Markodji bergumam-gumam kecil menirukan lagu Zaskia Gotik (Goyang Itik) di televisi, ketika Rukayah mengagetkannya di ruang tamu sore itu. “Cak, iki piye, kok ada keharusan memberikan pengaturan mengenai redaksi kata kata untuk menuliskan uraian Consequence sebuah kejadian di Lembar Kerja HAZOP?”. “Lho gini yaaah, itu kan hanya masalah cara agar pembuatan uraian menjadi baku dan konsisten” seru Markodji. “Selama ini awak dewe tahu banyak sekali laporan HAZOP yang Lembar Kerjanya di lajur “Consequence” cuma menuliskan “Fire” atau “Corrosion” atau “Leaks”, tanpa penjelasan rinci: Runutan kejadian satu demi satunya seperti apa, apakah dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan eskalasi atau tidak atau apakah ada lebih dari satu akibat / dampak yang ditimbulkan?” lanjut Cak Dji. Rukayah menukas: “Jadi penulisan harus runut dan jelas yah?”. “Lho yah pasti, wong dari namanya saja “Hazard Identification”, yang filosofinya “mengidentifikasi”, mengidentifikasi adalah membuat sesuatu tergambar/terdeskripsikan dengan jelas dan pasti, karenanya saya kadang dongkol membaca laporan HAZOP yang tertulisnya cuma satu kata seperti di atas”, “apanya yang tambah jelas dengan hanya satu kata tersebut?” Seru ketus Markodji. “Lha, kan biar gak bertele-tele HAZOP meetingnya?” lanjut Rukayah. Markodji memotong: “Tidak bertele-tele bukan berarti menghilangkan informasi runut, jelas, dan terstruktur”. “Aku tetap berpandangan bahwa informasi yang runut, jelas dan terstruktur akan bermanfaat, terutama buat studi lanjutan seperti LOPA, QRA, Fire and Explosion Strategy. dll”. “Coba bayangkan seorang Chairman LOPA akan kelimpungan mencari-cari skenario pecahnya pipa karena external fire di suatu platform, jika di Lembar Kerja HAZOP bagian cause cuma ditulis “external fire”, tanpa kejelasan fire nya dari mana, sebesar apa, seberapa lama, terpancar vertikal apa horizontal konstan apa “decay”, dst” Lanjut Markodji.

Pembahasan – Crootth Crootth yangfana_adalahwaktu

Markodji bergumam-gumam kecil menirukan lagu Zaskia Gotik (Goyang Itik) di televisi, ketika Rukayah mengagetkannya di ruang tamu sore itu. “Cak, iki piye, kok ada keharusan memberikan pengaturan mengenai redaksi kata kata untuk menuliskan uraian Consequence sebuah kejadian di Lembar Kerja HAZOP?”. “Lho gini yaaah, itu kan hanya masalah cara agar pembuatan uraian menjadi baku dan konsisten” seru Markodji. “Selama ini awak dewe tahu banyak sekali laporan HAZOP yang Lembar Kerjanya di lajur “Consequence” cuma menuliskan “Fire” atau “Corrosion” atau “Leaks”, tanpa penjelasan rinci: Runutan kejadian satu demi satunya seperti apa, apakah dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan eskalasi atau tidak atau apakah ada lebih dari satu akibat / dampak yang ditimbulkan?” lanjut Cak Dji. Rukayah menukas: “Jadi penulisan harus runut dan jelas yah?”. “Lho yah pasti, wong dari namanya saja “Hazard Identification”, yang filosofinya “mengidentifikasi”, mengidentifikasi adalah membuat sesuatu tergambar/terdeskripsikan dengan jelas dan pasti, karenanya saya kadang dongkol membaca laporan HAZOP yang tertulisnya cuma satu kata seperti di atas”, “apanya yang tambah jelas dengan hanya satu kata tersebut?” Seru ketus Markodji. “Lha, kan biar gak bertele-tele HAZOP meetingnya?” lanjut Rukayah. Markodji memotong: “Tidak bertele-tele bukan berarti menghilangkan informasi runut, jelas, dan terstruktur”. “Aku tetap berpandangan bahwa informasi yang runut, jelas dan terstruktur akan bermanfaat, terutama buat studi lanjutan seperti LOPA, QRA, Fire and Explosion Strategy. dll”. “Coba bayangkan seorang Chairman LOPA akan kelimpungan mencari-cari skenario pecahnya pipa karena external fire di suatu platform, jika di Lembar Kerja HAZOP bagian cause cuma ditulis “external fire”, tanpa kejelasan fire nya dari mana, sebesar apa, seberapa lama, terpancar vertikal apa horizontal konstan apa “decay”, dst” Lanjut Markodji.

