Select Page

“Kebanyakan organisasi menganggap bahwa jika kinerja occupational safety mereka bagus maka otomatis system manajemen keselamatan process yang mereka miliki pun bagus. Bagaimanapun juga occupational safety sangatlah berbeda dengan process safety. Sebagaimana kembali saya sitir dari BP Panel:“The presence of an effective personal safety management system does not ensure the presence of an effective process safety management system”. Sistem dan prosedur adalah penting dan diperlukan, namun mereka tidak menjamin keefektifan manajemen keselamatan proses.”



Pembahasan dari – Crootth Crootth


16 Januari 2007, BP US Refineries Independent Safety Panel [1] mengeluarkan hasil investigasinya mengenai budaya keselamatan kerja pada lima (5) pengilangan minyak milik BP di States sana. Panel ini sendiri – yang dikepalai oleh mantan menteri luar negeri US, James Baker – didirikan sebagai jawaban atas rekomendasi CSB pada investigasi kecelakaan Texas City Refinery tahun 2005. Kecelakaan ini sendiri, menewaskan 15 orang dan mencederai 170 lainnya, adalah salah satu kecelakaan Process Safety terbesar dalam 10 tahun terakhir (sebenarnya yang terbesar adalah pada 26 Desember 2006 di Lagos, di mana pipa minyak yang bocor dan diserbu penduduk untuk diambil, meledak dan menewaskan 500 orang).

Hal yang menarik adalah salah satu kesimpulan dari Panel Baker ini yang menyatakan bahwa BP tidak cukup berusaha menjadikan Process Safety sebagai Core Value pada seluruh kilangnya di antero US. Kendatipun demikian, panel percaya bahwa kurang nya budaya process safety ini bukan hanya dimiliki oleh BP.

Lantas apa gerangan itu Safety Culture?

Saya mencatat setidaknya FW Guldermund [2] merangkum 18 definisi tentang safety culture/climate. Salah satunya dikemukakan oleh TR Lee (1996) yakni:

”the safety culture of organization is the product of individual and group values, attitudes, perceptions, competencies, and patterns of behavior that determine the commitment to, and the style and proficiency of, and organization’s health and safety management”

Belakangan HSE UK menyitir definisi Lee ini. Namun favorit saya adalah pengertian yang lebih singkat oleh CCPS, 2005 [3]:

”Safety culture is how the organization behaves when no one is watching”

Kebanyakan organisasi menganggap bahwa jika kinerja occupational safety mereka bagus maka otomatis system manajemen keselamatan process yang mereka miliki pun bagus. Bagaimanapun juga occupational safety sangatlah berbeda dengan process safety. Sebagaimana kembali saya sitir dari BP Panel:

“The presence of an effective personal safety management system does not ensure the presence of an effective process safety management system”

Sistem dan prosedur adalah penting dan diperlukan, namun mereka tidak menjamin keefektifan manajemen keselamatan proses. Sistem haruslah benar benar dilaksanakan dan difungsikan, bukan sekedar macan kertas. Dalam hal Texas City Refinery sendiri, terdapat beberapa ketidak efektifan budaya process safety dalam bentuk antara lain :


Overpressurization pada Raffinate Splitter: Kehadiran air, nitrogen dan umpan yang salah merupakan factor penting yang menyebabkan kenaikan tekanan secara drastic dan menyebabkan liquid carry over
Venting hidrokarbon secara langsung ke atmosfer: Lepasnya hidrokarbon menuju blowdown drum dan stack inilah yang diyakini menyebabkan (setidaknya) dua kali ledakan di Texas City refinery
Kurangnya kepatuhan pada standard operating procedure: bebarapa langkah dalam start up procedure untuk raffinate splitter diterabas begitu saja.
Kurangnya pengawasan: staf pengawas tidak melakukan kaji ulang pada prosedur yang sudah dijalankan dan tidak berada di tempat selagi pekerjaan start up dilakukan.
Penempatan trailer: beberapa trailer diletakkan sekitar 50 m dari blowdown drum dan stack yang tidak diperkirakan sebagai daerah yang berpotensi bahaya besar.
Management of change tidak dijalankan dengan patut: Ini menyangkut penempatan trailer yang pasti merubah IR (individual risk) dan PLL (probability loss of life) dalam kilang Texas City.
Kurangnya informasi / pringatan: Orang orang di sekitar dan di dalam trailer tidak diingatkan mengenai adanya start up yang diikuti oleh keluarnya hidrokarbon dari stack. Juga tidak ditemukan adanya evacuation alarm selama proses terlepasnya hidrokarbon ke atmosper

Setahun telah berlalu, semoga kita semua belum melupakan kesimpulan akhir Panel Baker ini. Jika kita sudah mulai lupa (dan mengabaikan budaya process safety), maka hanya tinggal menunggu waktu saja bagi kejadian mematikan akan menjadi nyata.

