Banjir di Jabotabek kemungkinan besar karena kurang terintegrasinya drainage sistem. Akan tetapi jika kita lihat beberapa hal seperti penyumbatan saluran karena sampah, banjir kiriman dari Bogor beberapa waktu lalu dan meluapnya air karena tidak tertampung oleh saluran drainase, rasanya bukan saja pengintegrasian saluran masalahnya.

 Kalau di luar negeri, antara sewerage system (sistem saluran pembuangan) dan drainage system (sistem drainase) dibuat secara terpisah. Pun jika dijadikan satu tentunya memang dengan desain yang layak. Saluran pembuangan (Sewer) biasanya dibuat dengan kemiringan yg cukup untuk mengalirkan kotoran, tinggi dan lebar saluran lebih sempit. Sedangkan Saluran Drainase biasanya dibuat lebih lebar dan besar dengan kemiringan yg lebih kecil. Hal tersebut didesain supaya air hujan dapat tertampung untuk beberapa interval waktu tertentu (Jadi dasar design keduanya sangat berbeda/bertolak belakang)

 Dalam merancang saluran drainase, faktor utama yg diperhitungkan adalah penentuan besarnya debit air. Secara teoritis sih hanya dihitung dari curah hujan dan run off coef. daerah tersebut. Nah ini juga merupakan masalah, sebab sepertinya belum ada kajian ulang mengenai besarnya daya tampung lahan dari curah air hujan yg up to date, mengingat berkurangnya daerah resapan yg mengakibatkan berkurangnya juga daya tampung air, efeknya koef. run off jadi meningkat drastis. Jadi wajar kan kalau didesain seperti apa, air tetap meluap.

 Nah, kalau di Jabotabek dan hampir di seluruh kota besar di Indonesia, masalahnya sudah kompleks. Saluran2 drainase peninggalan Belanda banyak yg dibongkar, karena banjir lokal banyak muncul saluran lokal pula yg menurut pak LKW tidak terintegrasi, kemampuan menahan air berkurang dan yang lebih parah adalah kondisi muka tanah sudah berubah. Sudah saluran pembuangan dan salurang air jadi satu, jadi dengan kemiringan yg tanggung, sampah macet, air hujan terhalang..yah…banjir lah

Tanya – suparman@ptsofresid

Awal tahun ini, seperti yang sudah pernah dan selalu diramalkan, kembali Jabotabek mulai dilanda banjir. Dan pembicaraan banjir dari waktu ke waktu tidak pernah putus namun hasil akhirnya Jabotabek tetap banjir. Padahal ahli2 kita dibidang ini tidak sedikit, namun kok kayaknya kita terkesan tidak mempunyai pengetahuan yang memadai untuk menanggulangi BANJIR. Atau yang terjadi justru kita tahu bagaimana menanggulanginya, namun karena saya tidak kena lalu……….Emangnya Gue Pikirin he..he..he…

Terlepas dari masalah social, politik dan ekonomi sekitar permasalahan banjir, pada kesempatan ini kami mengajak rekan2 semua untuk memberikan usulan/solusi teknis yang layak untuk mengurangi atau bahkan menghindari terjadinya banjir.

PERTANYAANNYA:
1. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MENGATASI BANJIR APAPUN KONDISI DI HULU ,DAS, MAUPUN AIR LAUT SEKITAR?
2. ADAKAH CARA YANG TEPAT GUNA (MURAH, CEPAT, DAN TECHNICALLY ACCEPTABLE) UNTUK MEMPERBAIKI KONDISI RESAPAN DAN DAS?

Tanggapan 1 – Djayaputra.Kunarta@Halliburton

Pak Suparman dan teman-teman lainnya, Mungkin kita bisa belajar dari S’pore karena mereka juga dulunya banjir. Sekarang mereka punya saluran kota besar-besar. Mungkin kita akan ketawa kalau kita lihat waktu musim kering airnya hanya mengalir sedikit sekali ditengah-tengah pada anak saluran dari saluran yang besar itu. Saya yakin banyak pejabat kita yang sudah melakukan “studi banding” yang resmi maupun secara pribadi alias jalan-jalan ke S’pore. Diatas saluran kota yang besar nanti bisa dibangun jalan layang jadi bermanfaat ganda. Masalahnya di Jakarta atau dikota-kota besar adalah pembebasan tanahnya. Tapi mau tidak mau kita harus berani bertindak kalau mau terlepas dari masalah banjir. Saya yakin ahli-ahli di Badan Perencanaan Daerah/kota dapat menghitung besar saluran yang dibutuhkan plus toleransi 20%.Jadi kapasitasnya harus mampu menampung air untuk 20/30 tahun kedepan. Saya kok engga lihat kendalanya kalau mau dilaksanakan secara benar! Banyak rakyat kecil yang akan terbebas dari penderitaan setiap tahunnya.

Tanggapan 2 – achmadhidayat@nawapanca

Kalau pakai sumur resapan bisa ndak yah..
Kayak bikin sumur migas gitu..kali lho..:) Maklum ndak ngerti, barangkali ada yang bisa memberi pencerahan?

