Select Page

Markodji, jagoan tiga zaman geleng-geleng saja membaca berita ribut-ribut beberapa artis bernama Angel/Angela, seperti baru baru ini Angela Army yang baku tengkar dengan dua model muda di sebuah bar di bilangan Kemang, Jaksel. “Aya aya wae!” tukasnya. Tak sampai semenit kemudian, Mat Dra’i lewat dan menanyakan sesuatu: “Iki yaopo Cak, mosok di P&ID yang saya baca ini kok si Pressure Vesselnya dipasangi PSV dengan kasus “blocked discharge” ya? Wis ngono, ukurannya cukup kecil tidak seperti umumnya kasus blocked discharge, 1″x2″ coba?” “Bukannya harusnya Fire Case”.

Artikel kiriman dari – Crootth Crootth

Markodji, jagoan tiga zaman geleng-geleng saja membaca berita ribut-ribut beberapa artis bernama Angel/Angela, seperti baru baru ini Angela Army yang baku tengkar dengan dua model muda di sebuah bar di bilangan Kemang, Jaksel. “Aya aya wae!” tukasnya. Tak sampai semenit kemudian, Mat Dra’i lewat dan menanyakan sesuatu: “Iki yaopo Cak, mosok di P&ID yang saya baca ini kok si Pressure Vesselnya dipasangi PSV dengan kasus “blocked discharge” ya? Wis ngono, ukurannya cukup kecil tidak seperti umumnya kasus blocked discharge, 1″x2″ coba?” “Bukannya harusnya Fire Case”.

“Sik, sik taala. Jangan diributkan dulu, kamu harus tahu sejarahnya kenapa si PSV dikasuskan seperti itu, siapa tahu memang skenario yang tepat saat itu yah “blocked discharge” itu. Misalnya karena si ESDV di bagian hilir memang terkenal sering mengalami spurious trip, atau si bagian hulu yang sering kumat naik turun pressure nya. jangan di judge dulu kalau itu salah”. sambung Markodji. “Lha terus, cara cari tahunya ini latar belakang pemilihan skenarionya seperti apa di mana?” lanjut Dra’i. “Kamu pergi saja ke gudang, cari dokumen bernama “Safety Concept” atau “Safety Philosophy” atau semacamnya yang mencantumkan filosofi dasar pemilihan kasus kasus PSV” “jika belum puas juga coba cari di dokumen “Relief Sizing and Depressurization Study” atau semacamnya”. “Siapa tahu ada informasi di sana,” tukas Cak DJi

“Wis wis, iki wedang jahene diganyeng sik”. Rukayah berkaos Nikita Mirzani sambil megal megol bokongnya narsis menuangkan cairan hangat ke cup bergambar Nikita Willy. 

“Iki pisan Cak, mosok spec break yang ditulis di sini perbatasannya di antara dua flensa?”, “Bukannya kudune, dia dipenggal di lasan setelah flensa?” lanjut Dra’i. “Nah, nek kuwi salah kudune” sergah Markodji. “Sak jan nya, itu harus dipasang setelah flensa, pada bagian lasannya, dengan harapan kedua flensa yang berintiman sama kekuatannya sehingga tidak ada stress terlokalisasi karena ukuran dan dimensi flensa persis sama, karena seukuran (baca: tebalnya)” Lanjut Dji lagi. “Ooh ngoten nggih?” sambut Dra’i.

“Terus iki maneh Cak, mosok onok HIPPS tapi PT ne cuman ada 1 buah?” kata Dra’i. “Sik sik, sopo ngerti filosofinya memang menggunakan “super transmitter”?”. “Di dalam IEC-61508 mungkin saja sih sebuah transmitter baik itu type A atau type B Architecture Requirement memiliki “rated for SIL 3 use”, coba ente tengok standardnya, di sana ditulis untuk type A jika SFF nya di atas 90% yah bisa aja dia “certified for SIL 3 use”, kalau dia type B, minimal dia harus punya SFF di atas 99%” Jelas Markodji. “Oh ngono ceritane, Cak, tapi bukannya HIPPS harus punya redundancy?” Lanjut Dra’i

“Nah kalau itu biar rekan rekan milis migas aja yang membahas biar seru, masak aku aja yang ngasih tau” sergah Cak Markodji nyantai.