“Akan mudah bagi seorang chairman LOPA merumuskan skenario yang akan dianalisanya jika di Lembar Kerja HAZOP lajur cause tertulis: “external jet fire from adjacent glycol contactor’s largest piping with medium leak size (80 mm) impacts horizontally to this isolatable section of more than 30 minutes”, sergah Markodji. “walah, walah jika penulisan demikian berarti HAZOPnya menutup kemungkinan : terjadinya leak size ukuran besar (> 150 mm) dan ukuran kecil (<20 mm), terjadinya release secara vertical, terjadinya kemungkinan jet fire kurang dari 30 minutes, dst.” timpal Rukayah. “Kamu betul, memang sejatinya tidak boleh menutup semua kemungkinan dalam proses identifikasi bahaya seperti HAZOP meeting ini, namun itu juga tidak berarti menuliskan “cause” hanya dalam satu kata saja hanya sekedar supaya HAZOP meetingnya cepat kelar” tukas Cak Dji. “Yang aku perikan di atas kan cuma contoh penulisan, mengenai ketepatan informasi yang disajikan di lembar kerja yah harus disepakati bersama oleh tim HAZOP, agar apa yang dituliskan tidak membatasi skenario secara ekstrem namun tanpa kehilangan ketepatan informasinya.”

“Bayangkan jika laporan HAZOPnya berbunyi sebagai berikut: Guideword: More, Deviation: More Pressure, Cause: External Fire, Consequence: Ruptures, Safeguard: PSV Fire, Recommendation: Install firewall”. Bandingkan dengan sebuah HAZOP dengan chairman lain yang uraian nya sebagai berikut:Guideword: More, Deviation: More Pressure, Cause: External Jet Fire from adjacent glycol contactor’s largest piping with medium leak size (80 mm) impacts horizontally to this isolatable section of more than 30 minutes, Consequence: Pipe Ruptures due to overpressure follows the external jet fire impact of more than 30 minutes and potential to cause escalation in the form of subsequent Jet Fire in horizontal direction of more than 1 hours, Safeguard: PSV Fire set at 20 barg to relief the line to the Flare Header and its expected to works fine up to 30 minutes of Jet Fire Exposure, Recommendation: Install firewall between this isolatable section and glycol contactor with the specific class of J120 and it is designed so that additional hazards such as explosion due to congestion level increase beyond the firewall is effectively anticipated by proper siting” Jelas Markodji.

“Oh, jadi dengan demikian tugas si chairman LOPA akan lebih mudah dalam melakukan analisa lapisan pelindung di episode berikutnya?” tanya Rukayah. “Oh. jelas, atuh” jawab Cak Dji. “namun perlu diingat bahwa pemilihan scenario dalam uraian deviation+cause+consequence di lembar kerja HAZOP haruslah diperhatikan sengan seksama, dalam sebuah rangkaian bow tie, sebuah isolatable section bisa (saja) memiliki lebih dari 80 pasangan skenario… sedemikian hingga dalam HAZOP kita – para chairman HAZOP – dituntut dengan cepat tanggap untuk mampu menentukan mana dari 80 skenario tersebut yang dikategorikan “worst case”. “Nah disinilah pengalaman seorang chairman HAZOP diuji, apakah ia benaran mampu bernalar atau cuma insinyur copy paste dan berbekal google dan wikipedia sahaja?”     
Obrolan kembali terpotong kembali lagu Zaskia Gotik berdendang serak serak basah di TV: “Satu Jam saja, ja, ja, ja, ja”. Ampun sayang, jantungku deg degan, waktu kamu peluk diriku… Ampun sayang, badanku gemeteran, waktu kamu kecup keningku…. aku disentuhnya, aku dibelainya, aku diciumnya, aku dipeluknya ….. ah ah ahhhhhh..”  Rukayah melengos berlalu ketika Cak Markodji perhatiannya kembali ke goyang itik si Mbak Zaskia.

