Select Page

Saya melihat keran demand untuk kebutuhan tenaga kerja asing dalam level engineer di Korea Selatan sudah terbuka lebar.
Apalagi banyak perusahaan migas milik negara dari kawasan Timteng (seperti dari Saudi Arabia (lewat Aramco Overseas Company), Kuwait, UAE, Qatar dan lainnya) memberi kepercayaan kepada kontraktor-kontraktor EPC Korea Selatan seperti SK E & C, Samsung E & C, Daelim E & C, GS E &C, Daewoo E & C. Setidaknya hingga 6-7 tahun kedepan.
Termasuk juga untuk untuk segi pekerjaan fabrikasi shipbuilding/offshore platform di Geoje dan Pohang.
Sayangnya tidak begitu banyak orang kita yang mengisi, kebanyakan malah diisi oleh oleh engineer2 muda dari Philipina dan India.

Pembahasan – Administrator Migas


Migas Indonesia

Saya sangat  berterimakasih kepada  KBK SDM yang sudah mengambil inisiatif bersama Pengurus KMI untuk menyelenggarakan Forum Diskusi pemingkatan Peran SDM Migas Indonesia dalam rangka memperingati HUT KMI dan MMI pada bulan Oktober 2012.

Forum diskusi ini tidak dipungut biaya namun sebaiknya jika rekan rekan ingin hadir sebaiknya mendaftarkan terlebih dahulu kepada Mbak Vinny Program Direktor KMI atau sdr Bakti Admin KMI email : nrsvinny@yahoo.com atau bakti.bachtiar@gmail.com
Panitia menyediakan 100 seat untuk anggota KMI dan MMI, selain berdiskusi kita bisa saling menjalin Networking dalam forum ini.
Selamat Berkumpul


Tanggapan 1 – ahongcompaz

Pak Herry kapan diselenggarakannya?

Jika akhir oktober Insya Allah saya bisa hadir.

Tanggapan 2 – Pungki Purnadi

Dear Maz Herry,
 
Sayang pada hari Jumat tanggal 19 Oktober tsb saya sedang berada diluar kota, jadi mohon maaf tidak bisa hadir.
 
Mungkin lain kali saya bisa sharing pengalaman dalam peningkatan kompetensi SDM Migas. Banyak kendala sekarang ini yang cukup berat terjadi baik dari sisi pemerintah, investor maupun dari sisi praktek industri migas itu sendiri. Belum lagi semakin serunya kompetisi perusahaan migas sehingga people strategy sekarang ini menjadi sangat crucial.
 
Mohon maaf juga selama ini agak kurang aktif di milis karena ada sedikit problem dengan alamat e-mail gmail saya. Kalau boleh dialihkan ke pungki.purnadi@yahoo.com mungkin akan bisa lebih aktif kembali.
 
Terima kasih and please keep in touch.


Tanggapan 3 – Dirman Artib

Saya sangat mendukung, topiknya sangat berhubungan dgn SDU (Sumber Daya Umat )Migas Indonesia. Kalau bisa scope nya diperluas, jadi bukan SDU Migas Indonesia yg bekerja di Indonesia, tapi juga  SDU yg mengambil peran di LN. Kan perusahaan misalnya spt. Medco juga mempekerjakan SDU Indonesia di LN.


Tanggapan 4 – Administrator Migas


Uda Dirman,

Mohon maaf sebelumnya jika Flyers KBK SDM tidak muncul dalam posting karena ada kesulitan teknikal tapi saya coba lampirkan attch nya supaya lebih jelas lagi.
Benar Uda diskusinya bukan hanya untuk domestik saja justru untuk mengambil pasar kerja di Overseas dan sudah barang tentu ada sharing knowledge dari para senior2 Migas yang sudah malang melintang di Overseas untuk berbagi pengalaman dengan kita semua disini.< /span>
Alangkan senangnya jika terbentuk Migas Ind Network seperti yang sudah terjalin disini dengan berbagai diskusi dan berbagi ilmu maupun pengalaman dapat terwujud dalam mengisi lowongan kerja Profesional di Industri Migas di seluruh dunia berawal dari diskusi di milis tercinta in.

Jika Uda pulang berlibur ke Ind infokan ke saya nanti bisa kita buat Forum diskusi lagi seperti ini, no problem walaupun mungkin di Cafe seperti dulu kita kongkow2 dengan Almarhum Mas Budhi masih ingatkan. Ini adalah melanjutkan cita cita beliau dan saya tahu Uda Dirman pasti mendukung

Ok Sukses sll untuk Profesional Migas Indonesia.


