Untuk penyumbatan pipa dapat menggunakan Ultra High Pressure Pump,dengan jalan nozzle di ganti dengan sistem PJB. PJB yaitu nozzle yang bentuknya seperti X yang dimasukkan kedalam pipa max dia 30inch, yang dapat menjangkau 50-100m pipa.
Jika dimasukkan kedalam pipa dan dinaikkan tekanan pumpnya (sesuai ketebalan kotoran atau oil yang beku),maka PJB tersebut akan berputar 360 derajat.

Tanya – eko nugroho

Dears, bpk-bpk dan rekan-rekan anggota milis…

Saya sedang melakukan penelitian disertasi mengenai penyumbatan pipa submarine, terutama penyumbatan pipa yang disebabkan oleh membekunya crude oil. Metode yang dikembangkan adalah dengan melakukan injeksi chemical solvent ke dalam saluran kemudian mempompa liquid keluar. Dalam metode ini diperlukan mekanisme (semacam mekanisme crawler robot) yang masuk ke dalam pipa untuk membawa chemical tersebut. Mekanisme ini yang menjadi fokus penelitian (diameter pipa 16′).
Tujuan dari riset ini adalah untuk mencari alternatif solusi pembukaan penyumbatan pipa submarine (misal pipa yg sdh lama shut down ingin diaktifkan lagi), dengan cara yang lebih simple, hemat, tetapi tetap mengutamakan keselamatan.
Untuk mengetahui nilai manfaat dari kasus yang saya tangani ini, mohon kiranya saya mendapatkan masukan, informasi maupun data-data.

1. Standard apa yg bisa saya gunakan apabila ingin menerapkan peralatan untuk menangani masalah lapangan seperti hal ini.

2. Adakah data mengenai penyumbatan pipa bawah laut di Indonesia sehingga tidak bisa digunakan lagi, (misal panjang, diameter, lokasi, sejak kpn tdk digunakan…dsb)

3. Metode apa yang umum digunakan untuk membuka penyumbata pipa dan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan.

Terima kasih, atas bantuan bpk2 dan rekan2 milis.

Tanggapan 1 – Isya Muhajirin

Pak Eko, sekedar share saja. Beberapa tahun lalu BPWJ (sekarang PHE ONWJ) pernah mengalami plugging di salah satu pipeline-nya. Berbagai macam metoda dicoba disana, salah satunya dengan menggunakan chemical tapi tanpa robot. Plugging berhasil diatasi dengan memompakan hot water, kalau tidak salah.

Sepengetahuan saya, tidak ada standar yang mengatur harus menggunakan metoda dan peralatan apa apabila kejadian tersebut terjadi di-subsea pipeline. Yang dilakukan adalah engineering judgement dengan melibatkan berbagai macam disiplin.

Untuk data, silahkan berhubungan dengan PHE ONWJ untuk lebih lengkapnya. Saran saya agar mengirimkan permohonan resmi agar bisa berdiskusi lebih banyak. Seingat saya, rekan yg memimpin pekerjaan tersebut masih bekerja disana.

Saya kurang tahu metoda yang umum untuk spesifik kondisi tersebut karena biasanya tergantung keparahan plugging dan crude properties. Untuk besaran biaya yg dikeluarkan pun bisa ditanyakan kepada pihak PHE ONWJ.

Mudah2an informasi ini berguna untuk studi disertasi yang bapak lakukan dan hasilnya bisa memperkaya khazanah pengetahuan kita.

Tanggapan 2 – eko nugroho

Terima kasih pak atas informasinya…semoga bermanfaat..

Tanggapan 3 – ‘Eko Drajat, Nugroho’

Pak Eko (wah nama nya sama nich),
betul apa yg disampaikan Pak Isya.

Problem penyumbatan di PHE ONWJ line 16′ Avsa – Zelda bisa diatasi dg meng inject hot water. Dan alhamdulillah lancar jaya sampe saat ini.

Bila ingin tahu lebih detail mungkin boleh menghub Mas Gustiyanto (member milis ini juga), yg tahu sejarahnya dan ada terlibat dalam proses itu.

Terima kasih.

Tanggapan 4 – ‘eko n’

Terima kasih pak Eko, hehehe namanya kok sama ya…Saya coba hub Mas Gustiyanto..