Tanggapan 3 – Paulus.T.Allo@conocophillips

Yang agak repot adalah, jumlah daerah resapan di DKI memang sudah jauh berkurang. kalaupun bikin sumur resapan, jumlahnya tidak akan bisa banyak. belum lagi ditambah dgn pembangunan Mal dan gedung perkantoran baru.

pembuatan tunnel, mungkin bisa jadi solusi, masalahnya nanti adalah pembebasan tanah.
trus, kalau kita lihat beberapa Kali yg lewat kota Jakarta, ternyata banyak sekali Kali yg membawa sampah2. ini juga yg bikin saluran mampet, sehingga saat debit air yg lewat ke Kali meninggi, air2 tidak bias terlewatkan dgn cepat, akhirnya meluap dan jadi banjir.

permasalahan lain adalah tidak adanya sistim aliran air yg terintegrasi. akibatnya, ada satu daerah yg sering sekali terkena banjir tapi daerah yg persis di sebelahnya mungkin akan kering (tidak pernah kena banjir). ini akibat tiap daerah atau komplek, membuat aliran airnya sendiri-sendiri.

Tanggapan 4 – resaputra@lionair

Kalo pake tunnel, dibuangnya kemana Mas? Padahal kan kalo gak salah Tj. Priuk itu di bawah permukaan laut….
Lihat saja kalo sedang musim hujan spt ini, jalan tol ke cengkareng (hampir) banjir. Itu pun karena ada pagar batas yang tinggi kira2 satu meter. Padahal tambak di sekitarnya sudah kebanjiran……

Mungkin benar kata mas Novan, harus dengan kemasyarakatan dan politik…………

Tanggapan 5 – Paulus.T.Allo@conocophillips

Kebetulan saya tidak punya referensi yg mengatakan kalau Tanjung Priok berada dibawah permukaan air laut. data yg saya punya adalah tanjung priok berada pada ketinggian sekitar 2 meter diatas permukaan air laut. (ini pun tidak jelas, tanjung priok sebelah mana). http://202.159.18.43/data/tabel4.htm

ada orang yg pernah cerita kepada saya, kalau waktu jaman dulu (tidak jelas tahun berapa), saluran air dekat ancol dan daerah sekitar pelabuhan tanjung priok, selalu ada pengerukan, utk mengangkat sedimen2 yg tertimbun. soalnya gara2 sedimen ini, akhirnya daya tampungnya menjadi berkurang, diharapkan dgn adanya pengerukan ini, daya tampungnya bisa kembali normal sehingga tidak terjadi luapan. tapi belakangan ini, sudah tidak terlihat lagi aktifitas pengerukan pada daerah2 tsb. jadi orang ini tidak begitu heran kalau daerah sekitar priok sering terjadi banjir.

bagaimanapun juga, air dari tempat tinggi kan mesti dibuang ke tempat rendah (dalam hal ini laut), tidak ada tempat pembuangan lain. kalaupun terjadi luapan air di sekitar
priok, bisa jadi akibat dari daya tampung yg sudah mulai berkurang karena sedimen yg semakin menumpuk.

Tanggapan 6 – suparman@ptsofresid

Jadi,
Setelah dikupas2, banjir jelas bisa diatasi dan kalo boleh saya simpulkan unsur2 pokoknya yaitu:

1. Perencanaan tatakota didalamnya merupakan perencanaan peruntukan seluruh lahan termasuk utilitas2 tidak dilakukan secara local (Jakarta saja, bogor saja, depok saja, tangerang saja, bekasi saja dll) karena perubahan peruntukan satu lokasi akan turut mempengaruhi system secara keseluruhan, kecuali masing2 lokal tersebut dipasang bendung pemisah (kalo diplatform kita punya “coming”.

2. Perawatan system saluran harus secara teratur dilakukan agar kapasitas saluran yang ada tidak berkurang, bahkan saluran yang ada harus dimungkinkan untuk ditambah jumlah kapasitasnya (baik
dengan menambahkan jumlah saluran maupun dengan meningkatkan kapasitas saluran yang ada dengan cara penambahan alat mekanis, asal jangan “asal beli” maksudnya waktu dibeli dan dites oke tapi waktu dibutuhkan saat menjelang banjir eh malah macet………)

AGAR LEBIH BAIK LAGI PERLU DITAMBAHKAN
3. pengamatan setiap sungai pada areal yang direncanakan (riwayat tinggi muka air sungai dan perilaku alirannya) perlu direcord untuk perhitungan perencanaan banjir sehingga bisa dibuat perencanaan banjir 50 tahunan, 100 tahunan ataupun selang waktu lainnya). Pola aliran sungai ini penting untuk diamati dan dikaitkan dengan ada/tidaknya peralihan fungsi lahan areal yang diperhitungkan, karena hal ini akan membantu kita, bagaimana alam (sungai) akan membentuk keseimbangannya terhadap perubahan fungsi lahan tersebut, dan kapan atau dalam kondisi bagaimana keseimbangan mulai tergganggu.

4. Hal yang sama dengan kondisi tinggi muka air laut dalam hubungannya dengan
debit sungai saat pengamatan.

Untuk cara perhitungan dapat dilihat pada buku2 yang ada tulisan hydrolic engineering ataupun flood design engineering.

NAMUN SEMUA YANG DIATAS TIDAK ADA GUNANYA SAMA SEKALI DAN HANYA BUANG2 UANG
BILA MENTALITAS ‘KITA SEMUA’ TIDAK MENUNJANG.

Disini ada hal yang menarik bahwa suatu aksi pada lokasi tertentu dapat menimbulkan akibat (buruk/baik) pada lokasi lain. Akibat perubahan fungsi lahan dipuncak, banjirnya di Jakarta. Dan saya ingat akan suatu makalah pada th 1985 yang dibawakan oleh alumnus kami (Prof. Fabian) yang ngajar di salah satu universitas terkenal amrik yang meninjau bagaimana suatu fundasi pada suatu bangunan gedung dapat mempengaruhi fundasi bangunan lain dan dia meninjau secara makro dan nama teorinya “Fuzzy Set Theory”, mungkin ada yang mau mengembangkan teori ini untuk drainage management, ataupun garbage management dll.

