“Boros-nya kendaraan memakai bbm memang ketergantungan dari individu driving (prilaku memainkan throttle gas, karena merasa puas alo suara muffler nyaris bunyinya). Hanya untuk orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi yang masih standar atau sering dipergunakan keluar daerah, maintenance tiap bulannya harus diperhatikan, semakin dirawat kendaraan semakin awet. Karena org yang tidak perhatikan maintenance kendaraannya tiap bulan, semua component2 yang bergerak di engine atau di unit-nya akan berubah semua, contohnya dari sisi system pengapian sparkplug(busi) jarang dibersihkan, itu clereance-nya semakin rapat dan akan cepat menimbulkan panas dan juga akan menimbulkan pemakain bbm yg boros. Begitu juga pada system mechanism valve (katup), jarang diperhatikan akan semakin renggang clereance-nya sampai noise.”

Tanya – Roeddy Setiawan

Dear millis ,
Bagi komuter yang harus menempuh jarak yg cukup jauh ke daerah perkantoran di dki ditambah macetnya jalan biaya bahan bakar merupakan post pengeluaran yg significant.
Kalau kebetulan kendaraan anda termasuk baru berumur 5 tahunan , kemungkinan besar sudah memakai compression ratio yg cukup tinggi ,,, untuk mengurangi bahan bakar anda bisa memainkan octan number anda,,,, aceton bisa anda beli di hampir toko kimia dijakarta dg harga yg miring,,, oktan number 110..
 

Untuk pemakaian jalan raja dan normal 30 ml aceton tiap liter bensin regular akan memberi efect terhadap laju penguapan bensin, terutama untuk kendaraan yg memakai orifice, aspirator tipe, makin cepat bbm menguap makin sempurna pencampuran dg udara, makin besar expansion power yg kita terima, dg dosis spt ini tidak terasa perbedaan tarikan tapi km/lt akan naik cukup significant,,, silahkan riset sendiri kalau berhasil slahkan posting pengalaman anda.

untuk yg suka dg acceleration tiggal diajust saja octan number anda dg formula

octane mix = vol acet x 110 + vol regular x octan reg/ total volume

selamat mencoba

Tanggapan 1 – Agus Umaryasin

Kalo saya untuk meningkatkan RON dan menghemat, saya pakai Pertamax+Premium dgn perbandingan 1:2

Ada pengalaman anggota Milis yang menggunakan Bioetanol? bisakah Bioetanol dicampurkan dgn Premium? Mengingat bioetanol belum dapat dibeli dgn mudah.

Tanggapan 2 – NYOMAN PRIBADI WP

Dear mas roeddy,

Saya sudah mengaplikasikannya cukup lama di mobil saya yang kebetulan memiliki compression ratio diatas standar karena beberapa modifikasi yang saya lakukan, efectnya kurang lebih seperti yang mas roeddy sebutkan dibawah, sebetulnya ada beberapa modifikasi yang pernah saya bersama komunitas otimotif saya lakukan untuk efisiensi atau pengiritan bahan bakar, seperti campuran acetone, water injection, cold air induction, campuran ethanol, dll

Yang saya ingin komentari adalah masalah irit tidak semata2 dari efisiensi bbm saja, tetapi cenderung lebih banyak di tentukan dari driving style masing2 individu..pengalaman saya, dengan makin bertambahnya akselerasi…jempol kaki saya semakin senang bermain di pedal gas, walhasil..boros juga 🙂

Untuk pengiritan bbm hal berikut bisa di coba….pindah gigi dikisaran rpm 2500-3000, tidak melakukan acceleration / deceleration tiba2 dan pastikan, engine kita dalam kondisi sehat !!!

Tanggapan 3 – Bambang Cahyono

Bener Pak, pingin irit kuncinya hidari tarikan gas mendadak, penggunaan rem yg sering juga harus dikurangi, rpm diatas 4000 jgn sering, biasakan kopling dan rem kalau jalan menurun, jangan menambah cost yg tidak perlu, water injection bolehlah karena pada komposisi yang pas efisiansi meninggi.

Tanggapan 4 – Herwin1@fmi

Dear” Mas Nyoman,

Saya sangat setuju apa yang dilontar oleh Mas Inyo yang ada di bawah, bahwa boros-nya kendaraan memakai bbm memang ketergantungan dari individu driving (prilaku memainkan throttle gas, karena merasa puas alo suara muffler nyaris bunyinya).

