Select Page

Mana yg lebih ekonomis? Tidak bisa menjawabnya. Karena hal ini sebenarnya memerlukan feasibility sudy sebelum menentukan option mana yang “baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat”.



Tanya – Jurie_Eng2
Seharusnya ini bisa jadi alternatif rencana pembangunan terowongan bawah laut antara P. Jawa dan Sumatra bisa di buat seperti ini.

Jembatan ini berlokasi antara Sweden& Denmark (CMIIW). Photo ini diambil dari sisi Sweden.
Pada ujung jembatan tersebut berubah menjadi tunnel (jembatan bawah laut) supaya kapal bisa lewat.



Tanggapan 1 – Lutfi@AbadiAdimulia

Sekarang kan lagi trend isu panas bumi naik karena ozon kian menipis, akibatnya es mencair dan permukaan laut naik….lha terus gimana dong kalo lagi berada di dalam terowongan itu….lak keleleb…


Tanggapan 2 – Jacobjordanus@tylin

1. Yang  dikuatirkan sebenarnya bukan “keleleb” nya mas Lutfi, karena tentu saja tunnel bawah lautnya biasanya di desain kedap air, melainkan bgm pihak autorita nya melindungi bagian dari badan jembatan yg hendak “masuk”  ke dalam air dari kemungkinan tertubruk oleh kapal yg besar. Krn dari gambar tak terlihat sama sekali adanya “bridge protection  barrier”
2. Sebenarnya kalau memungkinkan, mengingat under  water construction biasnya sangat lah mahal, adalah lebih menguntungkan kalau  semua badan jembatan tsb berada diatas air, dengan span bersih (anatara pile yg satu dgn yg laennya)up to 1 km (bisa lebih) sehingga kapal besar pun bisa lewat dgn bebas, jadi dalm hal ini cable stayed  bridge bisa digunakan.
3. Mengingat ada daya tarik yg luarbiasa dari jembatan cable stayed bridge, hal ini dapat memberikan nilai lebih dari tempat tsb, menarik pengunjung utk melihat keindahannya, yg mana hal ini tak akan kita temukan pada tunnel di bawah laut.

nb. kalau ada proyek bridge dengan bentang panjang contact aja langsung TYLIN, yah. Krn TYLIN adalah salah satu “bapak” nya prestressed concrete di dunia. (sedikt promosi nih, hehehe)


Tanggapan 3 – Imam, Abraham@mcdermott


Mas JJ,
Jumpa lagi, terakhir kita pernah ketemu di Nanyang Technological University, saat menghadiri seminar Hidrodinamika.

Ngomong2 tentang konstruksi jembatan, kita pernah dengar rencana pembangunan ‘konstruksi penghubung’ selat sunda.
Mana lebih ‘ekonomis’ antara option menggunakan jembatan atau terowongan bawah laut ? Bisa dijelaskan juga kelebihan dan kekurangannya ?  Constraint utama untuk option terowongan mungkin di selat sunda ada daerah sesar (rawan gempa), dan dengan option jembatan sepertinya gak bisa ditarik garis lurus langsung mengingat pulau2 kecilnya tidak segaris. 

Mungkin TYLIN bisa ikutan proyek tersebut 😉 Saya kira petingginya pernah dihubungi oleh Pak Drajat (?).


Tanggapan 4 – jacobjordanus@tylin

Oh iya, jadi kita ketemu lagi di milis ini yah Mas Imam.

Mana yg lebih ekonomis? Aduh Mas Imam, saya tidak mempunyai kemampuan untuk menjawab pertanyaan, Mas.  Krn hal ini sebenarnya memerlukan feasibility sudy sebelum menentukan option mana yg “baik dan sesuai dgn kebutuhan masyarakat setempat”. Namun sekedar mencoba memberikan uraian yg bersifat general ttg kedua option tersebut.

A. Dari segi biaya.
1. Biaya Konstruksi
Pada umumnya konstruksi di dasar laut, apalagi semacam tunnel, adalah lebih mahal, krn banyak keterbatasan didlm pelaksanaan konstruksi nya.
2. Biaya Perawatan dan Perbaikan Sekali lagi jenis “tunnel” akan memerlukan biaya yg relatif lebih tinggi.

B Dari segi Estetika.
Cable Stayed Bridge (CSB), apalagi dgn bentang yg panjang, bisa memberikan
nuansa yg lain, ada nilai seni dan keindahannya yg dapat dilihat oleh
masyarakat secara langsung walau dari jauh sekalipun.

C Dari segi “ramah” atau tidaknya terhadap lingkungan.

Tidak seperti jenis “tunnel” yg berada dibawah dasar laut, yg mana akan mempengaruhi keadaan sea bed, perairan atau ekosistem sekitar, CSB keliahatannya tdk banyak mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Untuk lalu lintas kapalpun, CSB bisa di desain sedemikian rupa sehingga bentang nya dapat berkisar 1km.

D. Dari segi Teknik.
Untuk di daerah rawan gempa, adalah tidak “bijak” untuk membenamkan “jembatan” tersebut kedalam sea bed, hal ini karena seluruh bagian dr “jembatan” tsb akan mengalami percepatan yg kurang lebih sama dgn percepatan tanah sekitar jika gempa terjadi, akibatnya bisa kita duga, banyak kerusakan yg akan terjadi. Jadi struktur jenis ini sangat sensitif thd gempa. Lain halnya dgn CSB, pada umumnya, jenis CSB di golongkan sbg struktur yg mengalami effek yg “kecil” jika gempa terjadi. Hal ini dikarenakan CSB mempunyai sedikit point penumpu (seperti abutments, piers, pylon) yg juga dapat menyerap displacement yg berbeda saat gempa, jadi struktur jenis ini bersifat sangat fleksibel, dgn natural frekwensi yg pada umumnya berkisar 0.3~1.0 HZ, jadi secara teoritis, CSB adalah tdk terlalu sensitif terhadap eksitasi gempa.
Share This