Kualifikasi cswip 3.2 itu adalah senior welding inspector untuk topside inspection & bukan subsea. Istilah topside menunjukan kegiatan inspeksinya bukan didalam air. Jika yang diperlukan NDT diver inspector semestinya yg diminta cswip 3.2U yang automatically juga sudah qualified NDT atau jika untuk subsea inspection controller semestinya cswip 3.4U. 3 kualifikasi tersebut punya scope of work & responsibility yang berbeda. Semestinya, sependek pemahaman saya tidak bisa saling menggantikan kecuali ybs memang punya kombinasi dr kualifikasi tsb. & kecuali juga jika ternyata scope of work yang akan dilakukan nya a/ fabrikasi fasilitas subsea maka kualifikasi cswip 3.2 sudah sesuai.

Tanya – Citra HRD

Dear Rekan Milis Yth,

Kami membutuhkan kandidat untuk mengisi posisi sebagai Subsea Inspector.

Kualifikasi

1. Pendidikan min. D3

2. Memiliki pengalaman minimal 10 tahun di bidang subsea inspection.

3. Memiliki sertifikat CSWIP 3.2 dan NDT Level 2

Tanggapan 1 – Praditya Wira Satria

Sekedar informasi,

Sependek yg saya tau kualifikasi cswip 3.2 itu adalah senior welding inspector utk topside inspection & bukan subsea. Istilah topside menunjukan kegiatan inspeksinya bukan didalam air. Jika yg diperlukan NDT diver inspector semestinya yg diminta cswip 3.2U yg automatically jg sudah qualified NDT atau jika utk subsea inspection controller semestinya cswip 3.4U. 3 kualifikasi tsb punya scope of work & responsibility yg berbeda. Semestinya, sependek pemahaman saya tidak bisa saling menggantikan kecuali ybs memang punya kombinasi dr kualifikasi tsb. & kecuali jg jika ternyata scope of work yg akan dilakukan nya a/ fabrikasi fasilitas subsea maka kualifikasi cswip 3.2 sudah sesuai.

Mungkin pemberi info perlu menambahkan penjelasan spy tidak salah kaprah.

Tanggapan 2 – pala_utama

Pak Adit,

Anda benar, tapi terlepas dari mereka ngerti atau tidak memang itu hak mereka, mungkin ada kelanjutannya bekerja untuk Topside, menurut saya requirement mereka boleh2 saja, karena dulu saya Inspector di ARCO tahun 1985 laut Jawa cuma punya WI Migas (Bandung) dan UT level 2 sudah menggeluti subsea Pipe Lines Inspector, untuk meng cover semua pekerjaan laying pipe Contractor punya Pipe Line Engineer.

Tanggapan 3 – Praditya Wira Satria

pak Pala yg saya hormati, di akhir email saya sebelumnya saya menyampaikan jika sekiranya memang utk pekerjaan fabrikasi (ato mungkin sampai instalasi) suatu fasilitas subsea maka kualifikasi yg diminta memang sesuai. yg jadi concern saya hanya scope of work nya apakah underwater ato surface/topside aja krn offshore topside inspection berbeda dg offshore underwater inspection. Saya pernah melihat bad ending yg ditimbulkan dr hal semacam ini & pada akhirnya hanya ada adu pendapat saling ngotot antara client & contractor krn objective tdk tercapai. Alhamdulillah beruntung tdk ada pembayar pajak yg complain krn pekerjaan tsb pd dasarnya menggunakan uang mrk yg dibayar dg mekanisme cost recovery. Jg utk menghindari kekagetan inspector yg dikirim kalo ternyata disuruh nyelem & perform ndt ato diminta utk melakukan anomaly based inspection scr retrospective commentary dg ROV/diver & menyusun work scheduling yg tetap memperhatikan limitasi operasi diving maupun ROV, compile interim & final inspection report. mengutip dr tokoh Nigel the cockatoo di film Rio: ‘never send a monkey to do a bird’s job’.

Utk pengalaman pak Pala apakah bapak jg sbg diving inspector waktu itu? jika inspeksi pd saat pipe laying pemahaman saya sow sbg welding inspector sudah sesuai.

——————————–

P/L/WELDING
Tanggal Posting : 25 Nov 2011
Upload : Jan 2012

Rangkuman Diskusi
SPBG dengan pola Pipe Lines OR Pipeless ?

Mengenai supply gas ke SPBG menggunakan pipeline saat ini memang sudah dilakukan, yaitu oleh PGN distribusi pada beberapa station SPBG diwilayah jakarta (spt: SPBG Kalideres, SPBG Rawa Buaya, dll), dan saya sangat seutuju oleh pendapat bapak akan lebih ekonomis apabila seluruh station SPBG disupply menggunakan pipeline, karena salah satu alasannya adalah lebih murah biaya pemiliharaannya dan lebih terjaminnya kesediaan gas tersebut setiap waktu jika tidak terdapat masalah pada station offtakenya.