(ditulis oleh DAM, a.k.a Gharonk, sebagai bagian cerita berseri di milis Migas sejak 2004)

Singakatan
LOPA = Layer of Protection Analysis
QRA = Quantitative Risk Assessment
HAZOP = Hazard and Operability Study
PSV = Pressure Safety Valve

Tanggapan 1 – Bondan Caroko

Cak,

“Bayangkan jika laporan HAZOPnya berbunyi sebagai berikut: Guideword: More, Deviation: More P
ressure, Cause: External Fire, Consequence: Ruptures, Safeguard: PSV Fire, Recommendation: Install firewall”.

Ngga perlu membayangkan tuh (bisa2 malah Zaskia Gotik yg terbayang2), ambil aja salah satu HAZOP report yg ada di koleksi sampeyan.
Bakalan berserak tuh HAZOP sheets yg isinya ‘ngirit’ seperti itu 🙂 Oya, ntar di bagian ‘Project response’ isinya jg singkat padat: “Firewall will be installed”, ahihihihi…

“Guideword: More, Deviation: More Pressure, Cause: External Jet Fire from adjacent glycol contactor’s largest piping with medium leak size (80 mm) impacts horizontally to this isolatable section of more than 30 minutes, Consequence: Pipe Ruptures due to overpressure follows the external jet fire impact of more than 30 minutes and potential to cause escalation in the form of subsequent Jet Fire in horizontal direction of more than 1 hours, Safeguard: PSV Fire set at 20 barg to relief the line to the Flare Header and its expected to works fine up to 30 minutes of Jet Fire Exposure, Recommendation: Install firewall between this isolatable section and glycol contactor with the specific class of J120 and it is designed so that additional hazards such as explosion due to congestion level increase beyond the firewall is effectively anticipated by proper siting”

Alangkah idealnya klo bisa seperti itu. Tapi apakah nanti durasi HAZOP ngga jadi bengkak? Yg skrg aja utk wellhead platform seukuran itik HAZOP-nya seminggu, itupun di Node ke-3 dan seterusnya guidewords disapu secepat angin karena Chairman-nya diingetin terus sama Project Manager bahwa durasi HAZOP ngga bisa diperpanjang sampai minggu depan (baca: ga disiapin budget-nya).

Gimana dong….

Tanggapan 2 – Cahyo Hardo

Membaca hal ini, ketika kami ada program brown field dan akan dieksekusi, kami mengadopsi sistem di Bp yg dikenal sebagai readiness certificate atau slanknya adalah Go No Go certificate. Isinya adalah list dari mandatory action yg harus diselesaikan sebelum go head. Diantara yg di periksa adalah hazop. Jadi jika rekomendasinya adalah will be installed, maka di meeting go no go itu, maka akan ditanyakan status dari implementasi hazop itu. Jika belum, maka akan ditandai merah yg berarti belum dilakukan. List tsb akan diteken jika tidak ada yg merah. Dan instruksi ke 0IM adalah tdk mengeluarkan PTW sampai dokumen itu hijau dan diteken semuanya, sampai VP operations dan VP project. Jadi, counterpart saya yaitu project manager tdk bisa melenggang begitu saja masuk rumah kami (offshore platform maksudnya).

Sudah dicoba utk fase 1 brown field project di laut natuna, dan so far so good.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Cak Bondan yang membayangkan Zaskia,

Beberapa trik (tergantung cara pandang – apakah bisa disebut tricky atau murni profesional) yang bisa dilakukan seorang chairman adalah ia menyiapkan semuanya terlebih dahulu yakni mengisi secara lengkap semua guideword, deviation, cause, safeguard, consequence, recommendation, berikut responsible entitynya secara lengkap, runut, dan terstruktur. Nah pada saat HAZOP tinggal trade off saja sama semua peserta apakah ada yang ditambahkan atau bahkan dikurangi.

