Semoga negeri ini lebih banyak lagi Irwan-Irwan lain, pemuda pintar nan idealisme, yang tidak semata-mata berorientasi materi.

Pembahasan – dimas yudhanto

Semoga negeri ini lebih banyak lagi Irwan-Irwan lain, pemuda pintar nan idealisme, yg tidak semata-mata berorientasi materi.

http://wolipop.detik.com/read/2012/11/02/091318/2079412/1133/keluar-dari-perusahaan-minyak-asing-demi-jadi-pns

Jakarta – Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu profesi yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, bahkan diimpi-impikan. Selain penghasilan yang menjanjikan, banyak keuntungan lain yang bisa dirasakan secara pribadi. Irwan (bukan nama sebenarnya), seorang PNS muda merasakan keuntungan tersebut.

Saat diwawancara melalui telepon beberapa hari yang lalu, Irwan menceritakan suka dan dukanya selama menjadi PNS sejak 2010. Pria berumur 28 tahun ini mengaku kalau dia merasakan perbedaan yang cukup signifikan setelah beberapa kali kerja di perusahaan asing dan kini bergabung dalam instansi pemerintah.

Menurutnya, kerja di pemerintahan bisa bermanfaat untuk orang lain daripada mengabdi pada perusahaan swasta. “Manfaat sebagai PNS lebih merasa berguna karena apa kita yang lakukan benar-benar untuk masyarakat umum,” tutur Irwan kepada wolipop.

Sebelum menjadi pegawai negeri, Irwan sudah tiga kali kerja di perusahaan asing, tapi kurang betah karena kerja di swasta hanya bermanfaat untuk perusahaan bukan negara atau dirinya sendiri. Dia terakhir bekerja di sebuah perusahaan minyak asing. Pria idealis ini memilih melanjutkan karir sebagai PNS juga karena merasa penghasilan orang-orang Indonesia yang bekerja untuk perusahaan asing lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang dari luar negeri.

“Saya merasa nggak adil banget sih karena di swasta orang-orang Indonesia di-hire-nya lebih rendah. Yang pernah kerja di perusahaan asing pasti merasakan,” cerita pria lulusan perguruan tinggi negeri itu.

Selain bisa berguna untuk masyarakat luas, profesi PNS cukup menjanjikan. Tidak hanya mendapatkan gaji pokok, tunjangan hari tua, pendidikan, dan komponen lainnya saja, tapi ada pula tunjangan kinerja daerah untuk pegawai yang baru atau golongan 3A. Tunjangan tersebut sebesar Rp 3.950.000, yang diperoleh satu sekali setiap bulan setelah menyelesaikan beberapa tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Di samping itu, PNS juga memiliki kesempatan mendapat beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikan di dalam maupun luar negeri.

“Untuk beasiswa banyak banget sih, teman saya ada yang sudah mulai sekolah. Kemarin kebetulan masih adanya yang di Indonesia, minimal harus lima tahun kerja kalau mau beasiswa keluar negeri,” papar Irwan.

Irwan merasa beruntung bisa lolos menjadi PNS hanya dengan satu kali tes meskipun prosesnya cukup lama sekitar enam bulan. Setelah diterima, Irwan statusnya masih menjadi CPNS hingga akhirnya berhasil diajukan sebagai PNS sesudah satu tahun masa pra-jabatan.

Pekerjaan sebagai PNS sangat dinikmati oleh pria yang hobi hiking dan traveling ini. Namun, setiap pekerjaan pasti memiliki duka tersendiri. Salah satu dukanya adalah berada di bawah sistem yang tidak cukup ideal. Banyak pekerjaan dari atasan yang seharusnya bukan tanggung jawabnya malah dilimpahkan kepadanya. Hal itu karena orang-orang yang bersangkutan tidak mau atau malas menyelesaikan pekerjaan tersebut.

“Banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang-orang yang bersangkutan, tapi tidak dikerjakan malah dilimpahkan kepada kita,” tutur Irwan dengan nada kesal.

Pria kelahiran 1984 ini juga mengakui kalau paradigma masyarakat mengenai PNS yang suka bolos jam kerja, pulang seenaknya itu memang benar. Namun kini, intensitas mengenai hal-hal negatif tersebut mulai berkurang karena masuknya orang-orang muda yang lebih berkualitas dan bertanggung jawab. Belum lagi ditambah dengan pergantian gubernur DKI Jakarta.

Sepertinya, sidak yang dilakukan oleh Jokowi di berbagai kantor kelurahan Jakarta sangat berpengaruh terhadap PNS lainnya. Irwan mengatakan kalau orang-orang yang suka berpergian atau bolos pada saat jam kerja di instansinya sudah tidak berani keluar lagi karena takut Jokowi berkunjung ke kantor mereka.

“Saya jelas mendukung gubernurnya Jokowi, pergantian gubernur seperti Jokowi sangat berpengaruh buat PNS sendiri. Jadi, orang-orang nggak mau keluar-keluar lagi,” ujarnya sambil tertawa diakhir pembicaraan dengan wolipop.

Tanggapan 1 – Dirman Artib

Kasihan pemerintah pak, budget negara kita yg cuma banyak habis buat belanja rutin gaji pegawai negeri, guru, polisi, militer, dan pejabat, lalu nggak ada lagi budget buat merawat jalan, bikin toilet sekolah, irigasi, subsidi kedele buat yg suka makan tahu&tempe.

Seharusnya PNS dikurangi hampir setengah dari skrg, nggak punya hitungan nya sih, hanya feeling aja. Jadi jangan langsung ikut-ikut contoh yg salah kayak Irawan tsb.