Mohon dikoreksi bila ada saleh2 kate.

Tanggapan 7 – tubo-hse@rad
Dear all,

Banjir memang masalah klasik dulu, kini dan kelihatannya yang akan datang juga.
Menurut hemat saya, saluran bukanlah masalah utama penyebab banjir.  Secara logis, kita bisa mengetahui kenapa pada saat hujan datang banjir, dan pada saat kemarau air tidak mengalir…. Artinya ada satu mata rantai dalam siklus perputaran air yang terganggu. Dan kemungkinan besar adalah pada peresapan air yang tidak normal sehingga
sirkulasi cadangan air pun juga tidak dapat terkontrol secara alami.
  Karena kurangnya daerah resapan air (baik penggundulan hutan, pembangunan perumahan/gedung2, kurangnya lahan/jalur hijau, dll) menyebabkan daya tampung air pada suatu lahan berkurang. Hal ini yang menyebabkan banjir pada saat musim hujan. Juga akhirnya habisnya cadangan air pada saat musim kemarau (karena ruang untuk menyimpan juga berkurang). Jadinya…siklus/perputaran air yang dulu banyak dikontrol di darat dengan cadangan airnya, sekarang justru banyak dalam bentuk uap/evaporasi…yang kemudian lebih jauh akan lari ke laut untuk menyambung siklusnya..dan kemungkinan menyebabkan permukaan laut naik…lebih jauh lagi adanya global climate change……

  Nah, setelah banjir….
  karena perputaran uang di Indonesia tidak lancar..(mungkin berputarnya di situ2 saja)….pembangunan infrastrukturpun (saluran air, gorong2, dkk) menjadi tersendat. Padahal kebutuhan akan properti (perumahan, dll) semakin meningkat. Akhirnya pengembang mengambil jalan pintas dengan mendesign areanya lebih tinggi dari area sekitar dengan harapan pragmatis…tidak terkena banjir.

  Karena hampir semua pengembang punya pikiran yg sama, akhirnya timbul cekungan2 parah yg memaksa pemerintah bertindak…mungkin karena banyak suara2 sumbang…

  Akhirnya sudet sana sudet sini, kirim sana kirim sini…cuma karena sudah jadi lingkaran setan…sudah semakin susah terpecahkan.

  Lebih parah lagi, satu2nya tempat pembuangan air pada level 0 (laut) sudah susah untuk dibuangi air karena telah berdiri perumahan2 mewah dengan muka tanah lebih tinggi. Sekarang tinggal banyak insinyur saling menyalahkan…mungkin karena kehabisan akal…mungkin…..

  Akhirnya muncul masalah2 seperti pantai indah kapuk, Rob di Semarang (air pasang yang terjebak karena level tanah di pinggiran laut lebih tinggi)

  Cuma sebagai pertimbangan…kondisi fisik indonesia tidak seperti Singapore..atau bahkan Belanda yang dengan mudah menyedot air menjadi Negara terapung….
  Bagaimana dengan keluh kesah insinyur2 kita yang sudah turun ke Balikpapan…? ternyata mendapati Balikpapan hanya banjir kecil sebelum ada saluran, namun justru banjir menjadi lebih parah ketika banyak saluran dibuat? (tapi kalau terusan di sepinggan selesai, mungkin berkurang…mungkin…)

  Yang jelas, kita harus mengembalikan siklus air di alam…mengembalikan tempat2 resapan yang suatu saat bisa menanmpung air hujan….suatu saat bias mengalirkan air di saat kemarau…baik secara buatan dengan dam/waduk/sumur resapan…atau secara alami dengan membangun kembali daerah2 resapan air menjadi kawasan terlarang untuk dijamah……

  Mohon maaf jika ada kesalahan. Terimakasih.