Terlepas dari tuduhan bahwa chairman men-drive peserta ke arah argumen dan cara spesifik dari si chairman, suka atau tidak suka cara seperti ini kemungkinan besar lebih efektif dalam soal waktu.

Lebih makcroth lagi kalau sebelum meeting semua peserta dikasih bocoran dan dimintakan tanggapan, sehingga pada saat meeting tinggal menyatukan pendapat dan berkonsensus menyepakati apa yang menjadi common sense dalam identifikasi bahaya.

Monggo dilanjutkan, saya musti siap siap ngepak2 baju dan alat diving buat menyelam di Saparua, Haruku, dan Nusa Laut di Maluku sana…

Tanggapan 4 – eddy.bachri

Cerita dari negeri Amartapura. Si Doel diminta bosnya utk mengkoordinir Hazops. Siap bos. Si Doel pilih vendor dan leadernya, bilang ke Petruk yg sbg Leadernya. Tempatnya harus di Hotel agar bisa konsentrasi dan ngak diganggu kerjaan. Deskripsi harus lengkap, tidak boleh asal tulis Fire begitu saja sesuai ilmu yg saya terima dari negara tetangga. Siap bos. Dari kajian terdapat 20 node. Kira2 15-20 hari bos. Oke. Petruk perintahkan Cepot sebagai Scriber. Saat mulai, dgn lantang Petruk ngomong oke kita mulai. Untuk more flow. Causenya pipe rupture, akibat jet fire dari adjacent glycol contactor…dst. Cepot dgn sigapnya nulis….namun berapa kali ditegur Petruk. Lu cepatan nulisnya. Iya boss. Tetep aja lambat bolak balik lagi krn salah ketik. Sampai ditegur, loe bisa nulis ngak. Maaf bos gue khan engineer bukan sekretaris. Oh.. Iya juga. Akibatnya schedule molor. Doel lapor ke ki Lurah bossnya, bahwa programnya mundur sampai 30 hari karena kita mau agar penjelasannya lengkap sehingga boss gampang memahaminya. Oke, ngak masalah jawab Ki Lurah. Hari ke 25 saat Petrus, lagi lototin yg ditulis, Cepot siang hari. Kok rasanya ruangan pada sepi, waktu ditengok ke peserta ehh…peserta pada tiduran, langsung Petruk bilang. Bangun..bangun.., peserta langsung komen, loe sih nulisnya lebay amat. Akhirnya selesainya pas 30 hari. Laporan Hazops dan gambar2 yg telah dimark up dibawa ke bossnya Ki Lurah. Boss, udah selesai, laporan komplit penjelasannya. Ki Lurah bilang, bagus, taruh dipojok sana (dalam hati, buset. Laporannya tebal Amir). Si Udel yg ikut hazops pas ketemu temannya, disapa ehh loe kelihatan gemukan. Iya dong 1 bulan makan tidur dihotel. 1 mingu udah berlalu Doel waktu masuk kamar bossnya ngelirik laporan Hazops belum bergerak dari tempat. Sampai 1 bulan belum ada juga padahal proyek udah hampir mulai. Maka Doel memberanikan diri menanyakan tindak lanjutnya. Boss gimana reportnya. Ki Lurah langsung jawab,” loe khan lihat kerjaan gue banyak gini, mana sempat baca laporan loe. Loe atur2 aja tindak lanjutnya (dalam hati bilang, emangnya kerjaan gue baca hazops aja)”. Siap boss kata Doel (dalam hati bilang, gimana sih boss ini, katanya HSE nomor satu, weleh..weleh gimana ya.. belum ada putusan manjemen untuk tindak lanjutnya) sambil garuk kepala, he…he…he… Selamat pagi rekan2. Tetap bersemangat. Salam. Eddy Bachri.

Tanggapan 5 – Crootth Crootth yangfana_adalahwaktu

hahahaha, curahan hati mas Eddy yah…

Itu real kok mas, mau di perusahaan A, perusahaan B, perusahaan C, kasus kasus seperti diperikan kerap terjadi. Bukan hal bagus memang, namun setidaknya harus ada usaha perbaikan di kemudian hari. Walau mengubahnya tidak segampang nyari video goyak itiknya Zaskia.