Tapi bukan maksudnya kita menganjurkan bekerja buat cari materi semata, tapi carilah materi agar bisa membayar zakat, infak, sadaqah lebih banyak. Kalau rumah nya gede, jgn hanya mempekerjakan 1 pembantu, supaya agak berkurang TKW ke Arab + tukang kebon. Kalau mobilnya ada 3, tambahlah sopir 1 lagi, karena mengurangi jumlah profesi tukang ojek yg lebih berisiko. Kalau duitnya masih lebih banyak, buka RM Padang di Air Port International dan pekerjakan org Indonesia, krn saya nggak lihat ada RM Padang di Abu Dhabi, Dubai, Doha, Adis Ababa, JFK, Changi, Colombo dan Heathrow. Tp sayangnya kebanyakan orang Padang rantaunya cuma ke Tanah Jao aja, sepi deh restaurant…ha…ha…ha..
Kalau gitu buka restauran Pilipino deh, yg overseas workernya jutaan.

Gimana Pak?

Tanggapan 2 – Casdira

Yg perlu dikurangi adalah PNS yg tdk produktif, tdk kompeten, loyo. PNS yg
segar-muda, energik, kompeten dan bersih perlu diperbanyak.

Sehingga secara keseluruhan jumlah PNS berkurang, tapi rasio PNS yg kompeten dan produktif bertambah.

Irwan tidak memberikan contoh yg salah.


Tanggapan 3 – Agung Pramu Aji

Prof. DR.rer.nat Usman Sudjadi, Dipl.Ing, APU adalah salah satu contoh inspirasi, dimana dia adalah salah satu dosen di universitas mercu buana, selain mengajar dia juga seorang peneliti di BATAN, Pria yang lulusan S3 teknik fisika, S2 teknik fisika dan S2 teknik mesin di jerman ini sangat mengabdikan seluruh hidupnya di negeri ini, dia tdk memiliki handphone, atau barang2 mewah lainya, setiap mengajar dan berangkat kerja dia selalu menggunakan metromini dan angkutan umum lainya. Tawaran untuk bekerja di Swasta dan di luar negeri sangat banyak tetapi di tolaknya, padahal seandainya dia ingin kaya beliau bisa bekerja di swasta, dan yang paling miris, blum lama sang istri telah di panggil yang maha kuasa, dia hanya memiliki 1 anak itupun msh kecil,

Tanggapan 4 – donny revan

All,

jika membandingkan Prof Usman dengan ulasan si PNS baru Mas Irwan ini sungguh bumi – langit. saya coba pilah satu per satu ulasan Mas Irwan:

1. dia merasa gaji dia di perusahaan asing masih lebih rendah dengan gaji pekerja dari luar :
-> mas Irwan ini masih berumur 28 tahun, hitungannya dia masih baru di kantor swasta tersebut. kemungkinan gaji nya masih kecil dibanding dengan senior apalagi pekerja expat.

2. bekerja di perusahaan asing = tidak mengabdi ke negara?
-> ini masih debatable. banyak perusahaan asing justru mengerjakan proyek atau kebutuhan masyarakat banyak di negara ini dengan efisiensi yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan perusahaan yang sama dr domestik.

3. pekerjaan PNS yang malas di hand-over ke PNS lainn
ya.
-> walaahhhhhh.. kasian negara ini. APBN habis untuk membeli nasi gratis buat pemalas dan harus memberi tunjangan kinerja buat PNS lain yang menerima pekerjaan tersebut. ini SOP abdi negara pemalas!!!!!
seharusnya ada mekanisme yang jelas dimana PNS malas ditegur smp dipecat spt di swasta.

4. PNS banyak tidak bolos krn Jokowi sidak
-> PNS sudah seperti lintah sampah untuk kasus ini. sudah malas, jalan2 ga jelas malah digaji. tertib jika disidak? walah walahhhhh

dari pertengahan interview terlihat mas Irwan terobsesi dengan komersialitas PNS yt gaji beserta tunjangan – tunjangannya. hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan fungsi PNS sebagai negarawan(abdi negara).

semoga Mas Irwan dan senior2 nya bisa koreksi diri.

Tanggapan 5 – herlambang sunyoto

Ikutan sedikit nimbrung para senior,

Pak DI waktu memimpin PLN, bilang bahwa PLN hanya butuh 1000 anak muda yang jujur & pekerja keras. PLN tidak butuh pegawai yang pegawai yang mayoritas sudah terindikasi mengikuti sistem nyaman bekerja & tidak produktif, bahkan menikmati fasilitas yang bukan haknya.

Tanggapan 6 – dimas yudhanto 

Saya curiga, apa benar Irfan ini kerja di perusahaan minyak asing?
bisa jadi dia kerja di perusahaan asing yg bergerak di bidang perminyakan.
atau benar dia kerja di perusahaan minyak asing, namun kerjaannya tidak sesuai dgn pendidikannya, misalnya petugas kebersihan, atau jaga gudang.


Tanggapan 7 – haditomo_irawan

Rekan2 milis,

Janganlah kita berpraduga buruk dulu dgn tokoh “Irwan” ini.
Dan juga belum tentu anggapan kerja di PMA atau di sektor Migas lebih menjanjikan.
Ayah saya dulu mengatakan lebih baik jadi PNS saja karena dapat mengabdi kepada bangsa dan negara.
Walaupun salary tidak besar spt kawan2 beliau saat era thn 1970 an sampai 1990 namun beliau mengatakan “cukup” itu sama halnya dgn “syukur” nak, shg yang banyak tetap akan “kurang” dan yang “sedikit” insya alloh akan “cukup dan barokah”
Dan beliau memberikan contoh hidup sederhana dan berhemat.
Jadi mungkin saja ada atau banyak Irwan2x lainnya yg melihat hidup tdk hanya semata masalah harta duniawi, namun kebahagiaan batin juga menentukan kualitas hidup seseorang.