—————————

Pembahasan – ‘Prajudi S’

Mau sedikit urun rembuk kepada senior – senior mengenai supply CNG untuk BBG dengan menggunakan Pipa atau Pipeless ?

Saya mendengar di Korea saat ini banyak sampah GTM (Gas Transport Module) yang menganggur, karena pada saat itu untuk mensupply SPBG disana mereka menggunkaan GTM/pola mother daugther station.

Saat ini hampir seluruh SPBG di Korea telah mendapatkan supply melalui pipa.
Banyak berita dikoran saat ini pemerintah akan mengembangkan SPBG dengan menggunakan pola Mother and Daugther Station . Bukan kah kalau BUMN kita memiliki Pertamina (pipa Transmisi) dan PGN (pipa transmisi dan distribus)khususnya wilayah JABODETABEK ? Menurut pendapat saya untuk wilayah JABODETABEK akan lebih ekonomis apabila pemerintah menggunakan pipeline dalam mensupply gas kepada SPBG.

Hal ini ditambah lagi dengan kepadatan kendaraan di wilayah JABODETABEK menjadi masalah utama dlam pola distribusinya. Kalau Pola Mother and Daugther Station ini diterapkan bukan kah hanya seperti kebijakan sesaat saja dan akan jadi pemborosan buat negara ? sebab fasilitas pipa kita sudah ada dan mungkin akan lebih baik apabila anggaran tersebut dialihkan kepada pembelian konverter kit atau menyiapkan prasarana pendukung lainnya kalau memang semuanya untuk kepentingan rakyat dan negara ini.

Tanggapan 1 – fahrul hamzah

Dear Pak Prajudi

Mengenai supply gas ke SPBG menggunakan pipeline saat ini memang sudah dilakukan, yaitu oleh PGN distribusi pada beberapa station SPBG diwilayah jakarta (spt: SPBG Kalideres, SPBG Rawa Buaya, dll), dan saya sangat seutuju oleh pendapat bapak akan lebih ekonomis apabila seluruh station SPBG disupply menggunakan pipeline, karena salah satu alasannya adalah lebih murah biaya pemiliharaannya dan lebih terjaminnya kesediaan gas tersebut setiap waktu jika tidak terdapat masalah pada station offtakenya.

Tanggapan 2 – And Riawan

Mas Prajudi…

Pendapat mas Benar…

Berikut saya sampaikan pendapat saya terkait jalur distribusi gas di Jakarta:

1. seluruh Jalur Distribusi Gas di jakarta diurus (di kuasai) oleh PGN.

2. saya belum melihat di lapangan atau mendengar kabar bahwa PGN akan memberikan ijin akses jaringan pipa nya untuk program tersebut. pada prinsipnya, jika sinergi PGN dan Pertamina dalam proyek ini ‘baik2 saja’: saya kira sudah dari dulu seluruh SPBU Pertamina sudah ada Dispenser untuk CNG. (mohon komentar teman2 PGN)

3. Pertamina mungkin memilih opsi menggunakan modul transport, agar target yang di minta oleh pemerintah dapat tercapai, yaitu: mengadakan SPPBG secepat2 nya.

4. pola distribusi menggunakan trucking di harapkan dapat menjangkau daerah2 yang tidak terjangkau oleh jaringan pipa distribusi PGN.

5. Jalur Pipa transmisi Gas Pertamina terdekat ke Jakarta berada di selatan jakarta (Cimanggis, Depok, Tangsel, Bitung, biasa di kenal dgn JPG di kalangan pecinta sepeda gunung)

6. dari berita2 di koran mau pun di internet, banyak sekali hal2 non teknis dan komersial, yang cukup menghambat proyek ini, tapi saya kira pemerintah harus sangat tegas untuk mendukung dan menekan semua pihak yang terkait proyek ini. jangan cuma bicara2 saja di koran dan televisi.

7. isu penting CNG di jakatra: Harga beli gas di wellhead: biaya transport, biaya distribusi, harga jual ke konsumen, keuntungan SPPBG, alat konverter, kualitas CNG (ingat yg kemarin meleduk di Pinang Ranti), lokasi SPPBG yang strategis, penyelewengan penjualan, koordinasi antar instansi, ketersediaan gas, dan masih banyak lagi yang lainnya . . .

mohon maaf krn menyentil DEN, UKP4, PGN dan Pertamina, dll (saya pikir: mereka ini ahli dan di butuhkan saran dan tindakannya)

mohon saran dan pendapat rekan lainnya.

Tanggapan 3 – Prajudi S

Mas Andriawan

Setuju dengan beberapa item pendapatnya Mas dan memang mungkin Indonesia harus berpikir yang out the box, karena kalau tidak dalam beberapa tahun kedepan saya memprediksi kemacetan striktural kemungkinan besar pasti terjadi.
Dan untuk konsep BBG ini saya juga menyarankan fokus untuk wilayah JABODETABEK dahulu sebagai pilot project dan setelah teruji baru di terapkan ke daerah lain di Indonesia.