Ada beberapa reaksi oksidasi H2S dan kaitannya dengan Sulfur yang diantaranya :

H2S + 0.5 O2 —-> S + H2O (1)
H2S + 1.5 O2 —-> S02 + H2O (2)
2H2S + SO2 <—> 3S + 2H2O (3)
S + O2 —-> SO2 (4)

Hasil reaksinya biasanya kita bisa “setir” dengan pemakaian katalis, ini kalau dalam reaktor. Jika pada reaksi spontan, S dan SOx dan H2S sisa yang tidak terbakar/excess (akibat ratio pembakaran yang tidak sempurna)  akan dijumpai. Untuk kasus well test acitivity or drilling mungkin memang volume produk oksidasi itu tidak bergitu besar. Tapi jika kita berbicara continuous production maka kita akan berbicara sulfur dalam jumlah sangat besar, dari polusi SOx yang tinggi. Mungkin rekan2 dari HSE bisa kasih gambaran tentang ambang batas untuk di negara kita.



Tanya – rudolf@exspan


Migas Prof,

Tolong jika anda bergerak di bidang H2S Detection System atau mempunyai contact person, menghubungi saya lewat japri.

Utk para pakar proses, mungkin ada yang mau share tentang perancangan stasiun gas untuk sour gas? 🙂



Tanggapan 1 – patria indrayana


Pak Rudolf,
 
Concern installasi dengan H2S kelihatannya lebih ke manusia /pekerja (baru kemudian impact ke lingkungan).
 
Pada dasarnya berapapun banyaknya, jangan sampai kita me-release H2S ke atmosfer.
 
Impact parameter berikut saya kira semua orang aware :
 
————————————————————–
H2S concentration  Effects
————————————————————–
1 ppm              odor detectable
5 ppm              maxi allowable for 8 hrs
10 ppm             maxi allowable for 15 min
100 – 300 ppm      eye/respiratory tract irritation after 1hr
                   olfactory paralysis after 3-15 min
500-700 ppm        dizziness, headache, nausea in 15min
                   unconsciousness and possible death after a
                   few min
700 – 900 ppm      rapid unconsciousness and death after a few
                   min
> 1000 ppm         instataneous death
—————————————————————
 
Tergantung konsentrasi H2S di process gas, in case of accidental leaks konsentrasi H2S di atmosfer yang kita
hirup bisa naik ke level ratusan dengan sangat cepat.

 
Kalau masih tahap design, biasanya Hazard Analysis harus menyertakan perhitungan dispersi H2S in case of accidental release, misalnya pipa atau flange bocor, korosi dsb …
 
Kemudian tergantung design practice company ybs atau local regulation (kalau ada?) kita bisa menentukan distance minimum antar unit atau main equipment, distance mini ke control room, ke perkampungan sekitar dsb …  
                               
Requirement lain biasanya menyangkut penyediaan personnel protection equipment, operating dan emergency/evacuation procedure, etc.
 
Aturan yang tertulis, pakar HSE mungkin bisa advise ….


Tanggapan 2 – Bambang Tjondro rbtjondr@centrin


Kan H2S bisa dibakar bersama O2? INi dilakukan di Underbalanced drilling



Tanggapan 3 – Rudolf M. Bakkara

Pak Bambang,

Ada beberapa reaksi oksidasi H2S dan kaitannya dengan Sulfur yang diantaranya

H2S + 0.5 O2 —-> S + H2O (1)
H2S + 1.5 O2 —-> S02 + H2O (2)
2H2S + SO2 <—> 3S + 2H2O (3)
S + O2 —-> SO2 (4)

Hasil reaksinya biasanya kita bisa “setir” dengan pemakaian katalis, ini kalau dalam reaktor. Jika pada reaksi spontan, S dan SOx dan H2S sisa yang tidak terbakar/excess (akibat ratio pembakaran yang tidak sempurna)  akan dijumpai. Untuk kasus well test acitivity or drilling mungkin memang volume produk oksidasi itu tidak bergitu besar. Tapi jika kita berbicara continuous production maka kita akan berbicara sulfur dalam jumlah sangat besar, dari polusi SOx yang tinggi. Mungkin rekan2 dari HSE bisa kasih gambaran tentang ambang batas untuk di negara kita.

Kembali ke H2S, seperti posting rekan kita sebelumnya 500-700 ppm sudah bisa jadi katastropik. Jadi saya rasa memang tetap harus hati2 lho Pak di underbalance drillingnya. Mungkin pada saat drilling operation disediakan blower? Karena typical H2S yang lebih berat dari udara, jadi utk menghindari akumulasi konsentrasi di tempat kerja perlu di blow.

Untuk para rekan2 yang punya pengalaman untuk instalasi SRU (sulfur recovery unit)atau vendornya (vendor pls hubungi saya lewat japri), please kita dikasih pencerahan. Kalau ada referense yang bagus boleh dikirim lewat japri jika file besar tidak bisa di d/l ke list.



Tanggapan 4 – Wahyu Hidayat


Mas Rudolf M. Bakkara,
Tentang ambang batas, di KepMNLH No. 13 tahun 1995 tentang  Baku <http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1038886332.pdf> Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak ( <http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1038886332.pdf>
http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1038886332.pdf) disyaratkan ambang batas untuk  H2S adalah 35 mg/m3, dan SO2 adalah 800 mg/m3. Di keputusan ini kegiatan minyak dan gas bumi masuk kegiatan usaha lain. Info terakhir, telah keluar keputusan terbaru khusus untuk minyak dan gas bumi: KepMNLH No. 129 tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Kegiatan Minyak dan Gas Bumi. Sayang sekali saya belum punya copy kepmenlh yang terbaru ini.
 
Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa konsentrasi yg tertera di keputusan tersebut diukur di stack. Kalo personnel (pekerja) dan public safety/health menjadi concern Anda perlu menghitung ground level concentration (GLC) baik untuk personnel dan public. Anda perlu mempertimbangkan time-weighted average (TWA) dari personnel (jam kerja sehari dari pekerja, 8, 10, 12 jam?). Threshold Limit Value-TWA dari 8 jam kerja adalah 10 ppm (NIOSH dan ACGIH). TLV-STEL 15 ppm (15 minutes, not more than 4 times per 8 hr day).Kalau untuk public tentu saja lebih stringent. Mungkin saja mereka concern dengan bau (odor). Nilai ambang batas bau untuk H2S as low as 5 ppb (part per billion). Jauh amat ya.
 
Untuk menghitung GLC Anda bisa pakai dispersion modeling yang cukup banyak tersedia bebas di internet (lihat EPA website dan cari ALOHA software). Anda perlu data2 meteorologi (arah dan kecepatan angina), dan stabilitas atmosphere untuk menghitungnya.


Tanggapan 5 – rudolf@exspan


Migas Prof,

Terima kasih atas beberapa response baik lewat japri ataupun list. Saya akan coba hubungi mereka. Again thanks.

Untuk proses H2S sweetening (Gas and condensate), mungkin rekan2 dari Tuban mau bagi2 pengalaman? Atau ada rekan dari ex-Santafe yg di Jambi (Jabung?).

Utk para pakar HSE, kira-kira kententuan ambang batas H2S yang terdispose kelingkungan, bagaimana aturan mainnya?