(Markodji melanjutkan membaca berita sambil bergumam “Terrlaaaluu” ketika dia baca Angel yang lain (sebut saja Angel L) menolak dikatakan demen nikah sama pejabat di timur Indonesia)

[[tulisan ini adalah bagian dari series “Markodji Process Safety Series” yang ditulis sejak tahun 2004 di milis migas]]

arti singkatan
PT = Pressure Transmitter
HIPPS = High integrity pressure protection system
SIL = safety integrity level
SFF = safe failure fraction
IEC = International Electrotechnical Committee
PSV = pressure safety valve
ESDV = emergency shutdown valve
P&ID = piping and instrumentation diagram

Tanggapan 1 – Bondan Caroko

Nganu Cak, di proyek2 di sini latar belakang case mana yg credible utk sizing sebuah PSV biasanya dicantumkan/di-list dengan manis (walopun ga semanis Nikita Willy) di dokumen dengan judul “PSV Sizing” atau “PSV Calculation Note”. Kemudian diambil skenario yg terhitung menghasilkan keperluan relief terbesar utk ditayangkan di infotainment, eh itu tontonannya Cak DAM, maksud saya di PID.

Safety Concept jarang menerangkan scr kumplit dasar skenario utk sizing PSV. Palingan sizing vent stack atau Vent KO Drum yg dasar2nya ditulis di sana. Nah jangan2 Safety Concept kami selama ini belum lengkap…?

Tanggapan 2 – maryadi_ahmad

HIPPS system yg terinstall banyak disini kebetulan punya 3 PTs, 2 SDVs, redundance PLC & masing2 SIL3 rated..
kalo mau “diotak-atik” berat lah sdh menjadi standard company tuh dgn system seperti itu..justifikasinya tdk mudah utk minta approval..
toh dr segi pertimbangan harga so far company gak memasalahkan..

btw, sy mau tanya mengenai fasilitas partial stroke test (PST) pd SDV, apakah cukup efektif, toh pd saat line-nya shutdown orang operation akan melakukan full stroke test pd SDV..
PST selain menambah cost, terkadang orang operation tdk familiar melakukannya (terutama utk yg smart type seperti yg ditawarkan banyak vendor belakangan ini)

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Mas Maryadi,

Tergantung jumlah shutdownnya. Kalau setahun shutdown sebanyak dua kali atau lebih – saya kira, kemungkinan mubazir untuk dipasangin PVST (partial valve-stroke testing).

Tanggapan 4 – maryadi_ahmad

memang tergantung frekuensi shutdownnya sih, sekedar mau tanya saja, apakah dicompany Cak Dam saat ini kegiatan PST pd SDV menjadi bagian dr aktivitas rutin maintenance yg terschedule (walaupun secara control system bisa dilakukan dgn auto PST) & menjadi bagian dr Safety Life Cycle activity yg ter-audit..

kalo pun pelaksanaan PST dianggap “success” valve-nya tdk stuck. Apakah dijamin SDV-nya jg otomatis akan sukses fully close pd saat kejadian sebenernya (actual krn di trigger oleh ESD/FGS signal).. belum tantu jg kan..

Tanggapan 5 – Crootth Crootth

Dear Mas Maryadi

Jawabannya: iya

Sepanjang telah dituliskan di procedure sudah menjadi keharusan maintenance untuk melaksanakannya. Jika tidak dilaksanakan tentu itu akan menjadi catatan tersendiri.

Tanggapan 6 – Yanoor Yusackarim

Di tempat saya, WO untuk test integrity valve dikeluarkan secara periodik. Namun WO tersebut sudah sah untuk ditutup dengan attachment event open/close valve bersangkutan ketika shutdown. Hal ini juga perlu dinyatakan di prosedur.

Secara teoritis, nilai PFD berkurang bila lingkup test-nya kurang dari 100%. Pada PVST, tidak semua komponen SIF kena test (lingkup < 100%), sehingga tetap beberapa waktu sekali SIF bersangkutan harus di-CFT juga.