Tanggapan 5 – Dirman Artib

Siip maju terus ke depan.
Kata orang Jiran “Human Capital”, walaupun keterbatasan SDA jika Human Capitalnya berkualitas bagus, maka bisa mengolah SDA orang lain juga.


Tanggapan 6 – Administrator Migas


Uda Dirman

Itu yang akan kita coba di Timteng dengan jaringan MMI/KMI Network selama ini pasti bisa, apalagi ada Uda disana.

Selain itu kita juga perlu perkuat kompetensi Human Capital Domestik supaya tidak diisi oleh TKA seperti terjadi pada Perbankan kita.

Tanggapan 7 – Elwin Rachmat 
Sepengetahuan saya Pak Dirman bersedia untuk menjadi ketua cabang KMI di wilayah kerjanya pada periode berikut.

Tanggapan 8 -Dirman Artib

Insya Allah kalau masih di Middle East Pak, tp kalau tiba-tiba saja hengkang…..nah ini.
Maklum kerja dan bertualang kalau di Gurun ini susah membedakan nya, sebagai petualang terkadang kita rindu pulang.
   

Tanggapan 9 – Thomas Yanuar

Jadi ingin ikut nimbrung nih Uda Dirman dan Pak Herry,

Saya melihat keran demand untuk kebutuhan tenaga kerja asing dalam level engineer di Korea Selatan sudah terbuka lebar.
Apalagi banyak perusahaan migas milik negara dari kawasan Timteng (seperti dari Saudi Arabia (lewat Aramco Overseas Company), Kuwait, UAE, Qatar dan lainnya) memberi kepercayaan kepada kontraktor-kontraktor EPC Korea Selatan seperti SK E & C, Samsung E & C, Daelim E & C, GS E &C, Daewoo E & C. Setidaknya hingga 6-7 tahun kedepan.
Termasuk juga untuk untuk segi pekerjaan fabrikasi shipbuilding/offshore platform di Geoje dan Pohang.
Sayangnya tidak begitu banyak orang kita yang mengisi, kebanyakan malah diisi oleh oleh engineer2 muda dari Philipina dan India.

Disisi lain, ironisnya banyak orang Korea yang belum kenal dengan negara kita ini, tetapi jika ditanya apakah mereka tahu tentang Bali (dan Lombok), mereka akan mengangguk dengan antusias.
Bahkan ditoko-toko buku, banyak buku dan booklet tentang Bali tetapi tidak tentang Indonesia.

Ketika saya masih terlibat dalam proyek SATORP, saya menanyakan langsung kepada HRD Mgr. SK E & C (sebagai salah satu kontraktor EPC pada waktu itu), mengapa tidak mengambil engineer dari negara saya untuk proyek tersebut, beliau menjawab bahwa SK E & C akan mengadakan kampanye rekrutmen tenaga kerja ke negara saya. Saya terkejut dan melanjutkan bertanya dimana rekrutmen akan dilakukan. Dengan mantap beliau menjawab akan diadakan di kota Manila.
Waaah… wassyeeemm… disangka saya orang Philipina. Ketika s
aya mengatakan saya adalah orang Indonesia, beliau terkejut dan malu namun dalam pembicaraan selanjutnya saya menangkap kesan bahwa ini salah satu bukti bahwa negara kita kurang dikenal daripada kedua negara diatas (dan negara-negara ASEAN lainnya) dan sang Manager tidak tahu bahwa banyak engineer berkualitas dinegara kita melebihi negara-negara tersebut.

Sehingga satu kesempatan lewat begitu saja karena tidak dikenal.

Ini menjadikan tugas kita bersama untuk lebih mensosialisasikan keberadaan Indonesia secara umum dan ketersediaan engineer Indonesia mengisi pasar dunia khususnya di Korea Selatan.
(….jadi bukan hanya mengekspor level tenaga kerja/buruh migran pabrik di Ansan – Korea).

Tanggapan 10 – Riksha Lenggana

Ikut nimbrung juga ah, dengan Uda Dirman dan Pak Thomas serta lainnya.

Kalo Uda Dirman jadi ketua KMI Tim-Teng, berarti wilayah cakupan kerjanya luas dong.
Semua Negara GCC yang ada orang Indonesia-nya otomatis tergabung.
hehehe….maaf, belum register jadi member di milis KMI TimTeng.
Vote untuk beliau deh…

Sepakat dengan Pak Thomas, bahwa kebutuhan tenaga ahli (expatriate) dari negara Asia, terutama Engineer mulai banyak dibutuhkan.
Dan lagi-lagi Professional Indonesia belum banyak terlibat di dalamnya.