”Ia disebut ’jalan’ sebab ia memungkinkan orang saling bertemu”
(Ito Jinsai)

Tentang penulis:
Darmawan adalah seorang aquarian, menyukai memasak makanan Thailand dan Vietnam, menggandrungi wanita muda dan sintal, hobby pelesir ke tempat terasing, menggemari lagu lagu Manic Street Preachers, Hoverphonic, Dubstar dan Echobelly, dan sebenarnya pada saat kecil bercita cita menjadi seniman

Reference:
[1] http://www.safetyreviewpanel.com/cmtfiles/charter_related/Panel%20Report%20-%20January%202007.pdf
[2] Guldenmund, F.W., “The Nature of Safety Culture: A Review of Theory and Research”, Safety Science 34 (2000) p214 – 257, Pergamon Press, Nederland
[3] CCPS-AIChE, “Building Process Safety Culture: Tools to Enhance Process Safety Performance”, AIChE, 2005
[4] UK Health and Safety Executive, “Safety Culture: A Review of the Literature”, 2002



Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah


Om Markodji,

Saya ingin menambahkan sedikit dari beberapa unsur penting yang luput dipikirkan TR Lee dari definisinya adalah resep ttg Teknologi dan Equipment juga partners and contractor-supplier-service provider influence, tanpa hal tersebut Safety Culture dan HSE Performance E&P Operator tidak akan lengkap untuk dinilai Maturitynya [1] .

Dimana sejauh ini berbagai perusahaan sedang mengembangkan process safety yang dikembangkan dalam kompetensi atau HSE Expertise untuk dinilai sebagai bagian HSE Culture secara keseluruhan sejak 1980-an akhir, ada suatu forum khusus di Aberdeen sana nanti yang akan mengupas ttg hal ini lebih detail (HSE Risk Management & Process Safety for Oil & Gas February 27 – 28, 2008 • The Ardoe House Hotel, Aberdeen, Scotland), semoga kelak ada kawan yang berbaik hati membagi paper2 bagus tersebut.

Setidaknya sejauh ini ada 5 HSE Cultural maturity model yang sudah diakui dan dipakai di sebagian perusahaan dunia, ada berbagai langkah yang harus dilalui dan CICo memakai garis 5 langkah utama dalam mengevaluasi HSE Cultural maturity tersebut.

5 HSE Cultural Maturity Model tersebut diantaranya :
1. Westrum’s Safety Cultural – Maturity Model (Westrum 1988, 1991)
2. Hudson et al.’s HSE Cultural Maturity Model (Hudson et al. 2000,2002,2004, Hudson and Willekes 2000)
3. Fleming and Meakin’s HSE Cultural Maturity Model (Fleming and Meakin 2004)
4. Dupont Safety Culture – Maturity Model
5. UK Oil Industry Step Change in Safety, HSE Executive.

[1] Creating a Culture to Deliver Sustainable HSE Performance, RS Buell, SPE, Chevron Corp, September 2006
[2]

Hal lainnya di email Om Markodji saya setuju dengan hal tersebut, you know better than me. CMIIW.

 “Just ordinary process safety and HSE Culture learner; adventurer, mantan anggota band, pers mahasiswa dan pembelajar ilmu hakikat dan ma’rifat”



Tanggapan 2 – Crootth Crootth


Dear All,

Apa yang coba dijelaskan oleh teman saya Alvin, sebagaimana dia merefer Lee dan keluputannya merumuskan “technology and equipment” juga “contractor-supplier-service provider influence”, sedikit memberi gambaran sisi culture dari filosofi Process Safety Culture. Sebagaimana saya sadur dari diskusi di University of manitoba:

“Culture traits and broader cultural patterns inclusive of language, technology, institutions, beliefs, and values are transmitted across generations and maintain continuity through learning, technically termed enculturation”

Jadi yang coba saya jelaskan di sini, “technology” (termasuk juga “contractor-suplier-service provider influence”) hanyalah pattern atau jejak dalam sebuah budaya -dalam hal ini budaya safety – bukan inti dari budaya (process safety) itu sendiri. Terakhir CCPS AIChE (God, they have so many good resources!) memaparkan pengertian mutakhirnya tentang budaya process safety:

“the combination of group values and behaviors that determine the manner in which process safety is managed” [1]

Bagaimana ini dijalankan? Reference [1] menyatakan empat langkah terpenting dalam Process Safety Culture:

1. Mencapai standar terbaik dalam kinerja keselamatan proses
2. Menjaga kepekaan terhadap kerapuhan sistem (sense of vulnerability)
3. Memastikan komunikasi yang terbuka dan efektif
4. Menyiapkan respon pada setiap isu dan permasalahan keselamatan proses secara tepat waktu

Penjelasan CCPS ini pula yang direfer oleh sosiolog Australian National university, Prof. Andrew Hopkins [2] dalam Oil and Gas Industry Conference, 20 November 2007, “Thinking about Process Safety Indicators”. Beliau menegaskan pentingnya “the need for caution” sebagai sandingan atas “sense of vulnerability” nya CCPS. Prof Hopkins juga menyatakan “while it is more meaningful to count (process safety) failures than (occupational safety) activities, this does not mean that counting failures is straightforward”

Tentang maturity HSE (bukan process safety yah) saya setuju dengan Alvin, meski pematangan kultur safety tanpa melibatkan unsur Process Safety adalah hal yang membahayakan. Kejadian BP Texas City Refinery adalah contoh kolosal. Siapa yang membantah rekor BP dalam occupational safety, namun karena tidak melibatkan process safety dalam “proses pematangan kultur safety” nya, maka Texas City Refinery menjadi tumbal.

overall, thanks to Alvin atas diskusi menariknya

Reference:
[1] CCPS, Guidelines for Risk Based Process Safety, AIChE, NY, 2007
[2] Hopkins, Andrew, “Thinking about Process Safety Indicators”, ANU, 2007
Share This