Tanggapan 7 – zuame

Bang DAM,

Ini seorang Markodji sebenarnya seorang legenda hidup kah….:)
Kayaknya beliau super spesial sekali sehingga harus dibuatkan cerita berseri selama 8 tahun. Hehe

Tanggapan 8 – Crootth Crootth

Mas Zuame,

Markodji adalah tokoh rekaan saya, awalnya khusus saya tulis untuk cerpen cerpen saya di suatu social media sekitar tahun 2001-2004..
Tokohnya ngga jauh dari : warga jelata, orang jawa timur aseli yang egaliter dan jujur, dan nyentrik

Saya angkat ke milis migas karena saya memp
ercayai ilmu pengetahuan pun bisa disampaikan dengan baik dengan cara yang eksentrik.

Tanggapan 9 – [ InYotHeA ] inyoclubs

Setuju banget cak DAM….dengan bahasa yang sederhana dan lebih membumi, esensi dari sebuah tulisan akan lebih mudah dipahami.
Sangat jarang saya menemukan suatu tulisan technical dengan gaya bahasa seperti ini…….dahulu saya masih sering membaca tulisan pakdhe Rofiqi….tapi beliau sekarang sudah jarang muncul di milist ……*atau saya yg kuper :p*
Eniwei…..lanjutkan cak….saya nantikan series Markodji selanjutnya 🙂

Tanggapan 10 – Akh. Munawir amunawir

Mas Gharonk yg mbois,

Jika sempat saya nitip pertanyaan ke Markodji,
1. Apakah HIPPS itu istilah khusus untuk Pressure Protection yang dikonfigurasi untuk mencapai SIL Level tertentu (apakah selalu SIL 3)? Jika iya apakah berarti skup dari HIPPS ini hanya di area Safety Instrumented System saja (Sensor, Logic & Actuator) yang berarti HIPPS SIL Level Selection diperoleh dari perhitungan LOPA atau Risk Graph ya ?
2. Apakah HIPPS ini khusus untuk High-high Pressure saja atau Low-low Pressure juga ada ?  
3. Selain untuk Pressure, apakah ada istilah lain untuk High Integrity “Temperature/Level” Protection System ?

Tanggapan 11 – Crootth Crootth

Mas Nawir yang lebih ganteng aslinya dibanding di linkedin

1. Semua HIPPS harus me-refer kepada target SIL nya, yang ditentukan via SIL determination/ SIL selection / SIL assignment study baik menggunakan metode LOPA atau risk graph atau risk matrix sesuai arahan IEC-61511. Tidak mungkin sebuah HIPPS setelah diverifikasi menunjukkan SIL 2 untuk SIL target yang ditentukan misalnya SIL 3. Pertanyaan berikutnya jika target SIL nya cuman SIL 1 apakah perlu HIPPS, jawaban saya TIDAK.. Pada beberapa perusahaan, persyaratan integritas ini ditetapkan melalui keharusan pemakaian elemen dalam SIF yang tertentu misalnya : untuk solid state technology menggunakan peralatan yang “certified for use in SIL 4”. Sebagaimana jamak diketahui para ahli SIL, “certified for use in SIL 4” bukan berarti SIL dari SIF nya juga SIL 4 yaa….

2. Sepanjang saya tahu HIPPS itu (cuma) untuk High High Pressure, kalau low pressure saya kira tidak ada . Kenapa aplikasi untuk low pressure tidak ada? karena buat apa melabelkan diri high integrity kalau ia tidak bisa mencegah kebocoran? scenario low pressure itu jamaknya adalah kebocoran (kecuali untuk kasus tertentu di industri kimia bisa juga mencakup kondisi vakum karena reaction), jika sudah terjadi kebocoran, maka yang terjadi adalah mitigasi, penanggulangan dampak, bukan lagi protection (perlindungan) atau prevention (pencegahan) , jadi unsur perlindungan sesuai dengan namanya menjadi hilang tak berbekas.