Tanggapan 5 – Rony Rahmat Saputra

Pak Eko & Pak Isya,

Numpang nanya ya, untuk pipeline yang tersumbat panjangnya berapa ya? Kemudian section yang tersumbat sepanjang apa? apakah sepanjang pipeline-nya? Untuk hot water-nya sendiri diinjeksikan pada tekanan berapa psi? Bila memungkinkan mohon di-share technical article-nya Pak. Mohon maaf sebelumnya kalau banyak pertanyaannya. Masih nubie soalnya.

Terima kasih.

Tanggapan 6 – boilermaster_boilertech indonesia

Dear Pak Eko

Kalo saya penyumbatan pipa biasa menggunakan Ultra High Pressure Pump,dengan jln nozzle di gnti dengan sistem PJB. PJB yaitu nozzle yang bentuknya seperti X yang dimasukkan kedalam pipa max dia 30inch,yang dpt menjangkau 50-100m pipa.
Jika dimasukkan kedalam pipa dan dinaikkan tekanan pumpnya (sesuai ketebalan kotoran atw oil yg beku),maka PJB tersebut akan berputar 360 drajat. Selama metode ini saya pakai untuk industrial cleaning gak masalah pak.

Tanggapan 7 – hadiwinoto_soedar

Kami mengalami pembutuan dionshore pipeline (crude dgn water content sangat rendah) dgn dia 6 inch – 4.5 km, Cara injection PPD / diesel / condensate / hot water dgn high pressure dan terakhir PWHT saja gagal. Terpaksa dipotong2 dan dimasuki kawat + plat besi silender ditarik doser dan digabung hot injection water baru bisa tuntas. Improvement: beri injection point pd jarak tertentu, maintain temperatur dgn elect tracing, tambahkan hot water secukupnya selama produksi, selalu monitore operating temperatur dioutlet (= inlet temperatur – delta temp drop + margin 15 s/d 20 deg diatas clogging temp), …. Semoga bermanfaat.

Tanggapan 8 – ‘eko n’

Terima kasih pak Isya..atas informasinya, semoga bermanfaat.

Tanggapan 9 – Administrator Migas

Mas Eko dan teman2 diskusi Pipe Submarine,

Ditjen Migas sedang menyusun SNI Sistem Transportasi Pipa Penyalur Industri Minyak dan Gas Bumi.

Jika tertarik bergabung sebagai TIM KMI next ada undangan dari Ditjen Migas akan saya masukan sebagai anggota Tim.
Khusus Upstream Komandannya adalah Pak Abadi, tetap kita harapkan partisipasi rekan2 semua.

Silahkan kirim CV ke saya.

Tanggapan 10 – karyo pelor

Semoga dpt terbentuk penyusun yg solid & dpt tersusun standard utk pipeline yg khas Indonesia banget pak…sangat dinantikan SNI ini pak bagi kemajuan masyarakat pipeline di Indonesia

Apakah ini akan menjadi revisi/pembaruan dari SNI pipa gas & minyak yg sdh ada pak?

Tanggapan 11 – hasan uddin

Ikutan nimbrung dikit:

Untuk no 1:

Beberapa standard yang bisa dipakai sebagai referensi dan terkait dengan pipeline untuk lifecycle O&M adalah ISO 13623, 49 CFR Part 195 (refer to ASME B31.4), BS PD 8010, AS/NZS 2885, CSA Z662, dll. Akan tetapi, pada standard tersebut, seingat saya, program pipeline integrity management terkategori non mandatory guidances, jadi membutuhkan proses MOC (management of change) tersendiri/lebih lanjut.

Ada banyak referensi lain yang bisa diambil dari publikasi riset, jurnal, paper, dlsb untuk hal yang terkait dengan wax management di pipeline.

Untuk no 2:

Mungkin bisa request data ke BPMIGAS perihal ini.

Untuk no 3:

Metode pipeline wax management secara umum adalah sbb:

a. Thermal method: mengendalikan temperatur dengan aplikasi insulasi, heater tracing (electric) dan pola sirkulasi fluida (mis: hot water/diesel fuels bergantian dengan crude)

b. Chemical inhibition method: dengan menginjeksikan chemical (i.e. solvent, surfactant dispersant, crystal modifier) secara kontinyu atau dengan pola sirkulasi bergantian dengan crude

c. Mechanical method: dengan intervensi peralatan mekanis spt wireline, TFL, pigging, coiled tubing, dll

d. Pressure method: dengan aplikasi pumping/boosting/gas lift

e. Partial processing method: menambahkan teknik process sisi inlet seperti separasi, water treating, dll.

