Flame Arrester bukanlah berfungsi sebagai ‘safe venting to atmosphere’, melainkan untuk mencegah nyala yang menjalar, baik itu dari dalam ke luar, atau dari luar ke dalam. Dalam kasus dari luar ke dalam, misalnya kebakaran di luar mesin agar tidak menjalar ke dalam mesin melalui baik start fuel vent line (atau semacamnya).

Tanya – ajie

Dear Rekan Migas,

Please your info, mengenai standard penggunaan flame arrester or water seal, apakah safeguard tersebut harus ada dalam setiap enclosed or open flare, sepertinya di API 521 dimasukkan sebagai auxiliary saja? dan apakah operasi flare stack tanpa safeguard tersebut diperbolehkan? atau ada syarat2 tertentu dimana tidak diperlukan safeguard tersebut?

Saat ini kami ada problem dalam penggunaan flame arrester, bottleneck ditempat tersebut, sehingga menyebabkan kondisi upstream pressure-nya lebih tinggi dari normal operation, sebagai catatan flame arrester tersebut masih baru, tidak menggunakan water seal, dan flare stack dioperasikan dengan adanya continues fuel gas dengan rate tertentu untuk membantu proses pembakaran.

Terima Kasih

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Dear Mas Ajie,

Klausul penggunaan flame arrester dijelaskan di halaman 134 API Std 521:

‘Flame arresters are seldom used in a flare system for flashback protection because they are subject to plugging. The hazards associated with an obstruction in a flare system are of such a serious nature that flame arresters could be recommended only if vapours are non-corrosive, dry, free from any liquid that can congeal and free from any substances that can cause obstruction’

Mengenai liquid / water seal sendiri, secara API Std 521 tidak mengharuskan sebagaimana kata kata ‘is sometimes’ dalam alinea pada halaman 126 berikut:

‘A liquid seal is sometimes used to prevent air entry into the flare-header system. Following a hot release, cooling and/or condensation of vapour at low-flow or no-flow conditions can form a vacuum condition in the flare header. Under such conditions, air can be drawn into the flare system through the flare tip. The rate of contraction accelerates dramatically if the cooling leads to condensation of components of the contained gas’

Akan tetapi water seal ini berguna mencegah internal explosion dengan memberikan barrier terhadap tersedot baliknya udara akibat impact vacuum (akibat kondensasi) di sepanjang flare header/KO Drum

Dari apa yang diuraikan oleh mas Ajie, nampaknya purge gas diaplikasikan agar ada tekanan positif di flare mencegah ‘flash back’, lihat page 134.

‘The continuous introduction of purge gas at anadequate rate can also be used to reduce the possibility of flashback with or without a seal drum’

Sekarang yah monggo sahaja, mas Ajie mau pasang water seal atau flame arresster apa ora itu dibebaskan, namun untuk instalasi yang membutuhkan duit tentu saja justfikasi kuat dibutuhkan. Pada intinya harus ada yang pencegahan terhadap ‘flash back’ yang bisa menyebabkan ‘internal explosion’, entah itu dengan water seal, purge gas, inert gas, dst.

Tanggapan 2 – ‘Simeon S. Ginting’

Dear Mas Ajie,

Penjelasan Mas DAM sudah sangat detail dan to the point. Saya sekedar menambahkan / meringkas saja.

Flashback protection yang utama di flare systrm adalah continuous purge gas. Dari uraian Mas Ajie, seperti kata Mas DAM, sudah diaplikasikan di flare system Mas Ajie.

Untuk double protection, biasa dipasang juga Liquid Seal Drum untuk mempertahankan positive pressure di flare header.

Adakalanya, walaupun cukup jarang, sebagai proteksi tambahan dipasang juga Flame Arrester di inlet flare. Keuntungannya tentunya sebagai tambahan proteksi terhadap upstream equipments. Sementara kerugiannya, selain tentunya menambah capital cost, juga menambah friction loss, kemungkinan plugging dan meningkatkan maintenance cost.

Tanggapan 3 – ajie

Terima kasih rekan2 migas atas penjelasannya, kita rencana tetap akan mempertahankan safeguard tersebut, dan akan mecoba untuk meminta maintenance/cleaning atau meminta ganti flame arrestor tersebut, karena masih masa warranty dan tidak sesuai dengan spesifikasi maximum pressure drop yang diminta.

terima kasih

Tanggapan 4 – ‘Fajri Julisyah’

Nimbrung sedikit pak,

Saya butuh info dan ilmu yang berhubungan dengan arrester ini, yang diketahui adalah pada tank yang berfungsi sebagai safe venting to atmosphere.

Bagaimana dengan flame/spark arrester yang dipakai di kendaraan saat memasuki daerah yang berpotensi hidrokarbon katakanlah dalam area Gas Plant Processing.

Tentunya banyak perusahaan yang memberlakukan pemasakan alat semacam ini sebelum memasuki Red Zone.

Apakah ada standar yang berlaku tentang spek dan jenis mobil yang bisa dipasang spark/ flame arrester?

Tanggapan 5 – Darmawan A Mukharror/ Crootth Crootth

Mas Fajri,

1. Flame Arrester bukanlah berfungsi sebagai ‘safe venting to atmosphere’, melainkan untuk mencegah nyala yang menjalar, baik itu dari dalam ke luar, atau dari luar ke dalam. Dalam kasus dari luar ke dalam, misalnya kebakaran di luar mesin agar tidak menjalar ke dalam mesin melalui baik start fuel vent line (atau semacamnya)

2. Spark arrester yang dipasang pada kendaraan adalah untuk mencegah penjalaran api dari mesin menuju keluar melalui – biasanya – knalpot atau jalur lain, sehingga dapat menyulut nyala di udara luar yang berpotensi mengandung hidrokarbon. Akan tetapi pemasangan spark arrester atau flame arrester ini menurut hemat saya kurang efektif, karena bisa saja gas hidrokarbon sudah menyentuh terlebih dahulu permukaan mesin yang panas dan tersulut tanpa perlu menunggu letupan api dari knalpot mobil tersebut.

3. Mengenai standard dan specification mobil/kendaraan yang perlu dipasangin flame/spark arrester, saya kurang tahu (silahkan di googling saja, saya yakin ada jawabnya), karena paling efektif adalah mencegah mobil memasuki wilayah yang berpotensi mengandung lepasan hidrokarbon yang lebih berat dari udara (heavier than air)

Semoga menjelaskan.