3. Di Industri Migas, HIPPS sesuai dengan namanya diperuntukkan perlindungan pressure. Kenapa tidak untuk temperatur atau aplikasi HITPS tidak ada? karena penamaan high integrity salah satunya mempersyaratkan berikut: dengan pemasangan high integrity (pressure/temperature) protection system maka diharapkan lapisan perlindungan independent lain (seperti misalnya PSV) tidak jadi teraktivasi. bayangkan sebuah vessel terpapar external fire (jet fire katakanlah) maka si HITPS harus memastikan ia teraktivasi tanpa menyebabkan si PSV fire nya teraktivasi, yang menurut nalar saya tidak mungkin. Mungkin ceritanya akan lain di Industri kimia, mungkin saja HITPS dipasang dengan executive action berupa membuka aliran inhibitor reaksi untuk mencegah sebuah reaksi runaway.

semoga menjawab, jika masih banyak pertanyaan lanjutan monggo diskusi kita lanjutkan.


Tanggapan 12 – maryadi_ahmad

Pada dasarnya Logic Solver(berupa Redundance Safety PLC) yg menjadi bagian dr HIPPS jg bisa dimanfaatkan utk keperluan lainnya, krn memang jumlah IO’s yg terconnect ke HIPPS PLC sedikit (3 PT’s & 2SDVs saja..mubazir klo tdk dimanfaatkan..)
bisa saja kan PLC-nya ditambahkan logic utk menshutdown SDV bila terjadi low pressure disisi upstream SDV (barangkali krn leaking pd pipa) ataupun SDV akan close saat FGS mendeteksi keberadaan fire or gas..dlm hal ini HIPPS valvenya bisa sekaligus menjadi isolation valve..

Umumnya instalasi HIPPS pd pipeline, sisi downstream HIPPS SDV memiliki rating pipa yg lebih rendah dr upstreamnya (contoh 900# pd downstream & 2500# pada upstream)..
dengan panjang pipa yg berkilo2meter itu, berapa cost yg sdh bisa dihemat ..

Tanggapan 13 – Crootth Crootth

Mas Maryadi,

Perihal kebocoran gas dan HIPPS, Ini menariknya:

1. Tidak ada satu standar pun yang bisa menjamin SIF sebuah F&G system (fire and gas system) – jikapun ia dianggap sebagai suatu SIF – bisa tergolong High Integrity (memiliki SIL 3 atau lebih), tidak IEC-61511, tidak juga standar negara negara lain seperti ISA/ANSI S.84.00.01 itu…sebagai informasi sampai sekarang klausul memasukkan F&G sebagai sebuah SIF pun tidak mendapat sambutan yang hangat dikalangan para expert SIL. Dua hal yang sangat penting adalah Geographical Coverage dan Detection Coverage membuat F&G tidak meyakinkan untuk diangkat derajatnya sebagai sebuah SIF.

2. Tidak ada satu expert risk assessment pun yang bisa menjamin bahwa dalam sekian detik setelah kebocoran terjadi si gas bocor tidak menyala, bagaimana jika ia ketemu kebakaran hutan? bagaimana jika ia mencapai suar bakar (flare)? dst. jika ada yang bisa menjamin ini (katakanlah gas yang bocor tidak akan meledak salam satu menit), saya yakin akan muda bagi para expert untuk bersepakat bahwa low pressure (dengan tujuan mengindikasi kebocoran) bisa diangkat harkatnya sebagai High Integrity Protection System. Data HSE-UK menyebutkan dalam waktu 30 detik sebuah kejadian bencana ledakan pernah terjadi di industri migas, ada yang bisa menjamin PSLL / PT bisa menuntaskan executive action dengan menutup kebocoran (bukan hanya menutup valve lho yah) dalam waktu 30 detik tersebut? saya kira CFSE atau TUV FS Exp manapun akan menggeleng kepala jika ditanyakan bisa nggaknya.

3. Sepengetahuan saya dari banyak HIPS yang terpasang, meskipun bukan fardhlu ain hukumnya, HIPPS HIPPS tersebut melibatkan juga solid state atau logic solver lain selain tipe PLC.