Seperti halnya di tempat saya nyangkul sekarang, kebanyakan posisi strategis di isi oleh rekan-rekan dari negara Ahlul Geleng alias Bawang. Bisa di hitung dengan jari, expatriate dari Indonesia yang menjabat posisi Senior Staff atau Teknisi sekalipun.

Kalau dari atas udah di isi rekan kita dari India, bisa dipastikan turunan posisi ke bawahnya akan di isi mereka juga.
Kalaupun kita berhasil menyelipkan CV satu atau dua rekan Indonesia di tumpukan Kandidat files, dengan celetukan (entah guyon atau serius) mereka bilang “Wah, banyak juga ya kandidat dari Indonesia.”.
Waduhh….padahal dari belasan CV yg masuk, 8 CV adalah dari India atau Pakistan. Selebihnya Filipina atau arab country.

Yang saya lihat perbedaan mencolok antara Engineer Indonesia dengan Engineer India / Filipina, adalah dari segi bahasa.
Note : Ini murni opini pribadi.
Saya akui itu, kalau pun misalnya punya TOEFL >550 points terkadang kalo harus adu argumentasi dengan mereka, suka habis kosakata. hehehe….maaff, bahasa inggris bukanlah Mother Tongue saya.
Mending debat via email deh. hehehe….

Soal skill dan kualitas kerja, Expatriate Indonesia gak perlu diragukan. Urusan Paperwork pun seringkali di plagiat sama mereka.
Ada cerita dari teman Indonesia sekantor bahwa dia baru aja mendapat apresiasi dari jajaran manajemen, atas prestasinya meng-handle Mechanical Piping Engineering Project saat Plant sedang Turn Around di September 2012 kemarin.
Ironisnya, sang Boss bilang bahwa Sang Rekan ini berasal dari Malaysia.
Waduuh….

Sudah saatnya, expatriate Indonesia dari semua level berbicara di hadapan dunia dengan prestasinya.
Dan dunia pun menyapa dengan “Selamat Pagi, apa kabarmu teman ?”.
BUKAN dengan “Kumustaka kabayan, Magandang Omaga kaibigan / ate / pare ?”

hehehe…..


Tanggapan 11 – Ardi Soma


Ikut Nimbrung Uda, Mas, Abang


Setuju sekali yg di katakan Pak Yanuar,

Hampir 4 tahun pengalaman menjadi inspector client dgn fabricator Korea, seperti  HHI, HHIC dan SSI ternyata mereka lebih mengenal engineer2 dari negeri yg sering terkena serangan badai yg di kasih nama cantik2 dan juga engineer dari negerinya nehi-nehi. Dari level director hingga level operator pada saat comissioning tertarik berbicara Bali di banding kan berbicara Technical klo bru mengenal kita. Setelah beberapa kali pertemuan dan meeting persoalan ketechnical baru lah menyadari bahwa indonesia juga menyimpan potensi untuk menyediakan tenaga2 profesional yg tangguh. Dalam hati mengatakan baru tau lo engineer dan inspector indonesia itu tangguh2.
Persoalan kesempatan dan persoalan penyebaran informasi yg minim yg menyebabkan ketidak tahuan mereka tentang tenaga kerja profesional indonesia.
Kadang dapat informasi mereka bahwa ada tenaga kerja untuk pabrik yg di bilang pak Yanuar tadi itu yg suka culas dll dari. Bukan Cuma di Ansan, Yansan, Busan yg diselatan korea sana juga bnyak tenaga kerja untuk di pabrik nya ( mohon maaf dikatakn bukan tenaga kerja profesional) mereka di kirim program G to G dan dari PJTKI.

Informasi2 dan issue yg terakhir saya dapatkan HHI akan expansi ke luar korea, cuma yg terprioritas adalah Phil, China, dan Vietnam,…nah Indonesia Di mana?
Ini akan menjadi sebuah lahan pekerjaan yg sangat banyak. karna mereka expansi bukan cuma shipyard nya juga fabricator offshore nya. Puluhan ribu tenaga kerja di bidang fabrikasi yg akan direkrut klo pilihan nya Indonesia
belum lagi Multiplie efek economic nya. Miris nya, informasi ini pernah saya saya sampaikan ke cacselor Indonesia di Phil untuk jemput bola, (jikalau dia punay teman di embassy indonesia di korea) Cuma dia bilng suruh lah orng HHI nya datang ke embassy. Artinya suruh antar bola, bukan kita jemput bola

Kembali ke tengah topik, Setuju sekali bahwa kita harus tinggkatkan kompetensi kita untuk mengais dimana ada manisnya madu dolar2.


