Saya mohon bantuan sekiranya ada kawan kawan yang bisa menjelaskan di forum ini tentang ekspansi gas alam: Study Case: Kondisi Process : Pressure (14.7 psig); Temperatur (83degF); Flow rate (25MMSCFD); Mol Weight(18.73); Spec Gravity (relative) to air (0.6467); Cp/Cv = 1.284. Jika misalkan Gas tersebut saya choke, menjadi 1 psig, apakah flowrate standardnya (MMSCFD)akan menjadi bertambah?

Tanya – ‘garonk sekali’

Saya mohon bantuan sekiranya ada kawan kawan yang bisa menjelaskan di forum ini tentang ekspansi gas alam:

Study Case:

Kondisi Process : Pressure (14.7 psig); Temperatur (83degF); Flow rate (25MMSCFD); Mol Weight(18.73); Spec Gravity (relative) to air (0.6467); Cp/Cv = 1.284

Jika misalkan Gas tersebut saya choke, menjadi 1 psig :

1. Apakah flowrate standardnya (MMSCFD)akan menjadi bertambah?

karena dari sebagian sumber mengatakan jika hal ini tidak mungkin, artinya flowrate standar dalam hal ini disamakan dengan massa, dan menurut hukum kekekalan massa penambahan massa tidak dimungkinkan. Tetapi pengalaman lapangan berbicara lain, flowrate standar menjadi naik jika tekanan diturunkan (choke).

2. Bisakah dengan peralatan yang sederhana misalnya hanya memanfaatkan rangkaian manifold/header dan choke valve fenomena expansi volumetrik diatas dilakukan ?

Atau malah membutuhkan peralatan proses yang lebih rumit/besar (misalnya expander tanks) ?

3. Ada suggestion ngga sumber bacaan/literatur dari majalah majalah proses (chemical engineering, chemical processing dsb) yang membicarakan hal ini yang bisa saya baca?

Tanggapan 1 – Cahyo Hardo

Dharmawan,

rasanya agak sulit menerima laju alir dalam keadaan standard bisa berubah karena dia merupakan perwujudan hukum kekekalan massa.

Anyway, mungkin pertanyannya adalah, jika memang kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang lain (lebih besar) maka, bagaimana cara Dharmawan mengukurnya? dengan flowmeter apa bisa mengukur laju alir gas pada tekanan sedemikian rendah itu? Apa memakai annubar?, venturi? atau ultrasonik. Lalu meter apakah juga yang digunakan di upstream line sebelum diekspansi. Beda meter sudah berarti beda hasil.

Kesalahan pengukuran di dalam meter merupakan hal yang wajar. Bahkan tidak perlu di expansi, suatu aliran gas yang dimasukkan ke kompresor tandem (seri), jika meter di setiap inletnya tidak betul, laju alirnya (dalam MMscfd) bisa nambah padahal ada gas yang terkondensasi sebelumnya.

Apakah gas Mas Dharmawan ketika di ekspansi masih jauh di di bawah titik embunnya?

saran saya, silakan teliti ulang meter Mas Dharmawan.

Kedua, fenomena ekspansi tidak mesti harus memakai choke, valve biasa saja sudah bisa mewakili fenomena tersebut, asal ada penurunan tekanan.

Tentu aja, hasil akhir alat apa yang harus di pasang tentunya harus ditelaah via perhitungan proses yang matang.

referensi yang bagus?

saya sarankan bukunya john campbell, gas conditioning and processing. GPSA adalah buku bagus, hanya sayangnya dia bersifat cookbook. JAdi know-how-nya jarang dibahas secara detil.

Tanggapan 2 – suseno sastrosunarno

mas gar,

1. flowrate standard ( MMSCFD) sampean nggak berubah, yg naik adalah actual flowrate (ACFM), dng pressure berkurang gas akan membengkak.

2. tergantung process selanjutnya mas gar, kalau di downstreamnya bisa dua fase ya cukup choke valve aja. tapi kalau ingin dipisahin liq sama gasnya ya harus ada separator.

3. GPSA ato gas processingnya-nya campbell bagus buat baca-baca.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut:

——————————-

UMUM/Proses – Nov 2005

Rangkuman Diskusi
Sertifikasi SIL

Sertifikasi/analysis SIL bisa dikatakan sebagai part of functional safety assessment. Untuk melakukan assessment ini, baik untuk SIF (Safety Instrumented Function) maupun untuk equipment, diperlukan seseorang yang ber-COMPETENT dan INDEPENDENT.

———————–

Tanya – Heppy Siswantadi

Dear All,

Mohon Pencerahan, Apakah Analysis SIL (Safety Integrity Level) harus dilakukan oleh Threed Party, ataukah kita bisa melakukannya sendiri ?.
Apakah di Indonesia (Jakarta) ada badan / organisasi yang bisa melakukan analysis SIL tersebut ?.

Terimakasih atas pencerahannya.

Tanggapan 1 – Kundono, Warih

Pak Heppy,

Sertifikasi/analysis SIL bisa dikatakan sebagai part of functional safety assessment. Untuk melakukan assessment ini, baik untuk SIF (Safety Instrumented Function) maupun untuk equipment, diperlukan seseorang yang ber-COMPETENT dan INDEPENDENT.

Requirement tingkat independent untuk melakukan assessment equipment (dimana merefer ke IEC 61508) lebih strict dan detail dibandingkan assessment SIF (dimana merefer ke ANSI/ISA-84.00.01-2004). Seseorang yang bercompetent, bisa employee dari company tersebut dan tidak harus selalu third party, selama tidak terlibat dalam project design team boleh melalukan assessment SIF.

Untuk lembaga yang bisa melakukan sertifikasi ini disini, saya kurang tahu. Semestinya perguruan tinggi2 disini bisa melakukannya, seperti yang biasa dilakukan oleh Sintef di Norway.

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Mas Kundono

Saya setuju istilah independent tidak mesti harus dari third party, namun integritas tinggi si assessor harus menjadi persyaratan wajib. Jangan mentang mentang satu company lantas ada kompromi.

Yang saya pelajari dari bermacam laporan SIL Assessment di Indonesia, ada beberapa SIL untuk beberapa SIF yang overvalue, yang berlebihan dari yang seharusnya. Mungkin karena safety management system yang dianut mengikuti safety case untuk laut utara yang kondang dengan high standard nya. SIL Assessment bersama sama PHA, QRA, EERA dsb. sejatinya adalah bagian dari safety case yang didirikan untuk mengeluarkan klaim kalau offshore productionnya ‘SAFE’ untuk dioperasikan.

Setahu saya, beberapa rekan dari IIPS (Indonesian Institute for Process and Safety) dan rekan di ITB sedang mengembangkan software untuk assessment SIL ini. Sepanjang pengetahuan saya, sampai saat ini di ITB sendiri belum ada expert yang mampu melakukan pekerjaan ini. Di lingkup perminyakan sendiri ahlinya bisa dihitung dengan jari, karena kalaupun ada itupun tidak ‘lengkap’ karena sebagian hanya jago di statistik dan probabilistik, sebagian lainnya jago di HAZOP, FTA, dan ETA, sebagian jago di LOPA, sebagian jago dalam management testing dan verification of SIF, dan jago jago lainnya. Belum ada yang benar-benar pundit semuanya.