Hanya yg saya bisa tekankan kepada org2 yg punya kendaraan pribadi ygmasih standar atau sering dipergunakan keluar Daerah, Maintenance tiap bulannya harus diperhatikan, semakin dirawat kendaraan semakin awet. Karena org yg tdk perhatikan Maintenance kendaraannya tiap bulan, semua
component2 yg bergerak di engine atau di unit-nya akan berubah semua, contohnya dari sisi system pengapian sparkplug(busi) jarang dibersihkan, itu clereance-nya semakin rapat dan akan cepat menimbulkan panas dan juga akan menimbulkan pemakain bbm yg boros. Begitu juga pada system mechanism valve (katup), jarang diperhatikan akan semakin renggang clereance-nya sampai noise.

Mas” Inyo,

Minta dong sharingnya, Ada gak cara untuk men-setting Injeksi pump model distributor pada kendaraan izusu panther (Royal), tanpa mempergunakan calibration injeksi pump (bisa kembali ke standar pemakaian volume fuel yg normal).

Tanggapan 5 – NYOMAN PRIBADI WP nyoman@enerkon

Mas Herwin,

Maaf saya tidak mempunyai pengalaman untuk mesin diesel, tapi klo menurut logic saya, selama spesifikasi injection pump tidak berubah (tekanan standard fabrikan) dan spesifikasi injector juga tetap dan dalam keadaan sehat (bersih) mustinya tidak perlu dikalibrasi ulang, yang perlu di kalibrasi mungkin injection timenya (yang bisa dilihat pada engine diagnostic scanner) apakah masih dalam range standard atau tidak…dan disetting ulang jika diluar range.

Kecuali mas herwin sudah mengganti pump dan injectornya dengan performance kit (dengan tekanan yg lebih besar) tetapi untuk ini pun saya menyarankan mas juga memasang FPR (fuel pressure regulator) sehingga tekanan bisa di setting sesuai dengan yang diinginkan

Semoga bisa sedikit membantu

Tanggapan 6 – Herwin1@fmi

Mas’ Inyo,

Saya sudah melengkapi dengan FRC(Fuel Ratio Control) hampir sama dgn FPR, tapi FRC ini dimonitor langsung oleh ECM (Electronic Control Module), yang membingungkan saya adalah pada saat fuel pressure-nya rendah dengan perbandingan load yang tinggi, ko’ Fuel Rate-nya disemua cylinder malah ketinggian.

Mungkin ada penjelasan dari Mas” Inyo, karena logikanya kalau fuel pressure-nya rendah berarti kurang supplay fuel ke injector atau cylinder, sedangkan ini malah terbalik yang di tampilkan oleh display, dan ini akan memunculkan engine low power lo Mas”.

Tanggapan 7 – Herwin1@fmi

Thanks” atas penjelasannya Mas” Inyo, ini semua sangat bermanfaat bagi kami dan hal seperti ini juga kami selalu harapkan.

Ok” saya akan lakukan action selanjutnya lagi.

Tanggapan 8 – NYOMAN PRIBADI WP nyoman@enerkon

Mas Herwin,

Sependek pengetahuan saya, fuel pressure adalah tetap..sedikit koreksi, untuk fuel ratio control sangat berbeda dengan fuel pressure requlator, FRC memainkan perbandingan ratio udara dan bbm atau yg lebih dikenal dengan lambda, alat ini digunakan untuk menipu ECU untuk mensupply BBM lebih banyak atau sebaliknya (dengan menambah injection time bukan menaikan pressure) thus (diharapkan) power menjadi lebih besar atau sebaliknya tergantung kebutuhan

Untuk low power dimungkinkan settingan rationya tidak tepat mas, entah rich atau lean, seting lamda-nya sendiri saya kurang ingat berapa yang paling baik..coba search di google.pemasangan FRC juga hanya baik pada kendaraan dengan ECU tanpa factor koreksi, dengan kata lain akan mudah menipu ECU dengan data yang kita ma
inkan lewat FRC, tetapi ECU dengan factor koreksi biasanya tidak akan menanggapi perbedaan/perubahan data yang dimanipulasi tsb…cmiiw

Tanggapan 9 – I P. Aris B. aris.brihaspati

Bli Nyoman,

Saya mohon sharingnya ya, saya memakai kendaraan roda dua dengan sistem elektronik injection. Apakah pengoplosan premium dan pertamax dapat membuat pemakaian BBM kendaraan roda dua tersebut lebih irit? bila iya, perbandingannya berapa ya?

