Untuk menentukan luas tampang suatu struktur yang mengalami korosi, bisa menggunakan suatu metode NDT yang menggunaan teknik digital imaging yang bisa mengidentify corroded region, extent of damage dan besarnya area yang terkorosi. Secara manual juga bisa dilakukan dimensional measurement (tetapi dibutuhkan ketelitian extra) dengan menggunakan peralatan2 bantu yang akurasi-nya dapat dipertanggungjawabkan.

Tanya – Badaruddin

Bapak-bapak sekalian,

Mohon pencerahan, gimana menentukan luas tampang dari suatu elemen struktur yang telah mengalami korosi…

Luas tampang yang saya maksud adalah luas tampang yang masih dapat digunakan dalam perhitungan kekuatan struktur…

Tanggapan 1 – Hasanuddin

Pak Badaruddin,

Untuk menentukan luas tampang suatu struktur yang mengalami korosi, bisa menggunakan suatu metode NDT yang menggunaan teknik digital imaging yang bisa mengidentify corroded region, extent of damage dan besarnya area yang terkorosi.

Secara manual juga bisa dilakukan dimensional measurement (tetapi dibutuhkan ketelitian extra) dengan menggunakan peralatan2 bantu yang akurasi-nya dapat dipertanggungjawabkan.

Berbicara masalah perhitungan kekuatan struktur, erat sekali kaitannya dengan structural reliability & integrity. Untuk itu, tidak cukup hanya dengan menentukan luas penampang/ area yang terkorosi. Diperlukan juga data2 yang integrated dan memadai ttg jenis dan sifat2 korosi yang ada (local/global), stress concentration, dsb.

Beberapa elemen penting yang diperlukan untuk menganalisis reliability/integrity suatu structure adalah limit states, failure modes, limit state functions, data analysis, evaluation of failure probability dan result assessment.

Saya kira dg berkoordinasi antar kolega2 di plant Anda yang specialist di bidang NDT, corrosion dan plant reliability akan bisa mendapatkan suatu data spesific yang diperlukan untuk menentukan berapa kekuatan struktur sisa yang ada.

Tanggapan 2 – Badaruddin

Pak Hasanuddin,

Makasih atas tanggapannya, saya masih belum paham dengan structural reliability & integrity yang anda maksudkan, yang saya tahu bahwa suatu struktur dikatakan safe jika property elemen yang digunakan masih cukup untuk menahan stress yang terjadi baik tension maupun compresion, serta rigid dan masih dalam batasan defleksi yang diizinkan ketika dioperasikan…

Untuk menentukan bahwa property dari suatu elemen masih cukuat kuat untuk menahan stress tersebut, salah satu yang ditinjau adalah luas tampang(cross sectional area).. untuk elemen yang telah mengalami korosi tentunya luas tampang juga akan berkurang(maaf kalau salah), salah satu contoh kasusnya adalah, suatu struktur jembatan sederhana diatas sungai aliran air laut, dimana elemen yang digunakan sebagai main beam adalah ex pipa prosses.. karena umur pipa tersebut secara visual telah mengalami korosi…

Tanggapan 3 – Hasanuddin

Pak Badar,

Saya sependapat dengan Anda bahwa suatu struktur dikatakan safe jika masih cukup untuk menahan stress yang terjadi, rigid dan masih dalam batas defleksi yang diizinkan, Dan untuk menentukan itu, salah satu yang mesti ditinjau adalah cross sectional area.

Untuk struktur dengan penggunaan ‘kelas berat’ (spt platform, dll) analysis-nya mesti integrated, setidaknya secara detail memprediksi fatigue life-nya, dll. Faktor korosi juga mesti clear karena proses korosi itu sendiri kontinyu dan bahkan mengalami propagasi sehingga mau tidak mau berpengaruh terhadap strength suatu struktur (hal ini dibahas di structural integrity/reliability).

Untuk struktur dengan penggunaan ‘kelas berat’ analysis-nya mesti integrated. Setidaknya mesti secara detail memprediksi fatigue life-nya, dll.

Untuk case fabrikasi bridge (asumsi saya relatively non/light-load) dengan ex pipa proses, at least mesti diperhatikan beberapa factor:

– allowable base metal stresses

– stress analysis

– discontinuity (kemampuan menerima panas dari welding, cutting)

– strengthening (perlu tidaknya diberikan perkuatan)

– base metal conditions (untuk root pas welding, painting, dll)

– welding sequence (untuk meminimize residual stress dan distorsi)

Rekan lain mungkin ada yang mau nambahin.

Tanggapan 4 – Jacob Jordanus

Pak Badar,

Sekedar menambahkan sedikit uraian yg dari Pak Hasan.

IMHO, Its actualy not advisable to rely on existing steel which is already corroded as a main beam.

