Standards Australia and Standards New Zealand (2004) AS/NZS 4360:2004, Risk Management (ISBN 0 7337 5904 1) tidaklah umum digunakan di Indonesia. Sepanjang yang diketahui ketika berkunjung ke beberapa perusahaan proses (chemical processing industries) di Indonesia pada umumnya mereka tidak secara ‘proper’ melakukan risk management. Apa yang mereka lakukan adalah sangat minimum, untuk tidak menyebut tidak ada usaha sama sekali. Sebagai indikator, nilai compliance mereka terhadap Guidelines for Implementation of Process Safety Management nya IIPS (Indonesian Institute for Process and Safety) adalah dalam kisaran 0.6 hingga 1.1 dari skala maksimum 5. Penting untuk diketahui bahwa risk management tidaklah sama persis dengan HSE management (SMK3, Peraturan masing masing perusahaan) maupun serial Quality Management yang berkesesuaian dengan HSE aspects (sebagai contoh ISO-9001, ISO-14001 dan OHSAS-14001).

Tanya – Anda

Mas DAM to the point aja ya langsung nanya. aq mau tanya ttg risk management. literatur yg kubaca as/nzs 4360:2004,apa std ini yg umum digunakan di perusahaan? klo tdk, std apa yg digunakan?
sejauh mana hal ini diaplikasikan di industri??

apa menjadi scope-work dr safety dept. ??

di dlmnya ada proses risk identification-analysis-evaluate-treatment dst. tapi aq ngga nemuin risk assessment. apakah assessment ini bersifat sequential aja??

segini dl aja. thx alot before.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Berikut adalah jawaban saya atas pertanyaan seorang dosen ITS beberapa waktu yang lalu, semoga ada gunanya.

Diskusi selalu terbuka, silahkan ditanggapi bila ada yang pantas di bahas.

Mbak Anda,

Standards Australia and Standards New Zealand (2004) AS/NZS 4360:2004, Risk Management (ISBN 0 7337 5904 1) tidaklah umum digunakan di Indonesia. Sepanjang saya ketahui ketika berkunjung ke beberapa perusahaan proses (chemical processing industries) di Indonesia pada umumnya mereka tidak secara ‘proper’ melakukan risk management. Apa yang mereka lakukan adalah sangat minimum, untuk tidak menyebut tidak ada usaha sama sekali. Sebagai indikator, nilai compliance mereka terhadap Guidelines for Implementation of Process Safety Management nya IIPS (Indonesian Institute for Process and Safety) adalah dalam kisaran 0.6 hingga 1.1 dari skala maksimum 5.

Penting untuk diketahui bahwa risk management tidaklah sama persis dengan HSE management (SMK3, Peraturan masing masing perusahaan) maupun serial Quality Management yang berkesesuaian dengan HSE aspects (sebagai contoh ISO-9001, ISO-14001 dan OHSAS-14001). Pengertian safety, jika merujuk pada ISO, adalah ‘bebas dari resiko yang tidak dapat diterima’. Bagaimana bisa mencapai kategori ‘safe’ jika criteria resiko yang tidak dapat diterima saja tidak pernah ada?. Maksud saya adalah ALARP, As Low As Reasonably Practicable, atau jika diartikan adalah resiko minimum yang dapat diterima sedemikian hingga pekerjaan tersebut bisa dipraktekkan/dilakukan (biasanya dinyatakan dengan satuan 1 hingga 100 kejadian kecelakaan/kegagalan dalam 1 juta tahun). Indonesia, secara dalam hal ini pemerintah RI tidak memiliki criteria ALARP secara khusus, tidak juga perusahaan-perusahaan di Indonesia. Beda di Eropa, beda pula di USA, jika di Eropa pemenuhan Risk Management menyatakan suatu pekerjaan / pabrik yang mencapai tingkat resiko tolerable atau acceptable (di bawah angka ALARP) dapat / boleh dioperasikan, maka di USA suatu pabrik bisa dilakukan jika telah memenuhi criteria minimum dari PSM-OSHA (kementrian tenaga kerja) dan RMP-EPA (kementrian lingkungan hidup). Pemenuhan criteria ini biasanya digambarkan dengan angka antara 1 – 3 atau antara 1 – 5 (sebagaimana disebutkan dalam alinea pertama di atas).

Sebagian perusahaan di Indonesia, terutama di perusahaan minyak dan gas, sudah bergerak lebih jauh dalam Risk Management ini, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan di bawah naungan Depnaker. Kemungkinan karena disebabkan oleh 1) Komitmen manajemen level atas; 2) Kemampuan Financial dan Ketersediaan sumber daya yang cukup untuk mendirikan Risk Management; 3) Pemenuhan terhadap standard di negeri asal pemilik saham (karena umumnya PMA); 4) Kesadaran bahwa safety = business (atau kasarnya = menghasilkan uang). Inilah yang umumnya tidak dimiliki perusahaan di luar bidang minyak dan gas di Indonesia, terutama perusahaan di mana pemiliknya tidak memiliki komitmen terhadap HSE.

