Penggunaan tabung bekas oksigen untuk menyimpan nitrogen Kalau menurut peraturan tidak boleh : 1.Kemampuan dari tabung oksigen tidak bisa menyimpan pada pressure 2000 psi; 2.Connection valvenya berbeda antara Oksigen dan Nitrogen; 3.Kapasitas dan type dari regulator yang digunakan berbeda; 4.Color code dari tabung berbeda. Walaupun sifat dari Nitrogen sebagai gas penetral tetap tidak bisa dipergunakan sembarangan.

Tanya – ‘Nanang JAMIL’

Bolehkah kita menggunakan tabung bekas oksigen untuk menyimpan nitrogen ?
Kalau boleh, safety precaution apa yang harus diambil ?

Tanggapan 1 – Yoyok Poerwedi

Wah ini keliatannya kebiasaan orang logistik diBalikpapan, untuk urusan laboratorium???

So… far sebaiknya jangan dilakukan.

Mengapa?

Menurut saya, salah satu fungsi kedua gas tersebut sangat berlawanan. Oksigen merupakan salah satu unsur disegitiga api, sementara nitrogen bersifat inert gas, yang bisanya mempunyai fungsi untuk blanketing ataupun flushing.

Kalaupun akan digunakan perlu dipikirkan kondisi tabung penyimpan yang meliputi tekanan, temperatur design dari tabung dan tekanan dan temperature design operasi pada penyimpanan oksigen, selanjutnya dicocokkan dengan kebutuhan minimum untuk menyimpan nitrogen.

Selanjutnya perlu dicat disesuaikan dengan warna untuk penyimpanan nitrogen, dan juga mungkin perlu perubahan outlet dari tabung mengingat regulator untuk nitrogen dan oksigen lain.
Dan juga bentuk tabung untuk masing-masing gas dari sononya juga udah berbeda. Jangan lupa dengan kebiasaan orang kita yang jarang liat checklist ataupun liat tulisan dan sering mengandalkan biasanya, juga perlu dipikirkan.

Tanggapan 2 – Dirman Artib

Pada prinsipnya dialihfungsikan, dirobah, dimodifikasi sebuah fasilitas/asset/alat harus mengikuti proses Hazard Management, maka
Hazard-nya terlebih dahulu harus:

* Diidentifikasi (identification), diukur (assessing), dianalisa (analyse)

* Dieliminasi (Elimination)

* Dicegah (Prevention)

* Dideteksi (Detection)

* Dikendalikan (Control)

* Mitigate (Mitigation)

Kemudian didokumentasikan semua proses di atas. Baru kita ketahui
kesimpulan-nya,

Tanggapan 3 – ‘Priatna, Waluya’

Kalau menurut peraturan tidak boleh :

1.Kemampuan dari tabung oksigen tidak bisa menyimpan pada pressure 2000 psi.

2.Connection valvenya berbeda antara Oksigen dan Nitrogen.

3.Kapasitas dan type dari regulator yang digunakan berbeda.

4.Color code dari tabung berbeda.

Walaupun sifat dari Nitrogen sebagai gas penetral tetap tidak bisa dipergunakan sembarangan.

Tanggapan 4 – ‘Nanang JAMIL’

wah pak yoyok tahu aja,…..

bagaimana kalau setelah diresertifikasi (sertifikasi ulang)..
boleh nggak pak ?

katanya, pada saat proses resertifikasi itu dilakukan, penimbangan, pembersihan cat, uji tekan, pengecetan dan labelling.

Tanggapan 5 – ‘Nurul Hidayat’

Saya lebih setuju pendapatnya mas Yoyok, sebaiknya tabung bekas oksigen tsb jangan digunakan untuk nitrogen (alasan teknis sudah disampaikan mas Yoyok), dengan pertimbangan kalau sosialisasinya tidak sampai ke seluruh lapisan bisa sangat berbahaya (mematikan) karena salah alamat.

