Kalau lg mau membuat analisa repair rate utk sebuah project (yg artinya volume/jumlah lasannya ekstra besar), sebaiknya menggunakan parameter2 yg lebih detil, misalnya: – prosentase inspeksi RT (100% atau random?); – jenis inspeksi yang diaplikasikan (RT saja atau ada lainnya, misalnya UT, MT/PT, dll); – jenis defect pada lasan, misalnya root pass (LRF, BT, EP, RU, RC); fill/capping (LOF, LSF, crack, slag, UC, LIF, BP); – utk single WPS atau multi WPS (komparasi atau pukul rata); – jenis peruntukan konstruksi (pipeline, struktur, piping, dll) dan kode/standar yg dipakai (BS4515, API 1104, ASME IX, AWS D1.1, dll).

Tanya – Ina Hakim

Dear Rekan2 semua,

Ada yang bisa bantu saya dengan pengertian ‘FIX PERIOD CONTRACT’ yang barusan saya dapat dari job offering dari salah satu perusahaan swasta. Berhubung saya masih awam dan belum pernah mendapatkan job offering seperti ini, mohon bantuannya untuk pengertian employee status tersebut. Apakah statusnya kontrak atau permanen. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – ‘Hasanuddin’

Mbak Ina

Jika hanya 2 parameter itu yang dibandingkan (jumlah joint dan jumlah film), kalau misalnya 100% RT applied, sy kira sebaiknya pake jumlah film akan lebih aman untuk dipakai sebagai patokan pengukuran.

Saran saya, kalau lg mau membuat analisa repair rate utk sebuah project (yg artinya volume/jumlah lasannya ekstra besar), sebaiknya menggunakan parameter2 yg lebih detil, misalnya:

– prosentase inspeksi RT (100% atau random?)

– jenis inspeksi yang diaplikasikan (RT saja atau ada lainnya, misalnya UT, MT/PT, dll)

– jenis defect pada lasan, misalnya root pass (LRF, BT, EP, RU, RC); fill/capping (LOF, LSF, crack, slag, UC, LIF, BP)

– utk single WPS atau multi WPS (komparasi atau pukul rata)

– jenis peruntukan konstruksi (pipeline, struktur, piping, dll) dan kode/standar yg dipakai (BS4515, API 1104, ASME IX, AWS D1.1, dll)

Maaf klo belum menjawab :). Abis, datanya msh simpel mbak.

Dan, semoga filosofi pertanyaan mbak Ina adalah memang mengarah utk keperluan kualitas lasan, dan bukan untuk keperluan menganalisa produktifitas kerja tim pengelasan.

Tanggapan 2 – Dirman Artib

Apakah maksud Pak H bahwa data diselenggarakan (collate) dan analisa dilakukan berdasarkan aspek-aspek pada bullet point ?

Misalnya :

– Repair Rate berdasarkan percentage dari deteksi RT

– Repair Rate berdasarkan percentage dari deteksi NDT/NDE metode lain (visual, MP, PT, UT, HT, FN Test…etc.)

– Repair Rate berdasarkan kategori jenis welding imperfection Crack, LOP, LOF, UC…etc.

– Repair Rate berdasarkan kategori single WPS dan multi WPS (yg satu ini, ,ohon pencerahan lanjut, apa tujuan nya?)

– Dst

Kalau itu yg dimaksud saya saya sangat setuju + Repair Rate berdasarkan Welder ID, jadi utk mengetahui siapa Welder yg harus di improve teknik dan skill-nya.

Cuma mohon pencerahan lebih detail tujuan kita menyelenggarakan data berdasarkan Single adan Multi WPS.

Apakah tujuan akhirnya agar kita memikirkan design WPS yg baru jika dari data kita ketahui performance nya kurang memuaskan?

Tanggapan 3 – ‘Hasanuddin’

Ya kira2 begitu pak Dir. Namanya juga menganalisa, jadi semua-muanya kudu di eksplorasi. Setidaknya itu menurut saya.

Saya quote ulang pertanyaannya mbak Ina:

Dan manakah diantara kedua metode ini yg paling baik digunakan untuk mengetahui atau menganalisa kualitas las2an dikemudian hari.

Tanggapan 4 – ‘Hasanuddin’

Lanjut (ulang) lagi,

Ya kira2 begitu pak Dir. Namanya juga menganalisa, jadi semua-muanya kudu di eksplorasi. Setidaknya itu menurut saya.

Saya quote ulang pertanyaannya mbak Ina:

++++

‘Dan manakah diantara kedua metode ini yg paling baik digunakan untuk mengetahui atau menganalisa kualitas las2an DIKEMUDIAN HARI.’

++++

Nah, bisa timbul pertanyaan, dikemudian hari ini maksudnya bagaimana? Apakah nantinya saat eksekusi pengelasan atau nantinya saat fasilitas (hasil lasan) sudah beroperasi atau reliability lasan?

Sedikit melebar tp msh berkorelasi, dulu2 tahun 2002an saya pernah mengevaluasi bagaimana merepair lasan proyek pipeline yg (lebih) efektif, efisien dan berkualitas dengan bantuan software crackwise dari TWI (sori kalo sebut nama merek ya). Cukup menarik ternyata output dari software tsb dari input-input data yang diinsert dengan berbagai kondisi/skema. Intinya, rekomendasi repair strategi akan tepat sasaran. Dan, kami waktu itu memang harus merevisi beberapa parameter di WPS-WPS kami.

Skrg harusnya software ini lebih powerfull setelah mengalami penyempurnaan, ga ada salahnya untuk coba diobservasi penggunaannya. Cukup mahal memang, tapi worthed lah…

Demikian sedikit tambahan.