Namun jika keadaan yg memaksa, maka:

1. dalam menentukan luas effektifnya, disarankan memakai pendekatan konservatif mengingat faktor ketidakpastian dari proses korosi dan tingkat laju nya (rate nya sekitar 0.1mm/year?)dan sifatnya yg berkelanjutan dan merambat ke bagian yg lain dari besi induk. jadi misalnya kalau menurut visualisasi kita bahwa korosi yg terjadi pd pipa dgn ketebalan 15mm telah mencakup5% dr penampang, dan expected life span dr jembatan tadi 10 th maka penampang effektifnya bisa kita estimated. (ingat perlu diperhitungkan pula bahwa akan terjadi penipisan 0.1mm/year misalnya, pada penampang tsb).

2. Walau dr perhitungan menunjukan bahwa existing pipenya masih dpt digunakan hingga jangka waktu tertentu, sangatlah dianjurkan untuk memperkuat penampang yg mengalami korosi, misalnya dgn ‘menyelimuti’ area tsb dgn pipa yg masih baik (localized strengthening) especially at critical area.

Tanggapan 5 – Badaruddin

Pak Hasanuddin,

Mohon dikoreksi jika salah, apakah yang anda maksudkan dengan structural realibility adalah justifikasi terhadap umur layak pakai dari suatu konstruksi, dimana pada umur yang telah kita tentukan konstruksi tersebut sudah tidak dapat dipakai lagi karena berbagai hal misalnya :

Struktur telah berdeformasi signifikan akibat settlement dari pondasi, akibat konsolidasi tanah secara terus menerus, Cross sectional area yang semakin berkurang akibat korosi Penurunan yield stress, atau terjadinya regangan yang berlebihan akibat beban bolak balik yang menyebabkan fatigue pada suatu elemen

Apakah structural integrity memiliki makna yang sama dengan structural realibilty???

Tanggapan 6 – Hasanuddin

Pak Badar,

Kebetulan saya bukan seorang reliability engineer sehingga tidak banyak yang saya tahu ttg hal ini. Sedikit share aja (dan semoga ada rekan lain yang tertarik menambahkan atau memberikan koreksi apabila ada kesalahan).

Structural reliability adalah suatu analisa probabilitas dari factor2 spt uncertainty in loading, material properties, geometry, boundary conditions, dll. untuk menjustifikasi umur layak pakai, performance dan risk of failure dari suatu konstruksi/engineered system sehingga tercapai suatu kesimpulan fit-for-service. API 579 Recommended Practice Fit for Service mungkin bisa Anda jadikan referensi ttg reliability ini.

Sedangkan structural integrity adalah suatu analisa ttg deformasi, damage dan failure dari suatu material/komponen yang merupakan bagian dari suatu konstruksi/engineerind system. Main focus-nya adalah fatigue crack, fracture, residual stresses, crack initiation & growth, dll.
Biasanya menggunakan metode finite element.

Structural integrity memberikan data2, model dan tools yang dibutuhkan untuk tercapainya suatu structural reliability.

Tanggapan 7 – ‘Hasanuddin’

Pak Badar,

Saya sependapat dengan Anda bahwa suatu struktur dikatakan safe jika masih cukup untuk menahan stress yang terjadi, rigid dan masih dalam batas defleksi yang diizinkan, Dan untuk menentukan itu, salah satu yang mesti ditinjau adalah cross sectional area.

Untuk struktur dengan penggunaan ‘kelas berat’ (spt platform, dll) analysis-nya mesti integrated, setidaknya secara detail memprediksi fatigue life-nya, dll. Faktor korosi juga mesti clear karena proses korosi itu sendiri kontinyu dan bahkan mengalami propagasi sehingga mau tidak mau berpengaruh terhadap strength suatu struktur (hal ini dibahas di structural integrity/reliability).

Untuk struktur dengan penggunaan ‘kelas berat’ analysis-nya mesti integrated. Setidaknya mesti secara detail memprediksi fatigue life-nya, dll.

Untuk case fabrikasi bridge (asumsi saya relatively non/light-load) dengan ex pipa proses, at least mesti diperhatikan beberapa factor:

– allowable base metal stresses

– stress analysis

– discontinuity (kemampuan menerima panas dari welding, cutting)

– strengthening (perlu tidaknya diberikan perkuatan)

– base metal conditions (untuk root pas welding, painting, dll)

– welding sequence (untuk meminimize residual stress dan distorsi)

Rekan lain mungkin ada yang mau nambahin.

Tanggapan 8 – Jacob Jordanus

Pak Badar,

Sekedar menambahkan sedikit uraian yg dari Pak Hasan.

IMHO, Its actualy not advisable to rely on existing steel which is already corroded as a main beam.