4. Sebaiknya Safety PLC didedikasikan khusus sebagai Safety PLC, tidak mengemban tugas lain

Tanggapan 14 – maryadi_ahmad

sebenernya sih sy gak bilang, low pressure protection menjadi salah satu fungsionalitas HIPPS, HIPPS tetaplah berfungsi sbg overpressure protection disisi downstream valve.
Hanya saja, dapat sj khan sy menambahkan logic laen seperti Low pressure tadi ataupun mengintegrasikan closing HIPPS ke dlm ESD/FGS level plant yg sdh ada..
Logic yg terdapt dlm HIPPS pun seharusnya tdk sesimple 2oo3 saja..
contoh: sekali HIPPS valve trip/close, utk openning valve kembali -sbg keperluan safety operation-minimum ditambahkan permissive signal berupa reset signal & monitoring perbedaan pressure di upstream-downstream HIPPS agar tdk terjadi impulse pressure ketika valve dibuka..

mengenai type Logic Solver-nya apakah menggunakan Solid State Relay
(hardwiring) ataupun Safety redunce PLC (programmable based)
ya itu tergantung keperluan & optimasi designnya..kebetulan dua system tsb kami implementasikan..

terimakasih,

Tanggapan 15 – Crootth Crootth

Dear Mas Maryadi,

terima kasih atas diskusinya.

Sebenarnya bisa bisa saja, integrasi ke dalam ESD system yang ada, namun pada hemat saya apakah integrity nya akan tetap?

Kenapa dia begitu diistimewakan dengan kata kata High Integrity, antara lain karena independensi mereka. Jika sudah digabung, asal dibuktikan SIL, semua SIF HIPPS nya tetap berada di level yang sama yah monggo saja.

Sebenarnya pertanyaan mendasarnya lah yang perlu dijawab:

“apakah kita memerlukan HIPPS?” atau “seb
erapa perlu sih HIPPS itu?”

Pernyataan menarik adalah: “sekali HIPPS valve trip/close, utk openning valve kembali -sbg keperluan safety operation-minimum ditambahkan permissive signal berupa reset signal & monitoring perbedaan pressure di upstream-downstream HIPPS agar tdk terjadi impulse pressure ketika valve dibuka..”

Salah satu prasyarat lain dari HIPPS menurut saya adalah pemasangan HIPPS tidak menambah scenario credible lain, seperti misalnya “sudden overpressure in the down stream line caused by HIPPS valve opening”. Untuk yang demikian inilah permissive signal dipasang. Sayangnya berdasar pengalaman pengoperasian, permissive signal ini adalah bagian yang reliabilitynya dipertanyakan. Nah kan, masih perlu pasang HIPPS??

Tanggapan 16  – maryadi_ahmad

thanks jg Cak Dam utk diskusinya,

kalo ditanya perlu atau tdk HIPPS-nya dipasang, ya kembali lg ke hasil/rekomendasi study HAZOP & SIL td..

Pd saat HIPPS valve trip/close, tentunya ada system depressurisasi pd upstream HIPPS valve..
& adanya monitoring diff pressure sbg permissive signal to open HIPPS valve,ini lebih baik khan drpd tdk ada monitoring-nya sm sekali.. :).

Tanggapan 17 – Crootth Crootth

Mas Maryadi,

Pada kenyataanya, setelah dilakukan risk assessment secara detailed, yang awalnya dianggap perlu dipasang HIPPS ternyata “tidaklah peru perlu amat” (untuk tidak mengatakan, bahwa HIPPS (katakanlah dengan kelas SIL-3) adalah overvalued… bahkan dalam beberapa kasus cukup SIF dengan SIL-1)… So, jika dibilang perlu… pertanyaan lanjutannya: “seberapa perlu?”