 
Tanggapan 8 – n.hidayat@ptsofresid

Pak Suparman & milis-er,
Murah, Cepat ?…. yang lebih baik mungkin TIDAK TERLALU MAHAL DAN PAS (PAS musim hujan, nampung air nya juga PAS)… Bagaimanapun mengatasi banjir ini mesti tidak hanya bicara soal technically, tapi juga mesti terkait kemasyarakatan dan politik. Namun yg jelas, khusus masalah technically, saya yakin banget kalau PU khusus nya Dinas Irigasi sudah punya strategi mateng, tapi mesti kendalanya adalah kembali “mbuletisasi” soal politik dan sosial, yg intinya mental orang2 yg disekitar DAS dan yang ngurusi DAS.
1. Reboisasi
Ini langkah yg sudah umum, spt yg sekarang sangat getol dilakukan yaitu reboisasi daerah kawasan Bogor, Puncak, Cianjur. Setidaknya ini bisa membantu mengurangi Surface Run Off.
2. Penegasan kembali DAS (daerah aliran sungai) Semua peruntukan di sekitar DAS harus dikembali kan spt semula (misalnya mana yg benar2 irigasi dan mana yg benar2 utk saluran primer-sekunder dan tersier). Di luar peruntukan itu, harus “dibabat habis”. Garis sempadan DAS harus tegas. Kendalanya mesti soal pembebasan lahan, padahal kalau dikembalikan pada hak negara dan kebenaran, mestinya tidak perlu ada yg namanya pembebasan/ganti rugi utk penduduk yg menyalahi aturan DAS ini.
3. Pengerugan Periodik Dengan banyak inlet yg masuk ke DAS dari gunung ke muara, mesti akan banyak material-materil lain selain air yg terbawa arus ke muara. Ini tentunya akan memberikan sisa sedimentasi. Bahkan ada yg bisa menjadi Delta Sungai sendiri kalau tidak diurusi. Solusinya, aktifkan penguragan pada daerah2 yang sudah dianalisa mempunyai kadar sedimentasi yg cukup tinggi secara periodik. Bukan hanya pas hujan, pas dikeruk. Ini yg salah kaprah.
4. Efektifitas Boosem maupun Banjir Kanal Kebetulan saya kemarin sabtu sempat ngobrol2 sama salah satu Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, menurut dia, salah satu yg ditempuh (ini spt yg banyak kita ketahui dari Media Massa) adalah dng peng-efektifan fungsi Banjir Kanal. Kalau di Surabaya, masalah yg sama, yaitu pasti akan kembali mengungkit-ungkit ttg efektifitas Boosem yang ada di sekitar daerah Tanjung Perak dan Sukolilo, yg merupakan bagian peninggalan Belanda.  Kembali ke Jakarta, menurut pak Wakil ketua tadi, anggaran dana utk membebaskan daerah sekitar banjir kanal mencapai Rp. 80 miliar, namun yg berhasil terbebaskan baru Rp. 60 miliar, atau sisa Rp. 20 miliar. Artinya, ada penduduk sekitar daerah tsb yg belum sepakat ttg pembebasan lahannya. Lantas kapan selesainya kalau mental kita masih begini?..
5. Tiadakan ijin pembuatan permukiman tepi pantai Permukiman tepi pantai ini jelas secara teknis akan mempermudah penetrasi air laut ke darat. Akibatnya MAT (muka air t
anah) di darat akan semakin naik. Jelas, efek sampingan yg utama adalah berkurangnya kemampuan daya tampung tanah utk menyerap dan menyimpan limpahan air dari dataran di atasnya. Maka, akibat berikutnya adalah Surface Run Off makin besar. Jadilah banjir.  Bahkan kalau perlu, yg punya rumah disekitar pantai harus hengkang tuh, sbg
bagian tanggung jawab moralitas/akhlak…. :-))
6. Paling murah sekali..==> jangan buang sampah di DAS.  Dan kalau bisa, buatlah resapan sebaik mungkin di rumah masing2, agas tidak terlalu banyak air limbah yg kita alirkan ke DAS.

lalu, setelah nulis ini, saya jadi ingat, wong Perancis-Australia-Amerika yg katanya lebih maju aja masih banjir, apalagi kita… he he

Tanggapan 9 – ESuseno@edisonmission

BANJIR adalah genangan air yang dalam volume  tidak diinginkan yg terjadi di suatu atau beberapa area. Untuk menanggulangi banjir tentunya hilangkan penyebab banjir. Penyebab banjir antara lain curah air hujan yang terlalu tinggi, kurangnya area yang berfungsi sebagai daerah peresapan ( shg daya tampungnya berkurang ) atau malah beralih fungsinya, lahan hijau yang berkurang dll. Sekarang banyak bangunan ( mall, perkantoran ataupun perumahan dll ) yang didirikan tanpa memperhatikan lahan hijau atau area resapan tersebut. Coba di amati, sekarang bangunan ( & halamannya tersebut ) dibangun hampir menutup tanah yang notabene berfungsi sebagai peresap air. Halaman di tutup dengan aspal, paving stone atau diconcrete dll sehingga air tidak meresap ke tanah, justru mengalir ke level yang lebih rendah. Nah kalau banyak bangunan dibangun  seperti itu maka terjadilah kumpulan genangan air yang lebih besar alias banjir.
PENANGGULANGANNYA !
Banyak pihak yang harus peran aktif :
1.  Dalam pembuatan bangunan, tetap harus disediakan area resapan. (Pihak :
Pemerintah yg memberikan ijin IMB memperketat ijin, Pemilik bangunan bersedia menyediakan lahan yg berfungsi sbg area resapan)
2.  Sungai  harus bersih dari sampah sehingga air bisa tertampung dan mengalir dengan lancar. ( Kesadaran warga untuk tidak membuang sampah di sungai atau pinggiran sungai)
3.  Sungai juga harus dijaga kedalamannya jangan terlalu banyak sediment atau mungkin tumbuh tumbuhan penghambat aliran. ( Pihak terkait untuk selalu membersihkan sungai secara rutin)
3.  Pinggiran sungai harus bersih dari rumah-rumah atau bangunan lain. ( Pemerintah tidak memberikan ijin  untuk membuat bangunan sembarangan di pinggiran, Kesadaran warga untuk tidak membuat bangunan di pinggiran )
4.  Bisa juga dengan membuat SUMUR RESAPAN atau DANAU RESAPAN yg bias menampung air hujan dengan curah air hujan yang paling tinggi. ( masing-masing RT misalnya)
5. Menanam pohon-pohon berakar yang berfungsi penyerap air. ( Semua pihak )
Mungkin ada masukan lain?