Disamping itu, kalau alasannya penghematan juga kurang sesuai, apa tidak sebaiknya tabung tsb tukar tambah dengan tabung nitrogen (shg tidak perlu canibal). Ach..Pertamina kan cukup anggaran utk itu (saya ex.Pertamina lho..mas, rasanya baru dengar, kejadian kayak gini).

Tanggapan 6 – ‘Nanang JAMIL’

Pak Yoyok, pak Dirman, pak Priatna dan pak Nurul,
Terima kasih masukan-masukannya,

Kesimpulan dari masukan masukan tersebut adalah bahwa ‘kita tidak
merekomendasikan bekas tabung oksigen dipakai untuk nitrogen’.

Safety is start here.

Tanggapan 7 – ‘Priatna, Waluya’

Perusahaan kami mempunyai DB-30 yang mana telah disertifikat oleh
international sertifikat ABS ( DB,Crane dsb ) tapi kok masih perlu disertifikat lagi oleh Migas apakah sertifikat dari ABS tidak berlaku atau hanya mencari2 aja,tolong keterangannya dari rekan2.

Tanggapan 8 – tharjanto@jkta

Jadi ingat kejadian di salah satu rumah sakit deh, maunya kasih oksigen eh malah keliru yang lain 🙁
Kalau ndak salah sudah 2 atau 3 kali kejadian-nya dan berakibat sangat fatal.

Kejadian persisnya saya lupa, tapi pada Rumah Sakit yg berbeda
kasusnya sama, kesalahan yang sama, maksudnya di-oksigen eh malah
klepek-klepek 🙁

Sebaiknya jangan !!! deh kasihan nanti orang lain yg kesalahan.

Tanggapan 9 – ‘Akhmad, Khaqim’

Saya ingin berbagi pengalaman yg dialami di plant kami berhubungan dengan gas N2 .

Waktu itu ketika power black out, system instrumebtasi kita di change over dari Instrument Air ke NM (nitrogen medium, sekitar 7.5 barg.

30 menit setelah power hidup lagi, rupanya sisa NM di analyser house masih banyak, dan sewaktu salah satu teknisi masuk ke AH tsb dalam waktu singkat meninggal.

N2 adalah zat Lemas …. si korban tidak merasa sakit ketika menghirup N2.

Maka hati-hati dengan kode WARNA kalau mau mengubah O2 bottle menjadi N2 bottle atau sebaliknya. Ya WARNA !!!

Tanggapan 10 – ‘Candra, Eddie’

Pak Wal,

Saya dulu sudah pernah posting, sertifikat ABS itu berlaku di semua negara di dunia kecuali di Indonesia.

Peraturannya emang (setau saya) begitu, setiap derrick barge kita yang kerja di wilayah Indonesia selalu disertifikat oleh MIGAS.
Memang biayanya jadi dobel, karena selain MIGAS kita juga harus minta ABS untuk witness (yang diakui di semua negara dunia kecuali di Indonesia itu…)

Tanggapan 11 – ‘nanang jamil’

Pak Wal,

Mirip-mirip dengan hal ini, masalah serfikasi crane, antara Depnaker dan Migas.

Untuk Crane yang beroperasi di industri umum (non migas) cukup dengan sertifikat Depnaker.

Sedangkan untuk Crane yang yang beroperasi di industri migas harus dengan sertifikasi Migas.
Masing-masing tidak mengakui sertifikasi yang lain.

Kebetulan di kalimantan timur ada Forum K3 Migas, anggotanya industri migas di kaltim (pertamina, total, unocal, vico, badak, ekspan dan pemda). Dalam forum ini pernah dibahas masalah ini.
Kesimpulannya, depnaker dan migas tetap pada pendirian masing-masing,.
Jadi ya kadang-kadang satu crane mengantongi sertifikasi doble, satu dari depnaker dan satu dari migas.

Padahal tujuannya sama, uji/test nya sama.