Tanggapan 6 – Boorham Rifai

Kalau yg saya tahu, rekomendasi HAZOP/HAZID study untuk project, pasti akan di-close oleh team project supaya tidak mengganggu schedule project. HAZOP/HAZID close out adalah salah satu syarat supaya suatu project bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya. Yang paling susah adalah rekomendasi HAZOP/HAZID untuk fasilitas yg sudah ada (existing). Yg ini yg biasanya numpuk jadi utang. Closing-nya membutuhkan banyak effort dan tidak semudah untuk project.

Tanggapan 7 – eddy.bachri

Mas Boorman ehh maaf mas Boorham, Jangan take seriouslah, hanya bercanda saja.
Namanya juga cerita. Suka2 yg buat ceritalah. He..he… Anda betul umumnya untuk suatu project besar, hazops dilekatkan pada project managernya. Merupakan bagian tak terpisahkan dari pentahapan project tsb. Namun untuk modikasi biasa biasanya tidak melekat.

Tanggapan 8 – Boorham Rifai

Hahaha… Mas Eddy, kondisi itu juga tidak semua company melakukannya. Tidak semua company kenal HAZOP/HAZID atau membutuhkan close out-nya supaya project bisa “GO”. Inget dulu waktu masih jadi unyu2 engineer…

Tanggapan 9 – Alvin77 alfiyansyah

Bro DAM,

Kalo ditempatku dulu pas ambil training PHA Facilitator (termasuk Hazops) yg ngga sampai kelar ikut coachingnya karena keburu pindah, penulisan consequences seperti Markodji sarankan ha
nya harus dilengkapi lagi apakah ujungnya (ultimate consequences) akan ada financial impact, environmental impact, ataukah personnel impact. Penulisan khusus ultimate consequences ini didasarkan pada aturan legal international (kata trainernya) sehingga bila document PHA/HAZOPS/Risk Assessment, dst. dibutuhkan menjadi panduan sang legal counsel maka ultimate consequences ini memperjelas maksud scenario hazard + risknya serta memudahkan bila ada masalah hukum yg terjadi di kemudian hari.

Kemudian bila ada administrative safeguard hendaknya juga dituliskan secara kuantitatif, misal : operator surveillance and ORD 2x in a day.
Lalu bila ada PSD/ESD sebagai safeguard maka setting seperti Markodji sampaikan perlu ditulis, apakah switch bisa ditrigger secara manual atau otomatik di field panel ataukah control room saja, ini juga diharuskan ditulis oleh trainer + legal di company lama utk memudahkan investigator bila kelak ada masalah hukum.

Selain itu bila Hazid/RA/Hazan dilakukan utk general work bukan process+operation work, seringkali causes tidak dituliskan lebih rinci, misal drop object hazard, ini karena crane sling putus, benda jatuh dari scaffolding, scaffolding collapse atau apa skenario ada drop object hazard apa ya?
“Jangan2 karena meleng karena mikirin Zaskia Gotik yg bahenol 🙂 terus jatuh yg mesti diinvestigasi”

Bener kata Markodji, seringkali kalo terpaksa harus ngerevisit sebuah hasil Risk Assessment yg tidak terstruktur maka sebagai facilitator baru belum tentu paham apa maksud penulisan kata2 tersebut dari sang facilitator lama, apakah satu skenario yg dibahas atau ada beberapa skenario yg dibahas sebenarnya. Seringkali facilitator baru terpaksa harus jalan ke lapangan, tanya sana sini, cari rujukan sana sini utk mendapatkan informasi lebih lengkap sebelum mulai PHA/Hazops revisit meetingnya.

Penulisan singkat utk berbagai bagian dari causes, safeguard, recommendation, etc. memang memudahkan facilitator dan scriber tetapi ketika report tersebut dibaca oleh orang yg tidak terlibat dalam meetingnya maka belum tentu orang ini mengerti apa yg terjadi dan dimaksudkan dalam PHA/Hazops report tersebut.