Ardi
Memilih Hujan Emas di negeri sendiri dari pada Hujan Batu di negeri Orang


Tanggapan 12 – Thomas Yanuar


Hallo Mas Ardi,

Opini pribadi berdasarkan pengalaman sendiri, kebanyakan para diplomat yang bekerja di KBRI (saya ndak tahu apakah mereka diplomat berkualitas sebenarnya ataukah kelas abal-abal) mempunyai paradigma bahwa mereka adalah kasta tertinggi WNI diluar negeri dan menganggap TKI atau orang Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah warga kelas dua.
Paradigma arogansi/feodalisme seperti itu sangat mudah dijumpai di perwakilan negara kita dimanapun. Itu faktanya.
Mereka tidak mempunyai semangat melayani dengan kesungguhan sebagai esensi pelayan publik. Karena dalam anggapan lain dalam pikiran mereka, “untuk apa susah-susah melayani, lha wong duduk tenang saja sudah dapat gaji kok”..
Tingkah laku mereka akan berubah 180 derajat jika yang datang ke KBRI/Konjen adalah pejabat negara atau anggota DPR RI (yang plesiran ke luar negeri dengan alasan studi banding) atau kenalan baik.
Yang Mas Ardi kemukakan, itu salah satu contoh yang tidak terbantahkan.

Kita, yang bekerja diluar negeri tanpa bantuan pemerintah, berada diluar sistem, tentu memerlukan orang-orang dalam pemerintahan yang mempunyai paradigma perubahan dari status quo. Supaya negara kita lebih dikenal lebih baik dan lebih luas serta lebih bermartabat sehingga para engineer generasi mendatang mendapat tempat untuk diperhitungkan didunia internasional. Perlu sinergi dari semua departemen terkait.
Saya pribadi berharap, KMI Pusat bisa membantu memfasilitasi kesenjangan ini.

Dari pihak kita sendiri, kita ambil cara-cara orang-orang India dan Philipina itu, setiap ada lowongan, sebarkan ke lingkungan kita (milis migas kita ini terutama), bantu merekomendasikan (ini penting), mendorong orang-orang HRD diperusahaan kita bekerja untuk lebih mempertimbangkan orang-orang Indonesia dan menghilangkan pikiran bahwa orang-orang kita sendiri adalah saingan (dalam anggapan saya rejeki sudah ditentukan oleh Gusti Allah, jadi tidak ada kekhawatiran disaingi. Kalau yang kita rekomenkan lebih baik dari kita, sungguh kita harus bersyukur).
Runtuhkan itu dominasi orang-orang India dan Philipina.
Jangan mengandalkan bantuan KBRI, percuma dan bisa bikin tekanan darah naik hehehehe…



Tanggapan 13 – gurukinayan

Nimbrung neh,
Di dunia internasional memang terlihat anak bangsa pertiwi ini kurang di kenal atau bole di katakan bangsa yg asing di telinga mereka.

Saya punya pengalaman singkat di HCMC vietnam, mereka ternyata tdk mengenal Indonesia….mereka hanya mengenal Indo…..wah sedih banget mendengarnya….ketika saya katakan saya bangsa Indonesia…..malah mereka bilang Indonesia whare….malay?…..almak…bangsaku…

Secara tersirat mungkin sdh tertanam pd mereka bangsa kita adalah bangsa yg hanya punya tenaga2 yg bukan ahli….walaupun tdk bisa dipungkiri saudara2 kita tersebut sangat banyak kontribusinya memasukkan “dolar” ke Indonesia sehingga sering menjadi ajang “lahan”.

Namun…Sisi hal positif yg saya lihat di mereka bangsa Vietnam, ternyata mereka sangat2 lebih mendahulukan anak bangsa mereka dalam project mereka, ahli dari luar mereka hire bila mereka telah kehabisan…..hal ini sangat berbeda dgn bangsaku yg besar dan sering mendengungkan istilah “alih teknology” yg mana ternyata hanya kedok melegalkan penguasaan project oleh bangsa lain…..belom lagi pergesekan antar sesama anak bangsa dalam mencari segepok emas……lengkaplah sudah persaingan yg tdk mengacu pd anak bangsa…
Share This