Terkait yang kedua, dalam beberapa kasus tidak semudah itu, mendepressurisasi pipeline sepanjang 30 km penuh gas bertekanan, dalam keadaan tertentu tidaklah praktis. Sementara tekanan dari sumur – dalam keadaan tertentu pula – dibiarkan naik demi mencegah sumur kempes/mati, akhirnya proses pembukaan valve HIPPS menjadi langka kritis. Pemasangan valve berukuran kecil di bypass line HIPPS yang diintegrasikan dengan sistem HIPPS adalah alternatifnya, jika diinginkan bahkan tidak haram memasang RO di downstream bypass line HIPPS ini agar downstream tidak kaget kaget..

Tanggapan 18 – maryadi_ahmad

Iya cak Dam,

selain fasilitas depressurisasi diupstreamnya, memang terdpt bypass line (2″ size) di upstream-downstream HIPPS & jg in between 2 HIPPS valve (lengkap dgn PG-nya lg).

mengenai overrated /overvalue SIL pd pemilihan HIPPS (sebenernya ini jg relatif lho..namanya jg study), sbg orang instrument control sy pikir ini bukan masalah besar..
dlm suatu proyek -katakanlah tahap EPC- study HAZOP,SIL,Fire Gas detector mapping & study2 lanjutannya lainnya memang penting diikuti(& implementasi-kan rekomendasinya), selain tugas rutin/utama yg lebih penting yaitu mereview design document disiplin sendiri, termasuk jg mereview interface ke disiplin laen macem Electrical,Process,Piping Pipeline,mechanical,IT Telecom & SubSurface group..(interface ke company laen & goverment kalo ada)..
belum lg aktivitas witness/FAT Control System,critical field instrument, pre&commisioning support & akitivitas2 lainnya..

jd klo dibandingkan dgn overall aktivitas & progress project, rasanya tdk cukup worthed lah..(kecuali klo ada waktu senggang..hehe tp rasanya gak ada)..
“mengungkit2 kembali” SIL target yg sdh dibuat reportnya.. ingat lho, HIPPS system & valve-nya termasuk Long lead item procurement yg kudu segera diputuskan designnya..
overrated/overvalue tdk menjadi masalah, yg masalah klo under rated.. 🙂

Tanggapan 19 – Boorham Rifai

Cak DAM,

Mohon penjelasannya untuk valve kecil di bypass line HIPPS yang terintegrasi dengan HIPPS. Apakah ini artinya di bypass line tersebut dipasang dua SDV kecil yg terhubungkan dengan logic solver HIPPS dengan action sama dengan valve-valve utama HIPPS? Apakah tidak cukup dipasang manual isolation dengan konfigurasi yg disesuaikan dengan aturan dalam isolation philosophy (misalkan tekanan A maka isolasi dengan DIB valve diwajibkan sedangkan pada tekanan yg lebih tinggi selain DIB valve juga harus dipasang spectacle blind, dll) dan memasukkan manual isolation tersebut sebagai SCE?

Tanggapan 20 – Crootth Crootth

Dear Boorham

Kalau diganti manual, ngga HIPPS lagi dong namanya, karena ia harus diintegrasikan dengan sistem valve HIPPS nya …

Tanggapan 21 – maryadi_ahmad

Bukannya manual operation ?
bukankah pd normal operasi posisi valve-nya memang close..
bypass td tdk hanya pd sisi upstream-downstream sj, tp jg diconnect di spoll pipa diantara 2 HIPPS valves..(diperlukan jg pressure indikasi)

FYI & referensi saja, klo merujuk SHELL DEP (sy kok blm/tdk menemukan rekomendasi pemasangan bypass line td), tp justru merekomendasikan pemasangan Safety relief valve pd downstream HIPPS utk antisipasi leaking pd HIPPS valve..
(ini dia kutipannya:
A Pressure Relief Valve shall be installed downstream of the HIPPS Valves to accommodate possible HIPPS Valve leakage, unless it is demonstrated that operational response is fast enough and dependable to prevent overpressuring that could result from this leakage. The minimum effective diameter shall be 25 mm.)

HIPPS Valves umumnya menggunakan metal to metal seat, walaupun spec-valvenya atau pd saat FAT dikatakan Tight Shutoff/zero leakeage/Class VI-FCI, who knows, terjadi leaking dikemudian hari..(menurunkan derajat SIL valve-nya tdk yah?)

Share This