mm/s RMS (rigid support) dan 11 mm/s RMS (flexible support). Untuk motor listrik dng sumbu antara 160 mm sd 315 mm maka batas getaran danger 4,5 mm/s RMS (rigid suppor) dan 7,1 mm/s RMS (flexible support).

Jadi motor Pak Riki Sapari (dng getaran 4,3 mm/s rms) menurut sy blm masuk danger. Bahkan dng daya 280 HP (cmiiw) kemungkinan tinggi poros > 315 mm sehingga masuk batas alarm (4,5 mm/s RMS) pun belum!

Saya setuju dng Pak Jono bahwa getaran yg besar pada peralatan listrik akan memperburuk kondisi isolasi shg dpt merusak motor listrik (sy pernah mengalami pada generator 55 hp).

Semoga berguna.

Tanggapan 16 – JONO pharjono

Alhamdulillah….masih pak…Bapak masih di Bandung? Mudah-mudahan sehat selalu pak… tanggapan saya saya bold warna biru yaa pak Zainal.

Tanggapan 17 – zaitbpau

Pak Jono Yth,

Alhamdulillah masih betah di Bdng menjadi Ningrat (Pening dan Melarat) 😀

Wah beda antara batas alarm (2,81 mm/s) dan danger (7,1 mm/s) untuk motor listrik Pak Jono jauh juga ya Pak.

Kalau menurut ISO 10816 batas alarm untuk titik ukur yang berbeda pada 1 mesin adalah beda. Disarankan tiap titik ukur batas alarm adalah baseline + (batas atas zona B/4) dan tidak lbh besar dari 1,25 kali batas atas zona B. Kalau batas danger untuk semua titik ukur dalam 1 mesin sama Pak. Ribet ya. Seperti ungkapan orang Jawa ISO = Iso ora iso kudu iso 😀

Tanggapan 18 – JONO pharjono

pak Zainal Yth.

Sama pak….Ningrat Banten (Pening, melarat Banget Tenan…)…

Iya pak…yahh…ISO hanyalah guidance….semuanya berpaling kepada karakteristik/kebiasaan mesin/motor tersebut…seprti tulisan pak Zainal terdahulu alinea ke dua…

Tanggapan 19 – Antonius Dicky

Dear P Riki ,

NEMA MG1 edisi mana yg mas Riki butuhkan ?

Silahkan japri saya .

Tanggapan 20 – Antonius Dicky

salam kenal untuk pakar2 elmot di KMI

sedikit sharing untuk para senior electrical engineer ,

Biasanya electric motor yang disupply oleh vendor pump ataupun main unit yang lain , ada beberapa features khusus didalamnya . biasanya featurse ini tidak dimunculkan dalam datasheet yg menyertai motor . biasa kita manufacture electric motor dapat melihat features tsb dr nameplate pd motor tsb.

tidak banyak org memahami ini , sehingga sering kali mereplace existing motor dng motor lain yg hanya sesuai dng general spec nya spt power , freq , rev , amp , volt & framesize nya. jika pada motor existing tsb ada features2 khusus & kemudian diganti dng gen purpose motor . tentunya performance motor pengganti tsb  tidak akan meet dngmain unitnya.

jadi kiranya perlu merubah mainset bahwa elmot hanya sebatas aux unit . mengingat efficiency menjadi topic utama dalam industy oil & gas di luar sana.

Sering kali di indonesia harga murah menjadi pilihan utama , tanpa melihat cost yg dikeluarkan untuk tahun berikutnya.

P Jono , mohon waktu nya ketemu darat , sehingga saya bisa menimba ilmu sampeyan juga .