Salah satu fungsi G/G Heat Exchanger adalah pertukaran panas, yang sekaligus menaikkan kondisi gas keluaran LTS dari keadaan jenuhnya ke keadaan superheated sehingga dia aman di kirim ke pembeli dan tidak kondensasi di tengah jalan (kecuali gas nya bersifat retrogade). Glycol yang disemburkan di G/G HE fungsi utamanya adalah untuk mencegah terjadinya hidrat karena temperatur di HE tersebut, secara termodinamika memang sudah masuk daerah pembentukan hidrat. Karena sifat glycol yang cenderung akan viscous jika temperaturnya rendah, maka TEG biasanya tidak bisa digunakan. Glycol yang suitable untuk digunakan adalah MEG atau DEG.

Tanya – Robby.Ansyarie@Conocophillips

Anggota milis yang terhomat

Kami mengalami permasalahan dengan glycol loss yang sangat besar, proses yang kami lakukan adalah Dehydration process dengan glycol (MEG) sebagai agent nya dan menggunakan Gas to Gas exchanger sebagai tempat kontak antara glycol dengan raw gas .
mohon bantuan dari rekan sekalian, untuk mengatasi masalah ini.

Tanggapan 1 – ardiann@unocal

Pak Robby slamat siang,

Kasus ini sama dgn yg kami alami, alhamdulillah sekarang sdh tuntas. semoga share ini membantu:

1). Terjadi jet flooding. Glycolnya terbawa oleh gas stream yg masuk ke Dehydrator, akibat dari flownya gas kebanyakan..tdk balance dgn si glycol yg sedikit atau ratenya lambat. Coba atur ratenya glycol, atau kecilkan ratenya gas.

2). Ada line yg bocor di dalaam systems Dehydration itu sendiri? Coba check venting line. Kami muter2 nyari line yg bocor kurang lebih 2 bulan): …..Kami di onshore, punya pengalaman line glycol boocor di underground (gak kelihatan).

3). Ada ndak Control Valve yg passing Di dalam systems? Coba check Filter Housing…..flash separator…etc. satu-satu Pak.

Tanggapan 2 – a.paripurna@ptsofresid

Bung Robby,

Glycol losses itu pasti terjadi. Yang tidak diharapkan adalah bila losses terlalu besar. Banyak hal bisa menyebabkannya. Gambaran permasalahan umum bisa didapat dengan membandingkan dengan data design systemnya. Kemudian ditambah dengan investigasi selanjutnya.

Mengenai G/G exchanger, saya yakin dia bukan tempat salaman glycol dengan raw gas. Tapi Cuma tempat manasin/dinginin gas untuk hemat tenaga dan mecocokkan kebutuhan proses.

Tanggapan 3 – Robby.Ansyarie@Conocophillips

Selamat pagi pak Andhika,

Pada dehydrating proses kami glycol diinjeksikan ke raw gas (spraying) di gas / gas exchanger, selanjutnya gas yang udah ‘dicampur’ glycol tersebut menuju Low temp separator, lalu glycol dipisahkan di LTS ini, juga sebagai Condensate recovery unit, dan glycol yang terpisah dikembalikan ke glycol regent, untuk menurunkan temperatur di LTS kami menggunakan JT effect, demikian gambaran singkat tentang proses kami, sekalian juga untuk Pak Ardian, apakah proses bapak sama dengan gambaran yang saya.

Tanggapan 4 – cahyohardo

Pak Robby, selamat pagi..

Keliatannya proses di tempat bapak tidak jauh berbeda dengan di tempat saya mencari nafkah.

G/G Heat Exchanger seperti yang dikatakan Pak Andhikapati, salah satu fungsinya adalah pertukaran panas, yang sekaligus menaikkan kondisi gas keluaran LTS dari keadaan jenuhnya ke keadaan superheated sehingga dia aman di kirim ke pembeli dan tidak kondensasi di tengah jalan (kecuali gas nya bersifat retrogade he..he..).

Glycol yang disemburkan di G/G HE fungsi utamanya adalah untuk mencegah terjadinya hidrat karena temperatur di HE tersebut, secara termodinamika memang sudah masuk daerah pembentukan hidrat. Karena sifat glycol yang cenderung akan viscous jika temperaturnya
rendah, maka TEG biasanya tidak bisa digunakan. Glycol yang suitable untuk digunakan adalah MEG atau DEG.

Bedanya dengan Pak Robby, jika bapak menggunakan prinsip JT valve guna pendinginan lebih lanjut, kami di Block A Natuna menggunakan refrijerasi berbasis freon R-134A. G/G HE secara otomatis juga berfungsi untuk menurunkan beban pendinginan dari unit refrijerasi. Nah sebelum masuk unit refrijerasi, glycol (kami menggunakan DEG) sekali lagi disemburkan.

Pokoke Pak Andhikapati, G/G HE yang dilengkapi dengan spray glycol pada prinsipnya adalah aplikasi integrasi proses…Maaf ngelantur, sudah cukup teorinya..

Balik bakul ke subjek yang dimaksud, saya mungkin telat masuk diskusi ini, mungkin pertanyaan saya ini sudah basi..Apakah loss nya itu adalah loss karena kesetimbangan belaka atau loss karena proses? Sebab setahu saya, MEG punya kelemahan sejati sebagai inhibitor hidrat, yaitu loss vaporizationnya lebih besar ketimbang rekan sejawatnya yaitu DEG atau TEG (meski orang-orang environment ‘suka’ MEG karena dia cenderung menyerap BTEX dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang glycol2 yang lain).

Sudahkah Pak Robby melakukan analisa pendahuluan via proses simulator. Sebab, jangan2 yang dikatakan losses besar itu sebenarnya adalah konsekuensi dari proses design-nya sendiri (mengingat Pak Robby memakai MEG).

Something wrong di flash separator (setting too low), Gasnya panas?, G/G HE tekanannya kerendahan, laju MEG kegedean? Laju gas terlalu cepat? Overcapacity?

Mungkin data yang lebih lengkap bisa sangat membantu. P&ID, PFD?

Tanggapan 5 – a.paripurna@ptsofresid

Betul sekali, apa yg dari Bung Cahyo.

Memang pada dasarnya, Bung Robby saya harapkan memeriksa dengan design dasarnya untuk ngerti deviasinya. Karena setiap sistem bisa dibuat variant rinciannya, sehingga agak susah juga memberi saran bila basis datanya minim.
Selamat bekerja.