Tanggapan 10 – civil@guentner

Selamat siang,
Saya coba share dengan keadaan kota saya. Kasus banjir Jabotabek saat ini juga terjadi dikota Malang. Kota yang dulu bebas banjir ternyata 2 th terakhir menjadi langganan banjir. Solusi yang ada pada kota Malang antara lain :
1. Pemanfaatan gorong2x raksasa yang dibangun pada jaman Belanda yang mungkin untuk mengatasi masalah banjir. Ternyata setelah ditelusuri, gorong2x tsb banyak yang buntu karena lemak yang mengeras dan sampah organik.
2. Penertiban penggunaan lahan disekitar DAS yang banyak dibangun rumah dan pabrik. Karena dengan membangun sesuatu di DAS dapat mengurangi penampang basah saluran, sehingga air yang tak tertampung di saluran akan “jalan-jalan” ke pemukiman penduduk. Dan masih banyak faktor lain yang berasal dari daerah yang lebih tinggi dari daerah yang mengalami banjir.
Mohon ditambahi, karena ini masih sangat sedikit

Tanggapan 11 – Ahmadi@asc

Dulu saya pernah dengar dan baca di koran-koran :
Untuk meniadakan ( mengurangi ) banjir didaerah Jakarta,  ide2 cemerlang yang sempat  muncul :
1. Dibuat Penyudatan ( pengalihan sumber air )  dari kali ciliwung Katulampa ke sungai Cisadane, Technical /feasibility Study-nya  sampai melibatkan tenaga ahli dari jepang …progresnya ?
2. Memulihkan kembali daerah-daerah resapan terutama dihulu kali ciliwung yang sudah dihuni oleh banyak vila-vila, konsekuensinya  membongkar vila2 yang sudah berdiri …progresnya ?
3. Membersihkan bantaran sungai kali ciliwung dari rumah2 kumuh (?) untuk mempercepat laju alir …progresnya ?
4. Memasang pompa2 besar  untuk membantu mengalihkan genangan air didaerah2 tertentu …progresnya ?
5.Membuat bendungan2 baru  di hulu-hulu sungai  untuk pengaturan aliran disaat musim hujan …progresnya ?
6……
7……
Kelihatannya ide-ide itu terpisah , dikerjakan masing-masing …tidak secara integral komprehensip dalam satu kesatuan target…misalnya Jakarta untuk  1 atau 2 tahun kedepan tidak akan banjir lagi… Kendalanya DANA….

Tanggapan 12 – waskita@wifgas

Kalau saya simak, sebetulnya masalah utama adalah bagaimana kita menjaga kebersihan dari saluran-saluran air yang ada agar bisa berfungsi sesuai dengan design capacity. Daerah luapan sungai atau kanal bertumbuhan dengan rumah-rumah liar dan penuh dengan sampah; selokan-selokan, riol dan saluran lainnya penuh dengan sampah yang menyumbat. Saluran didepan rumah kita juga dipenuhi dengan sampah dan lumpur. Saluran buangan air di perumahan-perumahan tidak dirancang dengan benar. Sering kita lihat satu kompleks perumahan yang ada saluran pembuangan tetapi tidak menyambung kemana-mana alias buntu didalam kompleks sendiri, dst. dst.

Yah harus dimulai dengan kesadaran masyarakat sendiri dan harus bersama-sama pihak-pihak terkait menanggulangi banjir.

Tanggapan 13 – adhia@elnusa

Guys,
Klo melihat design tata kota jakarta, bapak2 mungkin bisa langsungtercengang dan tertawa, karena perencanaan dan pembangunan tidak sejalan,belum lagi ada instrumen lain diluar dinas tata kota yang melakukan “pengrusakan” kota. Masalah banjir di Jakarta dan di tempat2 lainnya saya pikir memang dari kesalahan design tata kota, seperti yang di katakan Mas Waskita. Tapi, kita tidak lantas menyalahkan dinas tata kota sepenuhnya, pasti kita juga ikut andil dalam hal bencana yang satu ini… contoh kecil saja, dengan membuang sampah sembarangan, puntung rokok, kemasan minuman ringan, de el el… hal ini yang menjadi salah satu penyebab penumpukan sampah di saluran2 air kota… padahal dinas pertamanan dan kebersihan sudah menyiapkan dua jenis tong sampah untuk menampung jenis sampah yang berbeda. Tapi apa daya… tangan jahil manusia lebih berkuasa di negara kita ini… so… you know what will happen next… FYI, saat ini sampah Jakarta tertahan di truk2 pengangkut sampah akibat jalan menuju bantar gebang (TPA) diblokir oleh masyarakat sekitar. Bayangkan dengan volume sampah hingga 20000ton perhari tertahan di truk2 sampah, apa lagi alternatif untuk sampah ini??? Sampah menjadi komponen yang menjadi kunci dalam pengendalian banjir, kalo anda perhatikan, hampir tiap saluran air hingga sungai tak luput dari serangan wabah yang satu ini, sampah. Ya benar, kesadaran memang kurang sekali, tapi kita harus optimis kalo kesadaran akan makin meningkat dengan adanya pendewasaan dan “pencerahan” dari orang2 yang berkompeten. Selain sampah, daerah resapan juga menjadi salah satu biang keladi banjir… hampir seluruh daerah resapan air hujan di indonesia kini di isi oleh villa2, rumah2, dan resort2 orang yang berpunya… salah siapa??? anda lebih tahu… Ingat think globally and action locally!!! Mungkin tulisan ini bisa jadi bahan renungan.

