Kritikal dari suatu equipment dapat dianalisa dari fungsional peralatan atau dari efek (konsekuensi) dari kegagalan pada peralatan tersebut. Fungsi dan efek kegagalan mempertimbangkan dari sisi produksi dan HSE. Jadi bisa saja suatu equipment tidak kritikal dari sisi produksi tetapi bisa saja dia kritikal dari sisi enviromental.

Tanya – agathon pularsono

Mohon pencerahannya mengenai :

1. Penentuan critical suatu equipment dan critically level dari suatu equipment.

2. Standard struktur organisasi dari maintenance department, dan job desc.nya.

Terimakasih atas perhatiannya.

Tanggapan 1 – SwissExpedition

Ada satu training namanya RCM, Reliability Centered Maintenance yg bisa cover kebutuhan anda.
Di RCM anda bukan saja menentukan critical tidaknya suatu peralatan tapi dapat memisah-2kan satu peralatan termasuk run to failure, perlu pengecekan regular, atau penggantian baru/ lalu refurbish peralatan yg diganti setiap periode tertentu misalnya per 3 tahun or 5 thn, dll.
Saya pikir ini bisa menjawab point 1.

Untuk yg ke 2 mungkin ada yg lebih tahu dan bisa menjelaskannya…

Tanggapan 2 – Ilham B Santoso

Kritikal dari suatu equipment dapat dianalisa dari fungsional peralatan atau dari efek (konsekuensi) dari kegagalan pada peralatan tersebut.
Fungsi dan efek kegagalan mempertimbangkan dari sisi produksi dan HSE. Jadi bisa saja suatu equipment tidak kritikal dari sisi produksi tetapi bisa saja dia kritikal dari sisi enviromental.

Untuk organisasi maintenance rasanya tidak ada standarnya. Organisasi maintenance dapat disusun berdasarkan target maintenance, pertimbangan resources tenaga maintenance yang dimiliki perusahaan, wilayah atau area dari equipment yang dimaintenance, serta alur sistem produksi yang ada pada perusahaan.

Mungkin dengan sedikit gambaran kondisi real yang dihadapi oleh mas pularsono, diskusi ini bisa lebih berkembang ke analisis yang lebih tajam.

Tanggapan 3 – Nurkholis

Mas Pularsono,

Biasanya Untuk Penentuan critical mengacu Pada :

1. Impac ke safety

2.Impact ke environment

3. Effect ke production

4. Downtime

5. Cost of repair

6. Reliability

semua factor di atas di rating dan akan munculllah rating yang tinggi atau rendah , dan dari rating tsb dapat di critical equpment tsb.

Tanggapan 4 – agathon pularsono

Dear Pak Saleh (Swiss), Pak Ilham, Pak Nurkholis,

Terimakasih banyak atas responnya.

Sebagai orang baru, dimana saya melihat dalam mendukung maintenance program, perlu dilakukan pendeteksian kegagalan equipment sejak awal dengan memonitor kondisi secara berkelanjutan, sehingga perlu ditentukan beberapa critical equipment, dimana ditempat kami mempunyai critical equipment mempunyai dampak langsung terhadap operasional produksi.

Dengan focus utama terhadap critical equipment tersebut, dan didukung dengan adanya maintenance plan, metode maintenance yang lebih baik, & pengukuran performance equipment yang berkelanjutan. Hal tersebut perlu didukung oleh tersedianya data yang sahih, dan upaya merubah data menjadi informasi melalui analisa.

Kendala yang saya temui, pengukuran performance equipment belum maksimal, sehingga ranking critical equipment tidak terlevel dengan terukur, dan belum ada upaya analisa perankingan menuju yang kondisi yang lebih baik disertai dukungan cost assessment.

Jika berkenan untuk share, reference artikel atau buku yang menjelaskan detail hal ini, dan apakah hal ini menjadi bagian dari Reliablity Centered Maintenance (RCM).

Dan untuk struktur organisasi, apakah dimulai dari mekanik hingga foreman, supervisor hingga superintendent, engineer, planner, storeman merupakan komposisi ideal dalam pengelolaan maintenance dengan scope yang besar, harapannya tidak ada overlapping dalam bekerja, dan mempunyai split of work yang jelas.

Terimakasih atas sharingnya,