Optimisasi SRP adalah menyamakan kapasitas pompa terpasang dengan kapasitas produksi dari sumur. Hal tsb dapat dilakukan antara lain dengan menaikkan SL/SPM atau mengganti ukuran pompa. Untuk menentukan tindakan yg harus dilakukan, sebelumnya perlu dilakukan pengambilan sejumlah data dari sumur dan pompa terpasang dan melakukan perhitungan. Data2 yang harus diambil antara lain SFL, OFL, Data tes sumur, mid perforasi, pump depth, SL, SPM, dsb.

Tanya – Budi Agustiono

Dear all

Mohon pencerahan atau informasi paper/makalah tentang Optimasi Sucker rod Pump. (SRP).kalau di internet dimana alamat yang mengenai paper tentang optimasi SRP.

Mohon informasi.

Tanggapan 1 – Heru Danardatu

Pak Budi,

Gimana kalau dibahas aja rame-rame tentang optimasi SRP ini.

Saya awali dengan step-by-step optimasi:

1. Harus tahu real operation condition dari pompa yang bersangkutan mis. fluid level, dynamometer chart, etc.

2. Bandingkan dengan ideal condition (mis. acuan torque dari pabrik SRP) – perbaiki sistem dulu bila perlu

3. Setelah mendekati ideal; lakukan sensitivity atau parametric study mis. pump speed, etc.

4. Evaluasi hasil sensitivity – paling penting efeknya terhadap oil rate ($$)

5. Operasikan pompa pada kondisi yang optimum

6. Lakukan langkah 1-5 setiap rentang waktu tertentu (6 bulan – setahun mungkin sudah cukup)

Ada ide?

Tanggapan 2 – Indra Prasetyo

Dulu sekali saya pernah mengerjakan optimisasi SRP untuk lapangan2 di Lirik, Riau. Berikut ini yang saya ketahui tentang optimisasi SRP.

Optimisasi SRP adalah menyamakan kapasitas pompa terpasang dengan kapasitas produksi dari sumur. Hal tsb dapat dilakukan antara lain dengan menaikkan SL/SPM atau mengganti ukuran pompa. Untuk menentukan tindakan yg harus dilakukan, sebelumnya perlu dilakukan pengambilan sejumlah data dari sumur dan pompa terpasang dan melakukan perhitungan. Data2 yang harus diambil antara lain SFL, OFL, Data tes sumur, mid perforasi, pump depth, SL, SPM, dsb.

Misalnya: sebuah sumur dgn solution gas drive mempunyai SFL 1000 ft, OFL 1500 ft, test rate 200 bfpd, pump size 1-3/4′, pump depth 3000 ft, mid perf 3050 ft, SL 74, SPM 12.

Maka kapasitas sumur dapat dihitung sbb:

SBHP (Ps) = (3050 – 1000) x Fluid Gradient (FG) = 2050 FG

FBHP (Pwf) = (3050 – 1500) x FG = 1550 FG

Pwf/Ps = 1550 FG / 2050 FG = 0.75

dari hasil Pwf/Ps tsb dapat dihitung kapasitas maksimum sumur dengan menggunakan Vogel curve, atau dgn menggunakan formula sbb:

Q/Qmax = 1 – (Pwf/Ps) –> untuk sumur tanpa gas (liquid flow)

Q/Qmax = 1 – 0.2 (Pwf/Ps) – 0.8 (Pwf/Ps)^2 –> untuk sumur dengan gas (2 phase flow)

Q/Qmax = 1 – 0.2 (0.75) – 0.8 (0.75)^2 = 0.4

Qmax = 200 / 0.4 = 500 bfpd.

Kapasitas pompa terpasang dapat dihitung sbb:

PD = 0.1166 x SPM x SL x (Pump size)^2 x 0.9

= 0.116 x 12 x 74 x (1.75)^2 x 0.9 = 283 bfpd

Pump efficiency = 200/283 * 100 = 71%

Dari hasil perhitungan diatas diketahui bahwa sumur mampu berproduksi 500 bfpd sedangkan kapasitas pompa terpasang 283 bfpd. Berarti kapasitas pompa dapat dioptimisasi dengan menaikkan SL, SPM atau mengganti ukuran pompa dengan yang lebih besar mis. 2-1/4′, dengan demikian dapat diperoleh oil rate yang lebih besar.

Demikian, mudah2an bermanfaat.