Tanggapan 14 – merza.budianto@amec-berca

Saya yakin semua wacana yang diajukan di sini oleh rekan-rekan sudah terangkum dengan rapi dan komprehensif di departemen terkait, dalam hal ini Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil). Dan saya juga sang
at yakin Master Plan untuk menanggulangi banjir di ibu kota tercinta kita ini sudah dipegang oleh Kimpraswil, apalagi Bapak Menteri Kimpraswil dulunya adalah Direktur Jenderal (Dirjen) SDA – Sumber Daya Air, pasti beliau sangat memahami permasalahan banjir ini (tidak hanya di Jakarta lho). Bahkan Bappenas pun sudah mengetahui mulai dari akar permasalahan sampai dengan rencana penanggulangan secara terpadu untuk mengatasi masalah banjir di DKI Jakarta. Semua permasalahan dan penanggulangannya sekarang ini berpulang pada itikad baik Pemerintah DKI Jakarta, apakah mau dan ingin daerahnya terbebas dari banjir. Sementara kita semua mahfum bahwa Pemda DKI lebih mengutamakan prestise dengan proyek busway dan 3 in 1 nya.

Mengenai permasalahan pendanaan, banyak badan finansial dunia berkeinginan mengucurkan dananya untuk menanggulangi masalah ini. Seperti World Bank (dengan proyek Bopuncur nya) atau JBIC (dengan proyek sudetan Ciliwung – Cisadane yang sampai saat ini progressnya sudah selesai dengan tahap Detailed Design nya, tapi sangat disayangkan tidak dapat diselesaikan karena kurangnya sosialisasi dan penyelesaian pembicaraan antara Pemda DKI dan Pemda Banten).

Jadi permasalahan banjir ini seperti pertanyaan “lebih dulu mana antara telur ayam dan ayam?” – dikutip dari pembicaraan yang pernah mencuat dalam suatu seminar mengenai penanggulangan masalah banjir di DKI Jakarta yang pernah saya ikuti.

Tanggapan 15 – lkw_ss

Dear Ladies and Gentlemen,
I had been in Jakarta since 60’er up to 90’er, so I understand about the situation of old Jakarta and over complicated development Jakarta. In 60’er up to 70’er there many flooding area like Grogol, Roxi, Cawang, Tanah Abang, Juanda, Thamrin, Sabang, Manggarai, Pluit and even Tebet. Today the flooding area spread to the urban area beside the common flooded area like Pluit but not at Thamrin nor Tanah Abang nor Roxi and especially Juanda. So flooding is controlled by human and it is a nature work.
Now, how to overcome it ? Unbelieveable, the nearly best answer come from Mr. PTA who is not a civil engineer. Look at Bandung right now, she became flooding every times. What has happened ? The planologi of the city is very bad, no integrated drainage system and the old Dutch drainage system had been destroyed by the city authorized people, although they are well educated in planologi. I have asked a graduate student of enviromental protection technology from a university in Bandung, did she know about the phylosophy of the Dutch drainage system. She can’t answer my simple question about why they build the drainage system staggered spontaneously. And she ( with her class-mate ) never has asked her teacher how the Dutch phylosphy of drainage ( one of the best in the world, because they lived under the sea level ) ??! No doubt that the flooding still happened to us ! And today we are destroying the old Dutch irrigation system at Puncak and Bogor and even Depok, with out any body
 comment about it !! Unbelievable !

Tanggapan 16 – tubo-hse@rad

  Pak LKW,

  Saya juga setuju pak, banjir di Jabotabek kemungkinan besar karena kurang terintegrasinya drainage sistem. Akan tetapi jika kita lihat beberapa hal seperti penyumbatan saluran karena sampah, banjir kiriman dari Bogor beberapa waktu lalu dan meluapnya air karena tidak tertampung oleh saluran drainase, rasanya bukan saja pengintegrasian saluran masalahnya.

  Kalau di luar negeri, antara sewerage system (sistem saluran pembuangan) dan drainage system (sistem drainase) dibuat secara terpisah. Pun jika dijadikan satu tentunya memang dengan desain yang layak. Saluran pembuangan (Sewer) biasanya dibuat dengan kemiringan yg cukup untuk mengalirkan kotoran, tinggi dan lebar saluran lebih sempit. Sedangkan Saluran Drainase biasanya dibuat lebih lebar dan besar dengan kemiringan yg lebih kecil. Hal tersebut didesain supaya air hujan dapat tertampung untuk beberapa interval waktu tertentu (Jadi dasar design keduanya sangat berbeda/bertolak belakang)

  Dalam merancang saluran drainase, faktor utama yg diperhitungkan adalah penentuan besarnya debit air. Secara teoritis sih hanya dihitung dari curah hujan dan run off coef. daerah tersebut. Nah ini juga merupakan masalah, sebab sepertinya belum ada kajian ulang mengenai besarnya daya tampung lahan dari curah air hujan yg up to date, mengingat berkurangnya daerah resapan yg mengakibatkan berkurangnya juga daya tampung air, efeknya koef. run off jadi meningkat drastis. Jadi wajar kan kalau didesain seperti apa, air tetap meluap.

  Nah, kalau di Jabotabek dan hampir di seluruh kota besar di Indonesia, masalahnya sudah kompleks. Saluran2 drainase peninggalan Belanda banyak yg dibongkar, karena banjir lokal banyak muncul saluran lokal pula yg menurut pak LKW tidak terintegrasi, kemampuan menahan air berkurang dan yang lebih parah adalah kondisi muka tanah sudah berubah. Sudah saluran pembuangan dan salurang air jadi satu, jadi dengan kemiringan yg tanggung, sampah macet, air hujan terhalang..yah…banjir lah