Terima kasih,

Tanggapan 10 – NYOMAN PRIBADI WP nyoman@enerkon

Mas Aris…

Sekali lagi masalah irit lebih banyak ditentukan factor driving style masing2 individu, kendaraan akan lebih boros dengan jumlah ‘stop n go’ lebih banyak, akselerasi/deselerasi yg tiba2, dll.klo masalah pengoplosan, sebaiknya mari kita lihat dulu spesifikasi kendaraan kita, berapa compretion ratio-nya (CR), jika masih dibawah 1:9, bbm dengan nilai ron 88 (bbm subsidi = premium) masih bisa digunakan tanpa masalah knocking (ngelitik) tapi jika CR diatas itu disarankan menggunakan ron 92 (pertamax) atau lebih.

Kembali ke masalah pengoplosan, menggunakan BBM dengan nilai RON lebih tinggi(dengan harapan mendapatkan nilai RON yang lebih tinggi dari sebelumnya) hanya akan lebih bermanfaat jika disertai juga dengan perubahan timing pengapian (dimajukan) karena semakin tinggi nilai oktan semakin tinggi pula titik bakarnya, timing pengapian lebih cepat (tanpa gejala ngelitik) = power lebih besar, penambahan power jika diikuti dengan driving style yg baik, cenderung mengakibatkan pengiritan, karena kita tidak perlu menekan/memutar gas lebih banyak untuk mendapatkan power tertentu, tetapi biasanya (ini biasanya loh….dari pengalaman pribadi maupun temen2 dikomunitas) power yang tinggi diikuti dengan perubahan driving style 🙂

Monggo jalan2 web-nya kang saftari www.saft7.com http://www.saft7.com/ disana banyak sharing mengenai otomotif baik roda4 maupun roda2.

Mohon koreksinya jika ada kesalahan

Tanggapan 11 – rdanisworo1@mmm

Driving style memang factor utama ,

tapi kalau mau asyik ngoprek mesin ,

bisa mulai dari porting ( menghaluskan saluran intake dan exhaust ), selicin mungkin..
RePolishing Crankshaft dan cam shaft sampai mirror finish.. High flow air filter, kalau bisa bikin ducting yang cakep dinginkan pake AC supaya temperatur udara intake turun naikkan arus ke busi , ( biar api businya Gede), biasanya pake coil yang racing.
tambahkan tekanan udaranya ( supercharger ) ini extreem Mainkan fuelnya .. tune up lagi..

Tiba tiba tarikannya enak bener… GAS terusssss

Ya idem kalo gitu, gak ada penghematan..

Tanggapan 12 – nyoman@enerkon

Sebelum melangkah ke proting polishing yang unreversible, coba dulu pake spacer yang terbuat dari ebonit atau teflon, diantara throtle body dengan intake plenum dan intake plenum dengan intake manifold, tebal spacer 5 mm-an, ditanggung bisa menaikan horsepower, ditambah lagi cold air induction pada intake plenum……wushhh ngacir deh, tapi kayaknya diskusinya mulai keluar dari alur……disudahi ajah ya mas, atau via japri biar gak mengganggu yang lain.

Tanggapan 13 – Herwin1@fmi

Dear”

All,

Saya hanya pengen tambahin untuk masalah penghematan BBM selain dari Driving Style. Moga2 bermanfaat,

Salah satu cara yg dapat meminimalisir pemakaian BBM agar kendaraan tidak boros menggunakan BBM baik dari kendaraan roda 2 maupun dari kendaraan roda 4 adalah usahakan jangan mempergunakan Muffler (Knalpot) pada kendaraan anda yang sudah dimodifikasi, artinya bukan Muffler (Knalpot) standar dari Dealer. Karena Muffler (Knalpot) yg sdh dimodifikasi itu dapat mempengaruhi pemakaian BBM pd kendaraan, akan lebih boros dan ini kami sdh melakukan penelitian pd saat masih di bangku kuliah, ternyata hasilnya significance dengan borosnya pemakaian BBM pada kendaraan.

