Pig launcher/receiver adalah equipment yang tidak digunakan secara continuous atau hanya intermitten, jadi selama life time si pipeline dia hanya digunakan beberapa kali saja (tergantung dari seberapa seringnya pigging). Jadi perlukah wall thickness design ditambah dengan 100% of specified CA? Biasanya khan spec mengatakan CA sekian, tapi ini untuk vessel or pressurized equipment yang continuously presurized seperti pipeline, vessel dll.

Tanya – Budi Effendi

Dear All,

Untuk design pig launcher dan receiver apakah diperlukan tambahan tebal sebagai allowance terhadap tebal hasil Kalkulasi ( t + Ca ) pada neck dan barrel yang di fabrikasi dari pipa. Mohon pencerahannya.

Tanggapan 1 – edfarman@ikpt

Dear Budi,

Langkah standard kita cari ‘Calculated Thickness’ dengan design kondisi yang ada yaitu Pressure (Max), temperature, material, CA and if any external load. Biasanya design kondisi lebih worse dari operating kondisi (allowance for safety design). Based on Calculated thickness (included CA as limit as minimum thickness), kita pilih pipe dengan schedule yang lebih tinggi (thickness-nya) sebagai ‘Used Thickness’. Secara tidak langsung kita telah menambahkan (lagi) allowance dari design basis (kebutuhan). Dari sini pula kita tentukan MAWP-nya. Demikian, mungkin bisa membantu.

Tanggapan 2 -yoyok Susanto

Dear Pak budi,

Sekedar tambahan, kalo pilih pipe perlu dipertimbangkan toleransi mill 12.5% ,atau dengan kata lain nilai min THK = 0.875 * Nom. THK.. dan harus lebih besar dari nilai min kalkulasi.

Mudah2an bisa membantu.

Tanggapan 3 – Eka Putra

Pak Budi & Pak Edfarman,

Menarik juga pembahasan Pak Edfarman, tapi ada beberapa hal yang masih mengganjal di pikiran saya :

1. Pig launcher/receiver adalah equipment yang tidak digunakan secara continuous atau hanya intermitten, jadi selama life time si pipeline dia hanya digunakan beberapa kali saja (tergantung dari seberapa seringnya pigging). Jadi perlukah wall thickness design ditambah dengan 100% of specified CA? Biasanya khan spec mengatakan CA sekian, tapi ini untuk vessel or pressurized equipment yang continuously presurized seperti pipeline, vessel dll.

2. Pada pigging operation, kecepatannya khan dikontrol, jadi kemungkinan overpressure bisa dikurangi.

3. Untuk external load, perlukah didesign pada gempa 100 tahun or topan katrina? toh pada kondisi tersebut operator juga mikir 10000000 kali buat pigging.

4. Pig launcher/receiver juga bisa sewaktu-waktu diinspect wall thickness dan tingkat korosinya, kalo keropos, ganti aja dengan yang baru.

5. Penambahan wall thickness pada pig launcher/receiver biasanya tidak seberapa besar apabila dibandingkan dengan pipeline-nya sendiri, jadi daripada susah2 meng-asses resikonya, mending design aman sekalian.

Tanggapan 4 – edfarman@ikpt

Dear Pak Eka,

Saya kok jadi ngeganjel Pak Eka ya, diresponse deh biar nggak mengganjal … :-).

Mungkin kita lihat dulu periode kerjanya, ini basic design atau detail design. Asumsi saya untuk original mail (P’Budi) – pertanyaannya muncul pada masa detail design. Saat dimana ‘mechanical engineer’ mendesign equipment berdasarkan design data yang sudah ‘matang’. ;-). Jawabannya ya disimplekan sebagai normal design work/step as mechanical engineering view..

Untuk melepas ganjelan Pak Eka, maka menjawabnya mesti sebagai ‘system engineer’,… he he sebagaimana layaknya pertanyaan Pak Eka. Gini, concern dari Pak Eka di bawah bener adanya, namun selayaknya sudah digodok dengan arif dan bijak saat basic design (bisa jadi saat FEED), lahirnya dalam bentuk Design/Project Requirement (as design data yang dipakai sama Pak Budi). Saat itu design dianalisa secara overall system, dan diterjemahkan dalam individual specification setiap item. Normally project specification is ruled as ‘must’ as owner requirement, ya nggak? Masalahnya, terkadang product feed (basic design)tsb requirement-nya terlalu over, karena tingkat akurasi yang tidak setajam saat detail design.

Btw, memang tidak tertutup kemungkinan juga jika kita melakukan verifikasi ‘design/project requirement’ di era detail design sebagai optimasi design – karena ternyata menurut kita point tsb belum optimum – tentunya dengan approval project owner dong…

Gitu Pak, masih ngganjel nggak?