Secara umum Standards Australia and Standards New Zealand (2004) AS/NZS 4360:2004, Risk Management (ISBN 0 7337 5904 1) mewajibkan setiap perusahaan untuk menyusun Risk Management Program yang meliputi hal hal di bawah ini:

Konteks: konteks ini meliputi dua hal yakni deskriptif (berisi tujuan perusahaan, pernyataan kepedulian pemegang saham, pernyataan tujuan pemegang saham, dan pernyataan nilai nilai patokan yang ingin dicapai oleh perusahaan (bisa ALARM atau nilai indicator)) dan kreatif (berisi segregasi proses-proses dalam pabrik/perusahaan menjadi bagian-bagian kecil yang masing-masing harus dilakukan identifikasi resiko).

Identifikasi: sekali lagi proses identifikasi resiko ini bisa dilakuan secara preskriptif atau secara kreatif. Yang dimaksud preskriptif adalah menggunakan metode-metode yang sudah baku di mana biasanya berisi hal hal yang boleh dan hal yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan proses kreatif antara lain adalah brainstorming, entah dilakukan oleh tim dalam pabrik itu sendiri ataupun tim di luar pabrik melalui rangkaian interviews, kuisioner, atau survey tertulis oleh konsultan luar yang berkompeten.

Analisa Resiko: langkah ini meliputi studi kekerapan kejadian kegagalan/kecelakaan, studi keparahan yang bisa dihasilkan dari kegagalan/kecelakaan tersebut. Dari hasil perkalian antara kekerapan dan keparahan inilah diketahui tingkatan resikonya.

Evaluasi Resiko: pada langkah ini dilakukan pembandingan antara nilai patokan resiko yang ingin dicapai perusahaan (lihat langkah 1) dengan nilai hasil perhitungan resiko yang dihasilkan langkah 3 di atas. Setelah itu dipilah-pilah mana resiko yang masuk dalam criteria perusahaan dan mana yang tidak masuk criteria.

Mengelola Resiko: Bagi resiko yang tidak masuk dalam keriteria perusahaan (dalam hal ini di atas ALARP, atau kejadian kegagalan/kecelakaan di atas nilai minimum yang sudah ditetapkan perusahaan dalam langkah 1 di atas), harus dilakukan usaha-usaha tambahan agar resiko ini menjadi di bawah ALARP. Termasuk dalam usaha-usaha ini adalah mengidentifikasi alat/opsi pelindung, menilai alat/opsi pelindung, menyiapkan dan menerapkan rencana pengelolaan, dan menganalisa kembali resiko yang masih tersisa setelah diterapkan/diaplikasikannya opsi/alat pelindung.

Sebagaimana langkah-langkah sebelumnya, proses pada langkah ke lima ini adalah proses yang berkesinambungan yang akan selalu harus dimonitor dan diperiksa kembali, dan dikomunikasikan dan dikonsultasikan.

Standar Australia ini secara sekilas ‘mengadopsi’ peraturan ‘Safety Case’ yang dikeluarkan oleh HSE di Inggris. Di USA sendiri, EPA RMP lebih menekankan pada pencapaian kepuasan/penerimaan public terhadap satu fasiltas/pabrik di daerah mereka. Langkah langkah EPA RMP (Risk Management Program) antara lain 1) Penyusunan akta kesepahaman antar semua komponen dalam pabrik, dari mulai karyawan level terrendah hingga management level atas; 2) Menyusun rencana penerapan RMP; 3) Melakukan penilaian bahaya (hazards); 4) Pemilahan level program yang musti diikuti; 5) Melakukan evaluasi terhadap Program Pencegahan Kecelakaan yang sudah didirikan; 6) Mengevaluasi rencana tanggap darurat; 7) Menyusun file atau dokumen Rencana RMP; 8) Menyusun Sistem RMP; 9) Menentukan pemahaman yang ingin dicapai dari semua level karyawan pada RMP yang sudah disusun; 10) Menjaga keterbaruan dokumen setiap 5 tahun sekali.

Jadi, menilik uraian di atas langkah-langkah risk assessment sudah masuk dalam langkah 3, 4 dan 5 (pada standard Australia/NZL) sekaligus. Ingat dalam terminology HSE, banyak sekali terdapat pengistilahan-pengistilahan, karena masing masing standard tentu saja mempunyai definisi-definisi sendiri sendiri.

Apa yang menjadi scope of work Safety Department? Wah yang ini saya tidak akan menjawabnya di sini, karena 1) Saya tidak pernah bergabung dengan Safety Department; 2) Masing-masing perusahaan memiliki scope of work yang berbeda-beda pada Safety Departmentnya, dari mulai yang komprehensif dan pantas hingga yang sekedar sebagai polisi HSE saja. Satu hal terpenting adalah, HSE adalah urusan semua orang, bukan hanya orang-orang atau personel Safety Department.

Beberapa Standards/Practice lain yang berkesesuaian antara lain:

CAN/CSA-Q850-97, ‘Risk Management: Guidelines for decision Makers’
South Africa: Institute of Risk Mangement (2003), ‘Code of Practice for Enterprise Risk Management’
British, PD6668:2000, Managing Risk for Corporate Governance’
USA, COSO, ‘Enterprise Risk Management Framework’