Namun jika keadaan yg memaksa, maka:

1. dalam menentukan luas effektifnya, disarankan memakai pendekatan konservatif mengingat faktor ketidakpastian dari proses korosi dan tingkat laju nya (rate nya sekitar 0.1mm/year?)dan sifatnya yg berkelanjutan dan merambat ke bagian yg lain dari besi induk. jadi misalnya kalau menurut visualisasi kita bahwa korosi yg terjadi pd pipa dgn ketebalan 15mm telah mencakup5% dr penampang, dan expected life span dr jembatan tadi 10 th maka penampang effektifnya bisa kita estimated. (ingat perlu diperhitungkan pula bahwa akan terjadi penipisan 0.1mm/year misalnya, pada penampang tsb).

2. Walau dr perhitungan menunjukan bahwa existing pipenya masih dpt digunakan hingga jangka waktu tertentu, sangatlah dianjurkan untuk memperkuat penampang yg mengalami korosi, misalnya dgn ‘menyelimuti’ area tsb dgn pipa yg masih baik (localized strengthening) especially at critical area.

Sekian.

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Dari pada berpanjang -panjang polemik tentang Structural Reliability vs. Structural Integrity, mendingan Pak Hasanuddin memberikan sumber yang jelas pada Pak Badar, tentang sumber bacaan yang ‘ces pleng’ buat Pak Badar, karena kelihatannya jawaban Pak Hasanuddin melenceng dari pertanyaan inti Pak Badar (lihat judulnya di atas).

Kalau sekedar nyulik ilmu dari copy-paste google sih saya juga bisa berikan ratusan website yang membicarakan structural reliability, Tapi Pak Badar kan ngga butuh informasi dari google, karena itu mudah sekali didapatkan. Pak Badar membutuhkan info dari para pakar yang ngerti banget.

Saya sendiri tidak berkompeten menjawab pertanyaan pertanyaan yang jauh meleset dari Process Engineering dan Process Safety, paling paling kalau menyentuh Instrumentasi dan Kontrol serta sedikit Mechanical and Piping….
Ini yang menjadi keprihatinan saya akhir akhir ini, banyak sekali diskusi jadi melenceng karena dijawab oleh orang orang yang tidak berkompeten di Bidang tersebut….

Mungkin sebaiknya setiap miliser disiplin mencantumkan kembali identitasnya berikut profesinya (mohon maaf bagi yang sedang nganggur, bukan bermaksud menyingung), seperti dulu di singgung Pak Zaki Zulqornain.

Tanggapan 10 – Badaruddin

Pak Jacob, makasih atas advisenya, tetapi untuk kasus ini saya mengasumsikan pengurangan tampang sebesar 20%, mungkin nilai ini terlalu besar..

Tanggapan 11 – Hasanuddin

Pak DAM yth, terima kasih atas kritik-nya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya tdk bermaksud berpolemik untuk posting dlm subject reliability karena saya kira erat kaitannya (sama seperti ketika subject K3LLH mengalir menjadi LOPA). Trus, referensi ttg structural reliability, sebagaimana sudah saya sebut dalam posting adalah API 579.

Apakah ada yang salah kalo cari2 ilmu di google pak?? Belajar bisa dimana saja, termasuk di milis ini bukan?

Apakah suatu diskusi mesti dijawab oleh orang2 yang pinter dan berkompeten aja pak? Saya kira semua rekan di milis ini berhak untuk bersuara sepanjang dia interest ttg subject yang dibicarakan dan syukur2 punya background dan kompetensi. Kalopun ada yang salah/kurang lengkap, rekan2 lain toh bisa mengkoreksi/menambahkannya. Rasanya diskusi model seperti ini bakal lebih hidup pak. Saya yakin bapak akan lebih suka kalo model komunikasi itu dibangun secara interaktif dan ke segala arah….dan bukannya satu pihak bilang A trus yang lain juga (terpaksa/dipaksa) bilang A.

Terakhir, saya masuk ke milis ini dengan satu pertimbangan: BELAJAR.

Sekali lagi, terima kasih dan mohon maaf kepada pak DAM dan rekan lainnya kalo mungkin ada yang kurang berkenan.

Tanggapan 12 – Jacob Jordanus

hehehe, mas garonk sifatnya memang begitu, urakan dan bicara apa adanya dan tak jarang membuat telinga kita merah, namun ulasan dan pendapat dia cukup berbobot.

Jangan dimasukan kedalam hati Pak Hasan, teruskan aja komentar dan sharing pengalamannya ke kita2.

Tanggapan 13 – esukardi@technip

Pak Hassan,

Kebetulan kita sama2 orang kontraktor walaupun kadang2 saya mewakili owner juga, saya pikir kita sudah terbiasa dengan kritik bahkan maki-memaki dan makian sekalipun, jangan berkecil hati teruskan niat baik anda masih banyak yang mau menerimanya dan bukan alasan ‘ cari muka kan’ wong…..nga kenal dan kelihatan muka ini?? orang yg kita kenal ajah banyak yg tebel muka acuh sajah dengan kritik.