Tanggapan 5 – Dirman Artib

Thanks Pak H atas tambahan info software, nggak pa-pa lah nyebutin merek sesekali, kita juga kalau mau gosok gigi nyarinya Pepsodent atau kalau minum minta aqua ha…ha…ha

Tanggapan 6 – Deden Supriyatman

Rekan-rekan milis ysh,

Saya sempat share dengan teman saya, berikut ini pendapat Mas Ardian Fandika (yang in copy dalam email ini)…silahkan berikan komentar posting ini…

Pengukuran terhadap repair rate percentage yang lazim digunakan ada dua macam yakni:

1. Jumlah joint yang di-repair terhadap jumlah joint yang diproduksi

2. Panjang las-lasan yang di-repair terhadap total panjang las-lasan yang dihasilkan.

Dari kedua metode diatas, masing-masing ada kelebihan dan keuntungannya, sebagai contoh metode pertama lebih simple karena hanya menghitung “repaired joint, tanpa memperdulikan panjang las-lasan yang di-repair. Nilai persentase repair menjadi lebih besar karena tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. Namun ada sisi psikologis yang positif buat welder karena control kualitas menjadi lebih ketat. Metode ini cocok untuk konstruksi pipeline dengan diameter kecil.

Metode kedua, tentunya akan menghasilkan persentase yang lebih akurat dan mencerminkan kondisi yang “real” di lapangan. Cocok diterapkan pada konstruksi tanki timbun (storage tank), konstruksi pipeline berdiameter besar, pressure vessel, shipbuilding dan pada industri lain dimana proses perhitungan dapat dilakukan secara sederhana pada geometri bidang las yang tidak terlalu rumit.

Adapun aplikasi kedua metode diatas, tentu sangat bergantung pada Client/Owner.

Saya perlu check ada atau tidaknya spesifik CODES/SPECIFICATIONS/NORMES yang berbicara soal metode kalkulasi presentase repair rate.

Pengembangan lebih lanjut tentu saja dapat dibuatkan statistik “defects” yang terjadi pada las-lasan dalam “repaired joint”. Cacat (defects) dapat saja dikategorikan seperti email dibawah ini namun ada hal yang perlu dicermati yaitu cacat permukaan (surface defects) dan cacat didalam las-lasan (internal defects).

Beberapa COMPANY tidak mempertimbangkan cacat permukaan (i.e. undercut, underfil) sebagai cacat yang sebenarnya karena dapat dengan mudah diperbaiki pada saat itu juga (walaupun ini merupakan indikasi serius bahwa welder tidak perform dengan baik). Internal defects hanya dapat diketahui melalui uji tak merusak (NDT i.e. UT & RT) dan dianggap sebagai Å“real defects yang perhitungkan.

Secara umum “repair rate” merupakan salah satu indikasi apakah sebuah perusahaan memiliki sistem kualitas manajemen pengelasan yang baik atau tidak. Dan dalam banyak hal mempengaruhi kinerja perusahaan secara signifikan (additional costs, delay on project completion, etc). Didalam internal perusahaan itu sendiri, “repair rate” disarankan diaplikasikan terhadap masing-masing welder sehingga dapat diketahui welder dengan performa yang baik dan yang kurang baik, untuk selanjutnya dapat menjadi masukan bagi perusahaan ybs.

Untuk software crackwise, setahu saya software itu dipergunakan untuk ECA (engineering criticality assessment) dan FFS (fitness for service). Apabila ditemukan cacat pada suatu las-lasan atau equipment (katakanlah korosi yang melewati batas design atau cracks), maka dengan bantuan software crackwise, cacat tersebut dapat di-evaluasi dan ditentukan apakah repair harus dilakukan atau tidak. Dalam kondisi yang spesifik, dapat juga dilakukan evaluasi untuk melanjutkan penggunaan equipment dengan cacat yang ada sampai batas waktu tertentu atau menurunkan/menyesuaikan kondisi operasional.

Persoalan repair rate lebih kepada “personal skills”. Apabila sebuah WPS sudah dikualifikasi secara benar menurut spesifikasi yang berlaku (API 1104 misalnya) maka WPS tersebut telah valid. Faktor penting untuk menekan repair rate adalah lebih kepada :

1.Skilled and competent welding personnel (bukan hanya welder namun juga inspector, designer bahkan engineer)

2.Proper, sufficient and calibrated equipment

3.Valid and qualified welding document (WPS, PQR, WPQ, etc)

4.Implementation of welding quality management system supported by top management.

Wassalam dan terima kasih

Tanggapan 7 – Dirman Artib

Pak Deden dan teman Pak Deden yth.

Saya sedikit mengkoreksi hal-hal di bawah ini :

Apabila sebuah WPS sudah dikualifikasi secara benar menurut spesifikasi yang berlaku (API 1104 misalnya) maka WPS tersebut telah valid.

Pada statement lain, dikatakan pula :

Faktor penting untuk menekan repair rate adalah lebih kepada :

3.Valid and qualified welding document (WPS, PQR, WPQ, etc)

Konteksnya, kita tidak bisa memberi istilah ‘Welding Repair’ kepada welding yang tak valid WPS/PQR dan certified WPQ. Welding Repair hanya dapat didiskusikan dalam kerangka WPS/PQR yg valid dan Welder yg certified. Jika ada welding memakai WPS/PQR tak valid dan Welder yg tak certified, maka istilah repair sebenarnya tak akan pernah digunakan, karena joint spt itu adalah ‘Ilegal Welding Joint’, dalam ‘illegal joint’ tak akan pernah ada istilah ‘repair’.