Terjadinya pemakaian BBM yang lebih banyak ketimbang mempergunakan Muffler yg masih standar itu terjadi pd saat Valve (Katup) intake dan exhaust pd posisi overleaving kedua valve bersamaan terbuka hanya beberapa derajat aja, disitulah campuran BBM dgn udara murni yg akan masuk ke ruang bakar dan sebagian ikut keluar lewat exhaust valve karena tidak ada bell up pressure (Tekanan Balik) dari Muffler karena entah filter muffler sdh dilepas atau diapa’in, sehingga tekanan di dalam ruang bakar akan lebib tinggi dari tekanan di ruang exhaust manifold, jadi gas murni tadi yg akan masuk lebih cenderung akan keluar krn tdk ada yang menghambat dia. Jadi itulah fungsi saringan (filter) yg ada di Muffler selain untuk meredam suara pd saat terjadi pembakaran. Ini untuk engine proses 4 Tak (4 Langkah), kalau yg engine proses 2 Tak karena tdk mempergunakan mechanism valve, jadi dari tekanan balik Muffler yg tidak ada, sehingga terjadinya pemakaian BBM yg lebih banyak sama kejadian di engine 4 Tak.

Tanggapan 14 – Affani Hakim

Mau menambahkan,
Dari sisi saya yg orang awam,
Tp karena sering main di bengkel motor modifikasi yang sering mengoprek motor untuk balap liar, sedikit tahu ttg muffler racing.

Memang yg dikatakan Pak Herwin benar, tetapi untuk rpm rendah.
Untuk rpm tinggi, justru muffler racing lebih efektif.
Karena exhaust lebih lancar keluar dan ruang bakar selalu dapat supply bahan bakar yg bersih, tidak tercampur dengan gas sisa pembakaran. dari hasil dynotest, power motor bisa naik sampai 1 hp, hanya dengan ganti muffler. tapi tergantung motor & setting, misalnya setting ulang campuran gas&bensin. (campuran ideal 1:12 – 1:13 )

Cuma 1 hp? buat hitungan mobil, 1 hp itu kecil. tapi untuk motor, itu besar. motor 125cc yg biasanya bebek, bs menyaingi larinya motor 150cc dgn perbedaan 1 hp.

Tapi di jakarta memang ga efektif, plg baru 60 km/h ud ngerem lagi! :p

Tentang pengiritan, mnurut pengalaman saya pake motornya komeng, pake premium ato pertamax jatuhnya rupiah yg dikeluarkan sama2 juga, tapi waktu harga pertamax masih 6000an. karena 1 ltr pertamax menghasilkan jarak yg lbh jauh drpd 1 ltr premium. tarikan motor jg lebih responsif.

Karena skrg pertamax sudah 8000an, jadi lbh banyak rupiah yg dikeluarkan. 🙁

Seperti e-mail sebelumnya, motor dgn spec kompresi diatas 1:9 memang sebaiknya pake pertamax.
terasa kurang greget motor klo pake premium. mesin jg jd kurang awet. jadi kalau anda beli motor baru hanya pakai max 3thn trus jual & ganti lagi, ga masalah pake premium.

Cuma sharing aja, dari pengalaman naik motor kemana2 selama 9 tahun, sampai saya sudah ga tau angkot di jkt. mudah2an berguna.

Tanggapan 15 – Herwin1@fmi

SEdikit saya tambahkan, moga2 bermanfaat,

Kalau hanya ingin menormalkan combustion di dalam ruang bakar, sehingga gak terjadi knocking itu bisa dicoba dengan mencampurkan premium dengan kapur bagus yang banyak dijual ditoko2 dimanapun anda berada. Dengan perbandingan 1 liter premium dengan 2-3 butir kapur bagus, kami pernah mengadakan penelitian ini, Hipotesis-nya Significance dengan berkurangnya tingkat knocking yang pada ruang bakar Engine. Dan kami juga pernah terapkan di kendaraan roda dua yang akan mengikuti balapan (Rodrace), kecepatan kendaraan akan bertambah.

Suatu hal yang perlu kita ketahui bahwa munculnya Knocking di dalam ruang bakar engine itu akan mengakibatkan Engine low power dan Engine akan gila juga nantinya dan disitulah akan mensupplay bahan bakar yg lebih banyak (boros).

Ini hanya untuk mencegah terjadinya Knocking, karena impact-nya lari ke pemakaian bahan bakar yang boros.

Tanggapan 16 – rd_gautama@fmi

Untuk main di RPM perlu disesuaikan dengan spec mesin kendaraan anda.
Karena untuk mobil Toyota Kijang akan berbeda dengan mobil Nissa X-trail atau lainnya.

Hanya untuk perkiraan RPM biasanya
kisaran 2500 – 300RPM.

Untuk diesel sama juga nggak ya? Saya biasa main di 2800 – 3200RPM… hasilnya mantap juga.. paling irit dari pada menggunakan RPM yang lebih rendah atau lebih tinggi dari ini.