  Kembali ke pertanyaan awal pak Suparman, kalau kita bicara teknologi tepat guna, Insinyur2 bidang supplier pasti akan berteriak2 menjual pompa penyedot, kalau pemerintahnya pasti pengadaan saluran baru. Satu2nya jalan adalah denngan memberikan kewenangan penuh pada insinyur2 tata kota untuk menyusun kembali master plan kota base to latest and real condition. Setelah tersusun, rencana apapun yg diambil seperti pengintegrasian saluran, pembuatan daerah2 resapan, reklamasi das atau yg lain harus konsisten pake master plan itu donk……tanpa ada embel2 dan titipan..
  Jadi kalau kita mau jujur…sebenarnya penyebabnya adalah ketidak konsistensian kita akan master plan terdahulu.
  Bukannya Insinyur2 kita bodoh…tapi mau DIBODOHI…..jadi percuma saja mau saluran diintegrasi, kalau level tanah berubah, resapan berkurang, lalu pembangunan tepi2 pantai makin marak…..lha wong sekarang saja banyak sertifikat tanah dijual untuk agunan…yg ternyata adalah rawa2 tepi pantai….itulah INDONESIA…….
Mohon maaf kalau ada kesalahan dan kekurangan. maturnuwun.

Tanggapan 17 – Suparman@ptsofresid

Teman2 semua,

Memang benar apa yang dikatakan oleh pak wie kita kurang menghargai system irigasi peninggalan Belanda dulu, mungkin ini ada kaitannya dengan masalah nasionalisme dan akibat penjajahan, kecuali itu jaman juga sudah berubah dan parameter2 design yang dulu dipakai oleh Londo2 juga pasti sudah banyak yang berubah.
Saya melihat banjir ini ada dua aspek:
1. Secara Makro:
Bahwa sadar atau tidak sadar hampir sebagian besar waduk irigasi yang dulu dibangun sejak jaman belanda sudah banyak yang tidak berfungsi lagi atau bahkan beralih fungsi, padahal system irigasi tersebut untuk mengatur air mau dialirkan kemana, namun yang lebih parah lagi areal yang doeloenya adalah lahan persawahan dan merupakan target supply air dari irigasi doeloe, tanahnya sudah jadi lahan perumahan dan luasnya juga tidak tanggung2 satu kompleks bisa sampai 10.000 Ha alias 10 KM x 10 KM, konturnya diubah, arah aliran dirancang ulang hanya untuk memenuhi kebutuhan local kompleks tersebut, dam kompleks seperti ini jumlahnya bukan Cuma satu tapi baaaanyaaaaaak lalu pertanyaannya, air yang tadinya dialirkan kesitu larinya kemana?? Yah jadi BANJIR ke tempat yang lebih rendah. Begitu pula dengan daerah resapan yang dulu dirancang sebagai daerah resapan sudah banyak yang berubah, sehingga volume air permukaan bertambah besar. Belum lagi adanya konsentrasi pusat bisnis yang memaksa kita untuk tinggal di daerah yang sebenarnya adalah daerah penampungan air (istilah guru saya dulu, sudah tahu daerah rendah dan tempat pangkalan air, eh masih dibikin rumah juga dan dapet ijinnya lagi yah……..jangan rebut kalo banjir). Salah satu contohnya system irigasi peninggalan belanda ada di sungai Cisedane yang terkenal dengan pintu air sepuluh dan bisa membuat “level adjustment muka air”
agar kapal “getek bamboo” bisa lewat, namun berapa banyak bagian system salurannya yang sudah terganggu atau bahkan tidak berfungsi, berapa banyak areal persawahan yang dulunya menerima air dari irigasi ini sekarang berubah jadi perumahan (eh jangan2 termasuk tempat saya nih) akibatnya………banyak lokasi di Tangerang yang dulunya tidak pernah banjir, sekarang hujan satu hari saja sudah banjir, bagaimana dengan Jakarta yah pasti kebagian juga maklum tetangga dekat.

2. Secara Mikro:
Saluran2 disepanjang pinggir jalan, system saluran kota, dll yang ada dan yang berfungsi local banyak yang bumpet karena kreatifitas kita2 semua buang sampah kecil, puntung rokok, bungkus rokok, sobekan2 karcis, gelas plastic, bungkus es krim sampe koran2 bekas, bekas minuman kaleng, kantong kresek dll, pasti ada yang jawab….. eh saya buang di tempat sampah kota loh dan kan ada truk pengangkut sampah juga, mestinya nggak problem dong selama system pengangkutan sampah dilakukan dengan benar, jangan lupa kucing dan anjing banyak berkeliaran dan biasanya bongkar2 sampah sampe berceceran kemana-mana belum lagi dengan masalah cara menghitung jumlah rit truk sampah, apa jadinya bila sampah yang diperkirakan perlu diangkut 100 rit ternyata aktualnya Cuma
50 rit (walaupun laporannya tetap 100 rit), yang jelas lumayan ada “cuan 50 rit” dan bisnis angkut sampah ini walau bau jadi menarik, lalu sisa sampah yang tidak terangkut bagaimana………. yah dengan sendirinya akan terangkut keselokan2 dan bikin bumpet en…. banjir.

Usulan,
Perlu dibuat perencanaan ulang tata kota termasuk didalamnya masalah peruntukan lahan, system drainage, system transportasi masa, dll Jabotabek secara makro sesuai dengan kondisi areal yang saling terkait, konsekwensinya master plan tidak bisa dilakukan hanya secara local DKI saja, atau Tangerang saja, atau Depok saja, atau Bogor saja……… jadi SUKU DINAS TATAKOTA meng”cover” keseluruhan wilayah. Wah ini kayak jadi proyek, nanti bisa bocor sana bocor sini he…he…he…. Tunjuk aja pihak ketiga sebagai project management, termasuk sampe control pemakaian dananya seperti salah satu proyek BUMN yang ternyata berhasil dan baru aja ybs melakukan IPO.