Terakhir, sharing pengalaman mengaudit capital project khusus utk PHA/Hazops tracking sheet, seringkali informasi dan rujukan action item close outnya tidak rinci apakah kedalam SAFE chart, design basis, safety concept, P&ID, commercial document and contract, etc.
Memang ini bukan tugas sang facilitator PHA/Hazops lagi, tetapi output report seperti PHA/Hazops yg mesti ditracking ini sangat penting, bila salah dikelola nanti akan membuat saat konstruksi, fabrikasi, testing, dsb. ada hal yg bisa membuat punch list bertambah atau amendement contract yg mesti dilakukan. PM project tersebut mesti memastikan siapa yg menhandle tracking sheet ini.
Ini dulu ya…CMIIW.

Sekedar tambahan sajian kopi hangat utk menambah diskusi dari Markodji.

Tanggapan 10 – Crootth Crootth yangfana_adalahwaktu

Thanks Bro Alvin karena mengakui mbak Zaskia yang bahenol… lho??
Well, persoalan terlalu rinci atau terlalu sigkat selalu menjadi diskusi hangat pnyelenggaraan HAZOP dari waktu ke waktu. Selalu ada dorongan baik dari pihak yang lebih suka detail ataupun tidak. Namun wajib kiranya buat si empunya hajatan HAZOP atau si chairman HAZOP agar tidak egois memikirkan kerjaannya saja an sich… perlu juga di-foreseen apa apa saja yang bakalan terjadi dengan laporan / lembar kerja HAZOPnya?

Setuju dengan bro alvin, bahwasanya lembar kerja/laporan HAZOP adalah bundel informasi yang penting – sangat penting malah, kalau kita pernah membaca ulasan Prof Hopkins mengenai bencana Esso di Australia tahun 90an – yang tidak saja bisa digunakan secara langsung melainkan disimpan buat informasi dasar pekerjaan-pekerjaan process safety lanjutan.

Saat ini saya sedang meriset puluhan studi HAZOP penting di tanah air, semoga hasil riset saya dapat membantu perkembangan aplikasi Process Safety di Indonesia pada umumnya…

Terakhir, jadi milih mbak Zaskia Gotik apa Nikita Mirzani nih bro Alvin?

Tanggapan 11 – Alvin77 alfiyansyah

Bro DAM,

Jikalau ada yg mau meneliti respon pembaca laporan Hazops/PHA dan berapa tambahan restriction time yg diperlukan utk membuat laporan awal yg lebih terstruktur dalam sebuah PHA/Hazops yg membuat pembaca report langsung paham apa yg dimaksudkan mungkin ini akan membuat lebih menarik kita semua.

Pengalaman pribadi sih perlu tambahan antara 25-50% restriction time utk membuat draft PHA/Hazops lebih terstruktur saat meetingnya dilaksanakan, tidak termasuk post work report loooh…pusing juga diawalnya karena biasa shortcut dan nulis singkat baik utk cause, safeguard, rekomendasi dan consequences lalu akhirnya dipaksa menulis terstruktur dan lengkap.

Bila sudah terbiasa dengan saran Markodji maka secara tidak langsung nanti tambahan restriction time yg diperlukan saat meeting utk membuat statement PHA/Hazops lebih terstruktur nantinya akan turun sendiri … 🙂

Kecuali memang bermaksud netapin pilhan sulit antara Nikita vs Zaskia Gotik yg perlu restriction time tidak terbatas, …:)
Saya vote Zaskia utk gotik muda-nya, hahaha…. CMIIW. Thanks.

Tanggapan 12 – [ InYotHeA ] inyoclubs
 

Sungguh ulasan dan diskusi yang membahana bertalu-talu ditengah hingar bingarnya diskusi di thread sebelah yang berdenting dengan cerianya….
Lanjutkan Kak DAM dan Kak Alvin….daku selalu rindu sendu membaca tulisan anda berdua…..

Tanggapan 13 – Akh. Munawir

Mas Alvin dan Mas DAM,
Tetapi lagging-nya informasi dari HAZOP report karena kekurang detail-nya informasi mungkin bisa disiasati dengan membuat paket pekerjaan HAZOP dan turunannya ke dalam satu paket pekerjaan agar facilitator maupun chairman HAZOP adalah team/orang yang sama.
Tetapi saya sangat setuju dengan membuat report dari Identifikasi
Hazard-nya sedetail mungkin, karena jika ada handover informasi ke pihak lain akan mempermudah pemahamannya.