Sertifikasi/analysis SIL bisa dikatakan sebagai part of functional safety assessment. Untuk melakukan assessment ini, baik untuk SIF (Safety Instrumented Function) maupun untuk equipment, diperlukan seseorang yang ber-COMPETENT dan INDEPENDENT.

Tanya – Heppy Siswantadi

Dear All,

Mohon Pencerahan, Apakah Analysis SIL (Safety Integrity Level) harus dilakukan oleh Threed Party, ataukah kita bisa melakukannya sendiri ?.
Apakah di Indonesia (Jakarta) ada badan / organisasi yang bisa melakukan analysis SIL tersebut ?.

Terimakasih atas pencerahannya.

Tanggapan 1 – Kundono, Warih

Pak Heppy,

Sertifikasi/analysis SIL bisa dikatakan sebagai part of functional safety assessment. Untuk melakukan assessment ini, baik untuk SIF (Safety Instrumented Function) maupun untuk equipment, diperlukan seseorang yang ber-COMPETENT dan INDEPENDENT.

Requirement tingkat independent untuk melakukan assessment equipment (dimana merefer ke IEC 61508) lebih strict dan detail dibandingkan assessment SIF (dimana merefer ke ANSI/ISA-84.00.01-2004). Seseorang yang bercompetent, bisa employee dari company tersebut dan tidak harus selalu third party, selama tidak terlibat dalam project design team boleh melalukan assessment SIF.

Untuk lembaga yang bisa melakukan sertifikasi ini disini, saya kurang tahu. Semestinya perguruan tinggi2 disini bisa melakukannya, seperti yang biasa dilakukan oleh Sintef di Norway.

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Mas Kundono

Saya setuju istilah independent tidak mesti harus dari third party, namun integritas tinggi si assessor harus menjadi persyaratan wajib. Jangan mentang mentang satu company lantas ada kompromi.

Yang saya pelajari dari bermacam laporan SIL Assessment di Indonesia, ada beberapa SIL untuk beberapa SIF yang overvalue, yang berlebihan dari yang seharusnya. Mungkin karena safety management system yang dianut mengikuti safety case untuk laut utara yang kondang dengan high standard nya. SIL Assessment bersama sama PHA, QRA, EERA dsb. sejatinya adalah bagian dari safety case yang didirikan untuk mengeluarkan klaim kalau offshore productionnya ‘SAFE’ untuk dioperasikan.

Setahu saya, beberapa rekan dari IIPS (Indonesian Institute for Process and Safety) dan rekan di ITB sedang mengembangkan software untuk assessment SIL ini. Sepanjang pengetahuan saya, sampai saat ini di ITB sendiri belum ada expert yang mampu melakukan pekerjaan ini. Di lingkup perminyakan sendiri ahlinya bisa dihitung dengan jari, karena kalaupun ada itupun tidak ‘lengkap’ karena sebagian hanya jago di statistik dan probabilistik, sebagian lainnya jago di HAZOP, FTA, dan ETA, sebagian jago di LOPA, sebagian jago dalam management testing dan verification of SIF, dan jago jago lainnya. Belum ada yang benar-benar pundit semuanya.