Tanggapan 17 – Jusuf Effendy jeffendy

He.he..he Mas,

Diskusinya seru juga. segala teknik mulai dari pake acetone, ngoplos pertamax plus (non-subsidi) dengan premium (subsidi), teknik berkendara,
 pake kapur barus (konon berbahaya lho mas). Dlsb.

Intinya adalah menghemat cost transportasi toh..

Saya ada tips hemat nih.. rumah saya di Tangerang, kantor di Sudirman.. tapi saya bisa hemat bensin kendaraan saya (ngisi full tank cuma sebulan sekali).

Yang saya lakukan sih sederhana saja : Naik kendaraan umum, Mas !
Kadang-kadang nebeng (udunan ama temen-temen), ini termasuk Journey Management juga lho.. 😀

Tanggapan 18 – ebahagia

Menarik kalo para engineer sudah berbagi pemikiran soal efficiency energy dari yang best practice sampai yang masih concept, toh semua best practice & proven technologies awalnya dari concept.

Ada baiknya di pertimbangkan juga kemampuan mesin (yg sekarang ada) untuk mengikuti perubahan2. maklum mesin jauh berbeda dengan manusia, gak ada beras – mie instant pun jadi hehehe so side effect harus di perhitungkan setelah ada “niat” mencoba
http://peswiki.com/index.php/Directory:Acetone_as_a_Fuel_Additive

Soal traffic di Jakarta memang sudah di kutuk 7 generasi presiden hehehe so pemborosan bbm memang terjadi saat idle/macet di jalan. Mobil hybrid pasti lebih menguntungkan dari sisi operations cost -soal investasi awal ya. tergantung harga bbm juga. Kalo harga bensin sampai ke 10,000.- (Tjeban/ltr) pasti kepikir beli juga kan.

Gaseous fuel to engines .. Hmm untuk otto cycle masih hematlah asal harga gasnya gak naik tinggi seperti traffic migas-indonesia.net, yang ada biaya konversi gak balik modal. Kalo dual fuel gaseous pada diesel..lupakan saja mas, gas subtitusi hanya terjadi di atas 10 ~ 20% load, artinya gak ada penghematan di saat idle/macet di jalanan.

Kalo mobil hybrid tapi main-“fuelnya” udara bertekanan? lha ini baru menarik. sepengamatan saya beberapa inventor Prancis sudah siap dan dari Australia lagi ribet persiapan produksi. So bisa ke tukang tambal ban kaki lima…bang isi penuh ya. hehehe

Dari sisi gesekan pada mesin bisa juga di kurangi agar bbm lebih irit..masih inget iklan produk pelumas synthetic yang bilang “hemat bbm 3~5%”, ya jelas aja dong mengingat pelumas synthetic lebih licin di dalam mesin. Kalo kena macet juga … ya lain ceritanya. Sekalian coba ceramic oil, saya sudah test di gearbox pabrik, konsumsi energy-nya drop, lumayan.

btw, mari berpikir praktis aja deh. kalo trans Jakarta/KRL menjangkau tiap “entry point” of Jakarta dengan catatan fasilitas public transportasi nyaman & aman, saya yakin kita bisa parkir mobil di kawasan parkir khusus di “entry point” than santai ke kantor naik bis sambil baca Koran. Nah operator tol, pemda, perhubungan & pengusaha mall bisa “kongsi” bikin public parking area merangkap mall. So lahan parkir bisa di jual ke public sebagai business proposal, let say per 1 mtr persegi berapa gitu…

Pemahaman saya, kemacetan Jakarta dan kota besar lainnya adalah jumlah kendaraan yg masuk tiap pagi dan keluar sore/malamnya, TIDAK ada “end of life cycle” dari kendaraan (gak pernah akan di scrap), etc

Tanggapan 19 – Eko Prasetyo strivearth

Sebenarnya cara paling efektif untuk mengatasi kemacetan jakarta:
Cabut subsidi BBM 100% untuk semua vehicle fuels, menarik pajak proportional terbalik untuk tiap jenis kendaraan bermotor (maksudnya kalo mobil kelas 5 milyar cuman ada 1% di jakarta, maka proporsi pajaknya harus menanggung 99% kemungkinan pajak kendaraan pribadi sejakarta), dan pemerintah mengambil alih semua public transportation facilities dan disubsidi habis2an, serta mendisiplinkan penumpang untuk naik bus dan angkot di halte/bus stop resmi!

Itu saja, dan saya yakin, kecuali untuk orang yang benar2 kaya dan gak punya saraf sosial, masyarakat akan cenderung naik kendaraan umum.