Saya pernah terlibat dalam tim saat menangani penyumbatan pipa, tetapi di onshore. Inget saya, well datanya memiliki WHSIP: 800 psig, FWHP: 160 psig, flow: 1250 bopd per sumur, FWHT: 170 deg F dan crude pour point: 145 deg F.

Prosesnya ribet, memakan waktu dan hasilnya juga tidak bisa maksimal. Kami saat itu mengkombinasi semua metode. Costnya waktu itu lumayan juga (tidak terlalu mahal-mahal amat). Data pastinya kebetulan saya tidak mencatat waktu itu. Tapi saya pribadi berkeyakinan bahwa penanganan penyumbatan pipa utk hasil yang efekti dan cespleng adalah sangat costly, utamanya apabila very waxy tipe crudenya.

Tanggapan 12 – ‘eko n’

Terima kasih rekan-rekan milis atas respon kasus penyumbatan pipa bawah laut ini. Sebagai gambaran saja, kalau penyumbatan pipa yang pernah kami tangani ini panjangnya sekitar 8.000 m, jadi mulai dari bibir pantai sampai ke tengah laut (mooring) crude oil sdh membeku. Sehingga diperlukan mekanisme/peralatan yang mampu menerobos masuk ke saluran pipa untuk membawa chemical dengan melewati beberapa elbow. Pernah ada ide untuk melakukan drilling..tapi blm kebayang alatnya seperti apa. Dan yang lebih mengherankan lagi..setelah beberapa kali robot masuk ke dalam pipa..keluarnya membawa kotoran seperti tali bekas malah ada kawat sling…sehingga robot belum sampai ke ujung mooring.

Tanggapan 13 – ‘Hasanuddin’

Pak

1) Elbow atau pipebend yang ada di fasilitas tsb? Kalo elbow (apalagi short radius) mungkin akan lebih susah karena space manuver peralatan mekanisnya sangat terbatas. Kalo pipebend, manuvernya akan bebas dan peralatannya bisa maksimal bekerja

2) Ada sling, dll? Berarti dulunya mungkin tidak dilakukan precomm secara menyeluruh (flooding, pigging, dewatering) sehingga msh ada construction debris yg tertinggal

3) Utk melakukan tapping (istilah sampean drilling) membuat inlet baru utk titik injeksi chemical bisa dilakukan secara mekanis (cold tap). Relatif lebih mudah karena fasilitasnya tidak sedang in services. Dikalkulasi saja secara engineering, brp titik yang akan ditapping, chemical jenis apa yg akan diinjeksi dan brp pressure yang akan dipakai utk menginjeksinya

4) Selanjutnya tinggal dikombinasi dengan high pressure fluide (hot water/hot diesel) dari inletnya di onshore

Silakan ditambahkan yang lainnya…

Tanggapan 14 – ‘eko n’

Terima kasih pak Hasanuddin atas penjelasanya…berbagai kemungkinan akan kami coba..share pengalaman dari rekan2 milis sungguh sangat bermanfaat.

Tanggapan 15 – gurukinayan

Dear rekans…..

Menarik neh info sisi lainnya…..

‘Dan yang lebih mengherankan lagi..setelah beberapa kali robot masuk ke dalam pipa..keluarnya membawa kotoran seperti tali bekas malah ada kawat sling…sehingga robot belum sampai ke ujung mooring.’

Di fhase mana yg memungkinkan adanya material tersebut di dalam pipa…..

What’s up….kata mereka.

Maaf sedikit menyimpang dr topik.

Tangagapan 16 – ‘amal_ashardian’

Kawat sling di dalam pipa sepertinya itu bekas tali nya buckle detector.

Tetapi memang biasa dalam pipa setelah selesai construction ditemukan helmet, safety shoes, dan macam macam debris.

Kalau debris itu masih ada dalam pipeline yang sudah beroperasi, berarti >>> precommissioning tidak dilakukan dengan benar.