SOP akan diestablish berdasarkan proses-proses yang sudah anda ‘mapping’. Sekarang anda identifikasi dulu proses-proses dan aktifitas yang ada di project tersebut. Kemudian, kalau anda berencana untuk compliance dengan standar tertentu, maka identifikasi lagi prosedur tertulis yang wajib menurut persyaratannya. Setelah itu, tentukan lagi prosedur wajib menurut system anda sendiri atau berdasarkan kritikal proses yang harus ada prosedurnya.

Tanya – Imran Harun

Dear All Milister,

Saat ini saya sedang membuat kerangka safety manual untuk diterpkan pada salah satu project kami. Mohon kiranya agar para milister yang berkecimpung di bidang safety dapat memberikan bantuan mengenai Standard Operating Procedure (SOP) untuk kegiatan-kegiatan (aktivitas) yang berlangsung sehubungan dengan marine construction. Atau mungkin ada yang mau berbaik hati untuk mamberikan contoh-contoh SOP. Saya mohon dengan sangat bantuannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Dirman Artib

Pak,

SOP akan diestablish berdasarkan proses-proses yang sudah anda ‘mapping’. Sekarang anda identifikasi dulu proses-proses dan aktifitas yg ada di project tsb. Kemudian, kalo anda berencana untuk compliance dg standar tertentu, maka identifikasi lagi prosedur tertulis yg wajib menurut persyaratannya. Setelah itu, tentukan lagi prosedur wajib menurut system anda sendiri atau berdasarkan kritikal proses yg harus ada prosedurnya.

Prosedur seyogyanya disestablish oleh orang atau group yg akan bekerja dg prosedur tsb, karena mereka lah yg sangat mengerti dg protocol serta norm-nya. J

Department HSEQ tidak harus bertindak menjadi pabrik prosedur, bukan ?

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Pak Imran,

Betul apa yang diungkapkan oleh Pak Dirman, sejatinya SOP itu spesifik dan tidaklah sama persis sekalipun menggunakan peralatan proses yang identik. Isu-isu lokal adalah sangat penting karena in average Human Failure adalah sekitar 80 % (kompilasi dari API, HSE dan buku lain). Isu-isu lokal ini sangat spesifik dan berbeda antara satu dan lain daerah.

Kalau contoh SOP sih sepertinya termasuk wilayah yang rahasia (ber-copy right) jadi mohon maaf saya ngga bisa membantu, namun kalau tidak salah salah seorang milister migas indonesia sempat mengirim file SOP dari salah satu perusahaan minyak di timur tengah sana.

Meski saya yakin tidak membahas tentang marine operation, buku CCPS ‘Guidelines for Writing Effective Operation and Maintenance Procedures’ tahun 1996 adalah bacaan yang bagus untuk memperlajari teknik penulisan SOP yang baik. Mungkin kalau tidak ada halangan, tahun depan The Indonesian Journal of Process Safety akan mengangkat isu Penulisan SOP ini, jadi tungu saja yah.

Tanggapan 3 – Bambang Santoso

Pak Imran,

Kalau boleh sedikit menambahi: Dari pengalaman berkecimpung di dua perusahaan gas dan minyak, dapat saya simpulkan penyusunan HSE Manual sangat berkaitan dengan kemana perusahan tsb (akan) mengacu DAN berapa besar (dana dan man hours) pendorong yang disediakan untuk memenuhi atau meningkatkan standar HSE yang (akan) dianut.

Penysunan kerangka Manual HSE sebaiknya dikerjakan dengan (konsultan) yang berpengalaman mengenai HSE sendiri dan mengenai sistim manual. Bila dana yg tersedia besar, anda bisa menggunakan konsultan Internasional yang namanya sudah dipercaya dunia industri sehingga memudahkan pada tahap-tahap penyusunan manual dan implementasi selanjutnya.

Bila dana yang tersedia terbatas,mungkin anda bisa mencoba benchmark dengan perusahaan migas di Indonesia yang bersedia ‘menjual’ template HSE manual nya kepada perusahaan dimana anda bekerja. Kemudian anda bisa menggunakan konsultan di Indonesia yang berpengalaman mendevelop HSE manual (sesuai dengan karakter / environment industri nya).

Diharapkan, bila bukan kepada pesaing bisnis utama, perusahaan tertentu bersedia ‘menjual’ template nya, dengan motif untuk merecover sebahagian dana (dan keringat) yang sudah dikeluarkan untuk mendevelop manualnya dimasa yl. Dana hasil recovery ini selanjutnya dapat digunakan untuk mendevelop manual-manual atau posedur-prosedur / SOP level yang lebih detail, Contoh prosedur yang sepotong-sepotong, bila dicopy penggunaanya tanpa konsep komprehensif akan mengandung resiko tersendiri.

Semoga membantu.-

Tanggapan 4 – esukardi@technip

Buat Imran,

Sepengetahuan saya, kalau untuk project level biasanya kita membuat yang namanya Project HSE Plan, sedangkan HSE Manual adalah pada company level. Sedangkan untuk sarana pendukung pelaksanaan Project HSE Plan adalah berupa standard working procedure yang seperti pekerjaan di onshore ditambah standard yang hkusus untuk offshore. Karena menyangkut dapur perusahaan documentnya nga bisa dishare, tapi kalau index nya saya bisa bantu.

Tanggapan 5 – Hugi Rahardjo

All,

Setuju sekali dengan pendapatnya P’Sukardi. Saya ingin sekedar sharing, bagi yang telah sertifikasi ISO 9001, 14001 & OHSAS 18001, bisa menggabungkan menjadi satu manual yang terdiri dari ke-3 management system, dengan cara menerapkan integrasi ke-3 management system tersebut.

Kalau anda matrix-kan klausa ke-3 management system tersebut, dimana beberapa klausa dari ke-3 management system tersebut saling melengkapi/mengisi satu dengan yg lain, yang kemudian bisa anda jabarkan ke dalam ‘manual integrated of management system’ (Matris tersebut bisa dilihat pada halaman2 akhir ISO 9001 dan/atau 14001-Gaps Matrix Between …..)

Menurut info yang saya peroleh, bahkan sudah ada beberapa company yang sudah menerapkan integrated management system menjadi satu sertifikat yg meliputi ke-3 area tersebut.

Note:

Apakah bisa juga integrated management system IS 9001, 14001 & OHSAS 18001 tersebut di-integrasikan juga dengan Project Management yg 9 area?

Apakah untuk Project Management juga harus mempunyai manual? Mohon sharing info dari rekan-rekan yang lain.