Mangga dikoreksi kalo ada yang salah2 kata.

Tanggapan 18 – dewayanto@bromotech

Jangan-jangan banjir memang dilestarikan di Jakarta, agar setiap tahun ada proyek penanggulangan korban banjir. (Ingat kasus Irma Hutabarat dua tahun silam?). Lagipula, program konstruksi apapun dari pemerintah, kalau implementasinya masih bocor-bocor melulu (dengar-dengar, setiap proyek pemerintah selalu saja ada ini itu untuk orang pemda, DPRD, dll, yang konon bisa mencapai 40% dari nilai proyek, bener nggak sih?), apa yang bisa kita harapkan dari kualitas bangunan tersebut?? Sambil nunggu janji Bang Yos bahwa 2007 Jakarta bebas banjir, untuk saat ini mungkin lebih baik kita siapkan diri kita sendiri untuk menghadapi banjir, seperti membangun loteng untuk menyelamatkan benda-benda berharga kita, siapin pompa air untuk menguras rumah kita kalau pasca banjir masih tergenang, siapin logistik untuk satu minggu buat jaga-jaga. Siapin perahu
dengan dayung atau motor tempel untuk wira-wiri ke tetangga atau belanja (kalau masih ada pasar atau warung yang buka)…

Tanggapan 19 – lkw_ss

Dear Ladies and Gentlemen,
Again we saw that some engineers can’t see which one is a dependent parameter and which one is an independent parameter. Garbage and rubbish is very independent factor in engineering and very difficult to control, while drainage system is more simple to control in engineering view. Garbage in high level altitude community make the velocity of the water falling into river more slowly so make the rate of the river smaller and reduce the flooding area but make the flood longer ( can everybody see the different ? ) in low altitude area. They will make a kind of dam and give a better holding time for the water to penetrate their land area. And if we make a greater view by simple calculation, we can see something amazing. Assume that in one condition the rain fall is 5 to 10 cm ( it is a big rain ) and every area keep 40% of their rainfall in their area, so that the rate to the river only 60 %. 40% only make 2 cm flooding and I think the land can handle this quantity very simple and fast and we reduce the area of flooding by 40 % ( what a big area ). So the key point is keep the water in the high altitude area and deliver it a little by a little and don’t throw it abruptly, because the river can’t handle it ! Unbelieveable !

Tanggapan 20 – suparman@ptsofresid

Pak King,

Do you think that garbage will help to reduce flooding??????????

Tanggapan 21 – suparman@ptsofresid

Teman2 semua,

Saya mau coba mengikuti pola pikirnya pak King, bahwa sampah akan menahan laju aliran air permukaan, sehingga kesempatan air meresap kedalam tanah (retention time) bertambah jadi jumlah air yang berhasil masuk ke dalam tanah bertambah dan akibatnya air permukaan yang diteruskan kesaluran akan berkurang sehingga resiko banjir akan berkurang…………. BENARKAH DEMIKIAN??

Coba kita lihat kenyataan dilapangan:
Ada segundukan sampah di pinggir jalan, lalu turun hujan, dan sampahnya yang berat2 (batu, balok beton, bongkahan rumah dll) mungkin tertinggal sedangkan yang lebih ringan (kertas, kain gombal, kardus2, plastic, kaleng2, botol2 dll) terbawa mengikuti aliran air dan akhirnya masuk kesaluran kecil dan mungkin ikut terus kesaluran besar terus ke muara dan lama2 sampah terakumulasi, sebagian mengapung menutupi seluruh permukaan saluran, sebagian tertahan di jeruji2 besi sepanjang saluran dan akibatnya tinggi efektif saluran besar berkurang sehingga laju aliran air berkurang, kapasitas yang mampu dialirkan saluran berkurang hingga akhirnya saluran tidak mampu menampung air hujan untuk cepat dialirkan dan akibat selanjutnya, air melampaui ambang batas tanggul saluran dan melebar kemana2 alias banjir.

Tapi ada kasus lain:
Di hutan lindung banyak daun2an dan batang pohon rapuh tumbang dan saling tertimbun sehingga tanah hampir tertutup rapat, saat hujan air akan tertahan, sebagian air akan mengalir terus kelokasi yang lebih rendah sambil membawa sebagian (kecil atau mungkin besar) sampah tadi masuk dalam saluran atau sungai) atau bahkan kumpulan sampah tersebut membentuk suatu timbunan batang pohon yang saling silang menyilang sehingga secara alami membentuk suatu dam alami dan mampu menampung air di daerah hulu sehingga air yang diteruskan ke hilir sungai berkurang sehingga resiko banjir menjadi berkurang. (Kasus ini terjadi pada daerah pariwisata di Sumatra namun sayang dam alami ini jebol sehingga berakibat fatal pada area yang terkena terjangan air bah tsb kalau tidak salah terjadi di bulan oktober 2003 yl).

Saya rasa garbage yang kita bicarakan lebih pada kasus pertama, bukan pada kasus kedua.

Mohon dikoreksi kalo ada yang salah2 kate.

Tanggapan 22 – adhia@elnusa

Drainage system really a dependent system. But how about natural rivers? Are they really dependent parameter? We can easily said that garbages and rubbishes are independent parameter. But how about human who makes them? Can we ignore human factor in this kind of situation? Human do can be tought to live properly and to follow the regulations. Simple calculation really helpful, but how about correction factor, a small factor with directly big impact, such as human? I am an engineer, but I also think about humanity. Independent and dependent parameter always work together to make a system goes right, am I right? Please correct me if I’m wrong.
Thanx.