Hal ini bertambah runyam dengan adanya otonomi daerah.
Kata orang depnaker, dengan adanya otonomi daerah, semua perusahaan (migas dan non migas) yang berada di daerah kaltim, menjadi pengawasan depnaker.
Sementara Migas hanya ada di Jakarta, nah…

Akhirnya yang kasihan yang para kontraktor.

Saya usul, Migas Indonesia menjembatani dengan direktur teknik migas, mengenai hal ini.

Tanggapan 12 – ‘Priatna, Waluya’

Saya rasa semua peraturan2 yang ada di Migas itu juga berdasarkan peraturan International.

Contohnya kalau kita sudah punya SIM international apakah kita perlu punya SIM lokal seharusnya kalau sudah punya certificat international hanya diregitrasi ke Migas SIM2 apa saja yang kita punya.

Tanggapan 13 – ‘Raity Arief H’

Setuju dengan usulan Pak Nanang, mungkin Pak Budhi bersedia sebagai fasilitator ?

Kita perlu juga memberikan masukan kepada Birokrat/pemerintah, bahwa investor akan datang dan dapat berinvestasi dengan tenang di Indonesia, apabila pelayanan yang diberikan oleh Birokrat lebih mudah dan tidak ada dualisme. Saya mengusulkan dibentuknya suatu Dewan Sertifikasi yang memberikan sertifikasi terhadap penggunaan peralatan maupun lisensi kepada pengguna peralatan dibawah SKB Menakertrans- Mentamben- Memperindag- Menhub atau dibawah Presiden langsung seperti BSN atau KAN, atau seperti di Singapore dengan PSB nya. Saya dengar dulu hampir sempat dibentuk Dewan tersebut, namun karena terjadi beberapa kali pergantian presiden, akhirnya tidak terwujud.

Bagaimana komentar Bapak dan Ibu yang lain ?

Tanggapan 14 – Elwin Rachmat

Tentang barge saya memiliki kisah yang menyedihkan pada saat pengelasan dilakukan diatas barge yang sedang wet dock. Pengelasan dilakukan pada lantai barge tepat diatas filtered water compartment. Ledakan terjadi pada saat pengelasan berlangsung. Tukang las meninggal entah karena ledakan atau karena terlempar dan terhempas. Seorang lainnya luka berat. Barge yang bersertifikat ABS tersebut ternyata bocor pada ballast water compartmentnya kearah filtered water compartment. Sementara itu dalam ballast compartment terdapat hidrokarbon mungkin karena limbah / cucian yang mengandung hidrocarbon dibuang kesana. Alhasil gas yang berada di ballast compartment masuk kedalam filtered water compartment melalui kebocoran pada dindingnya. Sesudah itu semua barge dan kapal yang kami gunakan harus memiliki dinding berganda (double wall) untuk memisahkan compartment yang mungkin mengandung hidrokarbon, dan ruang sempit diantara kedua dinding harus diyakinkan selalu kosong. Sertifikasi harus kita ikuti karena peraturan mewajibkannya, tapi saya tidak percaya kepada sertifikat darimanapun asalnya tanpa melakukan verifikasi sendiri.

Tanggapan 15 – Dirman Artib

Rekan-rekan sekalian,

Akhirnya saya mengingatkan bahwa beberapa bulan yang lalu pernah muncul masalah yang sangat mendasar terhadap peraturan sertifikasi ini. Mas Budhi bahkan sudah bicarakan dengan Pejabat dari Ditjen MIGAS yang berjanji untuk menyediakan orangnya untuk terlibat dan membantu memberikan informasi, tetapi mana ? Tak satupun yang muncul, tetapi masih kita tunggu ?

Sepanjang pengalaman saya di bidang Quality Assurance, masalah peraturan dasar dan peraturan pelaksanaan yang mengikutinya untuk proses sertifikasi apapun di Indonesia (alat ukur, alat angkat, alat keselamatan, operator alat, inspektur, dll), sosialisasinya sangat jelek, sehingga menimbulkan 1001 pertanyaan, interpretasi dan model. Ma’af saya belum tahu media /forum untuk menjembatani hal ini.